BAB 14

Bima menghentikan langkah kakinya di depan sebuah warung kelontong yang tak jauh dari rumahnya. Tampak suasana di sana sedang sepi, hanya pemilik warung yang sedang duduk di balik etalase dengan wajah mengantuknya.

"Sonia, turun dulu ya gue mau beli sesuatu." Pinta Bima pada Sonia yang masih dalam gendongannya. Bima mulai melepas gendongannya pada Sonia saat Sonia sudah siap untuk turun.

Bima masuk ke dalam warung meninggalkan Sonia yang duduk di emperan warung itu sambil menunggunya.

"Koh beli MieIndo 2 bungkus sama sosisnya 2 juga." Ucap Bima pada pemilik warung. Dengan sigap pemilik warung itu langsung berdiri dengan semangat disertai senyum sumringah yang menghiasi wajahnya, akhirnya ada yang beli juga.

"Ya sebentar, saya ambilkan dulu." Ujar Si pemilik warung lalu berjalan ke etalase dibelakangnya untuk mengambil pesanan Bima yang ia simpan di sana. Dia menaruh pesanan Bima ke dalam kantong kresek warna hitam kemudian berjalan ke arah Bima.

"Mau apa lagi? Kripik, roti, atau minuman?" Tawar si pemilik warung dengan senyum maksimal yang membuat Bima selalu puas dengan pelayanan si pemilik warung. Baginya seorang pedagang harus memiliki sikap seperti pemilik warung itu. Dia berlaku sangat sopan kepada semua pelanggannya. Tidak membeda-bedakan. Satu lagi pelajaran hidup yang bisa didapat Bima kali ini.

"Em. Roti ini aja." Bima mengambil 2 bungkus roti yang diletakkan di kranjang di atas etalase. Bima kemudian memasukkannya di kantong kresek yang masih dipegang pemilik warung.

"Totalnya jadi 8 ribu." Ucap pemilik warung memberitahu total belanjaan Bima.

"Sebentar koh." Ujar Bima yang diangguki oleh pemilik warung. Bima lalu merogoh saku celananya mengambil uang sesuai dengan yang diucapkan pemilik warung. Kenapa dia tidak memberi lebih? Itu karena dia sudah pernah melakukannya dan dengan tegas pemilik warung menolaknya. Pemilik warung berkata bahwa dia tidak berhak menerimanya katanya.

"Ini koh." Bima menyerahkan uang itu.

"Yak, ini belanjaannya. Terima kasih." Pemilik warung menerima uang dari Bima lalu menyerahkan belanjaan ke Bima.

"Sama-sama koh. Permisi." Bima. Pemilik warung mengangguk.

Bima ikut duduk di samping Sonia. Dia mengeluarkan 2 bungkus roti yang baru ia beli tadi. Satu bungkus ia berikan kepada Sonia dan satunya lagi akan ia makan sendiri lah.

"Makan dulu!" Ucap Bima sambil menyerahkan roti itu.

"Makasih." Sonia menerimanya.

"Sini gue buakain, atau lo mau punya gue aja? Belum gue makan kok." Bima.

"Punya lo aja gak papa. Nih roti gue buat lo." Merekapun tukaran roti.

Mereka memakan roti masing-masing sampai habis. Setelah membasahi tenggorokan dengan air minum yang mereka bawa, kini mereka akan pulang.

"Eh ga usa. Gue jalan aja. Udah deket kan?" Ujar Sonia saat melihat Bima tiba-tiba jongkok di depannya.

"Baiklah." Bima bangkit lalu mengambil keranjangnya kemudian menggendongnya di punggungnya. Tangan kirinya dia gunakan untuk membawa barang belanjaannya.

Mereka berjalan beriringan menuju rumah Bima. Sampai di rumah Bima langsung meletakkan kranjangnya di samping rumah. Dia balik ke depan rumah dan melihat Sonia masih berdiri di depan pintu.

"Kenapa gak langsung masuk aja? Tau kan kuncinya di mana?" Ucap Bima sambil terkekeh melihat Sonia yang mengerucutkan bibirnya.'Ya ampun tambah cantik aja, pengen gue lu mat itu bibir'' Batin Bima.

"Ck. Gue gak nyampek Bima." Decak Sonia karena sebal melihat tingkah Bima yang sengaja mempermainkannya.

"Hahaha. Makanya tinggi dong." Ucap Bima mengejek Sonia. Sebenarnya Sonia tidak pendek-pendek amat. Untuk ukuran wanita Indonesia dia sudah lumayan tinggi, 165 cm tingginya. Namun pintu di rumah Bima lah yang terlampau tinggi sampai 2 m. Hal ini bukan tanpa alasan. Bima yang tingginya sampai 191 cm selalu kejedot pintu saat pintu rumah yang dulu belum diganti. Lagi pula kunci pintunya hanya sebuah balok kayu yang dipaku di bingkai pintu untuk mengganjal daun pintu apabila balok diputar melintang. Hal ini membutuhkan tinggi badan ektra untuk menjangkaunya.

"Ish..." Sonia semakin mengerucutkan bibir.

Bima membukakan pintu untuk Sonia setelah ia memutar kunci pintu.

"Silahkan tuan putri." Ucap Bima sambil membungkuk mempersilahkan Sonia untuk masuk.

Sonia tersenyum geli melihat kelakuan Bima. Rasa kesalnya langsung reset nol lagi.

"Apaan sih." Sonia menutupi wajahnya karena malu kalau sampai dilihat Bima. Dia buru-buru masuk rumah.

"Ya gak papa kan?" Bima ikut masuk ke dalam.

Sonia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan debu yang menempel di tubuhnya. Sedangkan Bima memilih untuk beristirahat. Dia merebahkan tubunya di atas tikar.

Saat selesai mandi Sonia kembali ke satu-satunya ruang di rumah Bima selain dapur. Tampak di sana Bima sedang tidur.

Melihat Bima sedang tidur, tanpa ragu Sonia memberanikan diri untuk ganti baju di sana. Dilepaskannya handuk yang melilit di tubuh indahnya lalu ia sampirkan di pintu lemari. Sonia mengambil bra warna hitam dengan ukuran 34/D dari dalam lemari lalu memakainya. Perlu penyesuaian terlebih dahulu agar payu daranya pas pada cup bra. Kemudian ia mengambil celana dalam warna hitam juga lalu memakainya. Untuk celana dia mengenakan celana pendek di atas lulut dan dia hanya mengenakan tank top karena cuaca sedang panas.

Sonia berjalan ke arah Bima untuk membangunkan Bima supaya Bima mandi terlebih dahulu sebelum tidur.

"Bim, Bima bangun mandi dulu ih." Sonia menggoyang-goyangkan tubuh Bima.

"Hoooaaam, Lo udah selesai mandinya." Awalnya Bima masih malas membuka matanya, namun saat melihat pemandahan indah dari dada Sonia, matanya seketika melotot hampir jatuh ke tanah.

'Ah Sonia tidakkah kau tidak memakai baju itu, gue jadi pengen nikmatin tubuh lo itu' Batin Bima.

"Bim? Lo kenapa?" Tanya Sonia saat melihat Bima memandangnya aneh.

"Oh, em, itu. Gak papa, gue mau mandi dulu." Ya, itu cara terbaik untuk menghindar saat ini. Daripada dia harus berbuat yang tidak baik pada Sonia.

Di dalam kamar mandi Bima melepas semua pakaiannya. Dia segera mengguyur seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki dengan air dingin untuk menghilangkan h sratnya pada Sonia. Namun cara itu gagal dia masih menginginkan Sonia. Dengan sangat terpaksa Bima melakukan senam jari sambil membayangkan melakukannya dengan Sonia. Huh. rendah sekali dirimu Bima sampai tidak bisa menahan nafsumu pada seorang wanita.

Bima mempercepat senamnya saat hampir memuncat. Sampai cairan putih itu keluar dari juniornya.

Bima duduk mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. Masih teringat saat dia membayangkan dirinya sedang mencumbui Sonia. Dia menertawai dirinya sendiri. Dia jadi membayangkan kalau dia benar-banar melakukannya saja dengan Sonia. Tapi tunggu, itu tidak boleh dia lakukan. Dia todak mau menyakiti Sonia. Dia akan melakukannya jika sudah sah dengan Sonia. Ya itu tekadnya sekarang.

TBC.

Wah.... 1000+ Semua demi kalian.

Terpopuler

Comments

Irsantia Irmely

Irsantia Irmely

hampir 2 meter setinggi apa ya, tapi aku suka Bima tahu cara menghargai perempuan 😉

2022-05-13

0

S Urade

S Urade

mantep thor...

2022-01-03

0

Yen Margaret Purba

Yen Margaret Purba

lha pintu ampe 2m tp rumah sederhana thor masa tggi gt pintunya

2021-05-22

1

lihat semua
Episodes
1 BAB 1 Kegelisahan Sonia
2 BAB 2 Ritual Aneh
3 BAB 3 Resepsi Pernikahan
4 BAB 4 After marriage
5 BAB 5 I'M NOT A VIRGIN
6 BAB 6
7 BAB 7 Akan Mencuri
8 BAB 8 Pria Misterius
9 BAB 9 Ada apa dengan Bima
10 BAB 10 Siapa Bima?
11 BAB 11
12 BAB 12
13 BAB 13
14 BAB 14
15 BAB 15
16 BAB 16
17 BAB 17
18 BAB 18
19 BAB 19
20 BAB 20
21 BAB 21
22 BAB 22
23 BAB 23
24 BAB 24
25 BAB 25
26 BAB 26
27 BAB 27
28 BAB 28
29 Pengumuman
30 BAB 29
31 BAB 30
32 BAB 31
33 BAB 32
34 BAB 33
35 BAB 34
36 BAB 35
37 BAB 36
38 BAB 37
39 BAB 38
40 BAB 39
41 BAB 40
42 BAB 41
43 BAB 42
44 BAB 43
45 BAB 44
46 BAB 45
47 BAB 46
48 BAB 47
49 BAB 48
50 BAB 49
51 BAB 50
52 BAB 51
53 BAB 52
54 BAB 53
55 BAB 54
56 BAB 55
57 BAB 56
58 BAB 57
59 BAB 58
60 BAB 59
61 BAB 60
62 BAB 61
63 S2# Awal Mula
64 S2# Andrew Dirgantara
65 S2# Andrew Yang Berbeda
66 S2# Merangkap Sebagai Maid
67 S2# Andreanapun Sama
68 S2# ARYA
69 S2# Anak Pindahan
70 S2# Tanam Paksa
71 S2# Andreana Dijodohkan
72 S# Bunga di Tepi Jalan
73 S# Andrew Menikah
74 S2# Banyak Kejutan di Apartemen
75 S2# Malam Pertama
76 S2# Pagi :(
77 S2# Ngampus Lagi
78 S2# Pertunjukan Langsung
79 S2# Telfon dari Sonia
80 S2# Dijemput Suami
81 S2# Bunga Demam
82 S2# Pernikahan Andreana 1
83 S2# Suasana Hati Andrew
84 S2# Pernikahan Andreana 2
85 S2# Malam Pertama (eksklusif di gdrive)
86 S2# Menjenguk Bunga
87 S2# Perhatian Mertua
88 S2# Masa Lalu
89 S2# Kapan Akan Pulang?
90 S2# Impoten Pilih-pilih
91 S2# Pelajaran Untuk Dia
92 S2#
93 S2# Sudah Tidak Bisa
94 S2# Benda Apa itu?
95 S2# Sebuah Foto
96 S2# Uang Bensin
97 S2# Kerja
98 S2# Menyesali
99 S2# Kenang-kenangan
100 S2# Bibir Tergigit
101 S2# Mulai Cemburu
102 S2# Malam yang Berbeda
103 S2# Andreana Hamil
104 S2# Hobi Baru
105 S2# Merahasiakan dari Arya
106 S2# Ngidam Pembawa Petaka
107 S2# Pengungkapan Perasaan
108 S2# Sebuah Pilihan
109 S2# Diskusi
110 S2# Mengikat Rambut
111 S2# Penyesalan Setelah Ditinggal
112 S2# Merencanakan Sesuatu
113 S2# Perhatian Dari Ibu Mertua
114 S2# Jebakan Fika
115 S2# Jogging
116 S2# Penjelasan Andrew
117 S2# Makan
118 S2# Obrolan Ruang Tengah
119 S2# London
120 S2# Mengundurkan Diri
121 S2# I'M Not A Virgin 2
122 S2# Panginya
123 S2# Di Kafe
124 S2# Mandi Bareng
Episodes

Updated 124 Episodes

1
BAB 1 Kegelisahan Sonia
2
BAB 2 Ritual Aneh
3
BAB 3 Resepsi Pernikahan
4
BAB 4 After marriage
5
BAB 5 I'M NOT A VIRGIN
6
BAB 6
7
BAB 7 Akan Mencuri
8
BAB 8 Pria Misterius
9
BAB 9 Ada apa dengan Bima
10
BAB 10 Siapa Bima?
11
BAB 11
12
BAB 12
13
BAB 13
14
BAB 14
15
BAB 15
16
BAB 16
17
BAB 17
18
BAB 18
19
BAB 19
20
BAB 20
21
BAB 21
22
BAB 22
23
BAB 23
24
BAB 24
25
BAB 25
26
BAB 26
27
BAB 27
28
BAB 28
29
Pengumuman
30
BAB 29
31
BAB 30
32
BAB 31
33
BAB 32
34
BAB 33
35
BAB 34
36
BAB 35
37
BAB 36
38
BAB 37
39
BAB 38
40
BAB 39
41
BAB 40
42
BAB 41
43
BAB 42
44
BAB 43
45
BAB 44
46
BAB 45
47
BAB 46
48
BAB 47
49
BAB 48
50
BAB 49
51
BAB 50
52
BAB 51
53
BAB 52
54
BAB 53
55
BAB 54
56
BAB 55
57
BAB 56
58
BAB 57
59
BAB 58
60
BAB 59
61
BAB 60
62
BAB 61
63
S2# Awal Mula
64
S2# Andrew Dirgantara
65
S2# Andrew Yang Berbeda
66
S2# Merangkap Sebagai Maid
67
S2# Andreanapun Sama
68
S2# ARYA
69
S2# Anak Pindahan
70
S2# Tanam Paksa
71
S2# Andreana Dijodohkan
72
S# Bunga di Tepi Jalan
73
S# Andrew Menikah
74
S2# Banyak Kejutan di Apartemen
75
S2# Malam Pertama
76
S2# Pagi :(
77
S2# Ngampus Lagi
78
S2# Pertunjukan Langsung
79
S2# Telfon dari Sonia
80
S2# Dijemput Suami
81
S2# Bunga Demam
82
S2# Pernikahan Andreana 1
83
S2# Suasana Hati Andrew
84
S2# Pernikahan Andreana 2
85
S2# Malam Pertama (eksklusif di gdrive)
86
S2# Menjenguk Bunga
87
S2# Perhatian Mertua
88
S2# Masa Lalu
89
S2# Kapan Akan Pulang?
90
S2# Impoten Pilih-pilih
91
S2# Pelajaran Untuk Dia
92
S2#
93
S2# Sudah Tidak Bisa
94
S2# Benda Apa itu?
95
S2# Sebuah Foto
96
S2# Uang Bensin
97
S2# Kerja
98
S2# Menyesali
99
S2# Kenang-kenangan
100
S2# Bibir Tergigit
101
S2# Mulai Cemburu
102
S2# Malam yang Berbeda
103
S2# Andreana Hamil
104
S2# Hobi Baru
105
S2# Merahasiakan dari Arya
106
S2# Ngidam Pembawa Petaka
107
S2# Pengungkapan Perasaan
108
S2# Sebuah Pilihan
109
S2# Diskusi
110
S2# Mengikat Rambut
111
S2# Penyesalan Setelah Ditinggal
112
S2# Merencanakan Sesuatu
113
S2# Perhatian Dari Ibu Mertua
114
S2# Jebakan Fika
115
S2# Jogging
116
S2# Penjelasan Andrew
117
S2# Makan
118
S2# Obrolan Ruang Tengah
119
S2# London
120
S2# Mengundurkan Diri
121
S2# I'M Not A Virgin 2
122
S2# Panginya
123
S2# Di Kafe
124
S2# Mandi Bareng

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!