Bima menghentikan langkah kakinya di depan sebuah warung kelontong yang tak jauh dari rumahnya. Tampak suasana di sana sedang sepi, hanya pemilik warung yang sedang duduk di balik etalase dengan wajah mengantuknya.
"Sonia, turun dulu ya gue mau beli sesuatu." Pinta Bima pada Sonia yang masih dalam gendongannya. Bima mulai melepas gendongannya pada Sonia saat Sonia sudah siap untuk turun.
Bima masuk ke dalam warung meninggalkan Sonia yang duduk di emperan warung itu sambil menunggunya.
"Koh beli MieIndo 2 bungkus sama sosisnya 2 juga." Ucap Bima pada pemilik warung. Dengan sigap pemilik warung itu langsung berdiri dengan semangat disertai senyum sumringah yang menghiasi wajahnya, akhirnya ada yang beli juga.
"Ya sebentar, saya ambilkan dulu." Ujar Si pemilik warung lalu berjalan ke etalase dibelakangnya untuk mengambil pesanan Bima yang ia simpan di sana. Dia menaruh pesanan Bima ke dalam kantong kresek warna hitam kemudian berjalan ke arah Bima.
"Mau apa lagi? Kripik, roti, atau minuman?" Tawar si pemilik warung dengan senyum maksimal yang membuat Bima selalu puas dengan pelayanan si pemilik warung. Baginya seorang pedagang harus memiliki sikap seperti pemilik warung itu. Dia berlaku sangat sopan kepada semua pelanggannya. Tidak membeda-bedakan. Satu lagi pelajaran hidup yang bisa didapat Bima kali ini.
"Em. Roti ini aja." Bima mengambil 2 bungkus roti yang diletakkan di kranjang di atas etalase. Bima kemudian memasukkannya di kantong kresek yang masih dipegang pemilik warung.
"Totalnya jadi 8 ribu." Ucap pemilik warung memberitahu total belanjaan Bima.
"Sebentar koh." Ujar Bima yang diangguki oleh pemilik warung. Bima lalu merogoh saku celananya mengambil uang sesuai dengan yang diucapkan pemilik warung. Kenapa dia tidak memberi lebih? Itu karena dia sudah pernah melakukannya dan dengan tegas pemilik warung menolaknya. Pemilik warung berkata bahwa dia tidak berhak menerimanya katanya.
"Ini koh." Bima menyerahkan uang itu.
"Yak, ini belanjaannya. Terima kasih." Pemilik warung menerima uang dari Bima lalu menyerahkan belanjaan ke Bima.
"Sama-sama koh. Permisi." Bima. Pemilik warung mengangguk.
Bima ikut duduk di samping Sonia. Dia mengeluarkan 2 bungkus roti yang baru ia beli tadi. Satu bungkus ia berikan kepada Sonia dan satunya lagi akan ia makan sendiri lah.
"Makan dulu!" Ucap Bima sambil menyerahkan roti itu.
"Makasih." Sonia menerimanya.
"Sini gue buakain, atau lo mau punya gue aja? Belum gue makan kok." Bima.
"Punya lo aja gak papa. Nih roti gue buat lo." Merekapun tukaran roti.
Mereka memakan roti masing-masing sampai habis. Setelah membasahi tenggorokan dengan air minum yang mereka bawa, kini mereka akan pulang.
"Eh ga usa. Gue jalan aja. Udah deket kan?" Ujar Sonia saat melihat Bima tiba-tiba jongkok di depannya.
"Baiklah." Bima bangkit lalu mengambil keranjangnya kemudian menggendongnya di punggungnya. Tangan kirinya dia gunakan untuk membawa barang belanjaannya.
Mereka berjalan beriringan menuju rumah Bima. Sampai di rumah Bima langsung meletakkan kranjangnya di samping rumah. Dia balik ke depan rumah dan melihat Sonia masih berdiri di depan pintu.
"Kenapa gak langsung masuk aja? Tau kan kuncinya di mana?" Ucap Bima sambil terkekeh melihat Sonia yang mengerucutkan bibirnya.'Ya ampun tambah cantik aja, pengen gue lu mat itu bibir'' Batin Bima.
"Ck. Gue gak nyampek Bima." Decak Sonia karena sebal melihat tingkah Bima yang sengaja mempermainkannya.
"Hahaha. Makanya tinggi dong." Ucap Bima mengejek Sonia. Sebenarnya Sonia tidak pendek-pendek amat. Untuk ukuran wanita Indonesia dia sudah lumayan tinggi, 165 cm tingginya. Namun pintu di rumah Bima lah yang terlampau tinggi sampai 2 m. Hal ini bukan tanpa alasan. Bima yang tingginya sampai 191 cm selalu kejedot pintu saat pintu rumah yang dulu belum diganti. Lagi pula kunci pintunya hanya sebuah balok kayu yang dipaku di bingkai pintu untuk mengganjal daun pintu apabila balok diputar melintang. Hal ini membutuhkan tinggi badan ektra untuk menjangkaunya.
"Ish..." Sonia semakin mengerucutkan bibir.
Bima membukakan pintu untuk Sonia setelah ia memutar kunci pintu.
"Silahkan tuan putri." Ucap Bima sambil membungkuk mempersilahkan Sonia untuk masuk.
Sonia tersenyum geli melihat kelakuan Bima. Rasa kesalnya langsung reset nol lagi.
"Apaan sih." Sonia menutupi wajahnya karena malu kalau sampai dilihat Bima. Dia buru-buru masuk rumah.
"Ya gak papa kan?" Bima ikut masuk ke dalam.
Sonia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari keringat dan debu yang menempel di tubuhnya. Sedangkan Bima memilih untuk beristirahat. Dia merebahkan tubunya di atas tikar.
Saat selesai mandi Sonia kembali ke satu-satunya ruang di rumah Bima selain dapur. Tampak di sana Bima sedang tidur.
Melihat Bima sedang tidur, tanpa ragu Sonia memberanikan diri untuk ganti baju di sana. Dilepaskannya handuk yang melilit di tubuh indahnya lalu ia sampirkan di pintu lemari. Sonia mengambil bra warna hitam dengan ukuran 34/D dari dalam lemari lalu memakainya. Perlu penyesuaian terlebih dahulu agar payu daranya pas pada cup bra. Kemudian ia mengambil celana dalam warna hitam juga lalu memakainya. Untuk celana dia mengenakan celana pendek di atas lulut dan dia hanya mengenakan tank top karena cuaca sedang panas.
Sonia berjalan ke arah Bima untuk membangunkan Bima supaya Bima mandi terlebih dahulu sebelum tidur.
"Bim, Bima bangun mandi dulu ih." Sonia menggoyang-goyangkan tubuh Bima.
"Hoooaaam, Lo udah selesai mandinya." Awalnya Bima masih malas membuka matanya, namun saat melihat pemandahan indah dari dada Sonia, matanya seketika melotot hampir jatuh ke tanah.
'Ah Sonia tidakkah kau tidak memakai baju itu, gue jadi pengen nikmatin tubuh lo itu' Batin Bima.
"Bim? Lo kenapa?" Tanya Sonia saat melihat Bima memandangnya aneh.
"Oh, em, itu. Gak papa, gue mau mandi dulu." Ya, itu cara terbaik untuk menghindar saat ini. Daripada dia harus berbuat yang tidak baik pada Sonia.
Di dalam kamar mandi Bima melepas semua pakaiannya. Dia segera mengguyur seluruh tubuhnya dari kepala sampai kaki dengan air dingin untuk menghilangkan h sratnya pada Sonia. Namun cara itu gagal dia masih menginginkan Sonia. Dengan sangat terpaksa Bima melakukan senam jari sambil membayangkan melakukannya dengan Sonia. Huh. rendah sekali dirimu Bima sampai tidak bisa menahan nafsumu pada seorang wanita.
Bima mempercepat senamnya saat hampir memuncat. Sampai cairan putih itu keluar dari juniornya.
Bima duduk mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. Masih teringat saat dia membayangkan dirinya sedang mencumbui Sonia. Dia menertawai dirinya sendiri. Dia jadi membayangkan kalau dia benar-banar melakukannya saja dengan Sonia. Tapi tunggu, itu tidak boleh dia lakukan. Dia todak mau menyakiti Sonia. Dia akan melakukannya jika sudah sah dengan Sonia. Ya itu tekadnya sekarang.
TBC.
Wah.... 1000+ Semua demi kalian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Irsantia Irmely
hampir 2 meter setinggi apa ya, tapi aku suka Bima tahu cara menghargai perempuan 😉
2022-05-13
0
S Urade
mantep thor...
2022-01-03
0
Yen Margaret Purba
lha pintu ampe 2m tp rumah sederhana thor masa tggi gt pintunya
2021-05-22
1