Rain memperbaiki jasnya, wajahnya diam dan datar, begitu dingin bagaikan angin di musim gugur, begitu menghanyutkan, dengan pakaian formalnya dia melangkah ke arah pintu yang terbuka lebar untuknya.
Tak seperti saat pelepasan tahanan yang lain, Rain harus keluar dari penjara itu pagi-pagi sekali, namun begitu dia langsung di sambut oleh Ken dan Luke yang sudah setia bahkan ada di sana sejak 1 jam yang lalu.
Luke segera membukakan pintu untuk Rain dan Rain segera masuk ke dalam mobilnya, Ken dan Luke mengikutinya lalu dengan cepat mereka pergi dari sana. Rain hanya menatap lurus bahkan tidak melirik ke arah kota yang sudah 5 tahun tidak lagi dia lihat perkembangannya, tak punya minat untuk melihatnya, toh menurutnya tak ada lagi yang akan bisa dikembangkan di kota yang isinya sudah penuh dengan gedung pencagar langit ini, selain itu juga kota itu sama saja, tak pernah tidur.
“Tuan kemana kita?” tanya Luke yang duduk di sampingnya, sedangkan Ken ada di depan Luke
“Masih terlalu pagi untuk memulai perperangan, kita kembali ke tempat Sam sekarang?” tanya Rain pada Luke, dia hanya sekilas melirik ke arah pria itu.
“Baik Tuan,” kata Luke melihat ke arah tabletnya.
“Ken, sudah kau siapkan semua yang aku minta kemarin?” tanya Rain tak melirik sama sekali pada Ken yang ada di depannya.
“Sudah Tuan, semua bukti sudah terkumpulkan,” kata Ken menujukkan sebuah flashdisk berwarna hitam di tangannya.
Rain menatap Flashdisk itu, lalu segera menaikkan satu sudut bibirnya, membuat wajahnya yang dingin itu semakin mengerikan.
Perjalanan mereka ke arah selatan tidak terlalu lama, dimana jalanan ke arah sana masih terlalu sepi saat pagi seperti ini. Rain menapakkan kakinya pada sebuah halaman rumah yang begitu besar, dia turun sambil meperbaiki Jasnya, menatap dengan penuh percaya diri, dagunya terangkat seperti dulu biasa dia lakukan, pintu rumah itu terbuka lebar ketika dia mulai menapakkan kakinya ke anak tangga yang menuju pintu utama itu, 2 orang yang ada di depannya bahkan segera memberikan hormatnya begitu Rain ada di depan mereka.
Rain masuk ke dalam rumah itu, dengan langkah pastinya dia segera menuju ruang kerja rumah itu, tidak menunggu yang empunya rumah untuk menyambutnya, dia langsung duduk di kursi kerja itu, menaikkan kedua kakinya ke atas meja yang tampak banyak barang-barang untuk pekerjaan, Rain hanya menunggu pemilik meja itu masuk ke dalam sana.
“Siapa yang berani membangunkanku sepagi ini?” gerutu Sam saat dia masuk ke dalam ruangan kerjanya, dia diberitahu bahwa ada pria yang ingin bertemu dengannya di ruang tengah, dan pria itu menerobos masuk ke rumahnya, Ken memang mengatakan pada penjaga rumah Sam agar tidak memberitahukan kedatangan Rain.
Sam menganga, matanya membesar, pria pendek berambut hampir botak yang ditutupi oleh rambut palsu juga sedikit tambun itu segera membesarkan matanya, dia melirik ke arah pria yang sudah duduk di kursi kerjanya.
“Tuan Rain?” tanyanya kaget
“Aku lihat kau begitu menikmati semua fasilitas yang aku berikan padamu, Sam?” kata Rain melirik ke arah Sam.
“Tanpa Anda saya tak akan seperti ini,” ujar Sam yang langsung berwajah ramah dan juga mendekati Rain, wajah gugupnya begitu ketara.
“Benarkah? Lalu kenapa aku mendengar bahwa kau sekarang sudah berani main-main denganku Sam?” tanya Rain lagi, memainkan bola dunia dari kaca yang ada di meja kerja itu, Sam tampak kaget mendengar hal itu, sedikit menunjukkan wajah cengengesannya, namun senyum itu segera musnah ketika Rain meliriknya dengan tajam.
“A, aku, tak mungkin melakukan hal itu, aku adalah bawahanmu paling setia, Anda tahu itu bukan Tuan?” kata Sam lagi.
“Oh, jadi menurutmu apa yang aku dapatkan itu salah?” tanya Rain, melirik ke arah Luke yang segera menyerahkan sebuah berkas ke atas meja itu.
Rain meliriknya sejenak, dia lalu menyodorkan berkas itu yang seketika membuat Sam panik hingga dia berkeringat dingin. Rain memandang sambil sedikit tersenyum, sebenarnya senyuman itu terlihat manis, namun dalam situasi seperti ini senyuman itu bagaikan ingin memangsa, Sam mengusap dahinya yang sudah berkeringat padahal udara di pagi itu sangat dingin, tangannya bergetar mengambil berkas itu.
“Saya akan membatalkannya, Tuan, saya pasti membatalkannya,” kata Sam gemetar, tekanan yang dibuat oleh Rain begitu terasa.
Rain bangkit dengan senyumnya, memutari meja itu, berhenti di samping Sam yang hanya terdiam menunduk, dengan santainya Rain duduk di meja kayu jati yang kokoh itu, dia menepuk pundak Sam sangat keras, mengenggamnya dengan erat membuat Sam bahkan sangat ketakutan hingga gemetar keras.
“Kau tahu aku paling benci dikhianati, kau ingat berapa banyak orang yang sudah aku singkirkan karena hal ini, kau tahu pasti nasib mereka bukan?” bisik Rain di samping telinga Sam, membuat Sam bahkan sudah bermandikan keringatnya sendiri.
”Ya, Tuan,” kata Sam bergetar ketakutan.
“Baguslah,” kata Rain melempar bola dunia kaca itu ke dinding ruang kerja Sam yang juga terbuat dari kaca, membuat dinding itu pecah berkeping-keping, Sam hingga bergidik ngeri mendengar suaranya.
Rain bangkit, kembali mengetatkan cengkramannya seolah dia benar-benar memberitahukan pada Sam bahwa dia bersungguh-sungguh sekarang.
Rain segera berjalan dan keluar dari sana, Luke kembali membukakan pintu mobil dan tanpa menunggu waktu lama mereka segera kembali meninggalkan tempat itu.
Rain kali ini melihat ke arah jendela, namun dia bukan melihat ke arah pemandangan yang di suguhkan, pikirannya melayang, mengingat wajah gadis bermata sedih di dalam mimpinya.
"Ken, bagaimana kabar wanita itu?" tanya Rain.
"Nona Bianca masih ada di kediaman Tuan Drake, saya belum bisa menembus kediamannya, tapi saya sedang bernegosiasi dengan seseorang, semoga dia bisa berpihak dengan kita, aku akan segera mengabarkan pada Anda jika sudah mendapatkan kabar darinya," kata Ken menjelaskan.
Rain mengalihkan pandangannya ke depan, lurus sekali melihat jalanan yang juga hanya lurus ke depan, tak ada yang bisa menebak apa isi pikirannya?
"Tuan kemana sekarang kita akan pergi?" tanya Ken, bagaimana pun Tuannya ini sangat susah untuk bisa ditebak kemana dia akan pergi.
Rain tak langsung menjawab, melirik ke arah jam tangannya lalu menatap ke arah Luke yang baru saja memeriksa notifikasi yang masuk ke dalam tabletnya.
"Tuan mereka sudah membatalkan perjanjiannya," kata Luke langsung menyampaikan kabar ini.
Rian menaikkan sudut bibirnya, dia langsung tahu kemana dia harus pergi sekarang. Jika ingin berperang, maka dia tak akan lari.
"Mari kita membuat seseorang tahu akibatnya sudah bermain-main denganku," ujar Rain menarik jasnya, membuat tatapan tajam yang menusuk.
Wah, setelah melewati update 3 hari yang mereview, akhirnya bisa update lagi, tak lulus Review karena masuk daftar antrian karena berisi sebuah kata yang tak boleh ditulis, mungkin terlalu Vulgar atau kekerasan.
Episode sebelumnya memang sadis ya kak, tapi di novel ini mungkin lebih parah dari pada Novel-novelku sebelumnya, karena memang tak ada niat meng-kontrak-kan novel ini, maka aku bisa lebih bebas untuk mengungkapkan maksud Novel ini nantinya. Jadi aku udah buat pengumuman bahwa "Warning, this is Adult Action Romance Story."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
Keren alurnya bikin tegang tapi nagih, kamu Keren Thor....
2023-12-06
0
Elvi Nopricha
thor klo bianca msuk k tgn rain jgn lg ada pelecehan
2022-10-30
0
Ge
Entahlah hatiku t’iris.. tdk ada salahnya mmng wanita yg d perkosa layak d cintai tpi krna ini adl novel shg kadang halu ku bgtu tnggi utk peran utama pria n wanita, gpp pria kenal sex bebas tpi utk wanita sebaiknya ttp virgin hngga jadian dgn tokoh utama pria, sekalipun dia d perkosa.. rasanya gmna ya thor😥
2021-06-27
1