Rain segera berdiri ketika merasa dirinya sudah cukup beristirahat, mengamati hutan yang cukup lembab dan lebat itu, udaranya tentu sejuk dan terasa segar, bau basah karena embun tercium begitu menenangkan, sayup-sayup suara-suara burung terdengar bercampur riak air sungai, sejujurnya susana itu begitu disukai oleh Rain.
"Kita akan kemana? aku lapar," suara manja Bianca terdengar mengacaukan momen Rain menikmati kesenyapan hutan itu, Rain lalu melirik ke arah wanita itu, Bianca sedang mengusap-usap perut kecilnya yang rata, Bianca memasang wajah memelasnya yang sungguh imut sebenarnya.
Rain lagi-lagi menarik napasnya, dia juga tahu mereka sama sekali tidak makan dari kemarin, dan wajar jika Bianca lapar.
"Cari ranting yang kering, aku akan mencarikan ikan untukmu," kata Rain.
"Baik," kata Bianca sumringah turun dari batu itu, dia segera mencari apa yang diminta oleh Rain, Rain lalu mencari ranting yang cukup panjang, dia lalu meruncingkan ujungnya, membuat sebuah tombak, baru saja dia selesai membuat tombak, tiba-tiba dia dikagetkan dengan suara kayu yang jatuh di sampingnya, dia lalu melihat ke arah asal suara itu, melihat Bianca membawa beberapa ranting, hanya beberapa mungkin hanya 4 buah.
"Sudah," kata Bianca begitu saja, membuat Rain mengerutkan dahinya, bagaimana membuat api unggun hanya dengan 4 batang ranting.
"Lagi," kata Rain.
"Belum cukup?" tanya Bianca yang kesusahan mencari ranting karena tubuhnya yang menggigil, tak tahu karena lapar atau karena dinginnya udara di sana.
"Lagi," kata Rain singkat saja, Bianca hanya kesal, dia menghentakkan kakinya tapi menurut juga, dia segera masuk lagi ke dalam hutan, mencoba mencari dimana dia bisa mencari ranting, sejujurnya, Bianca cukup takut, bagaimana saat dia mengambil ranting tapi dia malah bertemu dengan hewan buas, entah serigala, atau beruang, atau binatang paling membuatnya takut, ular.
Rain selesai membuat tombaknya, dia segera melepas bajunya, membiarkannya di atas batu agar bisa kering, dengan pelahan dia mulai masuk ke dalam sungai, memperhatikan sungai di bagian tepinya, mencoba mencari gambaran ikan, dan tak lama dia menemukannya, dengan cekatan dia mencoba menombak ikan itu, tentu sekali mencoba tidak akan langsung bisa membuatnya mendapatkan ikan, Rain tak menyerah, dia mecoba lagi, untung saja dulu saat dia kecil kakeknya pernah mengajarkannya menombak ikan seperti ini, ini adalah kegiatan favorit mereka berdua dulu.
Cukup lama dia mencari ikan itu, setelah hampir 2 jam dia mencoba menombak ikan, dia mendapatkan 2 ikan yang berukuran cukup besar, dia segera membawanya ke arah Bianca yang sudah duduk anteng menunggu Rain membawakan makannya.
"Ini cukup?" tanya Bianca menunjukkan beberapa ranting yang cukup banyak, Rain mengangguk saja, dia segera menyusun kayu itu, dia segara mengumpulkan daun-daun kering untuk bisa dibakar, Bianca hanya memperhatikan pria yang akhirnya bisa dia lihat jelas wajahnya.
Bianca memandang wajah dingin dan serius itu, rambut Rain yang sudah memanjang jatuh ke dahinya, basah namun semakin mempesona, selain itu ternyata wajahnya begitu putih dan halus, hidungnya mancung, dan bibirnya begitu bagus, kenapa Bianca baru sadar, pria ini tampak begitu menggoda.
Rain akhirnya berhasil membuat api dari korek apinya yang sudah dikeringkan, saat itu dia segera berdiri begitu saja dan berniat mencari batang untung menyangga panggangannya nanti, begitu tak peka bahwa selama itu Bianca terus memandang pria itu.
Rain segera menyiapkan panggangannya, membersihkan ikan yang sudah dia tangkap, lalu menusuk tubuh ikannya mulai dari mulutnya dan segera memanggangnya di atas api yang sudah mulai membara.
Bianca hanya memandang semua apa yang dilakukan oleh Rain, tak terasa sedikit kagum melihat apa yang dilakukan oleh Rain. Rain yang sedang membalik ikannya lalu menyadari tentang tatapan Bianca pada dirinya, dia lalu melirik ke arah wanita itu, seketika membuat Bianca kaget dan salah tingkah.
Namun Rain hanya mengerutkan dahinya, seolah merasa aneh dengan tingkah Bianca itu, dia kembali fokus ke ikannya dan mengabaikan pandangan Bianca itu.
Setelah beberapa menit memanggang ikan itu, akhirnya ikannya matang juga, saat Rain mengangkat ikan itu Bianca langsung berbinar, dia bakan bertepuk tangan karena perutnya sudah sangat keroncongan, bahkan sudah mulai terasa nyeri.
Rain memberikan ikan itu pada Bianca, dan segera memanggang ikan yang lain untuknya, Bianca segera mengambilnya, tanpa menunggu lama dia mengambil daging ikan itu, tak ingat bahwa ikan itu baru saja masak, tentu saja jarinya langsung terbakar.
"Aw!" kata Bianca yang segera merasakan tangannya sangat sakit, Rain melihat Bianca yang mengibas-ngibaskan tangannya dan segera memasukkan jarinya pada bibirnya, berusaha membuat kulitnya lebih dingin, tapi bukannya makin dingin, tapi malah semakin panas dan tambah nyeri.
"Sini," kata Rain yang mengambil tangan Bianca membawa ke arah sungai, dia menarik Bianca agar berjongkok, Rain memasukkan tangan Bianca ke air sungai yang dingin, Bianca yang mendapatkan perlakukan seperti itu hanya bisa diam dan diam-diam juga dia menatap terus wajah Rain yang sebenarnya sama sekali tidak menunjukkan wajah perhatian, dingin dan datar, tapi entah kenapa begitu terasa hangat bagi Bianca.
"Apa masih sakit?" tanya Rain lagi, tanpa nada sama sekali.
"Oh, tidak, tidak, terima kasih," kata Bianca akhirnya sadar. Rain segera melepaskan tangan Bianca dan berdiri, dia meninggalkan Bianca yang hanya bisa diam saja melihat kelakuan Rain, terkadang begitu hangat, namun bersamaan juga begitu dingin, bagaimana bisa seseorang seperti itu.
Bianca kembali ke tempatnya, melihat ke arah Rain yang sedang sibuk dengan ikannya, Bianca hanya diam menunggu Rain selesai memasak ikannya.
"Kenapa tidak makan?" tanya Rain yang melihat Bianca terdiam dan hanya melihat dirinya saja.
"Aku menunggu ikan ini dingin," kata Bianca mencari alasan, padahal dia hanya terpaku melihat Rain yang sedang melakukan tugasnya.
"Jangan terlalu dingin, nanti tidak akan enak," kata Rain lagi.
"Baiklah," kata Bianca, dia mulai memakan ikan itu perlahan.
Rain mengangkat ikannya yang sudah matang, sebelumnya dia sudah mencari wadah untuk bisa memasak air untuk mereka minum, sebuah kaleng yang dia dapatkan di tepi sungai itu.
Rain duduk tak terlalu dekat dari Bianca, mencoba untuk menikmati makanannya, Bianca melirik pria itu, caranya makan, dan juga ketenangannya, wajahnya, gestur, seperti tidak menunjukkan dia adalah seorang tahanan.
"Kenapa kau bisa masuk penjara?" tanya Bianca yang akhirnya tak tahan untuk tidak menanyakan hal itu.
Rain mendengar hal itu segera melihat tajam ke arah Bianca, membuat Bianca sedikit terkejut melihat reaksi Rain, apa dia sudah salah bertanya? tentu saja dia salah bertanya, hal itu tentu begitu sensitif dengan hal itu, bodohnya aku, pikir Bianca.
"Kau benar-benar ingin tahu?" tanya Rain, jawaban yang tak pernah diharapkan Bianca, dia pikir Rain tidak akan menjawab pertanyaannya selain dengan kata tidak, atau entahlah.
"Ya, aku ingin tahu," kata Bianca.
Rain berdiri, dia lalu melempar tusukan ikan yang tadi dia gunakan untuk memanggang ikan tersebut, lalu setelah itu memandang Bianca dengan sangat tajam.
"Aku memperkosa seorang gadis yang menggangguku," kata Rain santai saja.
Pengakuan Rain membuat mata Bianca membesar, dia langsung terbatuk karena tersedak, Bianca membuang wajahnya dan menarik bajunya, menutup tubuh bagian depannya, langsung bersikap hati-hati pada Rain.
Rain yang melihat reaksi Bianca itu hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya, akhirnya merasa lucu dengan tingkah Bianca yang tampak begitu gugup.
-----------------------------
Halo lagi kakak2 tercintaku, haha...
kok ga ada lagi pembuka2nya, nah karena saya lagi agak sulit menulis, nanti saya buatkanan pas revisi yaa, terima kasih untuk Like, Komen bahkan votenya kakak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
😂😂😂😅
Rain iseng bgt sie...
2023-12-06
0
Mimilngemil
Jadi pensaran sama visualnya Rain
2023-12-06
0
Mimilngemil
😂😂😅😃
ketawan nie... gak pernah kemping n ikut pramuka
Wkwkwkwk
2023-12-06
0