...Kita bertemu di tempat tak terduga....
...Di waktu yang tak pernah kita sangka....
...Namun, di detik aku melihat dirimu di sana....
...Di saat itu aku tahu kau akan menjadi bagian hidupku selamanya...
________________________________________
"Rain, jangan main-main," kata penjaga itu, Rain menaikkan sudut bibirnya sambil pergi ke arah pintu yang menuju ke arah pintu yang akan membawanya ke sebuah menara, tempat khusus dia bisa sendiri pada waktu dimana dia tidak di dalam selnya. Rain baru saja ingin menempelkan kartunya saat seorang penjaga masuk, membuat Rain urung menggunakan kartunya itu dan penjaga itu meneriakkan satu nama.
"Fuller, ada orang yang menunggumu di ruang pembesukan," teriaknya.
Rain melirik dan melihat pria tua yang tadi berbicara padanya itu berdiri, wajahnya benar-benar sumringah, dan dengan sangat senang dia mendekati penjaga itu, Rain membiarkan dia keluar duluan, setelah itu baru dia keluar dari ruangan itu, Rain melihat pria tua itu dibawa ke arah berlawanan dengannya, karena memang tempat pembesukan dan juga menara pengawas itu berbeda arahnya.
Rain berjalan di lorong yang gelap namun penuh cahaya di ujungnya, dia lalu segera berbelok ke arah kanannya, menaikkan tangga setapak demi setapak membawanya naik ke arah menara pengawas.
Rain akhirnya bisa melihat keadaan sekitarnya kembali, penjara ini terdapat di sebuah pulau kecil dikeliling oleh hutan dan juga dibatasi oleh lautan yang ganas, tak heran hanya beberapa orang pengunjung saja yang boleh berkunjung ke penjara yang paling ditakuti oleh para penjahat di negara itu, pengunjung pun harus melintasi laut dengan kapal khusus milik penjara dan diangkut selama 1 jam melewati hutan yang sangat menyeramkan. Kabur dari penjara ini termasuk tindakan bunuh diri karena mereka harus melewati hutan yang konon penuh dengan binatang buas, dan yang paling sulit di tahlukkan adalah lautan ganas itu.
Rain menikmati angin yang semilir menerpa wajahnya yang putih, baunya begitu menyegarkan walaupun terasa lengket dan asin, khas bau luatan, Rain akhirnya bisa menikmati keheningan yang begitu lama dia rindukan. Jika seperti ini, rasanya dia ingin lebih lama ada di tempat itu.
Rain yang sedang menikmati waktunya tiba-tiba kaget mendengarkan sebuah suara dentuman yang begitu keras, dan tiba-tiba dari salah satu ruangan di sana, terlihat asap mengepul, dan seketika suara sirine terdengar keras, bukan hanya itu, 3 kali lagi dentuman terdengar begitu keras, Rain membesarkan matanya dan langsung segera dia turun dari menara itu, saat dia kembali ke lantainya tadi, ruangan itu sudah penuh dengan asap dan debu karena ledakan, Rain menutup mulutnya mencoba untuk kembali menyusuri lorong itu, perlahan dia berjalan namun baru saja dia berjalan beberapa langkah, suara tembakan yang mengarah ke arahnya terdengar, membuat Rain siaga dan mundur beberapa langkah kembali masuk ke daerah tangga yang tadi dia masuki.
Rain menarik napasnya, cukup kaget dengan hal ini, ada apa? apakah ada pemberontakan atau penyerangan, namun dilihat dari keadaanya, kemungkinan sebagian dari tempat ini sudah di ledakkan, Rain menarik napasanya yang sedikit tercekat, dia menahan batuknya karena menghirup asap dan debu, suara sirine tanda bahaya sangat keras memekikkan telinga, bergaung di semua tempat.
Mata Rain awas melihat sekitarnya, namun tiba-tiba dari lorong itu muncul sosok yang tampak berlari dengan buru-buru, dia juga tampak panik ingin melarikan diri dari sana, Rain melirik sosok wanita itu, dia langsung menarik wanita itu sebelum suara tembakan ke arah mereka terdengar lagi, wanita itu hampir berteriak karena merasa baru saja ditangkap oleh para penjahat, untungnya Rain segera membekap wanita yang berontak dan berteriak tertahan di depannya.
"Diam, aku tidak akan menyakitimu," kata Rain berbisik cukup waspada pada wanita itu, wanita itu tak segera berhenti, namun perlahan dia mulai tenang.
"Aku lihat wanita itu pergi ke ujung sana," suara pria terdengar, Rain membesarkan matanya, kalau mereka sampai di sini dan Rain juga wanita itu masih berdiri di bibir tangga seperti ini, maka habislah riwayat mereka.
"Diam dan ikut aku," kata Rain yang segera menarik tangan wanita itu, menaiki anak tangga itu, wanita yang ditarik Rain terlihat cukup kesusahan mengikuti langkah cepat Rain, beberapa kali dia terjatuh namun dengan tanpa perasaan dan takut waktu mereka tak cukup, Rain tetap menarik wanita itu, bahkan lebih tepatnya menyeret.
Rain tiba di lantai 3 penjara itu, dia segera keluar dari ruangan tangga itu dan masuk ke lantai yang sepertinya masih belum dijamah oleh para penyerang itu, dia segera mengunci pintu itu, menarik wanita yang sudah pasrah saja ingin di bawa kemana oleh Rain, Rain lalu melirik ke wanita yang napasnya terdengar tersengal karena harus terus naik dan juga mengikuti langkah Rain yang bahkan terus membuatnya berjalan kencang.
Rain membesarkan matanya melihat wanita itu, dia adalah cucu pria tua itu, kalau dia tak salah ingat, namanya adalah Bianca, dia tak mungkin salah ingat, selain punya fotographic memory yang membuatnya bisa mengingat sesuatu secara mendetail bahkan sejak dia kecil, Pria tua itu selalu membanggakan cucunya.
"Kau mau membawa ku kemana dan kau tahanan?" suara kecil Bianca akhirnya terdengar, suara yang khas yang membuat Rain sedikit mengerutkan dahinya, ada kesan manja dan seperti anak kecil dari nada suaranya. Bianca akhirnya menghentikan langkahnya, mencoba menahan diri agar tak lagi diseret oleh Rain, nyatanya tenaga Rain lebih besar darinya, jadi walau dia berhenti melangkahkan kakinya, dia tetap terseret beberapa langkah, "Lepaskan aku, kau juga pasti orang jahat," kata Bianca lagi.
"Kalau aku orang jahat aku pasti sudah membiarkanmu terbunuh," kata Rain asal saja, Bianca terdiam, benar juga, kalau pria ini tidak menolongnya, mungkin saja dia sudah mati tertembus timah panas oleh para penyerang itu.
"Rain!" kata seorang penjaga yang tiba-tiba muncul dari belokan yang ada di depan mereka, Rain berhenti, matanya menyipit tanda dia siaga, tak ada yang bisa dipercaya saat seperti ini, "Rain, ini aku Davis," kata Davis yang tampak sedikit terbata-bata, napasnya susah karena sepertinya dia juga baru lari menyelamatkan dirinya.
"Davis, ada apa?" kata Rain yang kenal dengan Davis, suara Rain tetap sama, dingin walau ada kesan tegas sekarang, herannya dia tetap memegang tangan Bianca dengan sangat erat, seolah sedang memegang hewan peliharaannya yang bandel, ya, Bianca pastinya terus berusaha untuk melepaskan dirinya.
"Aku belum tahu, tapi sepertinya ada penyerangan, semua gedung di evakuasi, aku rasa lantai pertama dan kedua sudah mereka kuasai, ini lantai terakhir, kita harus keluar dari sini, mereka membunuh siapapun yang mereka lihat, baik penjaga maupun para tahanan, kita harus keluar sebelum sistem mengunci semua tempat ini secara otomatis," kata Davis dengan buru-buru.
"Bagaimana kita keluar tanpa melewati lantai dua dan satu?" tanya Rain lagi, Bianca hanya melirik pria yang sekarang bahkan tak tahu namanya itu, usaha melarikan dirinya gagal, jadi dia hanya diam saja, sedikit frustasi tentunya.
"Di bagian utara gedung ini sedang ada pembangunan kecil, mereka menggunakan semacam tabung yang mereka gunakan untuk membuang sisa-sisa sampah ke bawah, mereka sudah memasangnya kemarin, kita bisa turun dari sana," kata Davis yang membuat senjatanya siap digunakan, dia menyerahkan satu senjata apinya pada Rain, "kau pasti tahu cara menggunakannya kan?"
"Baiklah, Ayo," kata Rain mengambil senjata api itu sambil mengangguk.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
Akhirnya nemu lagi novel yang aku suka, tata bahasanya, penulisannya, aku suka 😍
Telat sie... gpp deh.
2023-12-06
0
🦋grace 🌿🍃rinny 🐝🥀
sisi lain dari seorang pria dingin bernama rain 🤔
2022-05-14
0
Mikayu
bianca bkn nya jenguk kakek nya di penjara ya thor qok bisa msk ke dalam penjara ketemu rain
2022-01-23
0