Rain hampir saja tergoda untuk melihat ke belakang, mendengar tawa riang Bianca yang terdengar renyah baginya, bagaikan seorang anak di wahana bermain.
Namun untunglah dia masih mengingat janjinya, dia urungkan melihat pemandangan yang cukup mengusiknya.
"Bisa kau lebih cepat, hari akan hujan," teriak Rain mengingatkan ada awan kelabu yang cendrung hitam di atas kepala mereka.
Bianca yang sedang asik bermain air akhirnya berhenti mendengar teguran dari Rain itu, huh, menganggu sekali, pikirnya melirik ke arah Rain yang masih setia dengan gayanya.
"Ya, ya, baiklah, aku akan keluar dari air, jangan coba melihat," ancam Bianca.
"Kalau aku melihat juga kau tidak bisa apa-apa," kata Rain yang mulai terbiasa berbicara dengan wanita ini.
"Eits! awas saja, aku akan memukulmu menggunakan batu ini, jangan macam-macam," kata Bianca kembali menggunakan pakaian lembabnya, sebenarnya cukup enggan menggunakannya, terasa sudah apek dan tentu tak bersih lagi, tapi kalau tak memakai pakaian ini, dia ingin pakai apa lagi, masa pakai daun, pikir Bianca sambil memakai celananya.
Tak lama akhirnya dia selesai juga, berjalan mendekati Rain yang bergeming di sana, Rain mendengar suara langkah yang mendekatinya, dia lalu melihat ke arah Bianca, wajahnya sudah sepenuhnya bersih, rambutnya lepek karena baru saja terkena air, lumayan juga pikirnya.
"Kau tak jadi mandi?" tanya Bianca yang melihat Rain hanya menatapnya.
"Aku akan mandi, tunggu saja di tempat peristirahatan, jika kau mau masuk, pastikan dulu tak ada apapun di sana," kata Rain lagi sembari mulai membuka bajunya, Bianca tak membalas, hanya melihat pria itu mulai melucuti pakaiannya.
Saat Rain ingin membuka celananya, Rain melirik ke arah Bianca, ternyata wanita itu bergeming sambil hanya melihatnya saja, Rain mengerutkan dahinya, jika Bianca tak ingin di lihat saat mandi, apa yang membuat wanita ini berpikir, dia boleh melihat Rain mandi.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Rain melirik ke arah Bianca.
"Oh, ya, aku akan segera ke sana, maaf," kata Bianca yang baru sadar apa yang dia lakukan, dia memukul dahinya, entah kenapa bisa begitu terpaku hanya karena melihat pria itu mulai melucuti pakaiannya, seolah keringat yang menempel di tubuh Rain itu tampak begitu berkilau di pandangannya.
Rain memperhatikan wanita itu pergi, setelah itu dia masuk ke dalam air dan mulai membersihkan dirinya, sama seperti Bianca, air dingin menyegarkan itu nyatanya membuatnya semakin ingin berlama-lama di sana.
Setelah sudah cukup, Rain kembali menggunakan bajunya, tepat saat rintik hujan pertama jatuh ke bumi, dia sampai di tempat yang sudah dia buat tadi.
Saat Rain masuk, dia melihat Bianca sudah meringkuk di ujung tempat itu, Bianca menatapnya, sedikit tersenyum lalu bergeser, memberikan ruang untuk Rain.
Saat Rain masuk, hujan sudah mulai melebat, sesaat mereka hanya duduk di sana, memandangi rintik hujan yang perlahan menyapa bumi, memandikannya agar sang debu hilang sementara.
Bianca melipat tangannya, menyangganya ke lututnya, lalu dia menaruh dagunya di atas lipatan tangannya, memandang hujan yang semakin menghipnotisnya, wajahnya sendu, matanya seperti melayang entah kemana.
"Aku rindu kakekku," kata Bianca memecah suara hujan yang jatuh di atas atap daun sederhana mereka,"apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku juga tidak tahu," ujar Rain yang juga mulai terbuai dengan hujan.
"Sudah berapa lama kau ada di sana?" tanya Bianca lagi, mencoba ingin tahu lebih jauh.
"2 tahun," singkat Rain yang memang tak pernah terlalu banyak bicara.
"Kenapa kau memperkosa gadis itu, apa dia menolakmu? kau seharusnya tak melakukan itu, pasti sekarang dia sedang hidup dalam ketakutan," ujar Bianca pelan, matanya masih terpaku dengan hujan yang semakin rapat.
Rain melirik wanita itu, dia menaikkan sedikit sudut bibirnya, jadi ternyata wanita di sampingnya ini percaya saja bahwa dia sudah memperkosa seorang gadis? seharusnya dia tahu jika dia hanya memperkosa seorang gadis, dia tak akan dipenjara di penjara dengan pengamanan maksimum.
Suasana kembali hening, Bianca hanya larut dalam lamunannya, perlahan namun pasti, sejuknya udara, suara hujan yang membuai, dan juga susana mendung yang menggelap membuat dirinya terbuai lebih dalam, apalagi seharian ini dia habiskan dengan berjalan, tubuhnya lelah terasa seketika, memintanya untuk istirahat sejenak.
Rain menatap lagi wanita itu, bisa-bisanya tidur sambil terduduk seperti itu, Rain lalu segera menarik tubuh Bianca ke arahnya, menopang kepala belakangnya dengan lengannya yang kokoh, perlahan membaringkan Bianca agar lebih nyaman, walaupun tak akan senyaman di atas ranjang.
Saat Rain mencoba untuk menidurkan Bianca, tubuhnya juga sedikit tergelincir, membuat dia juga ikut terjatuh dan tertidur, Bianca langsung nyaman tidur berbantalkan lengan Rain, Rain mengerutkan dahi, sepertinya Bianca tipe wanita yang jika sudah tidur, bahkan apapun tak bisa menganggu tidurnya.
Rain mencoba untuk menarik tangannya dari kepala Bianca, namun Bianca tampaknya tak rela bantal yang menurutnya cukup nyaman itu pergi darinya, begitu Rain ingin menariknya, dia malah mempertahankannya, setelah mencoba 3 kali menarik tangannya, akhirnya, Rain menyerah juga ketika wajah Bianca yang tertidur itu mulai tampak tak nyaman dan kesal.
Rain menatap ke arah langit-langit daun yang dia buat, cukup ampuh untuk mengusir air hujan, pikirannya mengalir jauh, bagaimana dia bisa ada di sini sekarang, dia ingat beberapa saat yang lalu, tak begitu mengingat pastinya, perkenalan pangeran cilik, sekian lamanya akhirnya dia bisa kembali melihat wajah wanita yang hingga sekarang belum bisa dia lupakan, begitu anggun dan juga siapapun tak akan bisa melewatkan senyuman manisnya.
Tiba-tiba suara petir menyambar kuat di atas mereka, Bianca yang tadinya tidur dengan pulas langsung terduduk dan menutup telinganya, dia tampak sedikit histeris, seperti sangat ketakutan karena mendengarkan suara petir itu, Rain kaget melihat reaksi Bianca yang cukup berlebihan
Sekali lagi suara petir bak bersautan, membuat suara yang memekakkan telinga, Bianca kembali histeris, dia bahkan teriak, mendengar teriakan Bianca yang benar-benar menunjukkan dia ketakutan, Rain mencoba menenangkannya dengan cara memegang pundaknya, namun reaksi Bianca diluar ekspektasi Rain, wanita itu langsung memeluk pinggang Rain yang kaget atas pelukan erat itu.
Bianca tampak gemetar, tak peduli siapa yang sekarang dia peluk, dari kecil dia memang memiliki astrafobia, atau takut terhadap petir dan kilat, dia akan langsung gemetar, tangan berkeringat, mual, pusing, jantungnya berdetak lebih keras dan juga sesak napas, dan semua itulah yang sekarang dia rasakan.
Rain hanya bisa melihat wanita itu sekarang memeluknya, dia masih ragu untuk membalas pelukan dari Bianca, namun sekali lagi petir terdengar, dan Bianca kembali berteriak keras, Seketika itu instingnya untuk melindungi muncul, dia memeluk Bianca, mencoba menenangkannya.
--------------------------------------------------
Halo kakak2 semua, maafkan hari minggu kemarin aku ga up, maaf ya, lagi ada acara keluarga yang membuatku hanya bisa up 1 Bab di CM doang, so ini aku up dulu di sini ya, terima kasih setia bersama Rain dan Bianca.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
/Joyful//Joyful//Joyful/
2023-12-06
0
Mimilngemil
😃
Uhuy.... suka ya....
2023-12-06
0
Mimilngemil
😂😂😂kebayang sie... badan seger baju bau apek
2023-12-06
0