Bianca baru saja selesai mandi, dia mengoleskan anti septik di luka bakarnya, hanya itu yang dia punya, berharap luka itu tak akan infeksi, padahal seharusnya luka seperti itu diolesi ke khusus agar lekas sembuh.
Rambut Bianca masih basah saat dia melihat tubuhnya yang tanpa sehelai kain pun, terlihat kurus dengan beberapa bekas luka di bagian pinggang dan paling banyak di bagian dada sang punggung, Bianca tak ingin melihat lebih lama luka di perutnya itu, luka itu mengingatkannya pada hal yang paling menyakiti dirinya, malam dimana kehormatan yang dia punya satu-satunya harus direnggut dengan paksa dan begitu menyakitkan.
Bianca memakai gaun malamnya, berwarna merah kontras dengan putih kulitnya, potongan gaun itu menggoda, bukan, bukan dia ingin menggoda siapapun, dia tak bisa pastinya, tapi hanya itu yang dia punya saat ini, seluruh pakaiannya diatur oleh pelayan yang akan membawakan baju apa yang dia harus pakai.
Bianca menyisir rambutnya, duduk menatap wajah gadis cantik namun tak ada roh di dalamnya, Bianca bahkan tak bisa tersenyum lagi, dia ingat bagaimana wajah Rain saat dia menatapnya terakhir kali, dingin dan penuh kemarahan.
Ya, pasti, siapa pun akan marah jika dituduh seperti itu, siapa saja, dan Bianca tak bisa berharap apa-apa, pria itu pasti akan membenci dirinya.
Saat pikiran Bianca pergi meninggalkan raganya, pintu kamar terbuka, membuat jiwa Bianca kembali ke tubuhnya, dia melirik dengan cepat, melihat ke arah pintu yang terbuka lebar, dia harap itu adalah ibunya, namun yang datang adalah serigala lapar itu.
Drake datang dengan gayanya hanya menggunakan jas mandi putihnya yang tebal, Bianca langsung berdiri, mencoba menjauh dari pria itu, pintu ruangan itu sudah tertutup rapat.
"Apa maumu?" tanya Bianca, dia tahu apa yang diinginkan pria ini dengan jelas, dia pasti ingin melakukan tindakan bejat itu.
Drake duduk dengan tenang di sofa yang ada di sana, mengenalkan asap dari cerutu besarnya, melirik buas ke arah Bianca, melihat tubuhnya dari atas ke bawah, dia kelihatan sangat lapar.
"Drake!" kata Bianca yang sangat trauma dengan apa yang sudah diterimanya.
Drake kesal dengan hal itu, dia lalu mendatangi Bianca yang langsung lari menjauh darinya, Drake langsung mengejar Bianca, soalnya tak ada tempat yang bisa dia datangi, Bianca hanya bisa berlari ke kamar mandi dan segera mengunci pintunya. Drake berdecak kesal, lagi-lagi wanita ini sok jual mahal dengannya, padahal beribu wanita ingin tidur dengannya.
"Hei! cepat keluar, tolong jangan rusak moodku atau kau malah mendapatkan yang lebih parah dari ini," ujar Drake menggedor pintu kamar mandi itu.
Bianca tampak panik, dia melirik ke arah sekitarnya, melirik sekitarnya namun dia tak melihat apapun di sana, apa yang harus dia lakukan.
Drake menendang keras pintu itu membuat Bianca makin panik, dia cemas hingga tak bisa berpikir apapun, dia tak ingin Drake melalukan hal itu padanya, tidak, jangan sampai dia menyentuh tubuhnya barang sejengkal.
Setelah beberapa kali menendang keras, akhirnya Drake berhasil membuka pintunya, Bianca yang melihat itu membesarkan matanya, dia melihat kaca di sana, dalam pikiran Bianca muncul sesuatu yang dia rasa bisa membuatnya terhindar dari neraka di dunia ini, dia mengambil tutup flush toiletnya yang cukup berat lalu melemparkannya ke kaca, membuat kaca itu berkeping-keping, Bianca lalu mengambil kaca yang tajam itu, menusukkannya ke arah lehernya, dia tak akan ragu menggorok lehernya sendiri sekarang karena dia tak akan ingin lagi merasakan neraka itu kembali.
Drake yang melihat semua itu hanya menatap Bianca tenang, bukannya panik melihat Bianca menancapkan kaca itu di lehernya, dia malah tersenyum, melipat tangannya di depan dadanya lalu menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu itu.
"Lakukan, ayo lakukan," kata Drake santai, melihat Bianca yang menatapnya tajam dengan mata yang basah.
"Aku lebih baik mati dari pada kau menikmati penderitaan ku lagi!" teriak Bianca.
"Silakan, aku ingin tahu seperti apa keberanianmu, oh, sebelum kau mati, kau yakin meninggalkan ibumu dengan orang sepertiku?" tanya Drake dengan senyuman manisnya yang memuakkan.
Bianca terdiam, sesaat dia melupakan kartu AS yang ada di tangan Drake, tangis Bianca menjadi, namun dia coba tahan, tenggorokannya bagaikan menelan ribuan kaca, sakit bahkan untuk menelan napasnya, air mata Bianca mengalir deras, dia melepaskan kaca itu perlahan, Drake tersenyum menang, mendatangi wanita itu perlahan.
"Aku janji akan melakukannya dengan lembut kali ini selama kau tak membuatku kesal," kata Drake mengulurkan tangannya.
Bianca menangis dalam diam ketika tangan Drake menyentuh tubuhnya, dia berontak namun seolah tak bisa melakukan apapun lagi.
"Jangan bergerak atau kau akan melihat ibumu juga diperkosa oleh orang-orang ku di depanmu! nikmati saja," bisik Drake yang sudah dikuasai nafsu.
Bianca menutup wajahnya dengan tangannya, menangis dengan diam, tubuhnya terasa terkoyak, lebih dari itu dirinya rasanya perlahan-lahan mati, dia bahkan berdoa untuk Tuhan menyabut nyawanya sekarang, setiap sentuhan bagai seribu pedang yang melukai kulitnya, setiap sentuhan membuatnya ingin mati saja.
Bianca meringkuk dalam selimutnya, setelah melakukan hal bejat itu Drake meninggalkannya, Bianca hanya bisa diam dengan air mata mengalir begitu saja.
Pintu kamarnya terbuka, sekali lagi pandangan Bianca ke arah pintu itu, dia melihat seseorang mendorong tubuh ibunya ke lantai.
Bianca menyeka air matanya, dengan cepat dia turun dari tempat tidurnya, mendatangi ibunya yang tampak lemah, pucat, dan linglung.
"Ma, ma, ini Bian Ma," ucap Bianca menaikkan tubuh ibunya.
"Bian, Bian, Bian!" histeris ibu Bianca memeluk anak semata wayangnya, anak yang dia jaga dengan seluruh jiwa raganya.
"Apa yang mereka lakukan, mama sudah makan? pelayan, aku minta air dan makanan!" teriak Bianca.
"Baik nona, " kata Pelayan yang memang diperintahkan untuk menuruti permintaan Bianca yang tidak macam-macam.
Bianca membawa ibunya ke tempat sofanya, menyelimuti tubuh ibunya yang dingin dengan selimut tebalnya, Bianca lalu tersenyum, ibunya melihat anaknya dengan mata basahnya.
"Apa yang mereka lakukan padamu? apa kau menderita?" kata Ibunya dengan suara lirihnya.
"Tidak, lihatlah, kamarku begitu besar kan? aku diberikan pelayan yang membawakan apapun yang aku mau, mereka juga menjagaku, Drake ...." Bianca menelan ludahnya yang rasanya teramat pait, bagaikan empedu masuk ke tenggorokannya,"memperlakukanku dengan sangat baik."
"Benarkah? mama senang mendengarnya, ibu juga, mereka hanya kurang suka jika ibu Lambat bekerja," kata Ibu Bianca memegang pipi halus anaknya.
Bianca tak bisa menahan tangisnya, ibunya datang untuk memohon pada Drake saat tahu dia di jual ayahnya, dia memohon untuk melepaskan Bianca, namun Drake mengatakan dia harus membayar hutangnya, jadi ibu Bianca yang tak punya apa-apa hanya menawarkan diri untuk bekerja sebagai pelayan, Drake menyetujuinya, dengan syarat Bianca akan dibebaskan setelah hutang lunas dan dia berjanji akan membuat Bianca senang selama ibunya bekerja dengan baik, namun semua itu hanya tipu daya, Drake malah membuat ibunya sebagai ancaman untuk Bianca, dan yang Bianca alami bahkan lebih parah dari Neraka.
"Ya, aku merindukan Mama, Ma, makanlah," kata Bianca menyuapi ibunya dengan tangan bergetar.
Bianca terus tersenyum malam itu, mencoba menunjukkan wajah bahagianya pada ibunya, kalau ibunya tahu apa yang sudah dilalui oleh Bianca maka ibunya pasti sedih sekali, dan Bianca tak mau itu terjadi. Biarlah ibunya hidup dalam bayang-bayang bahwa anaknya bahagia, dia tak mau membebani ibunya dan hanya ini yang dia bisa lakukan. Biarlah dia saja yang tahu semenderita apa dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
Bianca ternyata sangat menyedihkan dan sudah tidak V***😢
2023-12-06
0
Elvi Nopricha
thor bisa kh buat si cwek ny kuat,gk melulu trtindas ..bca ny gmna gitu
2022-10-30
0
Maya Keppoo
semoga rain jodohnya orang baik jangan bekas² . seina bekas orang apalagi bianca budak nafsu udah bobol semua ..
2021-09-16
0