Rain sedikit terganggu tidurnya ketika dia merasakan gerakan dan juga sedikit suara berisik yang segera membuatnya langsung terbangun, dia segera sigap, namun ternyata suara itu dari Bianca yang sepertinya dengan mengigau.
Rain mengerutkan dahinya, sepertinya Bianca sedang mimpi buruk, dia bahkan hingga berkeringat dingin, Rain yang melihat Bianca gusar awalanya ingin membangunkan wanita yang tetap nyaman dipangkuannya itu.
Namun baru saja Rain ingin membangunkannya, tiba-tiba Bianca terpekik dan langsung terduduk, napasnya berat dan dia seperti seseorang yang begitu ketakutan, dia melihat ke segala arah, menemukan dirinya masih ada di lorong bawah tanah yang lembab dan gelap itu, dia lalu melihat ke arah Rain, menarik baju yang menjadi selimutnya dari tadi agar lebih hangat memeluknya, belum sadar bahwa itu adalah baju yang dia tolak.
Bianca memandang Rain terus, bahkan dia memandangnya dengan penuh ketakutan, napasnya masih saja tak teratur, bahkan dia kesusahan untuk menelan ludahnya, bibirnya terlihat kering, sudah hampir satu harian dia tak minum apalagi makan.
"Aku bermimpi buruk," kata Bianca, Rain hanya memandangnya datar, tak ada wajah perhatian atau minat untuk mendengarkan apa mimpi Bianca, Rain hanya melirik jam tangannya, melihatnya dengan diterangi cahaya korek api gasnya, sudah hampir pukul 4 pagi.
"Kita lanjutkan perjalanan," kata Rain lagi tak ingin buang-buang waktu, dia merasa istirahat untuk Bianca sudah cukup, lebih cepat mereka keluar dari lorong ini, itu lebih baik. Bianca hanya mengerutkan dahinya, tak ada kah simpati sedikit pun dari pria ini?
"Tuan, aku menyaksikan kakekku di tembak mereka saat dia mencoba menyelamatkanku, dia menyuruhku pergi, apa menurutmu dia bisa selamat?" tanya Bianca lagi yang langsung menghentikan gerakan Rain yang baru saja ingin turun dari lorong itu.
"Aku tidak tahu," kata Rain seperti biasa datar dan tak memiliki nada, bahkan simpati pun tidak walau di dalam hatinya dia cukup merasa kehilangan, sosok pria tua yang selalu mencoba mendekatinya itu sepetinya sudah pasti tak akan selamat.
Rain melanjutkan gerakannya, dia segera turun ke lorong itu kembali, suara riak air kembali terdengar, Bianca mau tak mau mengikuti kemauan Rain, walau seluruh badannya rasanya remuk, tapi dia juga tak ingin berlama-lama ada di tempat ini, cukuplah satu malam.
Bianca mencoba untuk melompat dari sana, tapi dia tidak yakin bisa melompatinya, dia lalu bingung harus apa, Rain yang tadinya tak berminat melirik ke arah Bianca, mau tak mau jadi harus melihatnya, Rain menarik napasnya, dia lalu segera berjalan dan berhenti di depan Bianca, Bianca tersenyum manis, dia kira Rain datang sudah pasti ingin membantunya turun.
"Lompat, aku akan menangkapmu," kata Rain.
"Kau serius?" kata Bianca tiba-tiba ragu, bagaimana jika dia lompat lalu pria ini pergi, bisa-bisa patah kakinya nanti.
"Iya," kata Rain mencoba dengan sangat agar sabar menanggapi Bianca, Bianca lalu segera mengangguk-anggukan kepalanya, dia lalu mundur sedikit lalu segera mengambil ancang-ancang, dia lalu melompat, dan lompatan itu hanya lompatan kecil, Rain bahkan tak perlu menangkapnya, Bianca kaget bahwa dia bisa mendarat dengan sendirinya di atas kedua kakinya pada lantai beton itu, dia kagum atas dirinya sendiri hingga berkata, "wah ...." membuat Rain geleng-geleng kepala tak mengerti tingkah wanita ini.
Rain segera berjalan memimpin jalan, air yang dingin itu membuat Bianca menggigil ketika kulitnya menyentuhnya, dia hanya kembali menarik baju yang dia kenakan, untung saja ada baju ini pikirnya sambil kembali mengetatkan baju itu, baru saja dia berpikir seperti itu, dia melihat dua mayat yang sudah kaku, dua penyerang yang kemarin dibunuh oleh Rain, salah satunya sudah tak menggunakan baju.
Bianca melirik ke arah pakaian yang menyelimutinya, bukannya ini baju pria itu, dia terhenti sejenak, beberapa kali melihat baju itu lalu ke arah mayat yang mengambang itu, dia lalu segera membuka baju itu sambil berteriak.
Rain sontak melihat ke arah Bianca yang memegang baju itu seperti memegang sesuatu yang jijik. Rain memiringkan kepalanya, seolah mengatakan kenapa Bianca berteriak.
"Ini, ini bajunya kan, aku tidak mau menggunakannya, kenapa kau membuat aku menggunakan baju orang mati," ujar Bianca protes, dia langsung melemparkan baju itu ke arah Rain, untunglah Rain sigap kalau tidak baju itu akan basah.
Rain memasang wajahnya malas, kalau tanpa baju ini tak akan mungkin tidur Bianca bisa sepulas itu, pikirnya.
"Ayo, jalan," kata Rain lagi memerintah.
Bianca segera mengikutinya tanpa menjawab, Rain segera membawa Bianca ke arah yang menurutnya benar, namun entah kenapa lorong itu sangat-sangat panjang, bahkan sekarang air di sana sudah sepinggang mereka.
"Tuan kau yakin ini jalannya," kata Bianca yang makin takut, jangan-jangan mereka akan mati tenggelam.
"Hmm," kata Rain yang hanya menjawab dengan sedikit gumaman, membuat Bianca berjanji dalam hatinya dia tak akan lagi mau berbicara duluan pada pria itu.
Rain mendengar suara riak air yang deras seolah seperti sungai, Rain lalu dengan semangat berjalan lebih cepat ke arah itu, bisa saja terowongan ini bersambungan dengan sungai, kalau begitu artinya mereka sudah dekat dengan ujung terowongan ini.
Bianca yang melihat Rain mempercepat jalannya langsung membesarkan matanya, jangan-jangan pria ini mau meninggalkannya.
"Hei, pria aneh! tunggu aku!" kata Bianca yang tidak ingin lagi bersopan dengan memanggil Rain Tuan, toh pria ini juga tak sopan dengan Bianca.
Tak lama mereka menemukan ujung terowongan itu, Rain berhenti di ujungnya, benar perkiraannya, ujung terowongan itu langsung mengarah ke arah sungai, Sungainya cukup lebar, setelah mengamati sungai itu arusnya tak terlalu kencang, namun Rain tak yakin apakah sungai itu dalam atau tidak, namun dasarnya memang tidak diketahui.
"Wah, sungai," kata Bianca yang berdiri di samping Rain sekarang, melihat sungai yang mengalir dengan air yang jernih membuatnya ingin segera masuk ke dalam, pasti sangat menyegarkan, dia sudah berkeringat dan lengket dari semalam, apalagi pagi ini, walau cahaya matahari masih belum sepenuhnya keluar, namun dia bisa melihat dengan jelas, air di sana sangat menggoda.
"Kau bisa berenang?" tanya Rain, baru saja Rain mengatakannya tanpa aba-aba dan tanpa apapun, Tiba-tiba saja Bianca memutuskan untuk langsung melompat ke dalam sungai itu, Rain membesarkan matanya, apa sih sebenarnya yang ada di pikiran wanita itu, tak menunggu lama, akhirnya Bianca muncul dipermukaan, namun dia sudah terbawa arus. Bianca tanpa gelagapan di dalam air.
"Sial," ujar Rain, dia segera melompat pada sungai itu dan segera saja dia mencoba menggapai Bianca, untunglah dia bisa melakukannya dan segera menarik Bianca ke tepian.
Bianca duduk di salah satu batu yang cukup besar di pinggiran sungai itu, Rain juga duduk untuk mengatur napasnya, Bianca memeluk dirinya, dia kira air itu akan sangat menyegarkan, sejuk dan akan membuat badannya nyaman, yang ada, saat dia masuk ke dalam air itu, seperti dia sedang berendam di air es, dinginnya menusuk kulit bagaikan ribuan jarum yang menyengat, merasakan itu Bianca merasa tubuhnya langsung kaku membeku dan jadilah dia tak bisa berenang dengan baik.
Bianca menunduk, melirik pria yang sekarang tampak kesal karena dia juga harus basah kuyup, Bianca diam saja, mungkin terlalu senang karena melihat dunia luar lagi, jadinya dia melakukan hal bodoh itu.
"Maaf," kata Bianca pelan.
"Lain kali kalau mau mati, katakan padaku, aku bisa melakukannya dengan cepat," kesal Rain, pagi-pagi begini dia harus kedinginan karena ulah wanita aneh ini, seluruh peralatannya basah, dia mengambil korek api yang dia bawa, mencoba untuk mengeringkannya, namun sepertinya masih terlalu basah, hingga tak bisa digunakan lagi.
Rain melempar korek itu dengan kesal ke arah tanah yang ada di dekatnya, Bianca melihat hal itu sedikit kaget, dia sepertinya benar-benar sudah membuat pria ini kesal, namun segera diambilnya lagi lalu mengelapnya dan memasukkannya dalam saku bajunya yang basah. Bianca hanya bisa meringkuk mengigil.
----------------------------------------------------
Hallo kakak pembaca RITW, wkwkw lucu singkatannya, terima kasih ya sudah ingin membaca karyaku, mulai saat ini aku akan berinteraksi dengan kalian mungkin dengan cara ini, jika sempat akan ku balas semua komen, kalau tidak aku minta maaf ya, jika ada kritik dan saran, please tinggalin komen, entar beberapa pertanyaan yang bisa ku jawab, akan ku jawab di feed seperti ini.
I love you All...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
😂😂😆😅
2023-12-06
0
Lilis Ferdinan
lain kali klw mau mati, katakan padaku, aku bs melakukannya dngn cpt,,, 🤭🤣🤣ngakak ngebayangin gmb dongkolnya rain,,, stuka sama karakter cwok yg cool,,, 😘
2022-01-01
1
Styaningsih Danik
nyari novel yg bagus tk sengaja baca yg cinta dibalik jas putih wahh ternyata 👍👍👍akhirnya baca diprofil author nemu novel2 yg bagus menarik👍
2021-11-25
1