"Aktingmu bagus sekali," kata Drake tersenyum sinis, dia ingin mencolek dagu Bianca, namun segera ditapis oleh Bianca, Bianca hanya berwajah muram dan kesal, dia melirik tajam ke arah Drake.
Drake pun melirik ke arah Bianca yang muram, dia tertawa sinis melihat wanita itu, dia lalu memengang dengan kasar dagu Bianca, memaksa wanti itu untuk melihat dirinya.
"Berani kau memandangku seperti itu?" kata Drake yang tadinya terlihat begitu senang, tiba-tiba saja berubah seperti serigala yang kelaparan. Dia mencengkram rahang bianca yang kecil itu, menusukkan kuku-kukunya ke pipi Bianca yang putih, membuat Bianca hanya bisa melirik panik ke arah Drake yang sepertinya menikmati wajah kesakitan Bianca, semakin lama semakin dia meremas rahang Bianca, seolah ingin membuatnya remu, bahkan napas Bianca sedikit kesusahan karena tingkah dari Drake ini.
"Apa perlu aku ingatkan kau tentang siapa kau ini, seharusnya kau berterima kasih aku mengakui dirimu yang sampah ini sebagai tunanganku! Ribuan wanita ingin menggantikan posisimu," kata Drake melempar tubuh Bianca dengan kasar di dalam mobil yang sedang berjalan itu, karena kekuatan dari Drake itu, kepala Bianca langsung terbentur ke kaca pintu mobil itu, menyebabkan kepalanya begitu nyeri, seketika menginduksi air matanya keluar.
"Kalau begitu gantikan saja aku, aku lebih baik menjadi pelayan seumur hidupku dari pada harus begini! aku sudah melakukan apa maumu!" ujar Bianca yang memegangi kepalanya yang cukup pusing.
"Jangan berpikir karena kau melakukan hal ini kau bisa bebas, kau ingat ayahmu sudah menjualmu padaku, selama hutang itu belum lunas, jangan harap kau bisa hidup bebas," kata Drake lagi dengan lirikan marah namun sudah tak lagi memegang Bianca.
"Kau berjanji jika aku melakukan hal ini, bukankah kau akan melepaskan ibuku?" tuntut Bianca.
"Aku memang berjanji, tapi aku dengar kau juga melakukan hal yang hampir saja menggagalkan rencana ini, karena itu aku tidak akan melepaskan ibumu, hingga kau bisa memuaskanku," kata Drake lagi terlihat tenang mengambil sebuah cerutu, menghisapnya hingga membuat satu mobil itu tercium bau asapnya.
"Tapi aku sudah melakukan apapun yang kau mau," kata Bianca lagi, dia setuju melakukan hal keji ini hanya demi keselamatan sang ibu tapi ternyata dunia ini tak semudah yang dia pikirkan, walaupun sudah menuruti keinginan pria ini, hidup ibunya tetap saja dalam masalah.
Bianca tak perduli tentang dirinya, mau dia di siksa, mau dia dilecehkan, atau dia harus dibunuh sekali pun dia tak pernah akan peduli hal itu, karena menurutnya, karena dirinya ibunya selalu menderita, seumur hidupnya belum sekali pun dia melihat ibunya dapat bahagia, sekarang setelah pria kejam yang harus dia panggil ayah itu sudah tak ada, kenapa Tuhan harus kembali memperkenalkan mereka dengan pria yang bahkan lebih parah dari iblis ini, apa salah mereka seberanya.
Beberapa bulan yang lalu, Ayahnya membawa Bianca, Bianca sengaja menyerahkan dirinya namun dengan syarat agar ibunya bebas dari ayahnya karena dia tahu ayahnya akan kembali ingin menyiksa ibunya, awalanya ayahnya mengatakan iya, Bianca berpikir biar lah dia yang menanggung semuanya, namun peneritaannya di mulai dari sana, dia dibawa oleh ayahnya pada Pria ini, dia menjual Bianca pada pria berhati besi ini, sejak saat itu hidup Bianca bagaikan nereka, pria ini memperlakukanya bagaikan budak, budak dari segala keinginannya.
"Diam!" kata Drake mematikan cerutunya pada paha Bianca, menekan api yang menyala itu ke paha Bianca, Bianca mengerang keras kesakitan, memang dia menggunakan celana, namun karena panas, celana iitu langsung terbakar dan api itu padam di paha Bianca membuat dagingnya yang tersulut api itu matang dan juga langsung meninggalkan luka bakar, rasanya tak bisa dibayangkan, panas dan nyeri bersamaan.
Bianca hanya bisa menangis memegangi pahanya yang sudah tampak merah dan hitam.
"Sekali lagi aku mendengar suaramu, ibumu akan merasakan hal itu 10 kali lipat, kau tahu aku bukan, aku bukan orang yang suka bermain-main," kata Drake lagi, sekali lagi menarik jasnya, mencoba untuk tenang, wanita di sampingnya ini sangat-sangat mengganggunya, membuat dirinya kesal saja.
Bianca hanya bisa diam, mencoba menahan tangisnya karena tak ingin membuat suara bagi Drake, panas pahanya masih sangat terasa, namun dia mencoba untuk tetap menahannya, tak sanggup membayangkan jika sampai ibunya terkena imbas dari hal ini.
Mobil mereka akhirnya sampai pada halaman rumah yang penuh sangat luas, rumahnya besar dan tentunya mewah, di gerbang rumah yang begitu kokoh itu tampak banyak wartawan yang lagi-lagi menunggu mereka.
"Lakukan lagi tugasmu dengan baik, hapus sedikit air matamu, tapi jangan terlalu kering, lakukan sebagus tadi." kata Drake memerintahkan Bianca.
Bianca hanya diam tak bergeming, Drake tak suka apa yang dia katakan tidak dibalas oleh Bianca, dengan Cempat dia menarik rambut Bianca, membuat wajahnya terngadah.
"Kau dengar apa yang aku katakan?" tanyanya Drake lagi beringas.
"Ya, aku dengar," kata Bianca lemah, dia juga menangguk, menatap ngeri pada dewa kematian ini.
Drake tersenyum manis, melepaskan jambakkan tangannya yang sangat erat tadi dari kepala Bianca, Bianca yang bahkan menelan ludah saja rasanya sudah tak bisa tu hanya memandang takut pada pria ini.
Drake dengan lembut tiba-tiba mengusap kepala Bianca, membenarkan rambutnya yang tampak kacau akibat ulahnya tadi, menghapus buliran air matanya yang baru saja keluar kembali.
"Jangan membuat aku kesal lagi, mengerti?" kata Drake pelan seolah ingin menegaskan hal itu pada Bianca yang melihat wajah pria itu di depannya hanya bisa menangguk, melihat bagaimana seramnya pria ini, bisa berubah dengan waktu yang cukup cepat.
"Kalau kau bisa bertingkah baik di depan para wartawan itu, aku akan izinkan kau tidur dengan ibumu malam ini, kau bisa?"ujar Drake lagi, seolah sedang berbicara dengan seorang anak perempuan yang tak patuh dengannya.
"Ya, aku bisa," kata Bianca pelan dengan suara bergetar.
"Bagus, sekarang keluar saat aku membukakan pintu ini," kata Drake.
Drake langsung keluar dari mobil itu, wajahnya tampak senang karena dia harus menunjukkan betapa dia bahagia bisa mendapatkan tunangannya kembali, dia mengitari mobil itu, membuka pintunya lalu memberikan tangannya pada Bianca, dengan mesra dia memeluk bahu wanita itu, membiarkannya dalam pelukannya, padahal Bianca begitu muak mencium bau tubuhnya, namun dia tak bisa apa-apa.
"Maafkan, tuanganku masih sangat lelah, selain tubuhnya juga dia mengalami trauma mendalam, kalian harus memaklumi itu," kata Drake dengan segala kepalsuannya, mengelus lembut rambut Bianca.
"Tuan Drake apa benar tunangan Anda ini disandra oleh Tuan Rain yang dulunya adalah pengusaha sukses di negara ini," kata salah satu Wartawan yang menyerobot memberikan pertanyaan.
"Aku tak tahu siapa dia, sayang, apakah benar pria yang menyekapmu itu bernama Rain?" kata Drake, Bianca menggigit bibirnya, sekali lagi dia harus mengatakan hal yang tak sebenarnya, Bianca awalnya hanya ingin diam saja, tak ingin menambah salah untuk Rain yang notabene tak punya salah apapun, namun genggaman tangan Drake yang mengerat dan sengaja menekan kuku-kukunya ke daging tangan Bianca seolah bagaikan kode untuk dia menjawab.
"Ya, pria itu bernama Rain, dan dia menyekapku," kata Bianca lagi, namun langsung diserobot oleh Drake.
"Ya, aku pastikan pria itu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dengan apa yang sudah dia perbuat, maaf, sudah cukup untuk wawancaranya, kami akan masuk, tunanganku butuh istirahat," ujar Drake langsung menarik Bianca untuk masuk, Bianca yang merasakan sakit dikakinya hanya bisa menahannya sambil berjalan begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
Masih Nyimak alurnya, mulia gereget
2023-12-06
0
Dirman6987
cerita nya mulai jelek
2023-01-06
0
anggrymom
kurang asem si drake,,, mdh2n bianca ga diperkosa
2021-10-13
0