Bianca hanya bisa mengikuti Rain yang berjalan di depannya, entah sudah berapa lama mereka terus saja berjalan, tak sedetik pun Rain menghentikan kakinya, Bianca hanya bisa pasrah, melihat dan merasakan langsung bagaimana seseorang tertembak di depannya, dia benar-benar tak berani untuk membantah pria yang entah siapa di depannya ini.
Suasana di sana gelap, hanya sedikit cahaya yang bisa masuk, udaranya busuk dan pengap, lembab dan berlumut, Bianca beberapa kali hampir terpeleset karena menginjak sesuatu yang lembek di bawah kakinya, membuatnya tentu jijik.
Air kotor merendam kakinya semakin tinggi, tadinya tak sampai semata kaki, sekarang sudah lebih tinggi membuat langkahnya semakin susah tergerakan, suara langkah membelah air terdengar menggema Bercampur suara-suara tikus yang bercicit ria.
Bianca sudah terbiasa dengan darah yang sebagian besar sudah mengering di rambut dan wajahnya, bajunya juga tangannya, bau anyirnya sudah bagaikan wanginya sendiri, dia menggigil karena udara semakin dingin menusuk, apalagi seluruh baju dan celana lembab mengering di tubuhnya
"Ehm, Tuan kau tahu siapa mereka?" tanya Bianca memecah keheningan, dari tadi yang dia dengar hanya suara air yang menetes sesekali dan suara sibakan air di kaki mereka, Bianca memeluk dirinya sendiri.
"Tidak," ujar Rain bahkan lebih dingin dari pada suasana di sekitarnya, Bianca merasakan datar dan dinginnya suara pria di depannya, seolah tak ingin berbicara padanya.
"Tuan, namaku Bianca, boleh aku tahu siapa namamu?" tanya Bianca lagi, sekali lagi berusaha agar bisa mengobrol dengan pria jangkung di depannya ini, berdiri bagaikan tembok penghalang.
"Tidak," sekali lagi jawaban yang tak di inginkan oleh Bianca terdengar, Bianca mengerutkan dahinya, membuat noda darah itu tampak retak di wajahnya, bibirnya dicucurkannya ke depan.
"Tuan, bisakah kita berhenti sejenak, aku lelah sekali," pinta Bianca yang sudah teramat lelah, dia benar-benar tak sanggup lagi berjalan, rasanya dia sudah seperti mengambang, walau berjalan dia sudah tidak bisa merasakan kakinya dari lutut ke bawah.
"Tidak," kata Rain, merasa wanita ini mulai membuatnya kesal. Tapi Bianca lebih kesal dengan kelakuan Rain ini.
"Kau tidak bisa mengatakan kata lain selain tidak ya?" kata Bianca benar-benar kesal, semua pertanyaannya mulai basa-basi, hingga serius dia jawab dengan sesingkat itu.
"Entahlah," ujar Rain lagi tak peduli, sekali lagi wanita ini menjawab, dia tak akan membalasnya, pikirnya.
Bianca benar benar kesal, dia melihat kaleng kecil yang mengambang, dengan tenaga yang tersisa dia segera menendang kaleng itu, bukannya mengenai Rain malah memantul di dinding lorong berbentuk lingkaran yang terbuat dari beton itu, persis seperti gorong-gorong air yang besar.
Suara kaleng yang ditendang oleh Bianca menggema, membuat suara yang gaduh, bahkan sukses membuat tikus-tikus got bercicit lebih keras, seperti lari ketakutan.
Hal itu juga sukses membuat Rain akhirnya melihat dirinya dan menaruh perhatian pada gadis yang penampilannya sangat berantakan itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rain yang kesal, kalau ada yang mengejar mereka, orang-orang itu pasti akan segera tahu keberadaan mereka karena wanita manja yang ceroboh itu, Bianca memajukan bibirnya tanda dia kesal dimarahi oleh pria ini, dia lalu segera menyipitkan matanya, memandang tak takut pada Rain yang berwajah tak ramah sama sekali.
Bianca tampak tak peduli, dia melipat tangannya dengan keras di depan dadanya, dia lalu segera menepi dan duduk sebisa mungkin bersenderkan dinding lorong itu, dia sudah tak sanggup lagi, bahkan jika dipaksa, dia yakin dia pasti akan pingsan.
"Bangkit," kata Rain yang seperti memerintahkan tentara, tak ada keramahan di nada bicaranya, Bianca yang menarik napasnya panjang hanya melirik pria itu.
"Tidak bisa, aku sudah tak bisa merasakan kakiku, aku di sini saja, jika kau ingin meninggalkan ku aku tak akan menyalahkanmu," ujar Bianca dengan tersengal, bernapas saja sudah di udara yang begitu tipis itu, bahkan dia terkejut dia tak muntah karena baunya yang seperti toilet yang tak dibersihkan lebih dari sebulan.
Rain hanya diam, memandang wajah Bianca yang putih namun penuh bercak darah, rambutnya sebagian menegang karena darah yang sudah mengering, dia benar-benar tampak kelelahan, Rain menarik napasnya, namun dia segera berbalik untuk melanjutkan perjalanannya, tak punya alasan untuk menemani wanita manja itu.
Bianca membesarkan matanya, tak percaya dengan apa yang yang dilihatnya, bagaimana bisa pria itu benar-benar ingin meninggalkan wanita lemah sepertinya, dari semua pria yang sudah di kenal Bianca, pria ini yang paling tidak peka.
"Hei! kau benar-benar ingin meninggalkanku! apa kau sudah gila! meniggalkan wanita sendirian di sini diantara kotoran dan juga orang-orang yang ingin membunuhku! kau ini pria macam apa sih! kau ini ...!" cerca Bianca tak habis pikir, kalau saja dia masih punya sedikit saja tenaga untuk bisa melempar pria itu dengan sesuatu, dia akan melakukannya, pria paling dingin dan tak punya perasaan sama sekali, pikir Bianca.
"Srtt!!!" Rain mengeluarkan gestur untuk diam secara keras, Bianca yang melihat itu langsung memasang wajah ngambeknya, kenapa malah menyuruhnya diam.
Hening kembali, hanya suara tetesan air yang terdengar, Bianca sedikit penasaran apa yang ingin di dengarkan oleh Rain, tak lama terdengar suara riak air namun cukup jauh, dan seketika membuat Bianca menutup mulutnya dan matanya membesar melihat ke arah Rain, Rain langsung waspada, dia tak mau ambil resiko, walaupun tak tahu riak air itu dari mana asalnya, Bianca menyerahkan tangannya, tahu pria ini akan menariknya kembali seperti biasanya.
Dan benar, Rain segera menarik tangan Bianca, dan dengan cepat dan tanpa menunggu lagi, mereka pergi dari sana, Bianca lagi-lagi meringis kesakitan, nyatanya istirahatnya tadi bukannya membuat dia nyaman, malah menambah sakit kakinya yang sekarang harus dia abaikan nyerinya, lebih baik mati rasa seperti tadi, dari pada harus menahan seperti jarum kecil yang menusuk-nusuk kakinya.
Rain mendengar langkah itu makin jelas terdengar, dia lalu memelankan langkahnya, mengamati sekitarnya, lorong itu bercabang, dan Rain melihat sebuah terowongan lain di ujung sisi yang lain, dia lalu menarik Bianca ke sana, dia melihat lorong itu sedikit lebih tinggi dari pada tempat mereka berpijak namun bisa dijadikan tempat bersembunyi sementara untuk Bianca, Rain lalu memberikan isyarat untuk Bianca naik ke tempat sembunyi itu, namun tenaganya sama sekali tidak ada, untunglah saat itu Rain peka dengan keadaan Bianca, dengan perlahan dia membantu Bianca untuk naik, Bianca akhirnya berhasil naik ke atas ruangan yang cukup sempit itu.
Dia melihat Rain yang tak naik ke atas, pria itu hanya memberikan gestur untuk diam, lalu secepatnya pergi ke arah lorong utama mereka tadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
menegangkan 😯
2023-12-06
0
Mimilngemil
😂
pelit bicaranya ya Rain
tapi aku suka laki" pelit bicara 😉
2023-12-06
0
🦋grace 🌿🍃rinny 🐝🥀
nah tuh, bianca..masih blm aman kamu dah macam² 🤦
2022-05-14
1