"Ayo jalan lagi," kata Rain yang sudah selesai makan dan meminum sedikit minuman hangat yang tadi di buatnya, matahari sudah cukup meninggi saat mereka kembali berjalan menyusuri hutan itu
Bianca dari tadi diam, akhirnya Rain bisa membungkam wanita manja itu, dia hanya menurut apa yang Rain katakan, perlahan mengikutinya dari belakang tanpa banyak mengeluh.
Rain berjalan mengikuti arah aliran sungai, menerobos hutan, memimpin jalan, jika ingin bertahan di hutan, mereka harus tak boleh jauh dari sumber air, karena tanpa makanan mereka bisa bertahan 3 Minggu namun tanpa minum mereka hanya bisa bertahan 4-7 hari saja, lagi pula aliran air pasti akhirnya menuju ke laut.
Rain melirik wanita yang ada di belakangnya, terlihat sudah mulai berwajah masam, Rain sudah tahu pasti dia sudah lelah, apa lagi mereka sudah lebih dari 3 jam berjalan terus menerus, tapi wanita itu tak mengeluarkan sedikit kata pun, hanya suara langkah yang mulai menghentak saja yang artinya dia sedang kesal.
Setelah melihat areal tepi sungai yang sedikit terbuka, dia akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk mereka beristirahat.
"Kita beristirahat saja di sini," kata Rain akhirnya memecah keheningan di antara dirinya dan Bianca, Bianca bahkan tak melirik pria itu, dia duduk dan segera meluruskan kakinya yang sudah sangat-sangat keram.
"Tunggu di sini, aku akan mencari sesuatu untuk dimakan," kata Rain.
"Hmm," Balas Bianca yang membuat Rain menaikkan satu alisnya, ada apa dengan wanita ini.
Rain sebenarnya penasaran namun tak punya minat untuk bertanya lebih lanjut pada wanita itu, kalau dia salah sangka, itu urusannya, lagi pula bagus lah, Rain suka keheningannya.
Rain masuk ke dalam hutan, Bianca hanya memandang punggung pria itu menghilang di antara semak-semak, Bianca mencucurkan bibirnya, dia lalu mendengar sesuatu yang bergerak di dekatnya, matanya lekat melihat semak-semak itu, tangannya menggenggam erat batu cukup besar di dekatnya, menunggu apa gerangan yang muncul di sana, namun setelah menunggu cukup lama, tak ada apapun yang keluar.
Bianca hanya menunggu, dia sedikit merasa awas di daerah terbuka itu seorang diri, sial, kenapa dia tidak meminta ikut dengan pria dingin itu, tapi ... tidak, kalau banyak berinteraksi dengannya, jangan-jangan dia akan melakukan kejahatan itu lagi pada Bianca, lebih baik menjaga jarak.
Tiba-tiba Bianca kaget mendengar suara yang sedikit berisik dari belakangnya, dia menahan napasnya namun langsung dilepaskannya ketika melihat sosok Rain yang keluar dari sana.
Rain lalu membawa setandan pisang yang sudah menguning di tangannya, Bianca berbinar melihat buat itu, perutnya yang sedari tadi sudah bermain musik dan hampir mencerna dirinya sendiri seolah terlonjak gembira, ekspresi itulah yang terpancar dari wajah Bianca.
"Makanlah, aku akan berburu ikan lagi," kata Rain yang tahu pasti wanita ini tak akan bisa tahan menunggunya mencari ikan, jadi dia putuskan untuk mencari tanaman atau buah yang bisa dia temukan di hutan.
"Ya, dari mana kau dapat buah pisang?" tanya Bianca memeluk setandan pisang itu, mengambilnya satu lalu duduk dan mencoba mengupasnya, benar-benar seperti anak yang baru mendapat permen, sumringah sekali hingga lupa janjinya agar menjaga jarak dengan pria ini.
"Dari pohon," kata Rain singkat, mulai melepas bajunya.
"Ya aku tahu dari pohon, masa dari batu," ujar Bianca lagi dengan mulut penuh.
Bianca yang sedang mengunyah nikmat pisang itu, membesarkan kembali matanya melihat Rain membuka bajunya, sebenarnya pemandangan itu sangat menggiurkan, tubuh Rain berbentuk sangat sempurna, Bianca menggelengkan kepalanya, berusaha kembali sadar akan situasinya.
"Kau mau apa?" tanya Bianca yang kaget Rain mulai membuka sepatunya, jangan-jangan dia akan membuka celananya.
Rain melirik ke arah Bianca, dia menebak pasti gadis ini sedang memikirkan hal yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Mencari ikan, apalagi? tak usah khawatir, bahkan jika ingin memperkosa seseorang, aku juga masih pilih-pilih," ujar Rain yang segera mengambil tombaknya kembali, lalu berjalan ke arah sungai itu kembali.
Bianca memasang wajah kesalnya, pilih-pilih! memangnya dia tidak termasuk wanita yang mengiurkan? walaupun bertubuh kurus dengan dada rata dan juga tak ada lekuk tubuh, Bianca juga tetap wanita, Bianca melihat dirinya, sepertinya dia memang tidak masuk ke kriteria wanita yang menggoda, tapi tetap saja, itu kejam! pikirnya sambil tetap mengunyah pisangnya hingga mulutnya penuh, dia melemparkan kulit pisang itu ke arah Rain yang masih mencoba menangkap ikan lagi, tapi tentu saja tak sampai terkena dirinya.
Rain akhirnya bisa menangkap 3 ikan berukuran sedang, dia melakukan hal yang sama seperti tadi pagi, memanggang ikannya, lalu segera meletakkannya pada Daun pisang yang dia ambil, meletakkannya di sana agar bisa dinikmati bersama.
"Makanlah," kata Rain.
"Aku sudah tak lapar," ujar Bianca yang masih ngambek dengan Rain karena ucapannya tadi.
Rain hanya memasang wajah 'baiklah' nya, setelah itu dia segara memakan ikan bakar itu, melihat Rain memakannya nikmat dan aroma ikan bakar yang menyeruak, air ludahnya keluar kembali.
Namun Bianca masih mempertahankan gengsinya, dia hanya menelan ludahnya berkali-kali, dia juga hanya menggigit bibirnya saja.
Bianca hampir saja ingin meminta, namun sekali lagi egonya tak mengizinkannya, dia lalu mencoba menahannya, melihat ke arah lain.
"Makanlah," kata Rain yang menyodorkan ikan yang paling besar pada Bianca, dia meletakkan ikan itu tepat di depan mata Bianca. Bianca hanya menyengir kuda, akhirnya pria ini peka juga.
Rain langsung sedikit menaikkan sedikit bibirnya, melihat Bianca dengan sangat lahap memakan makanannya.
"Kita akan melanjutkan jalannya setelah ini?" tanya Bianca dengan semangat.
"Tidak, hari sudah ingin hujan, aku akan membuat tempat berlindung secepatnya, malam ini kita menginap di sini saja," kata Rain yang langsung berdiri, tak ada waktu untuk bermalas-malasan, di alam liar seperti ini mereka harus cepat agar bisa selamat.
Bianca hanya mengangguk-angguk saja, ikut apa yang akan dilakukan oleh pria ini.
Rain membuat sebuah tempat perlindungan, sebuah dahan panjang dia ikatkan dengan batang tanaman jalar, dia lalu menyusun ranting-ranting dengan rapat membentuk segi tiga, lalu menutupnya dengan daun-daun hingga terasa cukup untuk menutupi tempat perlindungan mereka itu, di dalamnya dia memasukkan daun-daun juga sebagai alas mereka untuk beristirahat nanti, nyaman? tentu saja tidak, bahkan jauh dari kata itu, tapi mencari kenyamanan di tengah hutan, maka itu hanya angan-angan.
Rain selesai membuat tempat perlindungan mereka saat sore sudah mulai menyergap, awan semakin tebal, dan Rain yakin, hujan akan turun malam nanti.
Bianca hanya diam, sesekali dia membantu Rain mencarikan daun-daun atau apapun yang dia rasa Rain membutuhkannya.
Bianca saat ini cukup terpukau melihat pria tegap dengan cucuran keringat, ah dia lebih cocok menjadi seorang model dari pada seorang tahanan.
Rain selesai juga, dia menyeka keringatnya yang bercucuran di dahinya dengan punggung tangannya, dia lalu melirik ke arah Bianca. Wanita itu tertangkap basah memandanginya, Bianca membuang wajahnya, ada rasa panas di pipinya sekarang.
"Aku ingin mandi, masuklah," kata Rain lagi.
"Ha? apa bisa mandi?" tanya Bianca, dia juga sudah merasa tubuhnya lengket.
"Tentu, sungai ada di sana," kata Rain menunjukkan sungai yang agak dibawah tempat mereka berlindung, saat hujan Sungai akan naik, karena itu dia tak membuat tempat berlindung di sisi sungai, mencari tempat yang jauh lebih tinggi agar tak terkena banjir.
"Aku juga ingin mandi," kata Bianca.
"Baiklah, cepat mandi," kata Rain.
"Tapi ...." kata Bianca, dia takut untuk mandi sendiri ke sungai, takut ada buaya atau ular di air itu, tapi kalau dia bilang takut mandi di sana, apakah nanti pria ini tidak salah tanggap?
Rain menangkap wajah ragu dari Bianca, dia lalu segera mengerti.
"Aku akan berjaga di tepian, tak usah khawatir aku tak akan melihatmu, sudah aku katakan aku pilih-pilih," ujar Rain lagi memulai langkahnya, Bianca kembali kesal dengan kata 'pilih-pilih' dari Rain. Tapi dia hanya mengikuti pria itu Sampai tepi sungai.
Rain berhenti tak jauh dari tepian, dia lalu segera berbalik, Bianca meliriknya kesal, namun Rain hanya diam saja bagaikan penjaga yang sedang menjaga tuan putrinya.
"Aku akan mandi, jangan coba-coba melihatku," kata Bianca sedikit judes, dia lalu melirik Rain yang bergeming membelakanginya.
Bianca awalnya agak ragu-ragu namun begitu kakinya menyentuh air segar itu, dia jadi membulatkan tekadnya, perlahan dia membuka bajunya, tetap siaga melihat ke arah Rain, pria itu nyatanya tetap seperti itu saja.
Bianca masuk ke dalam air, menutupi tubuhnya yang tanpa sehelai kain pun, mencoba mencuci tubuhnya yang entah sudah apa saja menempel di sana, belum sempat dia bersihkan sempurna, Dia membasuh rambut coklatnya yang terkena darah, mencuci wajahnya, airnya benar-benar segar menyentuh kulitnya yang putih cendrung pucat itu, tanpa sadar dia jadi senang sekali bermain air itu, memukul-mukul permukaan airnya, lupa dengan pria yang hanya berjarak 3 meter darinya. Tawanya riang, menggelitik rasa penasaran siapa pun juga.
------------------------------
Terkhusus untuk yang Request wajah Rain sekarang
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
visual Rain....
cocoklah sama Bianca 😍
2023-12-06
0
Mimilngemil
kebayang sie...
badan lengket n ada becak darah mongering pasti lihat air akan sesenang itu 😍
2023-12-06
0
Mimilngemil
😆😄
2023-12-06
0