Rain terbangun, dia lalu melihat ke arah sekelilingnya, masih begitu gelap, dia melihat ke arah jam yang ada di tangannya, masih pukul 12 malam menuju pukul 1 dini hari, udara di sekitarnya terasa dingin, tapi kenapa Bianca tidak ada di dalam tempat itu.
Rain lalu segera keluar, melihat ke sekitarnya, dia lalu mendengar tawa kecil, dia mengerutkan dahinya, mendengar sayup-sayup tawa bahagia itu, Rain memutuskan untuk keluar dari tempat perlindungan mereka, malam sudah berganit begitu cerah, bahkan seperti tidak pernah ada jejak badai tadi.
Petrikor atau bau sehabis hujan tercium begitu menyegarkan, suara jangkrik membuat riuh suasana, sesekali suara burung hantu terdengar, rembulan sangat besar ada di angkasa, menyoroti semua sisi hutan itu, rimbunya pepohonan menutupi sinarnya, namun tetap saja begitu indah dan syahdu.
Rain lalu menangkap sosok wanita yang sedang melihat ke arah sekitarnya, dia tampak bahagia, Rain mengerutkan dahinya, berjalan mendekati Bianca yang seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan sesuatu.
"Hei, kau bangun? apa karena suaraku?" tanya Bianca ceria seperti biasanya. Rain hanya menggelengkan kepalanya, lalu wajahnya seolah bertanya apa yang sedang Bianca lakukan, Bianca yang sudah cukup biasa membaca mimik wajah Rain langsung menjawab.
"Oh, aku tidak bisa tidur kembali, lalu hujan perlahan berhenti, aku mencoba keluar dan saat aku keluar ternyata bulan sangat besar, " kata Bianca senang.
"Itu saja, kau bisa senang hanya melihat bulan yang besar," tanya Rain yang akhirnya buka suara, aneh menurutnya jika hanya melihat bulan begitu senangnya.
"Bukan, itu yang membuatku senang, indah bukan?" kata Bianca menunjukk ke sebuah arah, di dekat semak-semak, tampak perlahan lampu yang redup dan menyala, bukan hanya satu, namun banyak, bergerak seolah menari, keberadaan mereka seperti lampu kecil yang indah.
"Kunang-kunang?" kata Rain.
"Iya, dulu waktu aku kecil, aku selalu menangkap kunang-kunang dan memasukkannya ke dalam botol, tapi mereka hanya bersinar sebentar dan esok paginya mereka sudah mati semua," kata Bianca yang sedikit berwajah manja lagi.
"Itu karena mereka membutuhkan oksigen untuk bisa bersinar, jika kau memasukkanya ke dalam tempat yang tertutup, maka oksigennya akan habis dan mereka tak bisa bersinar, selain itu bagaimana rasanya jika kau dimasukkan dalam ruangan tertutup, semua akan mati," kata Rain lagi, Bianca melirik dengan wajah tak percayanya, ada apa gerangan? pria ini tiba-tiba berbicara begitu banyak padanya.
"Kenapa?" tanya Rain menatap Bianca yang memandangnya aneh.
"Kau jadi banyak bicara sekarang," kata Bianca tersenyum manis, suka dengan Rain yang seperti ini.
"Baiklah aku akan diam," ujar Rain.
"Eh, bukan, aku suka kau bicara, jangan seperti pertama kali kita jumpa, aku seperti sedang berbicara dengan tembok," ujar Bianca lagi, Rain melirik wanita itu, dia lalu membuang mukanya yang dingin.
"Mau menankap mereka?" tanya Rain.
"Jangan, nanti mereka mati," kata Bianca yang kasihan.
"Tidak, kita lepaskan di dalam sana, jadi kau bisa tidur di bawah cahaya mereka," kata Rain.
Bianca membesarkan matanya, benar juga, dia lalu mengikuti Rain, perlahan mereka menangkap satu per satu kunang-kunang itu, melepasnya di dalam tempat peristirahatan mereka.
"Wah, cantik," kata Bianca yang melihat kunang-kunang iut hinggap di langit-langit tempat perlindungan mereka, berkedap kedip memberikan cahayanya bagaikan lampu kecil.
"Masuklah, aku akan menangkap beberapa lagi." kata Rain pada Bianca, Bianca menangguk senang, saat dia masuk kunang-kunang itu berterbangan di sekitarnya, beberapa ada yang menemukan jalannya keluar.
"Hei, jangan keluar, ah!" kesal Bianca karena bebrapa kunang-kunangnya pergi, tak lama Rain datang dan menambah kunang-kunang itu, Bianca tampak begitu senang.
"Sudah, tidur lah," kata Rain melihat Bianca yang sumringah, dia menangguk, menambil posisi di tempat tidur mereka yang cukup lembab.
"Rain, kau yakin besok kita akan sampai ke pantai," tanya Bianca yang tak mengalihkan pandannya pada Rain, dia hanya melihat kunang-kunang itu menari di atasnya.
"Akan aku usahakan, apa kau sudah sangat ingin pulang?" tanya Rain lagi, namun senyap tidak ada jawaban, Rain lalu melirik ke arah wanita yang berbaring di sebelahnya, matanya sudah menutup, Rain mengerutkan dahinya, cepat sekali tertidur pikirnya. Rain pun mulai menutup matanya.
Beberapa menit kemudian, Bianca kembali membuka matanya, melirik ke arah pria yang sudah mulai teratur napasnya, Bianca yang berwajah ceria itu, tampak menunjukkan wajah sedihnya, dia terus memandang Rain, dan tanpa terasa, air matanya mengalir begitu saja.
Dia lalu mengubah posisinya membelakangi Rain, saat Bianca sudah membelakangi Rain, Rain membuka matanya, walau tak bisa melihatnya, suara isakan dan suara napas yang berair itu membuat Rain tahu, wanita itu sedang menangis, apa yang dia tangiskan?
---***---
Bianca membuka matanya, merasakan dingin yang semakin menusuk pori-porinya, dia langsung terduduk, memakai baju jarahan dari penyerang mereka, dia sudah tidak perduli itu adalah baju orang mati atau tidak, yang penting dia tak kedinginan.
Bianca melihat ke arah sebelahnya, kali ini dia yang menemukan bahwa di sampingnya tidak ada orang sama sekali, dia lalu mencoba untuk mengeluarkan kepalanya untuk melihat dimana Rain berada, namun baru saja dia mengeluarkan kepalanya, Rain juga ingin masuk, membuat wajah mereka saling bertemu.
Sesaat mereka terpaku, Bianca hanya menatap mata hitam yang rasanya semisterius empunya, napas hangat dari Rain menerpa terasa di pipi Bianca, seketika membuat jantungnya memompa lebih cepat, napasnya pun tersekat, dan pipinya serasa begitu panas.
"Aku baru ingin membangunkanmu," ujar Rain yang datar saja.
"Oh, ya, aku sudah bangun," kata Bianca salah tingkah, dia bahkan mengatakan itu sambil tertunduk.
"Baiklah, bersiaplah, makan beberapa buah, tapi jangan habiskan untuk persediaan kita nanti siang, minum juga seadanya saja, kita harus sampai ke pantai sebelum sore," kata Rain.
"Baiklah," kata Bianca lagi.
Setelah makan dan sedikit mencuci muka juga membereskan semuanya, mereka segera berjalan menyusuri sungai, mereka berjalan dengan diam, sesekali Ran melihat Bianca yang ada di belakangnya, wajahnya malah semakin murung.
Menjelang sore hari mereka masih berjalan, mereka hanya sesekali beristirahat lalu kembali berjalan lagi, saat Bianca sedang melihat ke arah mana kakinya berpijak, tiba-tiba dia kaget ketika Rain merentangkan tangan kanannya, seolah menahan agar Bianca jangan bergerak.
"Ada apa?" tanya Bianca yang bingung.
"Dengarkan," kata Rain.
"Apa?"tanya Bianca yang tidak mendengar apapun atau memang pendengarannya tidak peka.
"Suara ombak," kata Rain lagi menaikan sudut bibirnya, Bianca mencoba mendengarkannya lagi, dan benar itu suara ombak, tak jauh lagi dari mereka.
"Ayo, kita harus ke sana secepatnya, kita akan segera keluar dari sini, mudah-mudahkan menemukan kapal agar bisa membawamu pulang," kata Rain semangat,dia bahkan tanpa sadar mengambil tangan Bianca lalu membawa wanita itu ke arah yang dia yakini arah menuju laut, entah kenapa merasa menyelamatkan Bianca adalah tujuannya sekarang.
Bianca malah tampak tak senang, seiring langkahnya dia tampak ragu dan sedikit 'ogah-ogahan'. Suara ombak makin membesar menandakan mereka sudah sangat dekat, Rain segera mempercepat langkah mereka.
Namun baru saja mereka ingin keluar dari hutan itu, tiba-tiba saja Bianca berhenti, membuat Rain pun ikut berhenti, Rain memandang Bianca dengan kerutan di wajahnya.
"Tidak, Rain kita jangan ke sana, kita di hutan saja ya, jangan ke pantai," kata Bianca yang langsung tampak panik, sepanik pertama kali Rain melihatnya.
"Ada apa? itu kesempatan satu-satunya kau akan diselamatkan," kata Rain lagi, merasa aneh kenapa Bianca malah tidak ingin ke pantai, padahal itulah tujuan mereka dari 2 hari yang lalu, bukannya dia juga ingin keluar dari hutan ini.
"Tidak, kita jangan ke sana, aku mohon, percayalah padaku," kata Bianca merengek, dia bahkan meggeleng-gelengkan kepalanya, Rain semakin merasa aneh bahkan sekarang berubah menjadi curiga.
"Ada apa? katakan padaku?" kata Rain.
"Aku tak bisa, tapi kita harus lari sekarang," kata Bianca yang sekarang malah menarik Rain, Rain hanya diam, namun baru saja Bianca membalikan tubuhnya dan hendak pergi masuk lagi ke dalam hutan, tiba-tiba entah dari mana, 4 orang dengan pakaian khusus untuk kamuflase dan juga senapan laras panjang membidik mereka. Rain segera sigap menarik Bianca ke belakangnya, lalu dengan cepat mengarahkan pistol yagn dia punya ke arah 4 orang itu.
Namun tiba-tiba Rain merasakan bagian leher belakangnya di pukul lalu dia segera lunglai, hal terakhir yang di lihatnya hanya Bianca yang sedang dibekap dan meronta.
-------
Hari ini nulis satu dulu ya kakak, maafkan, besok saya nulis 2 ya, selang seling gt, haha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
Mimilngemil
siapakah mereka?
2023-12-06
0
Mimilngemil
Bisa aja othor...
2023-12-06
0
Mimilngemil
Sama-sama pinter acting 😅
2023-12-06
0