...Aku akan selalu ada bersamamu....
...Aku akan selalu mendukung setiap langkahmu....
...Menemanimu saat tawa dan saat terbawah dari hidupmu....
...Menjagamu, melindungimu dan menyemangatimu....
...Walaupun aku tahu, kau tak pernah akan sadar tentang hal itu....
_______________________________________
Davis segera memimpin jalan, seperti biasa mereka berjalan dengan cepat, Rain yang tidak memperdulikan siapa yang sekarang dia bawa hanya berusaha untuk bisa secepatnya menuju tempat yang mereka ingin tuju, suasana semakin parah ketika pintu-pintu di sana mulai menutup pelahan.
"Ayo cepat, kita hampir sampai, sistem penguncian otomatisnya sebentar lagi akan menutup semua ruangan ini, ayo, cepat!" perintah Davis, Rain makin menambah kecepatannya, bahkan sekarang dia berlari, Bianca yang sudah tak sanggup lagi tak bisa protes sama sekali, dia hanya berdoa kakinya tidak salah injak hingga dia jatuh dan tubuhnya hanya akan diseret oleh pria tak punya simpati ini.
Mereka terus berlari di antara lorong-lorong penjara yang sepi, bunyi sirine itu membuat adrenalin mereka terpacu, Rain lalu melihat ruangan kosong dan gelap berada di ujung dari lorong yang mereka lewati.
"Itu ruangannya, ayo cepat, pintunya akan segera terkunci," kata Davis yang melihat pintu otomatis mereka mulai mengunci perlahan, Davis yang duluan mencapai pintu itu, dengan tubuhnya dia mencoba menahan agar pintu tak segera menutup.
Mungkin karena terlalu fokus untuk berlari, pegangan tangan Rain terhadap Bianca terlepas, membuat wanita itu jatuh seketika, dia tampak tersengal, benar-benar tak sanggup lagi bahkan untuk bangkit, dia bukan gadis yang suka berolah raga, berlari seperti ini sudah membuat kakinya terbakar, paru-parunya sudah ingin robek dan kepalanya ingin meledak, dia benar-benar tak sanggup lagi, dia ingin mati saja jika begini.
Rain yang merasakan genggamannya terlepas segera melihat ke arah Bianca yang terkapar di sana.
"Tinggalkan saja aku, aku sudah rela mati," ucap Bianca yang meracau asal-asalan.
Rain tentunya tak peduli, baginya Bianca bukalah siapa-siapa, bahkan mengenalnya saja tidak, jadi dia tentu langsung ingin meninggalkan wanita itu, namun saat dia baru saja ingin pergi, permintaan pria tua itu terngiang di kepalanya, dan sialnya dia mengatakan jika perlu, dia akan menjaganya, Rain rasa ini saat perlu itu.
"Rain, cepat, aku sudah tak sanggup lagi," kata Davis yang kesusahan menahan laju pintu otomatis itu.
Tanpa berpikir lagi, Rain langsung menggendong tubuh Bianca, menaruhkannya di pundaknya seperti membopong sebuah karung beras, dan tanpa pikir panjang langsung berlari, apalagi setelah itu dia melihat 2 orang yang segera mengejar mereka, untunglah mereka bisa masuk segera dan Davis menutup pintunya, karena begitu pintu itu tertutup terdengar suara tembakan yang mengenaii pintu mereka.
Rain menurunkan Bianca yang nyatanya tadi hanya bisa diam saja, matanya membesar dengan cuping hidung yang kembang kempis mencari udara, tak disangka ternyata dia juga hampir terbunuh, dan akhirnya dia sadar dia tak sesiap itu untuk mati.
"Itu cerobongnya, kita harus segera keluar, mereka sudah tahu kita ada di sini, jika mereka menggunakan bom, aku tidak yakin pintu itu akan bertahan," kata Davis, Rain hanya mengangguk mengerti, dia lalu melirik Bianca dengan tatapan tajam, Bianca hanya meliriknya tak suka karena menurutnya tatapan Rain itu seolah mengatakan bahwa semua ini gara-gara dia.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Bianca protes, Rain mengerutkan dahinya, kenapa semua wanita seperti itu, suka sekali seolah tak mengerti bahwa dia salah.
"Rain, aku akan turun duluan, jika di bawah tidak ada apa-apa aku akan memberitahukannya padamu," kata Davis yang merupakan salah satu kaki tangan yang selama ini menjaganya di penjara ini.
"Baiklah," kata Rain mengangguk.
Davis segera mengambil posisi, dia segera masuk dan meluncur ke dalam tabung pembuangan itu, tak berapa lama terdengar suara jatuh, Rain mencoba mendengarkan dengan seksama.
"Aman!" teriak Davis dari bawah, Rain segera bersiap-siap.
"Hai, kau serius terjun duluan? kau tak tahu arti Ladies first?" tanya Bianca yang sukses membuat Rain mengurungkan niatnya, Rain segera mundur, memberikan kesempatan untuk Bianca, Bianca dengan susah payah bangkit, menahan nyeri dan letih di kakinya, dia segera berdiri dan melihat ke arah cerobong itu yang menjuntai ke bawah, ternyata tidak semenyenangkan pikiran Bianca, malah cendrung menyeramkan, "oh, tidak, aku tidak akan turun ke sana,"
Rain geram melihat tingkah Bianca ini, benar-benar menguras kesabarannya, Bianca yang baru saja berencana untuk mundur, tanpa pernah dia pikiran dan prediksi, Rain malah mendorong tubuhnya masuk ke dalam lorong itu, membuat Bianca kaget setengah mati, dia berteriak keras sekali bahkan dia seperti sedang menaiki roller coster, semua begitu cepat saat dia meluncur dan tiba-tiba saja tubuhnya terpental di bawah itu, masuk ke dalam sampah-sampah yang untungnya lebih banyak didominasi oleh rumput-rumput yang dipotong oleh para tahanan kemarin.
"Nona, cepat berdiri, atau kau akan ditimpa oleh Tuan Rain," kata Davis menarik Bianca, setelah Bianca menyingkir Davis kembali mengatakan aman, dan tak lama Rain sudah mendarat di sana.
Bianca masih mengambang, rasanya separuh nyawanya masih menyangkut di antara corong itu, dia benar-benar pucat pasi dan hanya berdiri saja, matanya kosong.
"Ayo, kita harus segera ke lorong bawah tanah itu," kata Davis.
Rain mengangguk, sekali lagi tanpa memikirkan keadaan Bianca, Rain menyambar tangan Bianca dan menariknya, herannya walau begitu nyeri, ternyata kakinya masih juga bisa digunakan, padahal tadi dia bisa merasakan kakinya gemetar.
Tak lama mereka segera sampai di dekat tembok pembatas penjara itu, Davis segera membuka sebuah pintu khusus di bawah tanah itu, dia membukanya menunjukkan lorong bawah tanah, sebuah tangga dinding tampak, mereka harus menuruninya agar bisa masuk ke dalam ruangan itu.
"Lorong ini akan membawa kita keluar dari penjara ini, aku belum pernah tahu dimana dia akan keluar, tapi kita akan mengikutinya saja, Rain turun duluan, aku akan menjaga di sini, kau ke dua, cepatlah," kata Davis.
Rain dengan sigap segera turun, setelah setegah dia menuruni tangga itu, Rain segera loncat dan memberikan gestur memanggil untuk Bianca. Bianca menarik napasnya panjang, walau seluruh tubuhnya terasa terbakar, dia mencoba untuk bisa menuruni tangga itu, tak ingin mati konyol sekarang, perlahan sekali dia menuruninya, namun baru beberapa tangga dia turuni, terdengar suara tembakan, dan dari atas tubuh Davis langsung jatuh ke arahnya dengan darah yang menghambur, Bianca teriak dan pengangannya terlepas, apalagi sekarang dia tertimpa oleh tubuh Davis, mereka jatuh seketika, Rain yang melihat hal itu, segera tanggap, dia sekuat dan secapatnya naik ke atas kembali, melihat orang-orang yang menembak Davis berlari menuju mereka, Rain segera menutup pintu itu, menguncinya dari dalam, terdengar kembali suara tembakan yang mengenai pintu besi itu, Rain menunggu sejenak, memastikan pintu itu tidak akan bisa terbuka.
Rain segera turun ketika mendengar teriakan Bianca yang sebagian wajah dan tubuhnya, juga bajunya penuh darah, dia kembali histeris melihat tubuh Davis yang sudah tak bernyawa, mereka menembaknya tepat di kepalanya, darahnya bercampur air yang menggenang di sekitar Bianca, Bianca rasanya sudah ingin pingsan melihat pemandangan di depannya. Matanya menampakkan ketakutan, kengerian, dan kecemasan yang sangat.
"Diam!" bentak Rain yang segera membuat Bianca diam, namun dia malah menangis, kenapa dia malah dibentak, dia lalu mundur menjauhkan dirinya dari tubuh Davis.
Rain memandang wajah Davis, sudah pasti dia tak selamat, namun Rain tetap memeriksa denyut nadi di lehernya, dan nihil, Rain menutup mata David yang maish terbuka.
Rain segera menggeledah tubuh David, menemukan pisau army, sebuah Firetric (korek api gas elektrik), beberapa peluru, semua itu di ambilnya, bahkan Rain mengambil rompi anti peluru yang digunakan oleh Davis, dia segera menyimpannya dan mengenakannya, Bianca hanya diam dengan wajah syok, terduduk di genangan air kotor yang bahkan tak dipedulikannya lagi, dia baru saja melihat seseorang tertembak dikepalanya dan sekarang jasatnya ada di depan matanya, pengalaman yang pasti menjadi trauma baginya.
"Kita harus pergi dari sini," kata Rain memandang Bianca yang masih tampak belum sadar, Bianca melihat pria dingin yang bahkan tak pernah dia pikirkan akan dia temui, namun dari semua yang sudah dia lewati, rasanya dia memang harus mengikuti pria ini, Jadi dia hanya mengangguk saja, mengangguk seolah hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 215 Episodes
Comments
🦋grace 🌿🍃rinny 🐝🥀
duh, gemes sama bianca...
2022-05-14
0
Maya Kitajima
tegangnya...serasa aku ikut melarikan diri bersama mereka..napasku ikut ngos ngosan..luar biasa emang Quinn...👍👍👍
2021-09-27
0
Anna Liana
aku paling benci lihat krakter bianca. bukan diam malah bikin masalah
2021-09-23
0