Kedua pria itu mulai bermain tenis bak atlet profesional. Gerakan mereka lincah saat menangkis setiap bola. Pada permainan awal, skor dikuasai oleh Jun. Ren kesulitan menangkis setiap serangan yang diberikan pria itu. Bahkan, ia sempat mengalami jatuh bangun ketika dirinya hendak membalas pukulan Jun. Meskipun begitu, keduanya tampak menikmati pukulan demi pukulan yang mereka lancarkan.
Sachi tampak senang karena kakaknya terus mencetak skor. Ya, olahraga tenis adalah keahlian Jun. Saat masih sekolah, ia sering memenangkan turnamen nasional olahraga tenis.
Lagi-lagi Ren harus menggigit jari saat ia tak berhasil menangkis serangan mendadak dari Jun. Pria itu meringis, lalu menarik ujung bajunya ke atas untuk mengelap peluh yang bercucuran di wajahnya. Wajahnya makin kusut tatkala melihat ekspresi berlebihan Sachi setiap Jun berhasil mencetak skor.
Akhirnya, pertandingan tersebut dimenangkan oleh jun dengan skor akhir 13-9. Ren membanting raketnya ke lantai lapangan tenis sembari menjatuhkan tubuhnya untuk duduk. Ia mengatur napasnya yang tak beraturan sambil sesekali menyapukan keringat yang membasahi wajah tampannya.
"Kuakui kau sangat hebat!" Ren mengacungkan jempol ke arah Jun yang tengah menghampirinya.
Pria itu mengulurkan tangan pada Ren untuk membantunya berdiri. "Kemampuanmu juga tak bisa disepelekan!" Jun merendah seraya melemparkan pujian balik pada Ren.
Ren mengalihkan pandangannya ke arah Sachi. Tak disangka, gadis itu langsung menjulurkan lidahnya ke arah Ren yang tentu saja membuat pria itu kembali meringis. Kekesalannya yang sempat mereda, menyeruak kembali tatkala melihat ejekan yang dilemparkan Sachi padanya.
"Karena aku kalah, maka kau boleh meminta apa saja dariku!" ucap Ren mengingatkan taruhan mereka di awal permainan.
"Arigatou gozaimasu. Tapi ... saat ini aku tidak mempunyai permintaan apapun. Mungkin itu bisa kugunakan di lain waktu," ujar Jun.
"Sokka (begitu ya)." Ren hanya bisa mengangguk.
Sabtu pagi, Emi berkunjung ke rumah Ren. Gadis itu membawakan makanan untuk dimakan bersama. Ren mengatakan hendak mandi terlebih dulu dan meminta Emi menunggunya di kamar. Gadis itu masuk ke dalam kamar, dan memilih untuk membersihkan ruangan itu. Ia merapikan buku-buku Ren yang berjatuhan di lantai dan mengaturnya kembali di rak buku. Sejenak, pandangannya terarah pada sebuah kotak hadiah berukuran kecil yang terletak di atas meja nakas. Demi menjawab rasa penasarannya, ia membuka kotak tersebut. Isi kotak itu adalah sebuah jepitan rambut wanita berwarna perak dengan bentuk bintang. Sungguh sangat cantik!
Sontak, Emi langsung melebarkan senyumnya. Hatinya tiba-tiba berbunga-bunga. Pikirnya, itu pasti adalah kado yang disiapkan Ren untuknya saat ulang tahun besok.
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan Ren dari dalam kamar mandi yang meminta Emi untuk mengambilkan handuk. Gadis itu kembali menaruh kotak tersebut di atas meja nakas dan langsung mencari handuk milik Ren.
Tak terasa waktu beranjak ke malam. Sachi meletakkan ponselnya di atas meja belajar setelah menerima telepon dari Shohei. Pria itu mulai rutin meneleponnya hanya untuk menanyakan apa yang dilakukan gadis itu. Sachi sudah tak sabar menanti hari esok, karena sesuai rencana yang sudah mereka atur. Ya, sepasang kekasih itu akan pergi ke toko kue.
Sachi melangkah menuju balkon untuk merasakan lambaian angin malam. Ia mendongakkan kepala untuk melihat beberapa bintang menampakkan dirinya tanpa malu-malu. Sejenak, gadis itu teringat kembali ucapan Ren yang mengibaratkan dirinya adalah Aldebaran, yaitu bintang paling terang yang bersinar di langit malam.
Entah kenapa, Sachi merasakan jantungnya berdetak tak normal saat ini. Ini gila, tiba-tiba dia merindukan pria itu. Pikirnya, mungkin Ren saat ini tengah bekerja. Jujur saja, dia ingin tahu apa yang akan Ren minta pada kakaknya seandainya permainan semalam dimenangkan olehnya. Dengan sedikit ragu, dia mencondongkan badannya untuk melihat ke samping, tepatnya balkon kamar Ren.
"Lagi mengintip, ya?"
Suara bariton milik pria itu tiba-tiba menyapanya, hingga membuat Sachi terlonjak. Gadis itu langsung meluruskan tubuhnya. Menahan napas, laksana maling yang tertangkap basah.
"Aku tidak menyangka diam-diam kau sering mengintip." Suara Ren kembali terdengar.
Sachi mematung. Dia merasakan seluruh wajahnya memerah. Dia hendak beranjak dari posisi memalukan ini, tapi kakinya seperti tak mau berkompromi. Dia tak berkutik.
"Hei ...." tegur Ren sambil menoleh ke arahnya. "Apa kau mau melihat jelas bintang Aldebaran?"
Sedikit gugup, Sachi memberanikan diri menoleh ke arah Ren. Rupanya pria itu tengah sibuk menggunakan teropong bintang.
"Kau punya teropong?" Sachi membulatkan matanya karena takjub dengan benda yang berada di samping Ren.
"Hum." Ren mengangguk. "Kemarilah, kita lihat bintang bersama-sama!"
Ren lalu menuntun Sachi agar memanjat terali balkon untuk menyeberang ke tempatnya. Dengan hati-hati, Sachi telah berhasil berpindah tempat ke balkon kamar Ren.
Ren mengajari Sachi cara menggunakan teropong. Gadis itu tampak terkagum-kagum melihat benda langit. Gugusan bintang memesona, beserta pemandangan langka di galaksi yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Keduanya melihat pemandangan langit secara bergantian. Sesekali Ren menjelaskan nama-nama dari bintang tersebut hingga Sachi tampak salut padanya karena pria yang terlihat santai itu ternyata mempunyai wawasan yang luas.
"Apakah kau menyukai ilmu astronomi?" tanya Sachi yang heran karena Ren dapat menjelaskan beberapa teori ruang angkasa.
"Tidak," jawab Ren. "Aku hanya pengagum langit malam beserta seluruh isinya."
Masih sibuk dengan teropongnya, tiba-tiba Sachi tersentak saat lengan kekar pria itu melingkar di pinggangnya. Tak hanya itu, dagunya turut ditopangkan di bahu Sachi.
"Aldebaran adalah titik terterang, dari rasi bintang Taurus. Dan kau adalah titik terterang dari hidupku," bisik Ren dengan suara memabukkan.
Sachi terdiam. Ia merasakan jantungnya kembali berdegup dan pipinya seakan merona.
Samar-samar, ia mendengar suara Jun memanggilnya. Suara itu kian mendekat seiring Sachi mempertajam pendengarannya. Benar saja, Jun tengah berada di dalam kamar adiknya. Alisnya mengerut ketika kamar yang didominasi warna pink itu tak berpenghuni.
"Immouto-chan!" Jun memanggil adiknya sekali lagi. Matanya tertuju pada balkon, dan ia melangkah pelan ke sana.
Ini gawat! Jun tidak boleh tahu jika ia tengah bersama pria lain. Sachi melepaskan lengan Ren yang melingkar di pinggangnya dengan terburu-buru. Ketika gadis itu hendak melangkah, Ren langsung menarik tangannya dan membawa masuk ke dalam rengkuhannya. Di detik yang sama, bibir Ren menindih bibir Sachi dengan rapat. Pria itu mengunci bibir Sachi dengan lumatann-lumataan rakus yang membuat gadis itu terlonjak sekaligus tak berkutik.
Masih tetap menautkan bibirnya ke bibir gadis itu, Ren mendorong tubuh Sachi ke dinding yang menjadi pembatas balkon kamar mereka. Satu tangannya meremas pelan jemari Sachi, sedangkan satu tangannya lagi ia letakkan di perpotongan leher gadis itu.
"Immouto-chan!"
Suara Jun terdengar kembali, dan kali ini makin keras hingga Sachi yakin kakaknya sedang berada di balik tembok itu. Di tengah ciuman yang dipimpin oleh Ren, Sachi merasa gugup dan khawatir kalau kakaknya akan mengetahui apa yang mereka lakukan.
Merasa Jun telah pergi, Sachi langsung berusaha mendorong tubuh Ren. Sayangnya, usahanya sia-sia karena lelaki itu makin agresif untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam berciuman. Ren mencekal kedua tangan Sachi ke dinding, sambil terus memagut, menghisap, dan menggigit lembut bibir gadis itu. Lidahnya bahkan mencoba untuk menerobos masuk untuk membelit lidah lawannya. Rupanya Ren tahu betul cara melumpuhkan wanita. Terbukti, gadis itu tak lagi melakukan perlawanan. Kini, ciuman Ren beralih ke leher jenjang miliknya untuk meninggalkan bekas kemerahan yang begitu kontras di kulit putihnya.
"Ren, jangan lakukan ini. Kumohon! Aku sudah mempunyai pacar!" bisik Sachi dengan suara tertahan karena kenyataannya dia menikmati ciuman bergairah itu.
Di luar dugaan, Ren langsung menghentikan aksinya. Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Mata teduh pria itu seolah menikam mata Sachi.
"Kau tahu ... aku tidak peduli itu! Bagiku, kau adalah milikku!" Ren berucap tegas dengan nada seksi. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, sementara jempolnya mengusap bibir Sachi yang basah karena ulahnya.
Pada detik berikutnya, dia kembali membenamkan bibirnya ke bibir gadis itu. Namun, dibandingkan yang tadi, ciuman kali ini lebih berperasaan hingga menciptakan suasana romantis antara keduanya. Bibirnya bergerak ke atas bawah untuk mengulum lembut sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah mungil Sachi. Kali ini Sachi benar-benar terbuai hingga ia lupa segalanya dan hanya dapat memejamkan mata. Sungguh, ini adalah hal gila yang belum pernah ia lakukan.
Di sela ciuman yang tengah berlangsung, Ren menyisipkan sebuah jepitan berwarna perak yang berbentuk bintang di rambut pendek Sachi.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Hearty 💕
Emi langsung patah hati nggak dapat jepitan di hari ulang tahun nya....
2024-08-18
0
Hearty 💕
Ren rayuannya memabukkan
2024-08-18
0
Hearty 💕
Lho bukannya ada Emi
2024-08-18
0