"Oishi! (lezat)," ucap Ren ketika sesuap Donburi itu masuk ke dalam mulutnya.
"Ini adalah makanan kesukaan adikku, dan menurutku Donburi yang tersedia di kedai ini paling enak karena banyak pilihan lauknya," ujar jun yang telah selesai makan. Ia lalu memesan kembali Donburi daging untuk adiknya. "Summimasen, aku pesan kembali satu porsi tapi dibungkus!" pintanya pada juru masak.
"Tapi bisakah Tuan menunggu sedikit lama? Aku sedang menyiapkan pesanan sepuluh porsi milik orang lain," kata juru masak itu.
"Tidak masalah. Aku akan menunggu!" ujar Jun.
Jun dan Ren kemudian melakukan obrolan ringan seputar pekerjaan dan hobi mereka masing-masing. Rupanya kedua pria tampan itu mempunyai minat olahraga di bidang yang sama, yaitu tenis. Keduanya pun sepakat untuk bermain tenis di lapangan yang terdapat di lokasi perumahan mereka malam nanti.
Ren telah selesai makan, sementara pesanan Jun belum datang juga. Ren lalu berdiri dan pamit pulang duluan.
"Aku pergi duluan, ya!"
"Jangan lupa malam nanti, aku tunggu di lapangan tenis!" Jun sekadar mengingatkan Ren kembali.
"Tentu aku akan datang. Aku akan makin semangat jika kau membawa adikmu!" balas Ren sambil tersenyum.
Jun hanya meringis mendengar perkataan Ren yang dipikirnya hanya sekadar basa-basi.
Pesanan Jun akhirnya datang tak berselang lama setelah Ren keluar dari kedai. Pria itu langsung keluar dari kedai sambil membawa sekotak Donburi yang akan dia berikan adiknya.
Di luar, Ketika hendak menaiki motornya, pandangan Ren justru terarah pada segerombolan bocah laki-laki yang tengah mendorong salah satu teman mereka. Mereka menghujani anak tersebut dengan hinaan yang membuatnya menunduk sedih. Seolah tak peduli, mereka langsung kembali bermain bola tanpa usai melakukan aksi perundungan.
Mata gelap Ren melintas saat menyaksikan aksi penindasan itu. Ia tersenyum bak iblis dan berjalan mendekat ke arah bocah yang tengah murung.
Mengambil posisi jongkok di samping anak itu, Ren lalu berbisik padanya. "Kenapa kau hanya berdiam diri di sini? Apakah kau pasrah menerima hinaan mereka? Kalau kau terus-terusan lemah seperti ini maka mereka akan bertindak sesuka hati dan terus menindasmu." Ren mengambil sebuah kayu yang terdapat di pinggir jalan lalu memberikannya pada bocah tersebut. "Ayo, beri mereka pelajaran agar tak seenaknya padamu!" ucapnya sambil senyum penuh provokasi.
Bocah itu menatap Ren dengan mata yang menyala seakan seluruh hasutan yang pria itu lontarkan terserap ke dalam jiwanya. Tanpa keraguan, ia mengambil kayu dari tangan Ren lalu berdiri dan melangkah ke arah para bocah yang baru saja menghinanya.
Ren menyunggingkan sudut bibir ke atas sambil mengangkat ujung alisnya. Ia berkacak pinggang, seraya menyaksikan bocah itu memukul teman-temannya dengan kayu. Entah sejak kapan, ia menjadi begitu tertarik dan bergairah pada orang-orang yang sering tertindas, lalu datang pada mereka untuk melakukan bisikan-bisikan penuh provokasi. Menghasut para manusia lemah untuk melawan orang-orang yang semena-mena terhadap mereka.
Jun yang rupanya telah berada di sana sejak Ren berbisik pada bocah itu, langsung mendekat pada Ren dan bertanya apa yang pria itu katakan sehingga bocah itu menjadi bringas pada teman-temannya.
"Aku hanya sedikit memprovokasi bocah itu untuk melawan gerombolan anak laki-laki yang mengejeknya," jawab Ren dengan enteng.
"Kau tak seharusnya mengajarkan itu pada anak kecil. Mereka akan menelan setiap perkataan orang dewasa dan mempraktekkannya," ujar Jun.
Jun lalu berteriak pada bocah-bocah tersebut agar segera menyudahi pertengkaran. Melihat Jun yang memakai seragam polisi, membuat anak-anak itu berhenti berkelahi dan langsung berlari ketakutan.
"Ini sangat lucu! Seharusnya kalian bisa menjadi pahlawan sekelas ultraman di mata mereka, tapi yang kulihat anak-anak itu takut pada polisi." Ren tergelak tetapi menampilkan wajah miris.
"Ya, ada dua profesi yang ditakuti anak-anak, polisi dan dokter. Itu karena para orangtua selalu menggunakan dua profesi itu untuk menakut-nakuti atau mengancam anak-anak mereka," balas Jun dengan santai.
"Sayangnya, ketika anak-anak takut pada polisi, penjahat justru sama sekali tak takut pada kalian." Ren melontarkan kalimat sindiran sambil memicingkan mata. Ia menggunakan helmnya lalu beranjak pergi dengan melajukan motornya.
Jun sedikit merenungi kalimat terakhir Ren. Ia tersenyum simpul, lalu menaiki motornya dan kembali ke rumah. Begitu sampai di rumah, dia menyerahkan sekotak Donburi pada Sachi. Gadis itu terlihat senang dan langsung duduk di meja makan untuk melahap makanan yang dibawakan oleh kakaknya.
"Oniichan, apa kau beritahu pada Shohei-kun jika aku sedang tak enak badan?" tanya Sachi tiba-tiba.
"Tidak ...." Jun mencoba berkilah.
"Jangan berbohong! Dia baru saja meneleponku." Sachi menunduk malu, masalahnya ia tidak benar-benar sakit.
"Bukankah sangat bagus jika dia perhatian padamu? Dia sangat sibuk dengan pekerjaannya akhir-akhir ini, makanya belum sempat datang ke sini. Sebaiknya kalian sering-sering teleponan agar hubungan kalian tidak hambar."
Sachi terdiam. Dia kembali mengingat kejadian semalam di mana Ren menciumnya. Apakah ia telah berkhianat pada Shohei? Tapi pria itu yang memaksanya! Tunggu, dia juga menikmati ciuman pria itu. Apakah ini bisa dikatakan perselingkuhan? Ah, kepalanya menjadi pusing memikirkan hal itu dan dia kehilangan selera makan.
Waktu telah menunjukkan jam delapan malam. Saat ini, Jun turun dari lantai atas. Ia menggunakan baju kaus serta celana olahraga, di pundaknya ada sebuah tas berisi raket tenis. Sachi yang tengah menonton, langsung melempar pertanyaan kepada kakaknya.
"Olahraga malam-malam begini?"
"Ya, apa kau mau ikut?"
Sachi tampak berpikir. "Aku malas bermain!" tolaknya karena tahu akan kalah telak jika bermain dengan kakaknya itu.
"Siapa juga yang mengajakmu bermain! Kau hanya perlu menonton dan memberi semangat kakakmu!"
Sachi menimbang-nimbang kembali. Pikirnya, dia akan terus-terusan dihantui perasaan bersalah pada Shohei jika hanya berdiam diri di rumah.
"Baiklah, aku ambil jaket dulu!"
Sachi lalu memakai jaket hoodie dengan menutup penuh kepalanya hingga hanya menyisakan wajahnya yang terlihat bulat. Ia berjalan bersama Jun menuju ke lapangan tenis yang hanya terletak beberapa meter dari rumah mereka.
Begitu tiba di lapangan itu, samar-samar dia melihat seorang pria berbadan tinggi ramping tengah melakukan pemanasan.
"Oniichan, apa dia lawan mainmu?"
"Iya, dia Ren. Tetangga kita."
Pada saat itu juga, mata Sachi seolah hendak meloncat ke bawah. Sementara, Ren langsung berbalik dan menyapa kedua kakak beradik itu.
"Sachi-chan, kenapa kau tidak pakai pakaian olahraga juga? Padahal aku juga ingin bermain denganmu!" tegur Ren dengan ekspresi tersirat.
"Dia belum terlalu mahir melakukan serangan. Bermain dengannya akan cepat bosan," ejek Jun sambil melakukan peregangan.
Ketika kedua pria itu tengah bersiap untuk memulai pertandingan, tiba-tiba Ren melayangkan sebuah ide. "Jun-san, agar permainan kita lebih seru, bagaimana kalau kita melakukan taruhan. Yang kalah harus mengabulkan permintaan sang pemenang!"
"Menarik! Aku setuju!" balas Jun yang sepakat dengan ide Ren.
Ren mengalihkan pandangannya ke arah Sachi yang duduk di kursi penonton, ia tersenyum nakal lalu melempar sebuah kedipan mata. Seketika, gadis itu terhenyak dan merasakan firasat aneh. Jangan bilang pria mesum itu akan meminta hal-hal aneh yang berkaitan dengan dirinya jika dia mengalahkan kakaknya!
.
.
.
jangan lupa like dan komeng
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Hearty 💕
Jun masuk perangkap Ran
2024-08-18
0
Ayu sutriani
jiwa psychopath itu berawal dari tekanan lingkungan terutama keluarga😥
2024-04-07
1
Ꮯhᥲᥣ᥎เᥒ
Ren mulai deh 🤣
2024-02-12
1