"Ada apa?" tanya Ren ketika melihat perubahan raut wajah Sachi.
Ren menoleh ke arah tatapan Sachi. Tampak dua insan yang terlihat seperti sepasang kekasih itulah yang menarik perhatian gadis itu. Ketika mereka makin mendekat, tiba-tiba Sachi langsung menggandeng mesra Ren sambil menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.
"Natsu-kun, bukankah itu mantan pacarmu?" tanya gadis yang bersama mantan kekasih Sachi.
Natsu menoleh ke arah Sachi dan melihat gadis itu tengah menggandeng mesra seorang pria tampan bertubuh idaman para lelaki. Mengetahui mantan kekasihnya tengah melihatnya, Sachi buru-buru menarik Ren mendekat ke tempat penjualan pakaian pria.
"Sayang, sepertinya ini lebih cocok untukmu!" Sachi mengambil salah satu pakaian dan menyodorkannya ke Ren.
Ren tersenyum, sambil berkata, "Oh, sayang, seleramu sangat jelek sejelek mantan pacarmu!"
Ren lalu mengambil setelan tuxedo yang terbuat dari bahan Velvet lalu berkata pakaian itulah yang pantas ia gunakan. Pria itu kemudian meminta Sachi untuk menunggunya di situ karena dia akan mencoba pakaian itu.
Sachi berdiri diam di depan fitting room sembari menunggu Ren. Ia terkejut begitu melihat Natsu beserta seorang gadis datang menghampirinya.
"Sachi-chan, ogenki desuka (apa kabar?)" Natsu tersenyum ramah ke arahnya, lalu menoleh ke arah fitting room yang baru saja dimasuki Ren.
Sachi memalingkan wajahnya dengan ketus seolah tak melihat Natsu. Masih teringat jelas, bagaimana dia mendapati pria itu tengah berciuman dengan gadis yang sedang bersamanya saat ini.
Melihat Sachi tak menggubrisnya, Natsu tersenyum miring lalu berkata, "Pria yang bersamamu tadi ... bukan pacarmu, 'kan?"
Sachi tersentak, ia merampas ujung roknya, dan itu terlihat oleh Natsu. Pria itu tertawa lalu berkata, "Sachi, ternyata kau masih belum pandai berbohong. Kenapa kau harus berpura-pura punya pacar di hadapanku? Apa kau ingin membuatku cemburu?"
"Jangan-jangan dia masih berharap kau kembali padanya!" ujar gadis di samping Natsu sambil tertawa mengejek.
Tak bisa menjawab dan tak mau meladeni mereka, Sachi langsung berdiri dan hendak pergi. Namun, tiba-tiba Ren menarik pergelangan tangan gadis itu. Ia menangkupkan wajah Sachi dan langsung membenamkan bibirnya di bibir ranum milik gadis itu.
Kali ini bibir mereka benar-benar bersatu tanpa penghalang apapun. Mata Natsu langsung terbelalak seakan hendak meloncat ke lantai begitu melihat pemandangan itu di hadapannya. Ren menoleh sembari melempar tatapan sinis ke arahnya.
"Jangan coba-coba mengganggu pacarku!" ujar Ren sambil menarik sudut bibirnya ke atas kemudian merangkul Sachi. Ia bahkan sempat mengacungkan jari tengah ke arah Natsu.
Ren langsung membawa Sachi pergi meninggalkan Natsu yang masih bergeming seolah tak percaya apa yang baru saja dilihatnya. Masalahnya, selama berpacaran dengan Sachi, mereka belum pernah berciuman sama sekali.
Tiga puluh menit kemudian, Sachi duduk sambil menangis di sebuah tangga luar pusat perbelanjaan. Ren memangku dagunya seraya menatap gumpalan-gumpalan tisu yang dipakai gadis itu selama menangis.
"Sudahlah! Laki-laki sampah tidak cocok menempati hatimu. Air matamu terlalu berharga untuknya," ujar Ren setelah bosan mendengar Sachi menangis.
Bukannya berhenti, tangisan Sachi makin menjadi dan itu membuat kening Ren bergelombang.
"Hei, kenapa kau masih menangisinya? Jangan-jangam benar kata mereka, kau masih berharap kembali padanya, ya?" Ren mendekatkan wajahnya ke arah Sachi, membuat tatapan penuh tuduhan.
Sachi yang sedari tadi tak merespon ucapan Ren, menatap berang ke arah pria itu sambil berkata, "Aku tidak menangisi pria sialan itu! Aku menangis karena kau!"
"Hah? Aku?" Ren menunjuk dirinya sendiri.
"Kenapa kau merebut ciuman pertamaku!" ujar Sachi kesal sambil memukul-mukul Ren.
"Eh?" Mata Ren membeliak seolah tak percaya gadis berumur dua puluh tahun itu belum pernah berciuman. "Ciuman pertama? Memangnya selama berpacaran kau belum pernah berciuman?"
Sachi menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun ... pantas saja dia selingkuh!" ucap Ren menahan tawa.
Ya, Sachi memang mempunyai prinsip untuk menyerahkan ciuman pertamanya pada pria yang benar-benar tulus mencintainya. Untungnya, selama berpacaran dengan Natsu, mereka belum pernah melakukan hal-hal yang di luar batas. Sebab, ternyata mantan kekasihnya itu seorang playboy yang suka bergonta-ganti wanita. Namun, sekarang ciuman pertamanya telah dirampas oleh Ren yang bukan kekasihnya. Apalagi, pria itu tampak tak jauh beda dengan Natsu yang suka mempermainkan hati wanita.
"Jangan-jangan kau juga belum pernah berhubungan sekss, ya?" Pertanyaan tak senonoh keluar dari mulut Ren diiringi dengan tatapan mesum yang membuat Sachi terdiam karena malu. "Mau kuajari?" lanjut Ren sambil mengangkat kedua alisnya.
PAK!
Sachi memukul kepala Ren karena kesal.
"Ittai! (Sakit)" keluh Ren sambil memegang kepalanya. Namun, sesaat kemudian dia berdiri dan mengejar Sachi yang telah pergi.
Akhirnya, mereka kembali ke rumah setelah langit mulai menggelap. Ren menghentikan motornya tepat di depan rumah Sachi. Ketika gadis itu turun dari motor dan membuka helm, ia tertegun melihat Shohei yang baru saja turun dari mobilnya. Pria lembut itu tersenyum ke arah Sachi sambil sedikit membungkuk.
Ren langsung menuju ke rumahnya. Pria itu memarkirkan motornya di halaman. Kemudian, berbalik ke belakang untuk melihat Sachi yang tengah menghampiri seorang pria berseragam polisi. Ia memicingkan mata begitu wajah Shohei tertangkap oleh retina matanya. Ya, tentu saja dia sangat mengenali pria itu.
Sachi mengajak Shohei untuk masuk ke dalam rumahnya. Saat membuka pintu, matanya teralihkan pada sepeda miliknya yang terparkir tak jauh dari situ. Seingatnya, ia meninggalkan begitu saja sepedanya di jalanan. Namun, sekarang sepeda itu malah ada di sana dan dalam kondisi yang baik.
Begitu masuk ke rumah, Shohei memberikan sebuah bagpaper.
"Apa ini?"
"Pudding buah. Opsir Megumi bilang kau sangat suka makan pudding buah, jadi a–aku singgah membelinya untukmu," jawab Shohei terbata-bata.
Sachi tersenyum senang. "Arigatou."
Mereka lalu duduk di meja makan sambil menikmati pudding buah. Shohei tampak menarik napasnya, ia kembali mengalami sindrom gugup saat berada di dekat Sachi. Jujur saja, sore ini dia ke sini atas perintah Jun.
Sepuluh menit berlalu begitu saja. Tanpa suara, tanpa kata. Hanya saling bertatapan sambil saling melempar senyum. Membosankan, bukan?
"Ano ...." Sachi dan Shohei serempak mengatakan kata yang tak mengandung arti itu.
"Kau duluan," ucap Shohei mempersilakan Sachi duluan bicara.
"Ano ... bagaimana kalau kita berkomunikasi lewat tulisan saja?" saran Sachi secara tiba-tiba.
"Eh?" Shohei tak mengerti maksud gadis itu.
Sachi langsung mengambil buku dan bolpoinnya lalu menulis sesuatu. Tak lama kemudian dia menyodorkan buku dan bolpoin itu ke arah Shohei. Dia tahu, pria itu sungkan memulai obrolan. Makanya untuk mengatasi suasana asing di antara mereka, gadis itu membantunya dengan membuat obrolan lewat buku.
Shohei membaca isi tulisan Sachi.
"Apa semalam Yamazaki-kun meneleponku?"
Shohei mengambil bolpoin dan menjawab bahwa ia memang menelepon gadis itu, tetapi sayangnya tak tersambung. Sachi meminta maaf karena semalam dia memutuskan tidur cepat sehingga langsung mematikan ponselnya.
Keduanya saling berbalas tulisan lewat buku. Shohei menanyakan beberapa hal tentang gadis itu, seperti hobinya, warna kesukaannya, tokoh idolanya, makanan kesukaannya dan hal lain yang menjadi favoritnya. Beberapa waktu terlewati, dan keduanya masih saling mengobrol lewat buku. Tak ada suara sama sekali, kadang-kadang hanya saling menatap atau berbalas senyum.
"Apakah kau punya tempat yang ingin kau kunjungi di hari Minggu nanti?"
Shohei menyodorkan kembali buku itu ke arah adik Jun. Sachi membaca pertanyaan Shohei, kemudian menulis jawaban tepat di bawah pertanyaan pria itu.
"Aku ingin mengunjungi toko roti Magnolia untuk melihat referensi model-model cupcake," tulisnya.
Shohei membaca keinginan Sachi Minggu ini, lalu kembali membalas tulisan gadis itu.
"Kalau begitu, mari kita pergi bersama ke toko roti itu Minggu ini."
Sachi membaca tulisan Shohei. Ia menatap pria itu, lalu mengangguk sambil tersenyum. Shohei memalingkan wajahnya hanya untuk tersenyum gembira. Detik berikutnya, Ia kembali menulis sesuatu di buku itu.
"Apakah aku boleh memanggilmu dengan nama depan?"
Sachi kembali mengangguk sambil tersenyum hingga membuat Shohei makin semangat. Dia kembali menulis sebuah pertanyaan, dan langsung menyodorkan buku tersebut ke arah Sachi.
"Bolehkah aku mengajakmu berkencan?"
Sachi tertegun. Sementara, Shohei justru mendadak pucat, dan jantung berdetak tak berirama ketika melihat Sachi terdiam cukup lama setelah membaca ajakannya untuk berpacaran. Pada menit berikutnya, gadis itu mengangkat wajahnya, menatap Shohei yang cemas menanti jawaban.
"Ya, Shohei-kun. Mohon jaga diriku," ucap Sachi menunduk malu-malu.
Seketika, mata Shohei membulat cerah. Ia tersenyum lebar dan tak dapat menyembunyikan perasaan gembiranya. Pria itu berdiri dari tempat duduknya, menghadap Sachi yang masih menunduk.
"Arigatou gozaimasu. Aku ... aku, a–akan menjaga Sachi-chan dengan baik." Shohei membungkuk di hadapan gadis yang telah resmi menjadi pacarnya.
.
.
.
cuci mata dulu yukk....
visual Sachi Megumi ini lagi naik daun di Jepang
Jangan lupa like + Komeng biar semangat Bray....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
🐥Yay
ini lagi Sachi sama saja 🤣
2024-09-10
0
🐥Yay
astaga Ren🤣
2024-09-10
0
Hearty 💕
Shohei girang pake banget deh
2024-08-09
2