Pagi-pagi sekali, Sachi mengayuh sepedanya menuju kampus. Penampilan gadis itu sangat sederhana, hanya memakai atasan dari bahan kaos, dan celana jeans. Poni rambutnya dijepit ke samping agar tak menghalangi pandangannya, sementara hidung dan mulutnya tertutup masker untuk melindungi dirinya dari debu jalanan. Dia bersiul mengikuti kicauan burung yang menari-nari di atas sana. Saat belok, ban sepedanya berdecit. Gadis itu menoleh ke bawah, ternyata ban sepedanya bocor sehingga memaksanya harus berhenti.
"Huffftt!" Sachi mendesis kesal.
Bagaimana ini? Sebentar lagi mata kuliah dari dosen killer akan segera mulai. Di sini tidak ada kendaraan umum lewat, seperti taksi atau pun bus. Bahkan, jika dia harus berjalan kaki ke arah kampusnya itu memakan kelebihan waktu.
Dari kejauhan, ia melihat Ren tengah mengendarai motor ke arahnya. Sachi tersenyum, setidaknya pria itu datang sebagai dewa penyelamatnya. Ia melompat-lompat seraya melambaikan tangannya ke arah Ren yang makin mendekat.
Ren berhenti tepat di hadapannya. Masih di atas motor, dan hanya membuka kaca helm, pria itu bertanya mengapa Sachi memanggilnya. Meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang terjadi pada sepeda gadis itu.
"Ban sepedaku bocor!" jawab Sachi setelah Ren bertanya.
"Lalu? Bawa saja ke tukang tampal sepeda!" ketus Ren.
Sachi tersentak, ia pikir pria itu akan menawarkan untuk menaiki motornya.
"Ano ... aku tidak punya waktu banyak. Jam kuliah sebentar lagi akan dimulai," ucap Sachi sambil menggigit bibirnya. Dia menatap wajah Ren yang tampak tak acuh. "Bolehkah kau mengantarku ke kampus?" Kali ini Sachi turut mencakup kedua tangannya di depan Ren.
Ren memalingkan wajahnya seraya melempar tawa.
"Apa imbalannya?"
Mata Sachi melebar ketika Ren meminta imbalan. "Kau tidak perlu meminta imbalan jika hendak menolong orang!" ketus Sachi menyeringai kesal.
Ren membuka helmnya, lalu berkata, "Aku sedang tidak niat membantu orang! Kau yang meminta bantuanku, lalu di mana letak salahku jika meminta imbalan."
Sachi mengerucutkan bibirnya dari balik masker. Dia benar-benar terlihat berang, bahkan meskipun wajahnya tertutupi masker. Kenapa ada orang semenyebalkan ini? Lebihnya lagi, dia harus menemui pria itu setiap pagi.
Tanpa berkata, Sachi memilih untuk berjalan meninggalkan Ren yang masih duduk di atas motornya. Berdebat dengan pria itu hanya akan menghabiskan banyak waktunya.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Ren ketika melihat Sachi langsung pergi.
Sachi tak menggubris pertanyaan Ren. Dia berusaha melangkah secepat mungkin agar segera sampai di kampusnya. Ren tertawa tanpa suara, dia mendorong motornya agar mengikuti langkah kaki gadis itu.
"Naiklah!" ujar Ren sambil terus mendorong motornya.
Sachi menunjukkan raut hambar dari balik masker. Pandangannya lurus ke depan dan kakinya semakin cepat melangkah.
"Aku hanya bercanda. Ayo naik!" Ren berusaha membujuknya sambil menahan senyum. Namun, ekspresi yang dimilikinya saat ini membuat Sachi makin kesal karena pria itu terlihat sedang meledeknya.
Melihat Sachi masih diam, dan terus berjalan. Ren kembali berkata, "Wajah marahmu sangat jelek. Mirip ibu-ibu yang punya lima anak, haha-haha."
Sachi menoleh dan melempar tatapan tajam.
"UPS, sorry! Ren menutup mulutnya sambil menahan tawa.
Sachi kembali berjalan cepat. Ren menggelengkan kepalanya sambil tetap menahan tawa. Dia menghidupkan mesin motornya, menancap gas dan langsung pergi meninggalkan gadis itu.
Sachi terhenyak ketika melihat Ren pergi. Dia berhenti melangkah dan langsung menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
"Dasar pria menyebalkan! Aku benci dirimu!" teriaknya sambil menatap punggung Ren yang makin menjauh.
Tiba-tiba Ren kembali memutar motornya lalu menghampiri Sachi yang terkejut karena tak menyangka pria itu datang kembali.
"Ekspresi kesalmu benar-benar lucu!" Ren tertawa terpingkal-pingkal.
"Siapa yang kesal?" Sachi mengelak dengan tatapan melotot
Ren menunjuk spion motornya. "Mulutmu pandai berbohong, tapi spion motorku tidak!"
Sachi bergeming. Ternyata pria itu melihat reaksinya selepas ditinggal pergi lewat kaca spion. Gadis itu merasa tubuhnya mengecil seperti liliput. Malu!
"Naiklah, Sachi!" pinta Ren dengan segaris senyum.
Kali ini Sachi tak menolak lagi, dan langsung menaiki motor Ren.
"Pegang yang erat!" Ren memberi instruksi sebelum dia melajukan motornya.
Sesampainya di kampus, Sachi langsung turun dari motor dan bergegas meninggalkan Ren karena takut sebentar lagi mata kuliah akan segera dimulai. Ren membuka helmnya, bergegas turun dan mengejar Sachi.
Sachi tersentak ketika Ren menarik pergelangan tangannya.
"Aku sudah mengantarmu ke sini, tapi kau tidak mengucapkan sepatah kata apapun?"
"Gomen, aku lupa karena terburu-buru—"
Belum sempat Sachi menyelesaikan kalimatnya, Ren langsung mengunci ucapan gadis itu dengan sebuah ciuman. Bibir pria itu menempel sempurna tepat di bibir Sachi yang tertutupi masker.
Mata Sachi terbelalak merasakan sentuhan bibir Ren yang terhalang oleh masker.
"Ini namanya ciuman anti virus," ucap Ren tersenyum begitu menjauhkan wajahnya dari Sachi.
Pria itu berjalan mundur menuju ke motornya. Ia melempar senyum ke arah Sachi yang membatu.
"Sachi-chan, ganbatte ne! (semangat ya)" ucap pria itu seraya mengepalkan tangannya ke atas.
Sachi masih mematung di tempat, bahkan ketika bayang Ren pergi dibawa angin. Ia membuka maskernya, dan berbalik masuk ke dalam kelas.
Mata kuliah telah selesai tepat jam lima sore. Sachi berjalan menuju pintu gerbang kampus. Rambut pendek gadis itu berayun diterpa angin sore. Dari jarak dekat, dia melihat Ren berdiri sambil bersandar di motor sport miliknya.
"Sachi-chan, ayo cepat ke sini!"
Gadis itu berjalan cepat menghampirinya. "Kenapa kau datang menjemputku? Aku bisa menunggu bus."
"Sudahlah, jangan cerewet!" Ren memberinya helm dan memerintahkan Sachi untuk segera naik.
Sachi naik di boncengan, dengan ragu-ragu ia menyusupkan kedua tangannya di kantong jaket Ren.
Ren mulai menjalankan motornya dengan pelan. Ketika memasuki jalan utama, pria itu menambah kecepatan laju motornya. Ia membelah jalanan yang lurus, dan menarik lembut tangan Sachi keluar dari kantong jaketnya untuk melingkar full di pinggangnya.
Wajah Sachi bersemi seperti bunga sakura yang baru bermekaran, karena mau tak mau dia harus memeluk pinggang Ren dengan erat seiring pria itu menambah laju kecepatan. Jarak tubuh mereka yang begitu dekat, membuat gadis itu dapat menghirup aroma tubuh Ren yang memikat.
Sachi memejamkan mata, menikmati lambaian angin sore. Ini pertama kalinya dia berkeliling kota dengan motor besar. Sejenak, Sachi tersadar jika jalan yang dilalui Ren bukan menuju arah pulang.
"Kenapa kita lewat arah jalan ini?" tanyanya.
"Aku ingin singgah sebentar ke pusat perbelanjaan."
"Untuk apa?"
"Aku ingin membeli setelan jas untuk acara malam nanti. Aku akan ke acara pernikahan artis," bisik Ren sambil menyampingkan kepalanya ke belakang.
Mereka tiba di salah satu pusat perbelanjaan terkenal. Keduanya tampak sebagai pasangan kekasih karena Ren terus menggenggam tangan gadis itu, meskipun Sachi berusaha melepaskan tangannya.
Langkah Sachi mendadak terhenti ketika ia melihat mantan kekasihnya bersama seorang gadis tengah bergandengan mesra sambil berjalan ke arah mereka.
.
.
.
Catatan Author:
oh iya, biar ga salah paham ya, karakter Shohei polosnya cuma sama wanita. tapi sehari-hari dia ga polos gitu, apalagi kalo berkaitan dengan pekerjaannya sebagai polisi. ingat, IQ Shohei tergolong superior ☺️
btw, jalan cerita ke depan udah menuju ke konflik utama. siapkah hatimu diblender mereka? weka weka cekakak....🤧😂🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Hearty 💕
Bisa ajaa ambil kesempatan
2024-08-09
1
Lina Gunawan
Sepedanya dikemanain?
2024-03-16
1
sakura🇵🇸
bari seneng2 adegan gemes...dibawah udah ada notif mengerikan😭😭
2023-02-04
0