Jun masuk kembali ke dalam gedung dan bertemu Shohei yang sibuk mencarinya sedari tadi.
"Opsir Megumi, aku mencarimu ke sana-kemari!" keluh Shohei.
"Aku baru selesai makan siang di kafe depan."
"Eh?"
Shohei terkejut karena setahunya pria itu selalu membawa bekal makan siang.
"Sachi sedang tidak enak badan, dia tidak masuk kampus dan beristirahat di rumah."
Shohei kembali terkejut hingga ia merasa perlu memperbaiki posisi kacamatanya. "Sa–Sachi sakit? Kenapa kau tidak mengatakan padaku?"
"Hei ... ekspresimu terlalu berlebihan. Dia akan baik-baik saja setelah beristirahat cukup." Jun tertawa melihat Shohei yang penuh kekhawatiran saat mengetahui Sachi sedang sakit. "Omong-omong, bagaimana dengan kasus pembunuhan itu?" tanya Jun yang langsung mengganti topik pembicaraan.
Shohei mendengkus. "Kasus itu ditangani detektif Shu, dan sialnya aku menjadi bagian dari timnya."
"Kenapa kau bilang sial? Bukannya kau senang karena bisa menyelidiki sebuah kasus? Apalagi ini kasus yang booming di masyarakat."
"Kupikir Opsir Megumi yang akan menangani kasus itu!" ujar Shohei bermuka masam.
"Aku sudah mengambil bagian untuk menyelidiki kasus pencurian berlian. Dan itu sudah cukup membuatku pusing," ujar Jun sambil mengambil dua gelas kopi panas yang tersedia di mesin otomatis, lalu menyerahkan segelas kopi pada Shohei.
"Kata mereka yang pernah berada satu tim, Detektif Shu selalu bertindak seenaknya dan sesuka hati. Dia tidak mau memakai pendapat timnya. Untuk kasus ini, dia menganggap tidak ada lagi yang perlu diselidiki lebih lanjut. Katanya, pelakunya sudah pasti Tatsuya tapi ... entah kenapa aku merasa ada keganjalan pada kasus ini. Saat aku mengintrogasi tersangka, dia terlihat berkata jujur. Alibinya juga sesuai dengan rekaman CCTV yang menunjukkan dia berada di aula ketika saksi melihat Nona Maki Okada jatuh," tutur Shohei.
"Lalu?"
"Saat aku mengatakan pada detektif Shu, dia malah menyuruhku untuk membuat Tatsuya benar-benar mengakui membunuh artis itu," keluh Shohei sambil berjalan menuju ruangan mereka.
"Jika mengacu pada bukti rekaman yang ditemukan di pakaian korban, dan kesaksian Emi Hayase memang seperti terlihat bahwa Tatsuya adalah pelakunya. Tapi, sebagai seorang detektif, jangan pernah menerima sesuatu apa adanya dan jangan mengambil kesimpulan secara cepat. Beberapa kasus pembunuhan yang selama ini kupecahkan justru dilakukan oleh orang yang bertampang tidak berdosa," tutur Jun.
Kedua pria itu lalu bersama-sama masuk ke dalam ruangan. Di sana ada inspektur Heiji bersama detektif Shu yang tengah memeriksa CCTV kapal pesiar saat kejadian. Mereka membaca kembali data hasil forensik artis Maki Okada. Dari data itu terungkap bahwa posisi luka pukulan korban berada di kepala, tepatnya di tulang belakang sebelah kiri.
"Ada dua titik pukulan dari jarak yang berdekatan. Dan keduanya berada di sebelah kiri." Inspektur Heiji membaca kembali hasil forensik.
"Itu artinya ... pembunuh adalah seorang bertangan kidal," ucap Jun menyambung ucapan inspektur Heiji. Dia menoleh ke arah Shohei lalu bertanya, "Apakah Tatsuya bertangan kidal?"
"Dari yang kutahu dia menulis menggunakan tangan kanan," jawab Shohei tanpa keraguan.
"Dia berada di aula tepat ketika saksi koki kapal melihat Maki Okada terjatuh. Kemudian, hasil forensik mengungkapkan bahwa si pembunuh bertangan kidal, sementara dia bukan bertangan kidal." Inspektur Seiji mulai merunut hal-hal yang berkaitan dengan tersangka saat ini.
"Ada dua kemungkinan. Dia tetap dalangnya dengan menyuruh seseorang melakukan pembunuhan tersebut, atau ada pelaku lain yang sama sekali tak berkaitan dengannya." Jun berkata dengan mata tajamnya yang selalu terlihat ketika insting detektifnya muncul.
"Opsir megumi!" Detektif Shu yang sedari tadi duduk manis, kini berdiri dan menghampiri Jun. "Kurasa kau terlalu berambisi mengambil setiap kasus yang sedang booming di masyarakat." Detektif Shu maju selangkah lalu kembali berkata dengan nada sinis, "Kasus ini milikku! Jadi, jangan ikut campur yang bukan menjadi tugasmu!"
Jun melempar tawa hangat seketika. "Summimasen, sebenarnya aku ke sini ingin menanyakan pada inspektur Seiji tentang buku biografi menteri Yuji Nakajima."
"Ah, aku tidak memiliki buku itu. Dulu aku membacanya di perpustakaan kota. Kau bisa cek ke sana!" ujar inspektur Heiji.
Setelah mendengar jawaban dari inspektur Heiji, Jun menunduk pada mereka dan keluar dari ruangan itu. Dia menghela napas sejenak, kembali mengingat apa yang diucapkan detektif Shu. Ya, bukan hal yang baru lagi jika Shu tak pernah menyukainya. Namun, ia berpikir apa yang dikatakan pria itu ada benarnya karena dia seharusnya lebih fokus untuk mengurus kasus pencurian berlian.
Usai menjemput Emi, Ren melajukan motornya menuju Sungai Meguro yang terletak di tengah kota Tokyo. Mereka berhenti di sana dan memutuskan duduk di tepi sungai. Sungai itu tidak terlalu besar, tetapi pemandangannya sangat menawan karena dikelilingi pohon sakura.
Emi menceritakan pada Ren tentang apa saja yang ditanyakan Jun selama interogasi. Pria itu memujinya karena telah menjawab semua pertanyaan dengan tepat dan benar sesuai apa yang ia ajarkan.
Emi berjalan ke arah pagar yang menjadi pembatas sungai itu. Dia menunduk ke bawah untuk melihat jernihnya air sungai, lalu menoleh ke belakang tepatnya ke arah Ren yang bersandar di motornya.
"Ren-kun, dua hari lagi aku berulang tahun yang ke sembilan belas," ucap Emi pelan, matanya mengandung sebuah harapan tersirat pada pria yang tengah berada di hadapannya.
"Oh, ya? Otanjoubi omedetou (selamat ulang tahun)," ucap Ren tersenyum.
"Bukan sekarang, tapi hari Minggu nanti," tegas Emi.
"Ya, aku tahu. Tapi, aku takut akan lupa mengucapkannya nanti," balas Ren sambil melirik ke tempat lain.
Wajah Emi murung seketika. Dia menunduk diam.
"Aku tidak tahu kenapa orang-orang mengistimewakan tanggal kelahirannya setiap tahun. Mereka berkata itu untuk mengenang hari di mana mereka dilahirkan. Apa untungnya lahir di dunia? Sangat bodoh!" Ren kembali membuang muka sambil meringis.
Emi mengangkat kepalanya usai mendengar ucapan Ren. "Mungkin aku berada di kumpulan orang bodoh yang kau maksud. Dulu, aku selalu menunggu hari ulang tahunku karena di hari itu aku bisa bersuka cita bersama keluarga. Okaa-san akan membuatkan kue ulang tahun, dan otousan akan mendekorasi ruangan agar terlihat seperti sedang berpesta kecil-kecilan. Tapi, setelah mereka meninggal, aku tidak pernah merayakan ulang tahunku," ucap Emi dengan senyum samar yang tercetak di wajahnya.
Melihat wajah penuh harap gadis itu, Ren langsung berjalan mendekat ke arahnya. "Ayo, kita rayakan ulang tahunmu! Aku akan membeli kue ulang tahun dan mendekorasi ruangan agar terlihat seperti sedang berpesta."
Emi tersentak karena tak percaya dengan apa yang barusan Ren katakan. Ia menatap mata Ren yang berbinar cerah dan sebuah sunggingan lembut di bibirnya.
"Benarkah?"
"Hum." Ren mengangguk, kemudian mengacak rambut gadis itu. "Asal kau berjanji akan selalu tersenyum padaku."
Ren menarik kedua pipi Emi sehingga bibir gadis itu ikut tertarik seperti sedang tersenyum. Emi menepis tangan pria itu, lalu tersenyum lebar hingga menunjukkan gigi gingsulnya. Setelah itu mereka memutuskan pulang.
Ketika memasuki senja, pria itu memutuskan untuk singgah ke kedai yang terletak di lokasi perumahannya. Ia memesan menu Donburi, yaitu semangkuk nasi putih hangat yang dipadukan dengan campuran sayuran dan ayam, daging sapi atau udang.
Ren memutuskan duduk di meja panjang yang berhadapan langsung dengan meja kerja koki. Tak terduga, Jun ternyata duduk di sampingnya dan telah lebih dulu menyantap hidangan kedai tersebut.
"Hei, Ren!" tegur Jun yang terkejut melihat Ren tiba-tiba berada di sampingnya.
"Kau makan di sini juga?" Ren tak kalah terkejut karena pria itu masih berseragam polisi, artinya Jun baru saja pulang dari kantornya.
Jun mengangguk sambil kembali memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Tak butuh waktu lama, Donburi pesanan Ren telah datang.
"Itadakimasu," ucap Ren ke arah Jun.
"Itadakimasu," balas Jun mengangguk.
Ren mengambil sumpit dan mulai menyantap makanan tersebut, sementara Jun juga kembali menghabiskan sisa makanannya. Ketika hampir selesai, tak sengaja pandangan Jun terarah pada Ren. Ia tertegun saat melihat Ren memegang sumpit dengan tangan kiri.
.
.
.
aku Adain dua visual pemeran pendukung yang bakal sering nongol ya. inspektur heiji dan detektif Shu. siapakah visualnya?
.
.
Takiya genji si preman suzuran 🤣🤣🤣🤣. ya, dia visual inspektur Heiji ya. biar kalian gak ngebayangin polisi India si vijai atau ladusing 🤣🤣🤣. Oia, dia ini aktor Jepang plg populer dan ikemen paling hits pada masanya. setidaknya, pemuda2 Indonesia yang kagak tahu jejepangan pasti pada kenal dia soalnya dia bintang utama film crow zero 1 dan 2.
Detektif Shu yang bakal memecahkan kasus pembunuhan dan jadi rivalnya Jun. sama juga nih, dia ini aktor papan atas dengan deretan film box office. dia terkenal di Indonesia karena memerankan tokoh Kenshin di samurai X LA.
udah gitu aja, jangan lupa like dan Komeng.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
mungkin ren menganggap kehidupan emi mirip dg kehidupan nya yg penuh dg kegelapan..??
2024-10-16
0
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
rata² orang smart kidal... bener gak kak yu..??
2024-10-16
0
Hearty 💕
Ganteng
2024-08-18
0