"A–apa ... maksudmu?" Sachi bertanya dengan nada gugup.
"Ah, kau sudah lupa? Apa aku langsung lakukan saja di sini agar kau bisa ingat?" Kali ini Ren menyapukan jari jempolnya ke bibir sensual miliknya sambil melempar tatapan yang menggairahkan.
Sachi menggeleng cepat. "Tidak ... tidak! Apa kau sudah gila! Aku tidak akan memberikan ciumanku pada pria asing yang tidak kukenal," tegas gadis itu.
Ketika dia membuka pintu rumah, Ren langsung menyusup masuk ke dalam hingga membuatnya kembali terkejut. Pria itu melenggang santai dan duduk di sofa sambil bersandar dan menyilangkan kakinya.
"Interior rumah kita sama ternyata." Mata Ren berkeliling menatap seisi ruangan.
Sachi meletakkan selembar tugas kuliahnya di atas meja. "Apa yang kau lakukan di sini! Bisakah kau tidak sembarang masuk ke rumah orang?"
Ren mengangkat dagunya, sembari memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap Sachi yang kesal.
"Aku sedang bertamu. Begitu caramu melayani tamu?"
Bibir Sachi mengerut menahan kekesalan yang bersarang di dadanya. Namun, ekspresi wajahnya justru terlihat imut di mata Ren.
"Ah imut sekali!" Ren berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Sachi. Gadis itu gugup dan mulai berjalan mundur.
"Apa yang ingin kau lakukan? Jangan macam-macam, ya? Kakakku seorang polisi! Aku bisa memintanya untuk menangkap dan memenjarakan dirimu."
Ancaman Sachi justru membuat Ren tergelak seketika. "Kalau kakakmu polisi, ayahku adalah menteri di negeri ini!"
"Aku tidak bercanda!" ketus Sachi.
"Aku juga!" sahut Ren.
Gadis itu tersandar di dinding. Ia seperti seekor tikus yang tersudut. Ren menyandarkan tangan kirinya tepat di sisi kanan kepala Sachi. Ia menarik sudut bibirnya ke atas, dan sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Bisakah kita memulainya?" Suara memesona dari pria itu mengembus di pendengaran Sachi.
Ren memajukan wajahnya, semakin dekat hingga Sachi dapat merasakan embusan napas pria itu. Bukannya menghindar, mata perempuan berambut pendek itu justru berbinar cerah saat perhatiannya teralihkan pada tindikan di telinga kiri Ren.
"Anting-antingmu ...."
Ren yang telah memosisikan wajahnya sedekat mungkin, tertegun ketika Sachi melirik anting-anting yang menggantung di telinga kirinya. Pria itu memegang anting-antingnya sambil tersenyum.
"Oh, ini adalah berlian asli."
"Berlian asli?" Sachi memasang wajah tak percaya, tetapi Kilauan dari anting-anting pria itu sungguh memesona hingga membuatnya tak mengerjap.
"Iya, aku mengambilnya di museum Tokyo Park," bisik Ren sambil tertawa.
Mendengar jawaban Ren yang dianggapnya konyol, membuat Sachi menyeringai dan langsung membebaskan dirinya dari sergapan pria itu.
"Pulanglah ke rumahmu! Aku hendak memasak makan malam untuk kakakku."
"Kalau begitu sekalian masak makan malamku juga, ya?" Ren kembali duduk di sofa.
Sachi menoleh dan melempar tatapan tajam padanya. "Kau pikir aku pembantumu?!" decaknya kesal.
"Aku sedang tidak berpikir seperti itu!" jawab Ren santai.
Kali ini Sachi tak menanggapi perkataan pria itu. Ia memilih memasang celemeknya dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan. Sementara, Ren masih duduk santai di sofa sambil sesekali menoleh ke arah Sachi yang mulai sibuk di dapur. Perhatian pria itu tertuju ke arah lembaran tugas kuliah yang terletak begitu saja di atas meja. Dia mengambil kertas itu dan memerhatikan sederet soal fisika.
Tak lama kemudian, terdengar suara bell berbunyi. Sachi terkesiap, kakaknya dan Shohei pasti telah datang. Ia langsung berjalan ke arah Ren yang masih duduk santai.
"Cepat kau keluar dari sini! Onii-chan dan temannya telah datang. Mereka tidak boleh melihatmu di sini!"
Sachi menarik paksa tangan Ren. Ia tampak gelagapan dan panik karena kakaknya dan Shohei tak boleh melihat Ren ada di sini. Masalahnya, ia tak ingin Shohei mengira dia gadis bebas yang sembarang menerima tamu lelaki. Apalagi tamu itu tak dikenal kakaknya dan Jun pasti akan menyerangnya dengan segudang pertanyaan.
Masih dalam posisi cemas, Sachi menarik tangan Ren dan tampak bingung ke mana harus membawa pria itu keluar. Mana mungkin Ren akan keluar lewat pintu depan sementara di sana ada kakaknya dan Shohei?
"Hei, ada apa? Kenapa kau panik sekali. Aku 'kan bisa makan malam bersama mereka." Ren yang dari tadi pasrah ditarik ke sana-sini oleh Sachi, akhirnya melepas paksa tangan Sachi dari tangannya.
"Kau gila!" Seketika Sachi teringat jika Ren dapat keluar melalui pintu kamarnya karena balkon kamar mereka bersebelahan. Gadis itu kembali menarik tangan Ren dan menuntunnya menapaki anak tangga menuju kamarnya.
"Aku akan mengajakmu makan malam di rumahku lain kali. Tapi kali ini kau harus keluar dulu," ucap Sachi sambil membuka pintu kamarnya.
Ren tertegun melihat isi kamar Sachi yang begitu feminim dan dipenuhi banyak boneka. Matanya sempat menangkap sebuah foto Sachi beserta seorang pria yang dipajang di dinding.
"Cepat keluar dari sini, dan menyeberanglah dari balkon kamarku." Sachi membuka pintu kamarnya yang menghadap ke balkon kamarnya. "Ayo, cepat keluar!"
Mencebikkan bibir, Ren berjalan santai, dan melangkah keluar dari pintu tersebut. Sachi mengembuskan napas lega, lalu kembali menutup pintu.
Tiba-tiba Ren kembali berbalik. "Hei, lihat apa yang tertempel di bawah dagumu itu."
"Hah?" Sachi refleks memegang dagunya.
"Bukan di situ. Coba mendekat ke sini biar kutunjuk!"
Sachi mengikuti arahan Ren dengan menempelkan wajahnya ke jendela kaca. Ren menarik sudut bibirnya ke atas. Dari balkon, ia berjalan mendekat ke jendela tersebut, kemudian sedikit membungkuk dan menempelkan bibirnya di mana bibir Sachi tertempel juga di sana.
Sachi melebarkan matanya seketika saat wajah Ren ikut menempel di situ. Mereka terlihat seperti sedang berciuman, hanya saja terhalang oleh kaca. Ia menatap mata Ren yang terpejam dari balik jendela. Sungguh, pria ini mempunyai bulu mata yang indah dan panjang.
Ren menjauhkan wajahnya, lalu tersenyum ke arah Sachi. "Itu adalah ciuman ilusi. Ciuman yang terhalang oleh kaca."
Sachi masih tertegun. Matanya tak mengerjap. Bahkan, wajahnya masih menempel di jendela kaca.
"Imouto-chan!" Suara teriakan Jun mengejutkan dirinya. Dia langsung berlari meninggalkan kamarnya, dan menuruni anak tangga. Rupanya, Jun dan Shohei telah berada di dalam dan duduk di sofa yang diduduki Shohei beberapa saat lalu.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa tidak membuka pintunya?"
"Gomen, aku sedang menerima telepon di kamarku." Sachi memberi alasan, kemudian menoleh ke arah Shohei yang tersenyum padanya. Ia turut membalas senyum pria itu meskipun saat ini jantungnya tengah berdebar-debar dengan alasan tak jelas.
"Ya, sudah. Apakah makanan sudah siap?" Jun menengok ke arah dapur.
"Aku belum selesai memasak."
Gadis itu berjalan terburu-buru menuju dapur. Jun memanggilnya kembali dan menyuruhnya membereskan selembar tugas kuliah yang terletak di atas meja. Sachi mengambil miliknya dan berjalan menuju ke kamar untuk menyimpan tugasnya. Mata gadis itu harus kembali terbelalak ketika ia melihat tugas-tugas fisikanya telah dikerjakan.
"Siapa yang mengerjakan tugasku?" Sachi tampak berpikir. Dia teringat selama memasak, Ren duduk di tempat itu dan sama sekali tak mengganggunya. Mungkinkah pria itu yang mengerjakannya?
Masih menatap deretan jawaban di lembar kertas tersebut, Sachi tak tahu harus menempatkan diri untuk percaya atau tidak. Masalahnya, Ren mengerjakan seluruh tugas itu kurang dari lima menit, dan pemecahan soal tersebut ditulisnya dengan begitu rapi tanpa coretan.
"Apakah pria itu seorang fisikawan? Dia menguasai seluruh rumus dan mampu mengerjakan soal kurang dari lima menit?" gumam Sachi yang tak mampu menyembunyikan rasa takjubnya.
Di lantai bawah, Jun menghidupkan laptopnya. Lalu membuka salinan CCTV yang ia dapat dari museum Tokyo Park.
"Apa itu?" tanya Shohei memosisikan duduk di samping Jun.
"Potongan CCTV museum Tokyo Park. Aku tengah menyelidiki pencurian berlian di museum itu."
Mata Shohei melebar. "Siapa yang berani mencurinya? Bukankah penjagaan museum itu sangat ketat?"
"Entahlah ...."
Jun memfokuskan pandangan ke layar laptop. Pada menit kedua di rekaman tersebut tiba-tiba teracak.
"Ada apa ini?" tanya Shohei.
"Rekaman CCTV-nya rusak!" jawab Jun dengan sorot mata tajam.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Mike Shrye❀∂я
aaaaah yang nyuri pasti Ren berbulu mata lentik wkwkwk
2025-01-17
0
Hearty 💕
Sugoi...
2024-07-15
0
Ꮯhᥲᥣ᥎เᥒ
napa type kek ren ini pasti cerdas n jenius 🤔
2024-02-10
1