Jun langsung berjalan ke ruang interogasi. di sana Emi telah duduk tenang. Keduanya duduk saling berhadapan di dalam ruang interogasi yang gelap dan tak ada siapapun. Kehadiran Emi sebagai saksi sekaligus keluarga korban sangat diperlukan di kepolisian untuk keterangan penyelidikan lebih langsung.
Jun memerhatikan wajah Emi yang cantik tetapi begitu datar. Bola matanya yang bulat dan hitam itu tampak kosong. Wajahnya yang putih pucat laksana salju, terlihat dingin. Tak ada sedikit pun garis senyum di bibirnya yang mungil bak boneka.
"Arigatou gozaimasu atas kehadirannya kembali di kantor ini untuk menjadi saksi. Saya Jun Megumi, dari devisi penyidik." Jun mengulurkan tangan ke arah Emi. Namun, gadis itu langsung memalingkan wajahnya.
Jun tersenyum dan menarik tangannya kembali. "Apakah Anda sudah siap menjawab beberapa pertanyaan? Jangan khawatir, Anda hanya sebagai saksi di sini. Segala kesaksianmu akan sangat membantu sepupumu untuk meraih keadilan dan menghukum pelaku," ucap Jun, "Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi malam itu?"
Emi masih bergeming. Matanya menatap lurus ke arah Jun, tetapi pandangannya kosong.
"Ceritakan apa saja yang kau ketahui malam itu. Satu info darimu sangat membantu kami dalam penyelidikan."
Jawablah setiap pertanyaan mereka. Tapi ingat, jangan jawab dengan jujur! Hati-hati, mereka akan melempar pertanyaan yang menjebak. Polisi mempelajari bahasa tubuhmu seperti kontak mata, gerak tubuh, dan postur untuk memahami apakah kau berkata jujur atau berbohong. Jangan pernah menyilangkan lengan selama menjawab pertanyaan, karena mereka akan menganggap kau sedang menutup-nutupi sesuatu. Jika kau salah jawab, maka mereka akan curiga dan statusmu sebagai saksi bisa berubah.
Emi mengingat ucapan Ren sebelum ia memutuskan datang ke sini. Gadis itu kembali menoleh ke arah Jun yang menatapnya dengan penuh harap.
"Malam itu, aku menemaninya pergi ke pesta tersebut. Tapi, sebelum acara dimulai, dia bertemu dengan seorang lelaki. Mereka bertemu di suatu tempat, sementara aku menunggunya di tempat mereka bertemu." Emi mulai menjelaskan kronologi kejadian.
Dari luar kaca ruang interogasi, Shohei dan beberapa polisi yang menyaksikan Jun dan gadis itu, terkejut saat mendengar Emi mau berbicara. Mereka berpikir Jun memiliki pesona yang kuat sehingga gadis itu mau berbicara, tidak seperti saat Shohei menginterogasinya.
"Apakah lelaki itu adalah kekasihnya?" tanya Jun begitu mendengar kronologi singkat dari Emi.
"Aku tidak tahu."
"Kenapa tidak tahu? Bukankah kalian sepupu dan tinggal serumah?"
Emi terdiam. Mereka memang sepupu, tapi Emi tak pernah peduli urusan kakak sepupunya itu. Baginya, Maki tidak pantas dianggap sebagai keluarganya karena telah membuat hidup gadis itu seperti neraka.
"Dia tidak pernah menceritakan apapun tentang kehidupannya."
"Baiklah!" Jun mengeluarkan sebuah kertas yang tercetak wajah Tatsuya. "Apakah pria ini yang mengajaknya bertemu?"
"Ya."
"Apakah saat itu mereka terlihat sedang marahan?"
"Sepertinya tidak."
"Apakah ada tingkah mencurigakan dari pria itu ketika kau melihatnya pergi bersama korban?"
"Aku tidak tahu. Aku tidak peduli dengan itu semua."
"Bisakah kau menjelaskan perilaku korban sehari-hari?"
"Dia pemarah dan pemaksa. Dia juga ambisius."
"Apakah sepupumu memiliki sahabat atau musuh? Atau mungkin dia pernah cekcok dengan seseorang?"
"Aku tidak tahu."
"Bagaimana dengan dirimu sendiri? Bagaimana perlakuannya terhadap dirimu?"
"Kenapa kau banyak sekali bertanya?" pekik Emi kesal, dia menatap Jun dengan tajam.
Senyum Jun terurai secara refleks. Dia berdiri lalu mencongkan badannya mendekat ke arah Emi dengan kedua tangan bertumpu di atas meja. Sontak, ia dapat melihat dengan jelas wajah tampan pria berseragam polisi itu.
"Karena ini tugasku," ucap Jun dengan seutas senyum.
Emi memerhatikan mata jernih pria itu dari jarak yang sangat dekat. Namun detik berikutnya, gadis itu langsung memalingkan wajahnya.
Beberapa pertanyaan terus bergulir, dan Emi menjawabnya tanpa keraguan. Sebelum mengakhiri interogasi, Jun melempar satu pertanyaan terakhir.
"Apakah kau tahu kakak sepupumu sedang mengandung dua bulan?"
Emi tersentak seketika, bibirnya langsung terkatup sempurna dan dia menunduk dengan mata yang terbuka lebar. Dari gerak bola matanya, Jun dapat membaca perubahan ekspresinya yang menjadi gugup setelah mendengar pertanyaan terakhir.
"Aku tidak tahu ...." ucapnya masih tertunduk.
"Kau pasti sangat sedih mendengar kakakmu meninggal dalam kondisi hamil," ucap Jun.
Emi tak menjawab. Dia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Baiklah. Arigatou gozaimasu atas waktunya. Kau bisa meninggalkan tempat ini sekarang." Jun kembali mengulurkan tangannya, tetapi Emi langsung berdiri dan beranjak dari bangkunya. Ia sudah tak sabar untuk keluar dari ruangan gelap itu, dan terburu-buru membuka pintu.
Jun ikut melangkah keluar bersama Emi. "Ano ... omong-omong gaya rambutmu sekarang lebih cocok dengan bentuk wajahmu. Auramu menjadi lebih terlihat."
Pujian dari Jun, membuat Emi tersentak seketika. Ia melepas tangannya dari pegangan gagang pintu, dan wajahnya kembali tertunduk. Jun memerhatikan wajah gadis itu dengan sedikit mengintip ke bawah.
"Ano ...."
Jun mencoba memanggil gadis itu dengan ragu-ragu. Namun, sedetik kemudian Emi langsung menarik gagang pintu dan keluar dengan langkah cepat. Jun pun ikut keluar dari ruangan interogasi bersamaan dengan jam istirahat kantor.
Jun berjalan menuju keluar gedung kantor. Sepanjang jalan, beberapa polwan yang berpapasan dengannya tak sungkan untuk menegurnya. Ya, pria murah senyum itu digilai banyak polwan muda. Mereka kadang-kadang menawarkan makan siang bersama. Sayangnya, dia selalu membawa bekal makan siang buatan adiknya.
Kali ini Jun memutuskan untuk makan siang di kafe yang terletak depan gedung kepolisian metropolitan. Ini karena Sachi tidak memasak pagi tadi sehingga dia tidak membawa bekal dan mengharuskan dia makan siang di luar kantor. Saat berjalan di pintu masuk gedung, penglihatan pria itu terkunci pada Emi yang berdiri di teras sambil meletakkan ponselnya di telinga. Sesekali gadis itu melihat ke arah jalan seperti sedang menunggu seseorang. Ya, dia memang tengah menunggu Ren menjemputnya. Namun, pria itu tak kunjung menerima panggilan teleponnya.
"Apa kau sedang menunggu seseorang?"
Emi refleks berbalik saat mendengar suara Jun. Benar saja, pria itu telah berada di belakangnya. Namun, dengan tak acuh Emi tetap sibuk dengan ponselnya sembari mengedarkan pandangan ke arah jalan raya.
"Jika kau menunggu seseorang, lebih baik tunggulah di kafe sana." Jun menunjuk sebuah kafe di seberang jalan. "Kafe itu menyediakan banyak makanan enak dan minuman yang segar. Kau bisa menunggu sambil menikmati minuman agar tidak bosan."
Lagi-lagi perkataannya tak ditanggapi oleh Emi. Gadis itu malah meliriknya dengan tatapan sinis. Jun langsung berjalan menuju kafe tersebut usai berkata. Dia memesan sup daging sapi yang menjadi menu andalan di kafe itu. Ia membawa nampan yang berisi semangkuk sup, dan berjalan ke arah meja kosong. Pria itu bertegur sapa dengan beberapa polisi juga tampak makan di sana.
Sepuluh menit berlalu, dan Emi masih mematung di tempat itu. Ren tak kunjung menerima panggilan teleponnya. Dia mendengus kesal, tetapi masih dalam posisi sabar. Sejenak, pandangannya teralihkan pada kafe yang baru saja ditunjuk oleh Jun. Ia pun melangkah menuju kafe itu. Ketika hendak masuk, beberapa polwan yang juga berjalan beriringan dengannya tampak terkejut melihat Jun ada di sana.
"Ini pertama kalinya aku melihat Opsir Megumi makan siang di tempat ini. Kalau kutahu, aku akan mengajaknya makan berdua," ujar salah satu polwan dengan wajah sesal.
Emi melihat arah pandang polwan-polwan itu dan memahami jika mereka tengah membicarakan polisi yang baru saja menginterogasinya. Gadis itu masuk di kafe dan memesan sebuah minuman matcha smoothie. Dia memilih duduk di samping jendela dan sempat melirik ke arah Jun yang hampir selesai makan.
Tak lama kemudian, seorang kakek tua renta dengan pakaian yang sedikit tak layak masuk ke kafe tersebut. Dia membaca sejumlah menu dan harga yang tertera di depan meja pemesanan. Kemudian kakek itu mengambil dompet lusuh di saku bajunya untuk memeriksa uangnya. Sepertinya, uang kakek tersebut tidak cukup untuk membeli menu-menu yang ada di kafe itu.
Jun yang telah selesai makan, memerhatikan ekspresi kakek itu. Dia pun berdiri, dan menghampiri kakek yang hendak berbalik pulang. Ketika tubuhnya mendekat ke arah kakek, dengan sengaja ia menjatuhkan beberapa lembar uang miliknya.
"Kakek, uangmu terjatuh," tegur Jun sambil menunjuk ke bawah.
Kakek itu melirik ke bawah dan tersentak melihat tiga lembaran Yen yang terlipat itu tepat berada di samping sepatunya. Dengan sedikit ragu, kakek itu mengambil uang yang jatuh. Kemudian menoleh ke arah Jun yang baru saja keluar dari kafe itu. Kakek itu pun memesan makanan dan membayarnya dengan uang yang dijatuhkan Jun.
Emi yang sedari tadi memerhatikan apa yang dilakukan Jun, hanya bisa menarik sudut bibirnya ke atas. Dari kaca kafe, mata gadis itu terus menguntit Jun yang tengah menyeberang jalan untuk kembali ke kantornya.
.
.
.
btw, gambar di atas benar2 gedung kepolisian metropolitan di Tokyo. itu adalah kepolisian terbesar di dunia loh. sebab itu, Jepang adalah negara dengan tingkat kejahatan terendah karena kau dapat menemukan polisi di mana saja.
kamu pilih cowok devil kek Ren atau cowok angel kek Jun? atau pilih Ren Tenir (Author)? 🙄🤧😁🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Hearty 💕
Kirain Emi bakalan kalah dan akhirnya membuka diri
2024-08-15
0
Hearty 💕
Pilihan syulit itu ....
2024-08-15
0
Sheva Sheila
aw pilih author... puk..puk puk /Heart//Rose//Smile/
2024-08-09
1