Di waktu yang bersamaan ketika Emi diintrogasi.
Ren keluar dari kamar mandi setelah sekitar lima belas menit berada di sana. Memakai handuk piyama berwarna putih, serta rambut lurus yang basah membuat penampilannya sebagai lelaki terlihat sangat seksi dan mengundang decak kagum.
Ren menoleh ke arah Sachi yang sedang duduk bersila di depan meja pendek sambil menyantap mie ramen instan. Gadis itu terlihat sangat kelaparan karena belum makan sedari pagi. Dengan santai, Ren ikut duduk di depan Sachi dan langsung menarik mangkuk mie ramen itu ke sisinya. Ia bahkan mengambil sumpit dari tangan Sachi, dan langsung mengaduk-aduk mie ramen tersebut.
"Apa yang kau lakukan?" Sachi membulatkan matanya seraya mendengkus kesal.
Seolah tak mendengar apapun, lelaki yang masih memakai handuk piyama itu malah terus menyeruput mie ke dalam mulutnya. Sachi berdiri lalu bergegas ke dapur untuk mengambil sumpit baru. Dia kembali ke tempat tadi, duduk bersila dan langsung menarik mangkuk ramen ke depannya.
"Ini ramenku!" tegas Sachi.
Baru saja dia hendak menyantap mie tersebut, lagi-lagi Ren mengambil mie ramen itu dan kembali memakannya. Sachi mendengkus kesal sembari menggertakkan rahang. Seolah tak mau kalah, ia kembali menarik mangkuk mie yang ada di hadapan Ren.
Ren membuat seringai besar di mulutnya sambil menatap Sachi yang juga melempar tatapan melotot padanya. Lelaki itu kemudian menoleh ke arah pintu depan lalu berkata, "Woah, Jun, kau sudah pulang, ya?"
Sachi refleks memalingkan pandangan ke arah pintu saat mendengar Ren menyebut nama kakaknya. Kesempatan itu tak disia-siakan lelaki berwajah tirus itu, untuk kesekian kalinya Ren merampas mangkuk ramen. Sachi yang menyadari jika dia ditipu oleh Ren, langsung mengambil kembali ramen miliknya hingga terjadi tarik-menarik antara mereka.
Melihat Sachi yang tampak pasrah dan memilih diam, Ren akhirnya memutuskan meletakkan mangkuk mie ramen itu di tengah meja. Mereka kemudian memilih makan bersama dalam satu mangkuk. Sesekali dahi keduanya saling bertabrakan dan mata mereka saling menatap. Ren menggoda gadis itu dengan dengan sebuah kedipan mata yang sukses membuat Sachi tersedak karena salah tingkah.
Sachi terbatuk-batuk. Dengan sigap, Ren langsung mengambil gelas berisi air dan menuntun gadis itu untuk meminumnya.
"Ini pertama kalinya aku merasa bersalah memiliki wajah tampan. Hanya karena menatapku, kau jadi tersedak seperti ini," ucap Ren sambil tersenyum.
Batuk Sachi mereda, dan dia langsung memalingkan wajahnya saat tak sengaja menatap piyama Ren yang tersingkap di bagian dada.
"Apa tidak sebaiknya kau pulang dan segera mengganti bajumu!" tegur Sachi dengan tetap memalingkan wajah dan menolak bertatapan dengan pria itu.
Ren tersenyum sambil memperbaiki posisi handuk piyamanya. "Aku masih senang berada di sini."
"Aku ingin mengerjakan tugas kuliahku!"
"Kerjakan saja! Aku tidak akan mengganggumu."
Ren mengambil remot televisi lalu menghidupkannya. Sachi harus merasakan kesal berulang kali karena pria itu bertindak seolah-olah itu adalah rumahnya. Dia pun memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya tanpa memedulikan Ren.
Beberapa menit berlalu, Sachi terlihat kesulitan mengerjakan soal. Kadang-kadang dia menggaruk-garuk kepalanya atau mencoret hasil pekerjaannya. Ren memerhatikan wajah Sachi yang kusut. Dia tertawa geli, lalu mengambil bolpoin dan lembar tugas gadis itu.
Ren membaca soal-soal tersebut dan langsung mengerjakannya. Tak butuh waktu lama, lima soal selesai dikerjakan oleh pria itu hingga membuat mata Sachi membeliak.
"Kau dapat memecahkan soal kalkulus dalam waktu sesingkat ini?" ucapnya tak percaya.
"Tidak ada yang sulit dari ini," ucap Ren sambil tersenyum miring.
"Apa kau kuliah di jurusan yang sama denganku?"
Ren menggelengkan kepalanya.
"Lalu kau kuliah di jurusan apa?" Sachi menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Ren. Ini pertama kalinya dia tampak antusias pada pria itu.
"Aku tidak kuliah."
"Seharusnya kau kuliah dan mencari gelar yang tinggi. Siapa tahu bisa menjadi profesor dan bekerja untuk negara."
"Negara?" Wajah Ren berubah sinis seketika, dia membuang wajahnya seraya mendengkus. "Aku tidak sudi menggunakan otakku untuk mengabdi pada negara," ketusnya diiringi seringai.
Mata Sachi mengerjap cepat tatkala mendengar jawaban Ren yang disertai wajah tak senang. "Apa kau tidak memiliki cita-cita?" tanya Sachi kembali.
"Seperti yang pernah kukatakan, dulu aku bercita-cita menjadi polisi. Tapi, teman-temanku mengatakan aku lebih cocok jadi penjahat."
Saat mengatakan itu, wajah Ren berubah menjadi kelam.
"Hanya karena teman-temanmu berkata seperti itu kau langsung minder?"
Ren bergeming. Ia menatap Sachi lalu memaksakan senyum selebar mungkin hingga matanya menyipit.
"Sayang sekali. Beberapa orang yang mempunyai IQ rata-rata memiliki cita-cita yang hebat. Kau punya otak yang cerdas tapi tidak mempunyai ambisi yang tinggi!" Sachi memajukan bibirnya menyerupai bibir bebek. Gadis itu melihat ke arah Ren yang tampak tertegun. "Lalu, apa yang kau sukai selama ini?" tanyanya kembali dengan penasaran.
"Kamu ...."
Jawaban Ren yang begitu singkat dan cepat membuat Sachi terhenyak seketika. Mata gadis itu melebar. Ia dan Ren saling bertukar pandang selama beberapa detik. Cukup lama keduanya terjebak dalam diam.
Pandangan Ren teralihkan pada sebuah jam dinding.
"Astaga! aku melupakan sesuatu."
Ren menepuk kepalanya saat menyadari dia harus segera menjemput Emi di kantor polisi. Lelaki itu langsung berdiri, dan meninggalkan Sachi yang masih tertegun.
Ketika baru beberapa langkah kakinya beranjak, pria itu mencoba menahan senyum.
Sachi, mungkin kau lupa padaku. Tapi, aku tidak pernah lupa padamu, dan kejadian waktu itu.
Ren melajukan motornya secepat mungkin agar segera sampai di kantor kepolisian metropolitan. Terlalu asyik bersama Sachi, membuatnya melupakan Emi yang telah meneleponnya puluhan kali. Begitu sampai di kantor kepolisian, Ren turun dari motor sambil menyapukan pandangan ke seluruh sudut halaman gedung itu. Dia bahkan berjalan ke teras dan mengintip dalam gedung untuk mencari keberadaan Emi. Namun, tak ada Emi di sana.
Ren terburu-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Emi. Namun, ia terkejut ketika mendengar suara pria memanggil namanya.
"Ren ...."
Ren berbalik, dan melihat Jun berjalan menuju ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria berprofesi polisi itu.
"Aku mencari seseorang."
"Seseorang?"
"Iya. Dia saksi untuk kasus kematian artis yang baru-baru ini menghebohkan."
"Maksudmu ... Emi Hayase?"
"Ah ... benar. Aku ingin menjemputnya. Tapi, sepertinya dia belum keluar dari gedung," ucap Ren sambil kembali mengedarkan pandangan ke dalam gedung.
"Dia ada di kafe itu." Jun menunjuk sebuah kafe di seberang jalan. "Dia telah menunggumu dari tadi. Aku sudah cukup lama selesai mengintrogasinya."
"Sangkyu," ucap Ren lalu terburu-buru hendak menuju kafe tersebut. Ia memakai helm-nya dan bersiap menjalankan motor.
Jun berbalik cepat dan langsung melempar sebuah pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya. "Apa hubunganmu dengan gadis itu?"
"Dia pacarku," jawab Ren singkat.
"Oh ...." Jun terkejut sembari membulatkan mulutnya.
Ren pun langsung menancap gas menuju kafe yang terletak di depan gedung kepolisian.
Jun yang masih berdiri di tempat, akhirnya menyadari jika ia pernah bertemu Emi saat pertama kali mengantarkan sup ke rumah Ren. Jun merasa cukup beruntung karena jika dia memerlukan gadis itu, dia tinggal meminta bantuan Ren.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
iiihhh... menggemaskan kalian berdua... 🤩
2024-10-16
0
Hearty 💕
Apakah pernah bertemu sebelumnya
2024-08-17
0
Hearty 💕
Oh sibuk godain Sachi sampai luoa jemput Emi....
2024-08-15
0