Shohei membulatkan mulutnya ketika melihat rekaman CCTV yang rusak.
"Arrggh! Aku yakin dia melewati jalan di mana CCTV ini diletakkan."
"Kenapa begitu?"
"Ya, karena aku telah mengecek setiap sudut CCTV, tetapi tidak menemukan apapun." Jun menghela napas sejenak. "Ini kasus pencurian yang langka dan unik. Si pencuri telah melakukan pencurian berlian sebanyak lima kali, dan lucunya dia hanya mengambil berlian dari Nyonya Nao Namiki yang telah disita pemerintah. Bahkan, untuk kasus pencurian yang kelima, berlian yang ia ambil itu diletakkan satu kotak dengan berlian yang paling mahal. Tapi, berlian termahal itu tetap utuh," tutur Jun sambil memperlihatkan gambar-gambar berlian yang telah berhasil dicuri.
"Kurasa mungkin karena berlian milik nyonya Nao Namiki mempunyai keunikan dan ciri khas. Aku pernah dengar dari ayahku, mendiang Nao seorang kolektor berlian. Dan dia mengoleksi berlian-berlian terbaik di dunia," ujar Shohei.
"Masuk diakal!" seru Jun sambil memangku dagunya.
Tak lama kemudian, Sachi berteriak mengatakan bahwa makanan telah siap. Gadis itu terlihat tengah membawa makanan yang baru saja selesai dimasak dan menyajikan di atas meja makan. Jun dan Shohei beranjak dari duduk menuju ke meja makan. Shohei terkesiap melihat menu yang dihidangkan, ia seakan tak percaya bahwa Sachi dapat memasak seluruh makanan itu.
"Itadakimasu." Jun dan Sachi kompak berucap.
Shohei yang duduk berhadapan dengan Sachi, lagi-lagi terlihat canggung ketika Sachi menyodorkan beberapa hidangan ke arahnya.
"Arigatou gozaimasu." Shohei menunduk sopan.
"Iie," jawab Sachi sambil tersenyum.
Senyuman gadis itu justru membuat jantungnya berdegup kencang hingga ia dapat mendengar sendiri bunyi detakan jantungnya.
Jun menepuk pundak Shohei hingga membuat pria itu terkejut.
"Makanlah! Sampai kapan kau hanya terus memegang mangkuk."
Sachi menahan tawa melihat reaksi terkejut Shohei, dan itu membuat wajah pria itu memerah seperti kepiting rebus.
"Itadakimasu," ucap Shohei sambil mulai mengambil makanan.
Sedang menikmati masakannya sendiri, Sachi mendadak teringat soal fisika yang dikerjakan oleh Ren. Masih teringat jelas, ia bahkan baru memotong-motong sayuran ketika Ren tengah duduk di sofa sebelum akhirnya kakaknya dan Shohei datang.
"Onii–chan, menurutmu adakah seseorang yang dapat memecahkan beberapa soal fisika dalam waktu kurang lima menit?" tanya Sachi penasaran.
"Tentu saja ada," jawab Jun spontan.
"Benarkah?" Sachi menunjukkan ketertarikannya.
"Tapi ... jika dia mengerjakannya dengan asal-asalan," sambung Jun sambil tertawa.
Sachi merasa kesal dengan jawaban kakaknya. Padahal awalnya ia merasa senang jika Ren benar-benar bisa mengerjakan soal itu. Meskipun dia tidak bisa memastikan tugas yang dikerjakan Ren benar semua, tapi jelas pria itu menguasai rumus.
"Benar. Ada orang yang mampu mengerjakan soal fisika dalam waktu singkat." Shohei yang dari tadi bergeming, akhirnya turut memulai obrolan.
Sachi menatapnya dengan antusias. "Benarkah Yamazaki-kun?"
Shohei mengangguk. "Ya, itu hanya dapat dilakukan oleh orang ber-IQ di atas rata-rata."
"Maksudmu ... orang jenius?"
"Hum." Shohei mengangguk.
"Oh, iya. Aku lupa mengatakannya." Jun kembali menepuk pundak Shohei, lalu berkata pada Sachi. "Shohei sangat pandai pelajaran fisika. Dia sering memenangkan olimpiade fisika saat SMA. Benar, kan?" Jun menoleh ke arah Shohei.
"Sugoi!" Sachi menatap Shohei dengan mata berbinar.
"Dari mana opsir Megumi tahu?" Shohei tampak malu sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku mendengar dari teman-teman se-angkatanmu. Bukankah sebenarnya kau ingin kuliah di jurusan yang sama seperti Sachi pilih?"
"Ya, tapi karena ayahku polisi, makanya dia memaksa aku harus masuk kepolisian," jawab Shohei.
"Kalau begitu, apakah Yamazaki-kun dapat memecahkan soal fisika kurang dari lima menit?" tanya Sachi cepat.
"Tentu saja aku butuh waktu lebih, karena IQ-ku hanya tergolong superior. Tapi ... dulu aku punya kakak senior sekaligus lawanku dalam olimpiade fisika. Dia mempunyai IQ 195 dan juga memiliki daya ingat tajam. Dia dapat menyelesaikan soal-soal sains dan matematika dalam hitungan beberapa menit. Dan juga dapat menulis kembali sebuah buku yang baru saja dibacanya, dan itu ditulisnya per kata tanpa ada satupun yang terlewati." Shohei menceritakan dengan nada lambat-lambat.
"Sugoi!" Sachi berdecak kagum mendengarnya.
"Aku baru bisa menempati posisi juara 1 olimpiade fisika ketika dia telah lulus. Sayangnya, sejak itu aku tidak pernah tahu kabarnya. Ada kabar yang mengatakan hidupnya tragis karena ayahnya bunuh diri untuk membuktikan dirinya tidak bersalah dari tuduhan korupsi," lanjut Shohei.
"Ehem ...." Jun sengaja berdehem hingga membuat Shohei dan Sachi kompak menatap ke arahnya. Pria itu tergelak, kemudian berkata, "kalian terlihat sangat serius hingga aku merasa seperti obat nyamuk."
Shohei menggaruk kepalanya, ia pun baru menyadari gugupnya hilang seketika begitu menceritakan sosok pria yang pernah menjadi saingannya dalam lomba olimpiade semasa sekolah.
Malam itu, setelah selesai makan malam dan berbincang-bincang kecil, Shohei pamit pulang. Setelah memasang sepatunya, dia menatap Sachi yang mengantarnya sampai di depan pintu.
"Arigatou gozaimasu, Megumi-chan. Masakanmu sangat lezat," puji Shohei.
Sachi menunduk tersipu malu. Sementara, Shohei masih berdiri sambil tersenyum bodoh.
"Megumi–chan ...." panggilnya pelan.
"Ya."
"Apa ... aku boleh meneleponmu kapan-kapan?"
Sachi tersenyum, lalu menganggukkan kepala.
"Silakan."
"Arigatou. Aku pamit pulang dulu," ujar Shohei.
"Iya, hati-hati di jalan."
Shohei mengangguk. Namun, ia tak bergerak sedikit pun. Kakinya seakan terpaku di tempat hingga sulit beranjak pergi. Ia kembali salah tingkah dan memegang kupingnya.
"Aku pamit pulang dulu." Shohei mengulang kalimat yang sama sebelumnya.
"Iya, hati-hati di jalan," jawab Sachi mengulas senyum.
Masih diam di tempat, Shohei kembali tersenyum bodoh hingga kedua matanya menyipit. Kakinya terasa berat untuk melangkah pergi.
Dari balkon atas, Ren menyaksikan Sachi dengan Shohei yang sedari tadi terlihat malu-malu kucing. Sayangnya, dia hanya dapat melihat punggung pria yang tengah bicara dengan Sachi saat ini.
Hari itu telah beranjak pergi menggantikan hari yang baru. Seperti biasa, Sachi berangkat ke kampus dengan mengendarai sepedanya. Di kampus, ia menyetor tugas yang semalam dikerjakan Ren pada dosen. Selang beberapa jam, dosen mengumumkan hasil tugas. Di luar prediksi, tugas Sachi mendapatkan nilai sempurna. Bahkan, dosen memujinya berkali-kali.
Sachi hanya dapat terdiam. Seharusnya dia senang, tapi tugas itu bukan dikerjakan olehnya dan itu terlihat seperti curang. Seluruh teman-temannya pun turut memberi selamat atas nilai yang ia raih.
Memasuki senja, Sachi kembali ke rumahnya. Ketika hendak membuka pintu, ia menoleh ke kediaman Ren. Ia berniat mengucapkan terima kasih untuk tugas yang dikerjakan pria itu. Namun, rumah itu tampak sepi, sepertinya Ren jarang pulang ke rumah.
Sachi membuka pintu rumahnya. Ketika ia melangkah masuk, ia terperangah mendapati Ren ada di dalam dan tengah duduk di kursi sofa. Pria itu langsung melambaikan tangan ke arah Sachi sambil tersenyum manis.
"Kenapa kamu bisa masuk ke rumahku?" Sachi berjalan terburu-buru ke arah Ren.
"Tentu saja karena aku tahu password rumahmu," jawab Ren santai
"Dari mana kamu tahu?"
"Saat kau membuka pintu rumahmu. Di situ aku mengetahuinya!"
Sachi terdiam, masalahnya password rumahnya bukanlah angka yang mudah untuk dihafal dalam sekejap. Ia melirik ke arah Ren yang masih setia menatapnya.
"Soal fisika kemarin ... kamu, 'kan yang kerjakan?" tanya Sachi pelan.
"Ya." Ren bersedekap dengan ekspresi santai.
"Bagaimana bisa kau mengerjakan soal itu dengan cepat? Bahkan semuanya benar!"
Meski Sachi tahu, mungkin Ren golongan orang jenius, tapi dia masih sulit menerima bahwa sosok pria yang menjengkelkan itu berotak super.
"Apa kau ingin tahu rahasianya?"
Sachi langsung mengangguk cepat menunjukkan ketertarikannya atas info yang hendak pria itu katakan. Ren tersenyum, menggerakkan jari telunjuknya agar gadis itu mendekat ke arahnya. Sachi yang polos, langsung mengikuti kemauan Ren dengan mendekatkan telinganya ke bibir pria itu.
"Karena aku anak Albert Einstein," bisik Ren diiringi gelak tawa yang menjengkelkan.
Sachi menatapnya sinis. Bibir gadis itu mengerut berkumpul menjadi satu, sedang hidungnya mengembang karena kesal. Mengapa pria itu malah bercanda di saat dia tengah serius? Menjengkelkan, bukan?
Ketika dia hendak melangkah, Ren langsung menarik pergelangan tangannya hingga tubuhnya masuk ke dalam pelukan pria itu.
.
.
.
catatan penulis :
70 – 79 : Tingkat IQ rendah atau keterbelakangan mental
80 – 90 : Tingkat IQ rendah yang masih dalam kategori normal (Dull Normal)
91 – 110 : Tingkat IQ normal atau rata-rata
111 – 120 : Tingkat IQ tinggi dalam kategori normal (Bright Normal)
120 – 130 : Tingkat IQ superior (cerdas)
140++ : atau lebih Tingkat IQ sangat superior atau jenius.
di Indonesia orang ber-IQ tinggi yang terkenal adalah Almarhum **. Habibie dengan tingkat IQ 200.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Mike Shrye❀∂я
cara ngetes IQ cem mana Thor hehehe🤭
2025-01-17
0
Mike Shrye❀∂я
pasti ini yang dimaksud Ren
2025-01-17
0
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
pasti ren dan ada hubungannya sm ny nao sapa td tuh yg kolektor berlian...
2024-10-15
0