"Apa yang kau lakukan?" Sachi berusaha melepaskan diri dari rengkuhan pria itu.
Ren tersenyum, lalu menyebut seluruh jadwal kuliah Sachi dalam seminggu. Setiap jadwal yang dia sebutkan lengkap dengan tanggal dan waktu. Tidak meleset sedikit pun!
Mata Sachi membeliak tajam. "Bagaimana kau bisa mengetahui jadwal kuliahku selama seminggu?"
"Aku membacanya kemarin. Kau juga meletakkan jadwalmu di meja itu. Aku ada di sini karena tahu sebentar lagi kau akan pulang." Ren tersenyum miring sambil melepaskan Sachi dari pelukannya.
Ini gila! Gadis itu bahkan perlu membawa jadwalnya ke manapun karena sering lupa, tetapi Ren dapat mengingat seluruhnya hanya dengan sekali baca. Benar-benar mempunyai ingatan yang luar biasa. Sekarang, dia harus mengakui jika pria itu memang jenius.
"Lalu, kenapa kau datang ke sini?"
Menatap dalam-dalam wajah Sachi, Ren kembali mendekat ke arahnya sambil berkata, "Apa kau lupa, kita perlu menyelesaikan sesuatu?"
Sachi langsung mengambil bantal sofa dan melemparnya ke arah Ren. "Kau gila! Aku hanya akan memberikan ciumanku pada pacarku!"
"Kalau begitu jadikan aku pacarmu," ucap Ren santai.
"Eh? Pacar?" Sachi melengos sembari mengembuskan napas kasar. "Sampai sekarang saja aku tidak tahu namamu!"
"Ren." Pria itu langsung menyebutkan namanya.
"Ren?"
"Ya, hanya Ren!" Pada saat menyebutkan namanya, wajah Ren berubah menjadi serius dengan kedua bola matanya tampak kelam. Namun, sesaat kemudian ia tergelak, dan kembali berkata, "Kenapa wajahmu menjadi tegang, Sachi Megumi?"
Sachi terkejut begitu Ren mengetahui namanya. Ya, itu pasti karena pria itu membaca namanya di kertas tugas.
"Bagaimana? Apa aku sudah bisa menjadi pacarmu?"
Perkataan Ren barusan, membuyarkan lamunan Sachi.
Apa katanya? Ingin menjadi pacarnya? Apa itu sebuah lelucon?
Bahkan Sachi baru mengenalnya tiga hari yang lalu lewat insiden salah alamat. Kemarin dia datang menagih ciuman, dan sekarang dia menawarkan diri menjadi kekasih gadis itu.
Sungguh! Setiap tingkah aneh laki-laki dengan tindikan di telinga kirinya itu membuat Sachi tidak yakin jika dia benar-benar sosok yang jenius. Ia lebih meyakini pria itu tipe bad guy yang pandai menaklukkan hati wanita, dan ia tidak ingin terjerat oleh pria ini.
"Aku sudah memiliki pacar!" tegas Sachi.
"Siapa? Apa pria yang semalam bertamu di rumahmu?" selidik Ren sambil memicingkan mata.
"Itu bukan urusanmu! Pulanglah! Aku mau istirahat." Sachi memutar tubuhnya.
"Lalu, kapan kau akan mengajakku makan malam di sini seperti janjimu semalam?"
Sachi tertegun. Ia baru ingat, semalam memang dia menjanjikan hal itu pada Ren. Gadis itu tampak berpikir sebentar, kemudian kembali berbalik ke arah Ren.
"Apakah jika aku mengajakmu makan malam sekarang, kau akan berhenti menggangguku?"
Ren mencebikkan bibirnya sambil mengangkat kedua bahunya. "Janji tetap janji. Tidak perlu membuat kesepakatan lain di luar janji yang telah terucap."
Mendengar perkataan Ren, akhirnya Sachi mengatakan akan menepati janjinya hari ini. Dia akan memasak terlebih dahulu, dan meminta pria itu untuk tidak mengganggunya selama masak agar cepat selesai. Ren menyetujuinya. Ia duduk manis di sofa. Sementara, gadis itu langsung membuka tas selempang yang masih menggantung di pundaknya. Setelah itu, dia langsung menuju dapur.
Dari tempat duduk, Ren dapat menyaksikan kesibukan Sachi yang tengah memotong bahan-bahan makanan. Tangannya begitu terampil memegang alat dapur.
"Kecantikan wanita memang akan bertambah dua kali lipat jika sedang memasak," ucap Ren sambil membentangkan tangannya di bahu kursi.
Sachi terdiam. Meskipun begitu, mendengar kalimat pujian dari pria tampan membuatnya tersipu malu. Dia merasakan saat ini wajahnya memerah seperti tomat.
"Tapi, kau berbeda. Wajahmu biasa-biasa saja jika sedang memasak. Malah terlihat jelek di mataku," lanjut Ren sambil berguling di sofa.
Mendengar kalimat lanjutan dari Ren membuatnya mendengkus. Tiba-tiba dia seperti hendak memaki. Bagaimana tidak? Kalimat awal yang dilontarkan pria itu, seolah tengah memujinya sehingga membuat dirinya seakan melayang ke udara. Namun, kalimat selanjutnya justru membuatnya seakan terhempas jatuh sampai ke kerak bumi.
Ucapan Ren benar-benar membuat suasana hatinya menjadi buruk. Karena kesal, ia menghentak-hentakkan pisau dapur seolah tengah memotong daging, padahal tak ada satu pun bahan makanan yang ia potong. Dari tempat duduk, Ren kembali menoleh ke arah Sachi. Suara hentakkan pisau itu mengganggu pendengarannya.
Ren beranjak dari tempat duduknya. Ia memerhatikan sekeliling ruangan. Perhatiannya tertuju pada foto yang menampilkan sesosok pria berseragam polisi. Wajah pria itu tidaklah asing baginya, ia mengenalnya sebagai seorang detektif karena akhir-akhir ini memang wajahnya sering diliput media. Ren langsung teringat perkataan Sachi yang mengatakan jika kakaknya adalah seorang polisi.
Seketika, wajah pria itu menjadi kaku. Mata gelapnya melintas, dan kedua bola matanya memancarkan kilauan dingin. Bertepatan dengan itu, terdengar suara bel. Ren berbalik, lalu melangkah pelan ke arah pintu. Tangannya memutar kenop pintu. Ketika pintu terbuka, sosok yang tampil di hadapannya adalah seorang pria yang baru saja dilihatnya dalam foto yang terpajang di dinding.
Sachi berjalan terburu-buru menuju pintu depan. Ia mendapati kakaknya dan Ren tengah berhadapan. Jun tampak terkejut melihat pria asing masuk di dalam rumahnya. Setahunya, adiknya tidak pernah mengajak teman laki-laki berkunjung ke rumah ini. Bahkan selama Sachi berpacaran, dia juga tak pernah membawa kekasihnya datang ke rumah.
"Kau siapa?" tanya Jun.
"Aku Ren. Aku tetangga baru kalian." Ren melempar senyum.
"Tetangga baru?" Jun langsung membungkuk, "Hajimemashite, Jun Megumi desu. (salam kenal, namaku Jun Megumi)."
Sachi menghampiri mereka dan langsung menjelaskan bahwa dia mengajak Ren ke sini untuk makan malam bersama, sebagai permintaan maaf karena telah memukulnya tempo hari. Jun yang mengingat Sachi pernah menceritakan masalah itu ke dia, langsung tertawa dan meminta maaf atas kesalahan adiknya. Dengan ramah, dia membawa Ren masuk ke dalam dan melakukan obrolan ringan di meja makan seraya menunggu Sachi selesai masak.
Masih berkutat dengan bumbu masak, Sachi sesekali melihat ke arah Ren dan kakaknya yang tengah berbincang-bincang. Ia tampak senang, karena Jun dan Ren terlihat akrab. Keduanya saling berbaur seperti teman lama yang baru berjumpa. Apakah begitu sederhana pertemanan antara lelaki? Bahkan meskipun mereka baru saja berkenalan.
Sekitar tiga puluh menit, seluruh masakan telah jadi. Sachi memosisikan duduk di samping kakaknya. Sementara, Ren duduk di hadapan mereka.
"Itadakimasu." Mereka kompak mengambil sumpit dan mulai menyantap hidangan.
"Hum ... Oishi! (enak)" puji Ren saat memasukkan sesuap makanan.
"Kalau boleh tahu, kau bekerja di mana?" tanya Jun.
"Di kelab malam Starlit kawasan Shinjuku."
"Kelab malam Starlit?" Jun terkejut, itu adalah kelab malam yang sering dikunjungi kaum sosialita, selebritis, dan pejabat.
"Ya, aku adalah host."
"Waw, kau pasti punya banyak kenalan wanita dari kalangan atas," ucap Jun. Dengan penampilan keren dan wajah tampan Ren, membuatnya yakin jika pria itu mudah mendapatkan pelanggan.
"Begitulah! Dulu aku bercita-cita menjadi polisi. Tapi, teman-temanku bilang, aku lebih cocok jadi penjahat."
Saat mendengar ucapan Ren, Jun langsung tertawa. "Itu tidak benar. Dari postur tubuhmu sangat cocok memakai seragam polisi."
Mengangkat sudut alis kirinya ke samping, Ren tersenyum simpul. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja!" jawab Jun menunjukkan sikap antusias.
"Pekerjaan kalian adalah menangkap orang yang bersalah. Entah bersalah karena telah, membunuh, mencuri, atau melakukan kejahatan lainnya. Tapi ...." Sorot mata Ren menajam, senyum samar melintas di bibir seksinya, "apa yang akan kalian lakukan jika orang yang kalian tangkap itu, sebenarnya tidak bersalah?"
Raut wajah Jun berubah seketika begitu Ren melontarkan pertanyaan tersebut.
.
.
.
_________________________
catatan penulis:
host adalah pekerjaan melayani/ menemani seorang pelanggan kelab malam untuk minum. pekerjaan ini sangat populer di kalangan anak muda Jepang. karena yang menjadi host harus berwajah tampan, pandai bercakap, dan punya pengetahuan luas. mereka dibayar per jam hanya untuk menemani pelanggan minum sembari menceritakan pengalaman atau mendengarkan curhatan pelanggan mereka. tapi mereka bukan gigoloo loh.
kok ada pekerjaan kek gini? iya, orang Jepang itu tertutup dan ga suka kepo urusan orang. mereka hidup sendiri-sendiri dan sungkan membagikan masalah mereka ke orang lain. dan orang Jepang punya tingkat stress yg tinggi sehingga mereka butuh teman untuk bercerita.
pekerjaan host ini aku terinspirasi dari dorama yg dibintangi yamaken (visual Brian DSG), mackenyu arata (visual Aldrin), dan Yuko Araki (visual Yuki df) aku lupa judulnya pokoknya mereka bertiga yang main dan genrenya dark misteri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Mike Shrye❀∂я
Mungkin bapaknya Ren dulu korban dari detektif jun yang katanya salah tuduh ya.
Dan mungkin Ren ini kakak kelasnya shohei
2025-01-17
0
Mike Shrye❀∂я
nah iyakan
2025-01-17
0
Haidar Nurfadhillah
ora mudeng,,,, artis jepang../Sob/..gw taunya barry prima, sama Roy martien /Grin//Grin//Grin//Grin/
2024-05-24
1