Di kepolisian Metropolitan Tokyo, para polisi muda berkumpul dan mengajak Jun untuk minum bersama. Sayangnya, Jun menolak dengan halus dan mengatakan jika adiknya telah membuat makan malam untuknya.
Pria yang berprofesi sebagai penyelidik di kepolisian itu, mempunyai adik perempuan berusia dua puluh tahun. Mereka hanya tinggal berdua karena orangtua mereka tinggal di kota kecil di pulau Shikoku. Dia kerja di kepolisian Tokyo dan adiknya kuliah di Tokyo Metropolitan Universitas.
Di antara polisi-polisi muda itu, ada salah seorang polisi berwajah tampan yang bekerja satu devisi dengannya. Pria itu mendekat ke arah Jun dan langsung membungkuk di hadapannya.
"Opsir Megumi, angkat aku jadi anak buahmu. Aku ingin ikut memecahkan kasus dan mengambil ilmu detektif darimu," ucapnya semangat.
Jun tersenyum lalu memukul pundak pria itu hingga membuatnya kembali tegap, di saat bersamaan, Jun langsung merangkulnya sambil berjalan.
"Dibanding mengangkatmu sebagai anak buah, aku lebih memilih mengangkatmu sebagai adik ipar, bagaimana?"
"Eh?" Pria itu terkejut. "A–adik ipar?"
"Ya."
"Kenapa kau ingin aku menjadi adik iparmu?" Dia berbicara dengan gugup.
"Karena aku menyukaimu," jawab Jun spontan.
"Eh?"
Pria itu batuk tersedak karena kaget. Namun, Jun buru-buru berkata, "Aku punya adik perempuan. Dia cantik. Cantik ... sekali. Baru saja putus cinta dan setiap hari dia menghabiskan waktunya menangis di kamar. Itu membuatku frustrasi!"
"Lalu apa hubungannya denganku?" tanya pria itu dengan mengernyit.
"Kupikir, obat patah hati adalah jatuh cinta lagi. Jadi ...." Jun melirik pria itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, menyunggingkan senyum dan berkata kembali, "aku ingin kau mendekati adikku. Buatlah ia jatuh hati padamu!"
"Ta–tapi ... aku belum pernah bertemu dengannya!"
"Baka!" Jun memukul kepala pria itu. "Makanya aku akan mengajakmu makan malam di rumahku sekarang. Dia sangat pandai memasak dan kau pasti akan ketagihan memakan masakannya."
Jun langsung menarik pria yang merupakan juniornya itu pergi menuju ke rumahnya. Sekitar sepuluh menit, mereka tiba di kediaman Jun yang terletak di perumahan yang tak jauh dari kepolisian metropolitan. Begitu tiba di depan pintu rumah, Jun menekan tombol bel. Tak menunggu waktu lama, pintu itu terbuka.
"Konbanwa!" Seorang gadis cantik berambut pendek menyambut mereka dengan senyum hangat.
Pria yang pergi bersama Jun tadi, tiba-tiba mematung. Ia terpana. Matanya melebar. Tak berkedip. Bagaimana tidak? Pemandangan di hadapannya saat ini adalah seorang gadis cantik, bermata bulat jernih dengan senyum manis yang membingkai wajahnya. Pria manapun yang melihatnya pasti sepakat mengatakan dia sangat cantik!
"Aku pulang!" ucap Jun melepas sepatunya sembari masuk ke dalam rumah.
Sementara, pria tadi masih mematung di tempat dengan pandangan tak berkedip ke arah adik Jun. Mendapat tatapan seperti itu, membuat adik Jun salah tingkah dan dia memilih melempar senyum ke arah pria yang datang bersama kakaknya itu.
"Hajimemashite (salam kenal)," sambut gadis itu ramah. Namun, ucapannya justru mengejutkan pria tadi, hingga membuatnya tersentak dan bergidik.
"Hajimemashite, onamae wa Shohei Yamazaki," ucapnya memperkenalkan nama dengan intonasi cepat sambil mengulurkan tangannya yang tampak gemetar.
"Sachi Megumi desu." Gadis itu memberi tahukan namanya sambil menerima uluran tangan pria bernama Shohei.
Shohei masih tak mengerjap, bahkan tangannya masih memegang tangan Sachi. Gadis itu makin heran dengan tingkahnya dan lagi-lagi hanya bisa tersenyum. Sadar jika dirinya masih memegang tangan gadis itu, Shohei langsung buru-buru melepas tangannya. Ia memegang kepalanya dan hanya menyengir karena salah tingkah.
"Hei, apa yang kalian lakukan di sana?"
Suara teriakan Jun membuat keduanya terkejut. Sachi membungkuk dan mempersilakan Shohei masuk ke dalam. Di meja makan, Jun sudah terlebih dulu duduk dan bersiap untuk menyantap hidangan.
"Itadakimasu (mari makan)," ucap Jun mencakupkan tangannya, kemudian mengambil sumpit.
Ketika Jun tengah melahap makanan, pandangannya teralih ke arah Shohei yang hanya diam sambil terus menatap Sachi.
"Hei, kenapa kau tidak makan?" tegur Jun.
Shohei tersadar dari lamunannya, dan langsung mengambil nasi panas.
"Biar kuambilkan." Sachi memberi bantuan dengan menyendokkan nasi ke mangkuk yang dipegang Shohei. Gadis itu kembali tersenyum ke arahnya dan Shohei pun ikut melemparkan senyum ke arahnya.
Jun melihat ekspresi Shohei dan adiknya yang tampak saling malu-malu. Ia berharap Shohei dan adiknya bisa saling jatuh cinta dan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Dengan begitu, Sachi tak lagi menangisi pria yang telah mencampakkannya.
Jun merasa Shohei adalah pria tepat untuk adiknya. Di samping karena pria itu mempunyai karir yang cemerlang, Shohei merupakan pria yang terkenal pemalu dan belum pernah berkencan dengan wanita manapun.
"Oniisan (kakak), kita mempunyai tetangga baru. Dia tinggal tepat di sebelah rumah kita." Sachi mengawali pembicaraan di meja makan.
"Benarkah?"
"Hum ...." Sachi mengangguk sambil memasukkan makanan ke dalam mulut. "Kau tahu, aku tadi memukul kepalanya."
Jun terkejut. "Mengapa kau melakukan itu pada tetangga kita?"
"Aku melihat dia membuka pintu rumah kita. Kupikir dia seorang pencuri dan aku menyerangnya dari belakang. Ternyata dia salah masuk rumah." Sachi menunjukkan wajah bersalah, sementara Jun tergelak seketika.
"Kau sudah meninggalkan kesan yang kurang baik pada tetangga kita. Bagaimana jika dia tidak menerima tindakanmu dan membuat laporan di kepolisian?" Jun bermaksud menakut-nakuti adiknya dan itu sukses membuat Sachi panik.
"Ta–tapi ... aku tidak sengaja melakukan itu!" jawabnya cepat, Sachi mengarahkan pandangannya ke arah Shohei yang tampak menikmati hidangan. "Yamazaki-san, bagaimana menurutmu?"
"Kupikir ... kau harus meminta maaf padanya," ucap Shohei dengan suara terbata-bata.
"Sudah kulakukan!" Sachi terdiam sejenak. Ia mengingat pria itu meminta ciuman sebagai permintaan maaf.
"Begini saja, bagaimana jika kau mengantarkan semangkuk sup padanya."
"Aku tidak mau!" Sachi berkata cepat.
"Ya, sudah. Kalau begitu biar aku saja yang mengantarnya sekaligus berkenalan dengannya. Siapa tahu dia bisa menjadi tetangga yang baik." Jun berdiri, mengambil mangkuk berukuran besar dan menyalin sup panas ke dalam mangkuk tersebut.
Ren memerhatikan detail rumah barunya yang dibelikan oleh salah satu pelanggannya di kelab malam tempatnya bekerja. Rumah minimalis ini terbilang mewah dengan dilengkapi fasilitas lengkap yang canggih dan modern.
Ren menoleh ke arah Emi yang duduk diam menunduk. Ia berjalan mendekat ke arah gadis itu.
"Apa yang terjadi padamu?" ucapnya sambil memerhatikan luka lebam di tangan gadis itu.
"Dia menyakitiku lagi," ucapnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Dia memintaku untuk melayani seorang sutradara agar dia bisa mendapat peran di sebuah film. Dia terus-menerus memukulku karena aku menolak untuk melayani sutradara film."
Emi terisak hingga punggungnya terguncang hebat. Melihat tangis penderitaan gadis itu, membuat Ren langsung mendekapnya dalam pelukan. Ia berusaha menenangkan gadis yang berusia sembilan belas tahun itu.
"Manusia sampah seperti itu tidak layak hidup di dunia. Selama masih bernapas, dia akan terus-menerus menyiksamu."Ren berbisik di telinga Emi sambil mengelus lembut rambut panjangnya. Mata indahnya yang dihiasi bulu mata lentik, memandang lekat mata Emi yang sembab. Tangannya yang bermain di rambut Emi, kini turun perlahan menelusuri wajah gadis itu, mengusap lembut air mata yang mengalir di pipinya.
"Jika ingin penderitaanmu berakhir, maka kita harus lenyapkan dia!"
Suara bisikan Ren mengalir di pendengaran Emi. Suara hasutan itu terdengar indah hingga membuatnya seperti tersihir.
Gadis itu membesarkan kedua matanya. Ia menatap Ren yang menyunggingkan senyum tipis dan melempar tatapan tajam yang memikat. Wajahnya sama sekali tak menampilkan kesan jahat, malah terlihat menawan.
Ya, dia Ren Nakajima. Pria yang sekilas tampak memiliki dua kepribadian. Sehari-hari hidup seperti manusia lainnya. Namun, tak ada yang tahu pria itu memiliki sisi hitam yang bersembunyi di balik wajah tampannya.
Dia senang berteman dengan orang-orang yang mempunyai jalan hidup menyedihkan dan tidak diperlakukan secara adil oleh manusia. Kemudian, dia akan menghasut orang-orang itu untuk melawan dan menghancurkan manusia yang bertindak semena-mena pada mereka. Ya, dia mendeklarasikan dirinya sebagai iblis. Sebagaimana iblis yang bertugas menghasut manusia yang rapuh.
Emi adalah satu dari orang-orang menyedihkan yang menjadi teman Ren. Sejak orangtuanya meninggal, Emi tinggal bersama kakak sepupunya yang berambisi menjadi artis terkenal. Untuk memuluskan ambisinya, kakak sepupunya menjadikan Emi sebagai pemuas para sutradara dan produser film.
Saat ini, Ren dan Emi masih saling bertatapan.
"Bagaimana menurutmu? Apa kau masih ingin melihatnya hidup lebih lama? Apa kau masih ingin menjadi seekor anjing peliharaannya?"
Ren masih mengeluarkan kalimat-kalimat penuh hasutan. Tak ada kata yang keluar dari mulut Emi. Namun, ia sedang mempertimbangkan apa yang ditawarkan Ren padanya.
Tiba-tiba, terdengar bel berbunyi dari arah depan. Ren mengerutkan alisnya seraya menengok ke arah pintu. Dia baru saja pindah malam ini, tetapi rumahnya langsung kedatangan tamu. Bukankah ini menyebalkan?
"Biar aku yang membuka pintu!" Emi beranjak dari sofa menuju pintu.
.
.
.
bersambung
Jun dan Shohei.
baidewei, Jun ini adalah visual Hibari di DF. alasan aku pak visualnya karena kebetulan dia juga main di dorama tentang kepolisian gitu, aku belom nonton juga sih doramanya tapi katanya itu adaptasi dari drama Korea. dan visual Shohei ini leader boyband yaa, sama kek visual Jun. mereka satu manejemen. film-film Shohei banyak banget di YouTube n dia selalu meranin anak berandalan.
visual Ren Nakajima. tadinya aku mau pake Yamaken (visual Bryan di DSG) tapi entah kenapa aku bosan ngeliat Yamaken. soalnya dia terlalu terkenal dan wara-wiri di dorama/film, udah gitu di Instagram Wibi juga penuh dengan infonya wkwk. jadi aku mutusin cari visual yang lain, cocoklah untuk karakter Ren yang terlihat lembut, tapi di sisi lain terlihat jahat.
karakter Ren ini murni antagonis ya. kok peran utama engkong rata2 cowok fakboy smua? mulai dari Aldrin yg karakternya berandalan, Yu ketua Yakuza yg berkarakter abu2, sekarang Ren malah antagonis? ya, itu selera cerita aku sih. berhubung aku suka bikin novel sad dan dark. lagian peran cowok baik-baik bikin imajinasiku mepet, mau gini gak bisa gitu gak bisa, apalagi mau ehem-ehem juga ga bisa wkwkk
Sachi Megumi
Emi hayase
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
tp fakboy bikin byk cewek tergila² malah... 🤣🤣
2024-10-14
0
Hearty 💕
Tadaima......
2024-07-14
0
Hearty 💕
Duh jadi kangen Jepang....
2024-07-14
1