Jun berpikir seraya mengingat kembali di mana ia pernah bertemu dengan gadis yang baru saja lewat. Ketika ia memusatkan ingatannya, deru ponsel yang bergetar langsung menghentakkan lamunannya. Jun mengambil ponselnya lalu melihat nama Sachi di layar panggilan.
Rupanya Sachi sedang berada di luar kantor dan hendak mengantar bekal untuknya dan juga Shohei. Setelah menutup panggilan telepon, Jun menoleh ke arah Shohei yang tengah memegang pipinya. Ia tersenyum geli sambil melempar tatapan menyelidik ke arah pria berkacamata itu.
"Kau sudah resmi berkencan dengan adikku?"
Shohei menunduk malu sembari memperbaiki posisi kacamatanya. Jun tersenyum seraya menyodorkan sikunya ke perut pria itu.
"Jaga baik-baik adikku!"
"Siap!"
"Keluarlah sekarang! Dia menunggumu di depan."
"Eh?" Shohei tampak terkejut. "Benarkah?"
Pria itu segera berjalan menuju luar gedung. Namun, dia kembali berbalik ke arah Jun.
"Ada apa lagi?" tanya Jun yang heran kenapa Shohei malah kembali.
Shohei berjalan malu-malu melewati Jun. Ternyata pria itu hendak memeriksa penampilannya di cermin besar yang berdiri tepat di belakang Jun.
"Astaga ... dia sudah panas-panasan menunggu di luar dan kau masih sibuk memerhatikan wajahmu di cermin!" gerutu Jun diiringi gelak tawa.
"Gomen." Shohei menunduk senyum, lalu kembali berlari menuju ke tempat Sachi menunggunya.
Jun hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala melihat adik juniornya itu. Dia berharap, Shohei dan Sachi dapat menjalin hubungan dengan awet.
Di luar, Sachi memarkirkan sepedanya di tempat parkiran khusus sepeda yang disediakan kantor polisi metropolitan. Matanya tak mengerjap menatap ke arah pintu masuk gedung kantor kepolisian itu. Secara bersamaan, Emi keluar dari gedung itu dengan langkah santai dan wajah datar. Sachi terhenyak ketika melihat gadis itu. Ya, dia mengenali Emi sebagai gadis yang dekat dengan Ren. Namun, mengapa dia keluar dari kantor kepolisian pusat di negara itu?
Mata Sachi mengikuti arah Emi melangkah. Tepat pada saat Emi berhenti, sebuah motor sport merah menghampirinya. Ya, siapa lagi kalau bukan Ren!
Di tengah tingkat penasarannya yang tinggi, rupanya Shohei telah berada di sampingnya. Pria itu berdehem sehingga membuat Sachi tersentak dan mengalihkan pandangannya dari Ren dan Emi yang baru saja pergi.
"A, apa kau sudah lama menunggu?"
"Aku baru saja tiba." Sachi menyerahkan dua kotak bekal. "Ini untukmu. Dan ini tolong berikan pada onii-chan."
"Arigatou gozaimasu. Jika tidak keberatan, bolehkah aku datang ke rumahmu malam nanti?" tanya Shohei sedikit gugup.
Sachi terdiam sejenak. Dia tahu maksud kata 'mengunjungi' bukan seperti yang Shohei lakukan sebelumnya. Melainkan sebuah ritual orang berpacaran pada umumnya. Ya, mereka adalah sepasang kekasih, bukan hal aneh jika pria mengunjungi rumah kekasihnya, 'kan?
"Tentu saja boleh. Aku akan menunggu Shohei-kun malam nanti," jawab Sachi sambil melebarkan senyum.
Mendengar jawaban tanpa keraguan yang Sachi lontarkan, membuat pria itu menyunggingkan senyum lebar dan kembali mengucapkan terima kasih.
Ren melajukan jagoan merahnya, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi bak seorang pembalap di sirkuit. Di boncengan, Emi memeluknya dengan erat sambil menyandarkan kepalanya di punggung pria itu. Gadis itu memejamkan mata sembari mengembangkan bibirnya membentuk senyuman selebar mungkin.
Saat memasuki terowongan, Ren mengurangi kecepatan motornya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Emi. Dia berdiri sambil merentangkan kedua tangannya merasakan semilir angin yang menabrak tubuhnya.
"Ren, aku telah bebas!" teriak Emi sambil melingkarkan kedua tangannya di leher kokoh milik pria itu.
Ren hanya dapat tersenyum dari balik helm-nya. Dia turut merasakan kebahagiaan atas kebebasan hidup gadis itu, setelah sekian lama menderita. Bagi Emi, Ren adalah pahlawannya. Ren adalah satu-satunya pria yang dipercayainya, ketika ia merasa semua pria sama seperti hewan buas yang akan memangsanya.
Pria itu kembali melajukan motornya, dan berhenti pada sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Shinjuku. Mereka sama-sama memasuki tempat itu. Ren membawa Emi masuk ke dalam salon dan meminta karyawan sana untuk memotong rambut Emi sesuai dengan model terbaru saat ini. Setelah keluar dari salon, mereka lalu berbelanja keperluan wanita lainnya.
"Belanjalah sesuka hatimu! Pilih pakaian yang kau suka!" pinta Ren sambil menyibakkan anak rambut yang menghalangi pipi mulus Emi.
"Apa kau punya uang?" tanya Emi dengan raut sungkan.
"Tentu saja." Ren menunjukkan sebuah kartu kredit miliknya.
Emi mulai memilih-milih barang, tetapi tak ada satu pun barang yang menjadi pilihannya. Tinggal bersama kakak sepupunya membuat dia tak tahu tentang fashion kekinian. Dia hanya tahu memakai barang yang diperintahkan oleh Maki, dan dia akan terlihat cantik jika Maki ingin memperkenalkannya dengan pria hidung belang.
Ren melihat sepatu high heels berwarna merah terang yang di pajang terpisah. Dia mengambil sepasang sepatu itu, lalu meminta Emi untuk duduk. Ren berjongkok tepat di depan gadis itu, kemudian membuka sepatu kasual yang dipakainya. Setelah itu, ia memasangkan sepatu merah tadi di kaki putih mulus Emi.
"Ingat, apapun yang terjadi, kau tidak boleh memberitahu siapapun tentang kejadian itu! Jangan berbicara apapun pada polisi, mereka adalah musuh kita!" ucap Ren setelah selesai memasang sepatu baru di kaki Emi.
Emi mengangguk pelan sambil menatap mata Ren yang menyorot tajam. Anggukan Emi mendapat sambutan senyum dari pria itu. Ia mengacak rambut Emi dengan lembut.
"Jangan percaya pada siapapun selain aku!" ucap Ren kembali sambil memicingkan sebelah mata.
Emi kembali mengangguk patuh. "Aku hanya memiliki dirimu di dunia ini. Bagaimana mungkin aku akan memercayai orang selainmu?"
"Satu lagi. Untuk saat ini, jangan dekat dengan pria manapun. Jangan mudah menyerahkan hatimu pada orang lain! Ingat, manusia adalah makhluk yang berbahaya. Mereka tidak pernah tulus dekat dengan kita." Ren kembali memengaruhi pikiran Emi.
"Aku hanya dekat denganmu, dan aku tidak ingin kehilanganmu." Emi mengambil tangan Ren yang tengah membelai rambutnya.
Ren tersenyum. Ia membalas genggaman tangan Emi hingga jari-jari mereka bersatu. Kunci utama rahasia ini ada di Emi. Jika gadis itu salah melangkah, maka Ren yang akan terseret dalam jurang.
Saat ini, Tim dokter Forensik telah mengumumkan hasil autopsi jenazah Maki Okada. Dari hasil autopsi, ditemukan bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Dokter juga membenarkan jika Maki Okada tengah mengandung dua bulan. Hal ini memperkuat dugaan polisi bahwa korban telah dibunuh sebelum jatuh dan tenggelam.
Di kantor kepolisian, para wartawan telah berkumpul untuk mencari bahan berita. Isu hubungan gelap antara Tatsuya dan Maki telah merebak ke publik, dan banyak netizen yang menduga bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh CEO muda tersebut. Bunyi sirene mulai terdengar, kendaraan polisi berhenti tepat di depan tangga masuk gedung. Para wartawan berdiri di sisi kiri dan kanan untuk mengambil gambar.
Tak lama kemudian Tatsuya keluar dari mobil itu dengan penjagaan ketat oleh sejumlah polisi. Dia memakai masker dan kedua tangannya di borgol. Kilatan lampu kamera terus menyorotinya dari puluhan wartawan yang haus bahan berita.
Di dalam gedung, Polisi masih mengumpulkan bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara. Sejumlah saksi juga masih diintrogasi. Shohei merasa kesal, karena dia mendapatkan bagian untuk mengintrogasi Emi kembali. Ia meletakkan kertas yang berisi biodata Emi di atas meja. Kertas itu kemudian diambil Jun. Pria itu mengamati wajah Emi.
"Apa dia benar-benar tidak menjawab pertanyaanmu?"
"Iya. Dia hanya mengatakan tidak tahu dan lupa. Dan itu dijawabnya secara bergantian pada sepuluh pertanyaan yang kuajukan," ujar Shohei bernapas frustrasi.
Jun tertawa ringan. "Dia masih sangat muda. Ini pasti pengalaman pertamanya diintrogasi polisi."
"Tapi, dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi sedih. Padahal dia hanya memiliki saudara sepupunya itu." Shohei kembali berkata sambil memajukan bibirnya.
"Hei, Shohei! Kau seharusnya senang bagianmu adalah gadis cantik. Kami malah mengintrogasi para lelaki," timpal rekan kerjanya.
Lagi-lagi Jun tertawa mendengar keluhan para juniornya. Ia menepuk pundak Shohei lalu berkata, "Besok, serahkan dia padaku. Biar aku yang mengintrogasinya."
Saat berkata, pandangan Jun tertuju pada foto emi yang tercetak di lembaran biodatanya.
.
.
.
rival Ren yang sesungguhnya adalah Jun. karena mereka berdua adalah pemeran utama di novel ini. bab2 ini memang masih mengandung banyak teka-teki, tapi di bab2 depan akan ada twist menantimu seperti novel-novelku sebelumnya. nantikan terus kelanjutannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Hearty 💕
Ren bener² mempersiapkan rencana dengan detail
2024-08-10
0
Hearty 💕
Emi juga lihat apa yang Ken lakukan
2024-08-10
0
Ꮯhᥲᥣ᥎เᥒ
Ehemm...
Jun mulai start
2024-02-11
1