Pagi-pagi sekali, Sachi telah sibuk membuat bento di dapur untuk bekal makan siang. Dia telah menyiapkan tiga kotak, yang mana kotak tersebut untuk Jun, Shohei dan dirinya sendiri.
"Ohayou!" sapa Jun berjalan tergesa-gesa menuruni anak tangga.
"Ohayou!" balas Sachi sambil tetap membuat bento dengan sepenuh hati.
"Aku pergi dulu, ya?" ucap Jun mencubit pipi adiknya.
"Eh? Sepagi ini?" Sachi terkejut karena tak biasanya Jun begitu terburu-buru ke kantor.
"Ya, ada yang harus kutangani!" sahut Jun sambil berjalan keluar rumah dan langsung menghidupkan motornya.
Sachi melihat dua kotak makanan untuk Jun dan Shohei yang belum terisi apapun. Tadinya dia akan menitip bekal Shohei pada kakaknya. Namun, melihat kesibukan Jun, terpaksa dia sendiri yang harus mengantar bekal tersebut saat menuju kampus nanti.
Di luar, Jun menoleh ke samping dan melihat Ren tengah mencuci motor kesayangannya. Kedua pria itu saling bertegur sapa.
"Pergi kantor sepagi ini?" tanya Ren sambil membilas motornya.
"Ya, begitulah!" Jun tersenyum.
"Tadi pagi aku menonton berita, ada artis muda yang meninggal karena tenggelam di kapal pesiar. Apakah kau akan menangani kasus itu?"
Jun mengangkat kedua bahunya. "Aku belum menerima perintah dari atasan. Lagi pula belum diketahui penyebab korban terjatuh, apakah murni kecelakaan atau ada hal lain yang berhubungan dengan pembunuhan.
"Oh ... begitu! Aku melihat profilmu sangat bagus sebagai seorang detektif."
Jun tersenyum. "Akhir-akhir ini aku sedang menangani kasus pencurian berlian di museum Tokyo Park. Ini sangat berat bagiku."
"Woaah ... pasti pencurinya tidak takut apapun!"
"Sepertinya!"
Jun lalu pamit pergi pada Ren. Ketika motor pria itu benar-benar menjauh, senyum Ren berangsur-angsur menghilang diikuti kilatan berbahaya di matanya.
Masih di dapur, Sachi menata onigiri, ikan panggang, sayuran segar, dan telur gulung tamagoyaki ke dalam wadah bekal. Gadis itu tampak riang karena ini pertama kalinya dia akan memberikan bekal pada kekasih barunya yang berprofesi sebagai polisi. Dia berharap semoga Shohei senang menerima bekal buatannya. Selesai menata masing-masing bento, ia memutuskan ke kamar untuk mengganti pakaiannya sebelum pergi.
Ketika kembali ke dapur, Sachi terkejut melihat Ren duduk di atas kitchen set. Kakinya berayun-ayun sembari menikmati salah satu bekal yang sudah tertata rapi.
"Apa yang kau lakukan? Siapa yang menyuruhmu makan bekal itu!" Sachi tampak berang saat melihat bekal yang seharusnya untuk Shohei malah dihabiskan oleh Ren.
"Ini sangat enak!" ucap Ren sambil menjepit hidung Sachi dengan sumpit yang ia pegang.
"Itu kubuatkan khusus untuk pacarku!" kesalnya sambil mengambil sendok kayu, lalu hendak memukul Ren. Sayangnya, pria itu dengan mudah menghindari amukan Sachi.
"Pacarmu yang mana? Yang di mall itu? Atau yang pria yang berseragam polisi?"
"Tentu saja polisi!"
"Kalau memang dia pacarmu, kenapa kau cemburu ketika melihat mantanmu jalan dengan gadis lain?"
"Siapa yang cemburu?" elak Sachi menampilkan wajah ketus.
"Baiklah tidak cemburu!" Ren mengiyakan perkataan Sachi. "Lalu kenapa kau masih memajang foto mantanmu di kamar? Bukan foto pacarmu yang sekarang?"
Mata Sachi membulat seketika. "Itu karena ... aku dan dia baru resmi pacaran kemarin sore," imbuhnya sedikit gagap. Dia benar-benar lupa jika masih memajang foto mantan kekasihnya di kamar.
"Haha-haha ... jangan-jangan polisi itu cuma sebagai pelarianmu saja!" Ren tergelak seketika, menciptakan suara yang sangat menjengkelkan. Pria itu menarik paksa wajah Sachi ke sisinya, lalu berbisik, "kau boleh pacaran dengannya, tapi jangan tidur bersamanya, oke?"
Sachi menepis tangan Ren dengan kasar. Lalu mengusir pria itu agar segera pergi dari rumahnya.
"Cepat pergi dari sini! Aku akan meminta kakakku untuk mengganti password rumahku agar kau tak sembarang masuk ke sini lagi!" ketus Sachi sambil terus mendorong Ren menuju pintu keluar.
"Hei, jangan galak! Apa kau tidak ingat kemarin aku berhasil mencium bibirmu!" Ren mengangkat kedua alisnya sembari mengerjapkan mata dengan cepat.
Pada saat yang bersamaan, Sachi langsung menutup pintu rumahnya dengan kasar. Gadis itu bersandar di daun pintu. Ia bergeming sejenak, lalu memegang bibirnya sambil kembali mengingat bagaimana Ren mengambil ciuman pertamanya tepat di depan Natsu.
Di kantor kepolisian Tokyo Metropolitan.
Polisi masih menyelidiki penyebab kematian Maki Okada. Para saksi masih ditahan untuk dimintai keterangan. Sementara, polisi telah menemukan bukti berupa alat perekam yang menempel di baju korban. Mereka lalu mendengar isi rekaman tersebut.
Rekaman berdurasi kurang dari lima menit itu menampilkan percakapan antara Maki Okada bersama pria yang disebut bernama Tatsuya. Terdengar jelas pertengkaran mereka malam itu, dan lebih mengejutkan bahwa dari rekaman itu diketahui jika korban tengah hamil.
Salah seorang polisi muda mencetak sebuah profil yang menampilkan biodata lengkap beserta foto Tatsuya Mikami, yaitu pria yang diduga kuat sebagai lawan bicara korban dalam rekaman.
"Buat laporan perintah penangkapan untuk orang itu dan lakukan penangkapan hari ini juga! Bekukan passpord-nya agar dia tidak bisa melarikan diri!"
Polisi-polisi muda langsung bergerak cepat begitu mendengar perintah dari atasannya.
Di meja kerjanya, Jun sibuk mengurus pekerjaan. Dia tak terlalu mengikuti perkembangan kasus kematian selebritis yang menggemparkan publik hari ini.
Beberapa polisi muda masuk ke ruangan dan tampak berbincang-bincang mengenai seorang saksi korban yang tengah diintrogasi Shohei.
"Kudengar saksi itu menolak untuk berbicara. Dia sangat kasar, bahkan berani mencakar pipi Shohei karena muak dengan rentetan pertanyaan yang diberikan Shohei padanya," kata salah satu dari mereka.
"Ya, dia adalah adik sepupu korban. Usianya masih di bawah umur dan wajahnya imut sekali!" timbal polisi lainnya.
Mendengar perbincangan polisi-polisi muda seangkatan Shohei, Jun langsung bertanya pada mereka di mana Shohei sekarang. Mereka menjawab jika pria itu masih berada di ruang introgasi. Jun berdiri dari kursi kerjanya menuju ruang introgasi. Saat hendak ke sana, rupanya Shohei baru saja selesai mengintrogasi saksi dan tengah berjalan keluar dari ruangan itu.
Jun langsung menghampiri Shohei. Ia melihat sebuah garis luka di pipi pria yang telah berpacaran dengan adiknya itu.
"Ada apa dengan pipimu. Kudengar kau dicakar saksi korban, ya?"
Jun tertawa mengejek. Sementara Shohei hanya diam. Raut pria itu tidak utuh sejak keluar dari ruang introgasi. Ini pertama kalinya dia menghadapi seorang saksi yang begitu kasar dan tidak komprehensif. Bahkan, sebulan lalu dia mengintrogasi anggota Yakuza, tetapi tidak sesulit saksi tadi.
Di saat bersamaan, Emi keluar dari ruang introgasi. Ia berjalan santai melewati kedua pria itu dengan raut masam.
Shohei langsung menarik lengan Jun sambil berkata, "Itu dia saksi yang sangat menyebalkan! Dia masih di bawah umur, tapi kelakuannya sangat tidak sopan."
Jun menoleh ke arah Emi yang berlalu di hadapannya. Ia tersentak, begitu melihat wajah gadis itu.
"Aku ... seperti pernah melihatnya!"
btw aku lebih suka visual Emi, imut banget pengen gua karungin. 🤣🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
Hearty 💕
Silakan Oji san
2024-08-09
0
Zachary
bungkus....
2024-05-12
0
fa_zhra
novel yu sll keren,smp tdk bs berkata apa2 lagi
2024-05-06
0