Tak terasa siang telah beranjak malam. Shohei datang bertamu ke rumah Sachi seperti janjinya. Kali ini penampilannya terlihat kasual tanpa memakai atribut kepolisian. Jun membuka pintu dan mempersilakan Shohei masuk. Mereka langsung naik ke lantai dua karena kamar Jun dan Sachi terletak di sana.
"Itu kamarnya!" Jun menunjuk kamar Sachi yang terletak di ujung.
Shohei tampak mengatur napasnya. Jun bersedekap sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. Alisnya bergelombang tatkala melihat ekspresi wajah Shohei.
"Yo, wajahmu pucat sekali! Jika seperti ini, dia akan menyuruhmu pulang karena mengira kau kelelahan," tegur Jun mengejek.
"Ini kencan pertamaku jadi aku sangat gugup bahkan lebih gugup dari sebelumnya."
"Ya, tapi kau tidak akan langsung melakukan itu di hari pertama, 'kan?" Jun melirik dengan tatapan menggoda hingga membuat Shohei makin salah tingkah.
"Aku saja bingung, apa yang harus kulakukan di dalam sana," ucapnya polos
"Tidak mungkin kau akan menangkap penjahat di kamar Sachi!" Kali ini Jun sedikit kesal.
Ia langsung mendorong punggung Shohei agar segera bergerak menuju kamar Sachi. Tepat di depan pintu kamar adiknya, ia berbisik pada Shohei.
"Selamat berkencan. Berikan kesan yang terbaik, paling tidak kalian harus berciuman." Jun memberi kedipan mata ke arah Shohei.
Shohei membulatkan matanya, sementara Jun hanya bisa menyengir. Dia mengetuk pintu kamar Sachi, dan mengatakan jika Shohei telah datang. Tak lama kemudian, gadis itu membuka pintu kamarnya. Shohei terpana melihat penampilan Sachi yang begitu cute.
"Aku ingin pergi ke museum Tokyo Park. Kalian jaga rumah, ya?" ucap Jun sambil menepuk punggung Shohei.
Setelah Jun pergi, Sachi langsung mempersilakan Shohei masuk. Pria itu melangkah ke dalam kamar yang tak begitu luas, tetapi tertata rapi. Ia duduk di tepi ranjang yang berukuran kecil.
Untuk mengatasi kegugupannya, Shohei mengawali obrolan kecil seperti menanyakan kapan gadis itu tertidur dan bangun. Pria itu juga sempat melihat beberapa tugas kuliah, dan menawarkan bantuan jika Sachi kesulitan mengerjakan.
Beberapa menit berlalu, Sachi memilih duduk di samping Shohei. Rasa gugup langsung membelenggu keduanya. Mereka hanya saling diam dengan tatapan lurus ke depan. Jantung mereka berdetak kencang seolah saling berlomba adu kecepatan. Bola mata mereka bergerak liar tak tentu arah. Keduanya saling melirik, tetapi di waktu bersamaan juga saling melempar wajah. Mereka terlihat sibuk mengatur posisi duduk masing-masing hingga tak ada jarak di antara keduanya.
Shohei memberanikan diri menyentuh punggung tangan Sachi. Gadis itu tersenyum, lalu menoleh ke arahnya diikuti dengan mata yang terpejam seolah memberi sinyal akan tindakan selanjutnya yang harus Shohei lakukan.
Shohei meneguk salivanya saat menatap Sachi yang memejamkan mata. Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, dia mendekatkan wajahnya sambil memajukan bibirnya untuk mendarat ke bibir kekasihnya. Sementara, Sachi yang telah merasakan hembusan napas Shohei, makin menutup matanya dalam-dalam dan mengerutkan bibirnya. Wajah mereka semakin dekat, dekat, dan dekat.
"Sachi-chan! Sachi-chan!"
Sachi dan Shohei kompak terlonjak saat mendengar suara teriakan lelaki dari arah balkon. Sachi mengenali suara itu milik Ren dan dia langsung melangkah keluar balkon. Benar saja, kepala laki-laki itu muncul dari balik tembok.
"Sachi, apa aku boleh menumpang mandi di rumahmu? Kamar mandiku rusak, aku sedang memanggil tukang untuk memperbaikinya."
"Tidak boleh! Kakakku sedang tidak ada di rumah."
"Aku 'kan tidak meminta kakakmu untuk memandikan diriku!"
Pada saat bersamaan, ponsel Shohei berbunyi. Setelah membaca pesan, pria itu langsung bersuara dari kamar, "Sachi, Gomennasai, aku baru saja mendapat pesan dari temanku. Mereka memanggilku ke kantor sekarang karena ada hal penting yang harus diperiksa."
Sachi tertegun sebentar. Ia mengangguk tipis meski kecewa karena Shohei harus pulang secepat itu. Namun, bukankah dia harus mengerti tugas kekasihnya yang bisa dibutuhkan negara kapanpun?
Shohei pamit dan langsung keluar dari kamar Sachi. Dia mengatakan tidak perlu mengantarnya sampai ke depan pintu, karena ia ingin Sachi melihatnya pergi dari balkon kamar.
Tepat saat Shohei telah keluar di halaman rumah, lelaki itu mendongakkan kepala dan melambaikan tangan ke arah kekasihnya yang menatapnya dari atas. Ketika Shohei hendak masuk ke dalam mobilnya, Sachi langsung berteriak.
"Shohei-kun, ganbatte ne!"
Shohei melebarkan senyum dan mengangguk. Sementara, Ren yang sedari tadi menyaksikan keduanya hanya memajukan bibir dengan mata yang mendelik sambil menopang dagu.
Ketika mobil Shohei telah hilang dari pandangan mata Sachi, gadis itu hendak kembali masuk ke kamarnya. Namun, pandangannya teralihkan pada Ren yang masih berdiri termangu di balkon kamarnya.
Tiba-tiba Sachi teringat pada gadis yang dijemput Ren di kantor polisi siang tadi. Jika dilihat dari sejak awal ia bertemu Ren, keduanya seperti sepasang kekasih.
"Ano ... kalau boleh tahu, siapa gadis yang menemuimu saat kau pertama kali ke sini?" tanya Sachi ragu-ragu.
Ren mengerutkan keningnya sambil berpikir. Sunggingan senyum tipis muncul di bibirnya saat memahami gadis yang dimaksud Sachi adalah Emi.
"Dia pacarku!"
Sachi terhenyak dengan mata membulat sempurna.
"Kenapa reaksimu seperti itu? Kau cemburu, ya?"
"Tidak!" tegas Sachi. "Hanya saja ... aku heran kenapa kau sering menggangguku padahal kau sudah memiliki kekasih!"
"Aku tidak pernah mengganggumu!"
"Kau sangat pintar berkilah, ya!"
"Kau juga pacarku, jadi aku harus adil pada setiap gadis yang menjadi pacarku," ucap Ren mengukir senyum seraya memangku dagunya.
"Dasar gila! Bagaimana bisa kau menganggapku sebagai kekasihmu! Apa kau tidak lihat pacarku baru saja pulang?" Sachi menggertakkan rahangnya. Sungguh, jika mereka tak terhalang oleh tembok yang memisahkan balkon mereka, dia akan menghampiri pria itu dan menyumpal mulutnya agar tak sembarang bicara.
"Aku bebas melakukan apapun di dunia ini. Termasuk menganggap wanita manapun sebagai kekasihku," ucapnya dengan gaya santai.
"Dasar playboy!"
Ren berjalan mendekat ke ujung balkonnya agar jarak mereka semakin dekat. Kini mereka tampak bersebelahan, hanya saja terhalang oleh dinding pemisah balkon. Ia menengadahkan kepalanya ke atas langit. Rupanya bentangan langit malam ini dipenuhi oleh bintang-bintang yang bergelantung dan saling memancarkan cahaya.
"Lihatlah ke atas!" tunjuk Ren.
Sachi mendongak sesuai permintaan Ren.
"Kirei!" Gadis itu menatap takjub melihat bagaimana bintang-bintang di atas langit berkumpul dan mengerlipkan cahayanya.
"Apa kau tahu Aldebaran?" tanya Ren sambil menunjuk sebuah bintang yang paling berkilau di atas langit.
"Bukankah itu bintang paling terang pada rasi Taurus?"
"Ya, dia juga bintang paling terang dalam langit malam. Bintang yang paling mudah ditemukan di langit karena paling bersinar di antara milyaran bintang yang terhampar di atas sana." Ren menoleh ke arah Sachi yang masih mendongakkan kepala. "Dan sekarang, Aldebaran makin mudah ditemukan, karena dia berada di samping kamarku."
Pada saat Ren melontarkan sederet kalimat itu, Sachi langsung tersentak. Ia menoleh ke arah Ren yang tersenyum lebar dengan pandangan teduh.
"Kau adalah Aldebaran-ku. Kuharap kau bisa menjadi cahaya dalam kegelapanku," ucap Ren memoles senyum tipis di wajah tampannya.
Sachi menghening tanpa mencoba mengalihkan pandangan ke tempat lain. Tiba-tiba saja jantungnya berdetak tak karuan. Ada apa ini? Mungkinkah lelaki itu sedang menyihirnya dengan sederet kalimat romantis? Tidak boleh! Dia telah memiliki kekasih. Namun, harus dia akui, saat ini Ren terlihat berbeda hingga ia tak bisa melontarkan kalimat balasan.
"Hei, mendekatlah ke sini!"
Sachi terhenyak diikuti dengan kedipan mata berulang saat mendengar perintah Ren secara tiba-tiba.
"Eh?"
"Kubilang ... cepat dekatkan wajahmu ke sini!"
Kali ini kalimat perintah yang keluar dari mulut Ren terdengar manis sehingga bagaikan tertarik oleh daya magnet, Sachi mengikuti perintah lelaki itu. Kedua tangannya memegang terali dan kepalanya memiring ke sisi kanan untuk mendekatkan wajahnya ke arah Ren yang juga berposisi serupa. Tatapan mata pria itu seakan menjeratnya untuk jatuh lebih dalam di keheningan.
Detik itu juga, Ren memejamkan mata diikuti dengan gerakan kepala yang makin mendekat sehingga napas mereka saling bertabrakan. Mata Sachi membeliak tajam ketika bibir Ren yang dingin mendarat sempurna di bibirnya. Ia merasakan perasaan yang aneh saat merasakan daging tak bertulang itu mulai bergerak ke atas bibirnya dan mengulumm dengan lembut. Sangat lembut! Hingga Sachi tak kuasa untuk menolaknya apalagi menjauh dari pria itu. Tubuhnya seakan terpaku di lantai, seluruh tubuhnya kaku. Ia seperti sebuah manekin. Tak bergerak sedikitpun.
Di temani cahaya bintang dari angkasa, Ren masih memagut lembut bibir Sachi secara bergantian. Seolah tak peduli posisi mereka yang berdiri di balkon masing-masing. Seakan mereka bisa menerobos tembok pemisah di dinding balkon itu. Bahkan, tidak peduli apakah di jalanan sana akan ada yang melihat mereka.
Bibir Sachi sedikit tertarik ketika Ren hendak melepaskan pagutannya, seolah masih enggan berpisah dari bibir lawannya. Lelaki itu mengulas senyum tipis sebagai tanda ciuman telah berakhir. Namun, bagi Sachi perasaan aneh yang menerpa dirinya belum usai.
Dia terdiam. Mematung. Seluruh aliran darahnya seakan berhenti mengalir. Bahkan ketika Ren telah menghilang dari pandangannya dan hanya meninggalkan bekas ciuman di bibirnya, dia masih tak bergeser dari posisi sebelumnya.
.
.
.
__________________________
catatan author :
btw, di Jepang itu lumrah kalo pacaran trus main-main ke kamar pasangan 🤭🤭 tapi jangan dicontohi ya, kalo warga plesenamdua bilang "kagak ada akhlak" 🤣🤣
btw, aku rekomendasikan lagu hige dandism berjudul pretender untuk mengiringi chapter ini.
buat yang mau vote, simpan aja dulu poinnya. novel ini belom bisa masuk rangking, nanti Minggu depan aja ngepotnya biar ga terbuang sia-sia poinnya. arigatou
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
badewei... apakah kak yu pernah tinggal di Jepang??
2024-10-16
0
Ⲋhꪮhꫀเ
sat set
jurus² udah mulai di kerahkan 😂
2024-02-11
0
Sa?
bisa ae kang gombal
2023-10-29
2