Emi membuka pintu rumah, dan sedikit tersentak melihat seorang pria berseragam polisi berdiri di depan pintu sambil memegang sebuah mangkuk.
"Hai ...." Jun menyapa gadis yang berdiri di depan pintu. "Aku tetanggamu. Adikku baru saja selesai memasak," ucap Jun sambil memberi sup hangat yang ia pegang.
Memasang wajah malas-malasan, Emi mengambil sup itu dari tangan Jun dan langsung menutup pintu dengan kasar tanpa berkata apapun. Jun yang masih berdiri di depan pintu, hanya dapat melongo mendapati respon yang tak menyenangkan dari Emi.
"Ya ampun ... dia sangat tidak sopan!" Jun menyeringai kesal sambil berjalan menuju rumahnya.
Emi meletakkan semangkuk sup panas di atas meja makan. Ia melihat Ren telah mengganti bajunya bersiap-siap untuk pergi bekerja.
"Siapa yang datang?"
"Tetangga sebelah. Dia membawakan itu," jawab Emi sambil menunjuk sebuah sup hangat.
"Aku akan pergi bekerja," ucap Ren sembari mengambil tangan Emi kemudian meletakkan kompres es di lukanya yang memar.
"Biarkan aku bermalam di sini! Aku tidak ingin pulang." Emi menangkupkan kedua tangannya dengan ekspresi memelas.
Terdiam sebentar, Ren menjawab, "Baiklah."
Di rumah, Shohei dan Sachi malah hanya saling diam. Suasana canggung terasa begitu kental di ruangan itu. Sesekali pria berusia dua puluh lima tahun tahun itu terlihat mencuri-curi pandang ke arah Sachi. Ketika mata mereka tak sengaja bertemu, pria itu akan kembali menunduk dalam-dalam.
Dari balik tembok, Jun yang mengintip keduanya hanya bisa mengerutkan kening. Masalahnya, ia sengaja pergi untuk memberi kesempatan mereka berduaan.
"Bakaaa ...." Jun mengumpat dengan intonasi pelan, "kenapa masih ada pria selugu dia? Sudah hampir sepuluh menit aku meninggalkan mereka, tetapi dia belum juga berinisiatif untuk mengobrol," ucapnya berdecak kesal.
Akhirnya, setelah selesai makan malam. Shohei pamit pulang. Di depan pintu, dia membungkuk ke arah Jun dan Sachi sambil mengucapkan terima kasih pada mereka atas jamuan makan malamnya.
"Imouto, berikan nomor ponselmu pada Shohei. Dia malu meminta langsung padamu."
"Eh?" Sachi dan Shohei terkejut secara bersamaan.
Shohei menoleh ke arah Sachi sambil berkata dengan cepat, "I–itu ti–dak benar! Aku tidak memintanya!"
Jun langsung menepuk dahinya. Ia menarik paksa Shohei keluar pintu, lalu berbisik, "Seharusnya kau mengiyakan ucapanku."
"Tapi, aku memang tidak meminta nomor ponselnya." Shohei membela diri ketika melihat tatapan melotot atasannya itu.
Jun mengembuskan napas kasar, menatap Shohei dengan wajah serius. "Jadi, kau tidak tertarik dengan adikku?"
"Tentu saja aku sangat tertarik!" seru Shohei sambil tersenyum malu-malu, "dia sangat manis, murah senyum dan pandai memasak," pujinya seraya mendongakkan kepala ke atas.
"Jika kau sangat tertarik padanya, maka kau harus bergerak cepat. Bicara padanya sekarang dan ajak dia bertukar nomor ponsel denganmu!" ucap Jun dengan nada memerintah.
Kedua pria itu kembali masuk ke dalam rumah. Jun bersedekap sembari memberi kode kecil ke Shohei untuk melakukan apa yang ia sarankan.
Menghela napas panjang, Shohei mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkan benda itu ke arah Sachi. Tangannya tampak gemetar, dan dia tak berkata apapun selain menatap gadis itu.
Sachi menatapnya dalam-dalam karena tak paham maksud pria itu. Sayangnya, Shohei hanya terus menyodorkan ponselnya sambil tetap menatap gadis itu.
"Dia ingin kau menulis nomor ponselmu di kontaknya," ujar Jun mewakili Shohei.
Sempat menoleh ke arah kakaknya, Sachi kembali menatap Shohei untuk memastikan ucapan kakaknya benar ataukah tidak. Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum bodoh.
Sachi mengambil ponsel Shohei, dan mulai menulis deretan angka ponselnya.
"Arigatou gozaimasu," ucap Shohei menunduk begitu Sachi mengembalikan ponselnya.
Setelah Shohei pulang, Jun bertanya pada adiknya mengenai pria yang merupakan juniornya di kantor. Bukan tanpa alasan Jun mendekatkan Shohei pada adiknya. Sebelumnya, Sachi baru saja diputuskan kekasihnya dan mengalami patah hati berkepanjangan. Tak mau terus-terusan mengingat mantannya, ia meminta pada kakaknya untuk mengenalkan pria yang bisa membuatnya melupakan kekasih lamanya.
"Bagaimana pendapatmu tentang Shohei?"
Sachi menunduk malu-malu. "Dia tampan, terlihat baik dan ramah."
Mendengar jawaban adiknya, Jun tersenyum menggelitik. "Artinya ... dia sesuai dengan kriteriamu, 'kan?"
Masih tetap menunduk, segaris senyum terbit di bibir Sachi, dan itu sudah cukup menjawab bahwa dia merasa Shohei cocok sebagai kriteria lelaki idamannya.
Malam berganti pagi. Detak-detak jarum jam menghantarkan waktu untuk memulai beraktifitas. Sachi membuka jendelanya, lalu melangkah menuju balkon kamarnya. Ia menghirup udara bebas dalam-dalam sambil merentangkan kedua tangannya ke atas. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit yang membiru dengan mentari pagi yang telah menghangat.
"Ohayou! Suara sapaan seorang pria menyapa pendengarannya.
"Ohayou!" balas Sachi sembari mengalihkan pandangan ke samping
Mata Sachi terbelalak ketika melihat Ren tersenyum lebar dalam keadaan bertelanjang dada. Ia melambaikan tangannya ke arah gadis itu dengan tatapan penuh menggoda.
"Ternyata kamar kita bersebelahan, ya?" Ren bersandar di terali balkonnya dengan tubuh menghadap penuh ke arah Sachi.
Sachi langsung memutar badannya membelakangi Ren karena pria itu hanya memakai boxer, sementara bagian tubuh atasnya benar-benar polos, hanya ada sebuah kalung yang menggantung lehernya.
"Yo, apa yang kau lakukan? Kenapa membelakangiku? Apa aku terlalu menggairahkan di matamu?"
Suara pria itu terdengar menyebalkan bagi Sachi. Tanpa menoleh, ia langsung masuk kembali ke kamarnya meninggalkan Ren yang tertawa karena melihat reaksinya.
Pagi ini, seperti biasa, Jun telah berangkat lebih dulu ke kantor. Sementara Sachi akan berangkat menuju kampusnya. Ia menutup pintu rumahnya, kemudian mengambil sepeda untuk bersiap-siap pergi. Pandangan Sachi teralihkan ketika melihat Emi baru saja keluar dari rumah Ren. Sejenak, kedua gadis itu saling memandang.
"Ohayou!" Sachi menyapa Emi sambil tersenyum. Sayangnya, gadis itu langsung melengos dengan wajah yang angkuh.
Tak mendapatkan respon yang baik, Sachi pun menaiki sepedanya dan langsung pergi. Sepanjang jalan ia tampak bernyanyi kecil sambil terus mengayuhkan sepadanya. Keceriaannya yang sempat hilang, kini telah kembali hari ini.
Tiba-tiba, sebuah motor sport berwarna merah melaju kencang melewatinya. Sachi sempat menangkap sosok yang menaiki motor itu. Ya, siapa lagi kalau bukan tetangga barunya dengan gadis yang baru saja ia tegur.
"Apakah gadis itu adiknya?" Sachi tampak berpikir sejenak. Seingatnya, malam itu gadis tadi datang terpisah dengan pria itu. Ia juga ingat, pria itu merangkul gadis tadi dengan mesra. "Mereka tidak terlihat seperti kakak beradik, apa mungkin sepasang kekasih?" pikirnya kembali. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata kenapa dia harus pusing memikirkan mereka.
Waktu begitu cepat bergulir, hingga tak terasa malam telah datang. Sachi kembali ke rumahnya. Dia meminggirkan sepedanya. Kemudian, membuka ponselnya ketika mendengar suara pemberitahuan pesan masuk yang ternyata dari kakaknya.
^^^Onii-chan. 07.00 PM^^^
^^^Aku dan Shohei akan datang satu jam lagi.^^^
^^^Tolong buatkan masakan yang spesial, ya?^^^
^^^Read^^^
Sachi tersenyum sambil membalas pesan kakaknya. Ketika ia hendak membuka pintu, tiba-tiba sebuah tangan muncul dan bersandar di daun pintu. Gadis itu tersentak, tetapi langsung melarikan matanya ke samping. Ia makin terkejut begitu melihat Ren berdiri tepat di sampingnya sembari melempar sunggingan tipis.
"Ada ... perlu apa?" tanya Sachi sedikit gugup.
Tanpa basa-basi, Ren meletakkan ujung telunjuknya di tengah bibirnya sendiri. "Aku datang untuk menagih permintaan maafmu," ucapnya santai.
Jawaban Ren, sontak membuat gadis itu membelalakkan matanya.
.
.
Catatan penulis:
Imouto: Adik perempuan
onii-chan: kakak laki-laki
ohayou: selamat pagi
baka: Bodoh
belom greget karna konfliknya belom muncul 😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 139 Episodes
Comments
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
sak aja bang ren bikin deg²an... 🤣🤣
2024-10-15
0
🐥Yay
Ya tuhan
2024-09-09
0
Hearty 💕
Berusaha sekali ..... Sachi tergerak kah hatimu
2024-07-14
0