Selepas ibu-ibu undur diri dari rumah Suzy, Suzy menghela tubuhnya dari tempat tidur kemudian merayap ke ruang dapur untuk mengganti air panas dalam botolnya. Lalu memeriksa seisi rumah untuk mencari ibunya.
Tapi ibunya tak ada di rumah seperti biasa.
Suzy tak pernah tahu ke mana saja ibunya pergi setiap harinya. Dan ia merasa tak perlu tahu.
Ia hanya berharap saat ia sakit ibunya tidak pergi terlalu jauh. Tapi harapannya jelas takkan pernah terwujud mengingat kebiasaan ibunya tak pernah tahan berada di rumah dan berpapasan dengan Suzy sepanjang waktu.
Ibunya selalu menghindari komunikasi dengan Suzy. Bahkan ketika ia sedang berada di rumah pada malam hari, ibunya lebih memilih mengurung diri di dalam kamar dan hanya akan memanggilnya saat diperlukan. Itu pun menggunakan nada bicara yang tak pernah enak untuk didengar.
Dan Suzy tidak pernah tahu apa sebabnya!
Begitu Suzy kembali ke kamarnya, gadis itu kembali menjerit mendapati genangan darah sudah membanjir di tempat tidurnya. Ia meliukkan tubuhnya untuk melihat bagian belakang tubuhnya dan merabanya.
Gadis itu menjerit lagi.
Seorang tetangganya terdengar panik mendengar jeritannya. tak lama suara-suara langkah kaki berdebam mendekat ke arah rumahnya. "Suzy?!" Suara seorang wanita memanggilnya dari luar rumah, kemudian mendesak masuk ke dalam rumah Suzy dengan langkah-langkah lebar.
Tak lama kemudian wajah cemas Iis muncul di ambang pintu kamarnya. Iis adalah kakak perempuan Ais yang paling muda.
Suzy tergagap menatap Iis, tak tahu bagaimana memulai ceritanya. Ia menatap telapak tangan dan tempat tidurnya secara bergantian dengan sikap gusar. Lalu tercengang memandangi genangan darah di tempat tidurnya.
"Kenapa?" Iis melangkah ke dalam kamar Suzy, berusaha mencari tahu apa yang sedang dilihat Suzy.
Tak lama ia memicingkan mata ke arah tempat tidur Suzy kemudian menggeleng seraya tersenyum. "Ssshh..." Iis menempelkan telunjuk di bibirnya. "Tidak apa-apa," bisiknya seraya mengusap-usap bahu Suzy dan menepuknya sekali. "Itu normal!"
Suzy menelan ludah kemudian melengak. Ia menatap wajah Iis tak mengerti.
Suzy dan Iis sebetulnya teman satu angkatan di SMP. Iis dan Dini adalah sahabat baik Suzy. Usia ketiganya sepantaran. Hanya pertumbuhan mereka saja yang berbeda. Pertumbuhan Suzy jauh lebih lambat dari yang seharusnya.
"Itu tanda kamu sudah puber," bisik Iis lagi dengan wajah berbinar senang.
"Maksudnya..." Suzy masih tercengang belum mengerti.
"Sudah bersihkan saja. Jangan sampai ketahuan orang lain!" Iis menempelkan telunjuk pada bibirnya sekali lagi, kemudian mengedipkan sebelah matanya. "Aku masih ada cadangan pembalut, nanti aku bawakan. Sekarang kamu benahi dulu tempat tidurnya!"
Suzy menggigiti bibir bawahnya dengan sikap gusar. "Maksudnya aku menstruasi?" Suzy bertanya ragu. "Bukan--"
Iis mengawasi wajah Suzy dengan alis bertautan. "Bukan apa?"
Suzy menelan ludah dengan susah payah kemudian membuka mulut dan kembali tercengang. Haruskah aku menceritakannya pada Iis? Ia ragu-ragu. Bagaimana pun juga Iis sudah menikah, katanya dalam hati. Dia pasti lebih mengerti.
Setelah lulus SMP, Iis memang memutuskan untuk menikah. Itu sebabnya ia tak bisa lagi bersama Suzy mau pun Dini. Tapi bukan berarti ia tak peduli. "Bukan apa?" Iis mengulangi pertanyaannya. "Pecah selaput dara?" Iis menyeringai saat mengatakannya.
Membuat Suzy sontak tersipu.
"Ya ampun, Suzy..." Iis mengusap-usap pelipisnya sendiri sembari tertawa. "Jangan khawatir. Pecah selaput dara, darahnya tak sebanyak itu." Iis menjelaskan.
"Tapi tadi pagi hanya sedikit," ungkap Suzy dengan tampang bingung.
Iis menanggapinya dengan cengengesan. "Awalnya semua juga begitu," tukasnya halus. Setelah itu Iis mengamati Suzy penuh selidik, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy. "Memangnya Suzy habis--" Iis menggerak-gerakan jari tengah dan telunjuknya membentuk tanda kutip.
Suzy memaksakan senyumnya tapi tak berani memandang wajah Iis. Aku tak mungkin menceritakan soal Arya, batinnya getir. Otot perutnya kembali menegang mengingat perbuatan Arya tadi malam. Membuatnya sontak meringis.
"Aku mau ambil pembalut!" Tanpa pikir panjang, Iis bergegas meninggalkan kamar Suzy.
Sementara Suzy masih membeku mengamati noda darah yang menggenang di tempat tidurnya. Perutnya kembali mengeras, tapi ia memaksa dirinya untuk mengangkat seprai itu dan menggantinya.
Setelah Iis memberinya pembalut, Suzy merayap ke ruang belakang, menyiapkan ember dan peralatan mandi, kemudian bergegas ke sumur yang letaknya cukup jauh dari rumah Suzy.
Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, Suzy harus pergi ke sumur karena rumahnya tidak dilengkapi pompa air mau pun sumur pribadi. Rumah Suzy juga tidak memiliki kamar mandi. Untuk kebutuhan memasak saja, Suzy harus mengangkut air dari sumur yang berbeda, yang jaraknya lebih jauh lagi di banding sumur biasa untuk mandi dan mencuci.
Letak sumur air minum berada jauh di dalam hutan, tempat biasa ia mencari kayu bakar. Dan tempat itu sedang tidak aman sekarang.
Suzy mengerang, memegangi perutnya ketika ia menurunkan seember pakaian dan sebakul perabotan kotor. Pelipisnya berdenyut selama tubuhnya merunduk menahan perutnya. Tapi ketika ia berusaha meluruskan tubuhnya, penglihatannya sontak memburam dan berputar-putar. Membuat dirinya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.
Sepasang tangan kokoh tahu-tahu menahan tubuhnya dari belakang.
Rasanya aku sudah mengenal sentuhan tangan ini, kata Suzy dalam hati. Tapi tak sedikit pun ia berusaha mengelak. Atau sekedar menoleh untuk memastikan sosok di belakanganya. Penglihatannya saja masih berkunang-kunang. Perhatiannya selalu tepat waktu, batinnya. Bagaimana bisa aku menghindarinya?
Tiba-tiba seseorang menjerit dari jalan setapak yang menjadi satu-satunya akses menuju sumur itu.
Seketika rangkulan di belakang Suzy terlepas dan menghilang. Suzy bahkan belum sempat melihat sosok di belakangnya karena penglihatannya baru saja pulih.
"Kerud! Kerud....!" Jeritan di jalan setapak itu terdengar menjauh.
Serentak Suzy melonjak dari tempatnya kemudian melesat ke arah sumber suara itu. Suaranya seperti Dini, katanya dalam hati. Bulu kuduknya sontak meremang seiring hawa dingin yang merambat pada punggungnya. Jantungnya berdegup kencang bersamaan dengan napasnya yang mulai memburu tak beraturan. "Dini..." Suzy memanggil sahabatnya dengan napas tersenggal. Lututnya sudah mulai gemetar tak terkendali. Dan otot perutnya otomatis mengeras lagi.
Dini berlari tertatih-tatih, tak jauh di depan Suzy. Dilihat dari gerakannya, terlihat jelas bahwa lutut gadis itu juga tak kalah gemetar dari lutut Suzy.
"Dini!" Suzy berusaha memanggilnya lagi. Tapi dadanya serasa ingin meledak ketika ia mencoba berteriak.
Sejumlah pria dewasa kemudian menghambur ke arah sumur dan berpapasan dengan Dini. "Mana kerud?" Mereka bertanya serentak dan bersahut-sahutan.
Dini tergagap-gagap, antara ketakutan dan kelelahan karena berlari. " Di sumur," jeritnya. "Di belakang Suzy!"
Jawaban itu jelas membuat Suzy tersentak menghentikan langkah. Ia menelan ludah dan menatap Dini dengan mata terbelalak.
Tak lama kemudian Dini menoleh ke belakang dan menyadari keberadaanya. Gadis itu pun menghambur ke arah Suzy dan memeluknya. "Untunglah," katanya di antara isak tangisnya. "Kamu tidak apa-apa kan?" Ia bertanya sembari meraba-raba tubuh Suzy memeriksa keadaanya.
Suzy masih membeku tak dapat mencerna apa yang sedang terjadi. Pikirannya mendadak berlarian ke sana ke mari. Apa tadi bukan Arya? Suzy bertanya-tanya dalam hatinya. Mendadak ia bergidik dan memegangi tengkuknya. Tidak mungkin, batinnya. Tadi terasa nyata seperti sepasang tangan dan bukan cakar. Apakah Arya jelmaan siluman macan kumbang? Tidak, bantahnya dalam hati. Memikirkannya saja sudah membuat dirinya ingin menjerit dan menggantung dirinya. Ia tak sanggup membayangkan pria yang selama ini begitu intim dengan dirinya ternyata hanya seekor macan kumbang. Tidak. Kumohon jangan Arya!
"Ayo kita pulang saja!" Dini merenggut lengan Suzy dan menariknya.
Tapi kemudian Suzy ingat ia masih harus mencuci darahnya. "Aku--"
"Ayo pulang," jerit Dini histeris. Tak lama gadis itu kembali menangis.
"Tapi, cucianku masih di sumur. Kamu pulang saja duluan," kata Suzy terbata-bata. Masih terkejut dengan reaksi Dini barusan. Dini pasti sangat ketakutan, batinnya.
"Pulang, Suzy... Pulang..." Dini semakin meradang.
Bersamaan dengan itu, Papa Tibi kemudian muncul dengan wajah gusar. "Ada apa?"
"Kerud!" Dini menjawab refleks dengan berteriak.
"Pulang! Pulang!" Papa Tibi mendesak kedua gadis itu memerintahkan mereka untuk segera pulang.
"Tapi, Pa..." Suzy memprotes. "Cucian masih di sumur!"
"Kalau begitu Dini pulang duluan, biar Suzy Papa temani!" Papa Tibi mengusulkan.
"Tuh, tidak apa-apa kan, Din? Sudah ada Papa Tibi." Seketika perasaan Suzy sedikit membaik mendapat pembelaan seperti itu.
Tak lama kemudian orangtua Dini juga muncul dengan wajah lebih panik.
Hanya ibuku rupanya yang tidak ingin tahu apa yang terjadi, batin Suzy getir. Tapi kemudian ia menepis kepahitannya dan memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dari Dini dan kembali ke sumur. lalu Papa Tibi mengayomi di belakangnya.
Bagaimana pun situasinya, kehadiran Papa Tibi selalu berhasil membuat Suzy merasa aman dan terlindungi. Dan saat itu, Suzy bahkan masih sempat menyelesaikan semua pekerjaannya, mencuci perabot dan pakaian juga seprai sampai ia membersihkan dirinya. Dan selama itu, tak sedikit pun orangtua itu terlihat keberatan menunggu Suzy menyelesaikan semuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
hanz
di usia SMU baru mendapat periode pertamanya ?
2024-11-29
0
dyz_be
Ibunya bukan sih?
Setidak peduli itu...
😕😕😕
2022-07-15
1
Bebi Kay
baik ya papa Tibi
2021-09-20
1