TEEEEEEEEEEEEEEENG...!!!
Suaranya begitu dekat, kata Suzy pada dirinya sendiri.
Ia berjalan merunduk dan mengendap-endap di balik semak tanaman anak nakal yang berderet memagari halaman rumah Van Til.
Sesekali ia mengintip melalui celah dahan tanaman itu untuk memastikan posisi pria yang sedang mengejarnya.
Tinggal sedikit lagi, ia menyemangati dirinya. Dan aku akan sampai di Gardu Lonceng.
Begitu ia merasa yakin semuanya aman, ia pun berlari sekuat tenaga melewati pekarangan Rumah Van Til.
Tepat di depan pintu masuk Rumah Van Til seseorang menyergapnya, Suzy kehilangan keseimbangan dan tersungkur di rumput basah. Ini pasti sudah dini hari, pikir Suzy.
Rumput di pekarangan rumah Van Til sudah sepenuhnya dibasahi embun.
Suzy menggeliat-geliat dibawah tekanan si penyerang. Mulutnya dibekap erat.
“Sssssssttttt......!” Si penyerang menempelkan telunjuk di bibirnya.
“Agustiiiiiiiiiiiiiiiiiin.........!!!” Suzy menggeram seraya memelototi sahabatnya. Tapi karena mulutnya dibekap suaranya hanya terdengar seperti singa tua yang sedang menggumam.
“Dengar, ini penting! Ssssstt....!!!” Agustin memperingatkan Suzy sebelum melepaskannya.
Tunggu saja sampai aku bisa menghajarmu, ancam Suzy dalam hati.
“Kita harus pergi dari sini,” kata Agustin, masih berbisik-bisik.
Dengan menggeram Suzy menjambak rambut Agustin.
“Adadadadadadadaaahhhh....... Ampun! Ampun!” Agustin berusaha melepaskan tangan Suzy dari rambutnya. “Ini serius, penting sekali! Tapi kita harus pergi dulu dari sini secepatnya.” Diseretnya tangan Suzy setengah berlari menuju sisi pekarangan rumah Van Til. Lalu bersembunyi di balik pagar tanaman anak nakal.
“Kau habis makan apa sih?” Lagi-lagi pertanyaan konyol yang tak penting yang keluar dari mulut Suzy setiap kali keadaan mulai genting.
“Ini bukan soal makanan,” jelas Agustin. “Ini soal Papa Tibi. Kau tak bakal percaya, Suzy!”
Suzy melotot lagi, “apa maksudnya?” Suzy benci hal yang bertele-tele. “Apa? Apa? Papa Tibi membawakanmu menu makan pagi terlalu cepat?” Suzy mulai tak sabar.
Makanan lagi, pikir Agustin kesal. “Papa Tibi adalah salah satu dari mereka, Suzy!”
“Bagus!” Suzy mengerang.
“Aku tak main-main, t.o.l.o.l!” Giliran Agustin sekarang yang menggeram dan melotot.
Suzy membeku.
“Sorry! Tapi ini benar,” kata Agustin melembut.
Suzy diam saja. Matanya menatap tajam ke wajah Agustin.
Agustin mulai gugup dan kehilangan kata-katanya.
“Kau benar,” kata Suzy akhirnya. “Aku juga salah satu dari mereka!” Wajah Suzy berubah dingin dan keras.
Dan sekarang giliran Agustin yang membeku. Ditatapnya Suzy yang bersidekap dengan sikap tak bersahabat. Agustin tersenyum masam dan menggeleng.
“Kau tak percaya, kan?” Suzy tersenyum sinis.
Agustin menggeleng lagi.
“Ya, aku juga tidak!” Suzy memutar tubuhnya dan berjalan dengan langkah-langkah lebar.
“Hei!” Agustin tergagap. Ia mencoba menangkap tangan Suzy tapi tak berhasil. Lalu ia pun memutuskan untuk mengikutinya saja.
Suzy berjalan keluar dari persembunyian mereka tanpa ragu. Tampak nekat dan putus asa.
“Okay,” bujuk Agustin. “Sorry, aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Aku tahu kau menyayangi Papa Tibi...”
Serentak Suzy memutar tubuhnya menghadapi Agustin.
Agustin terkejut dan mematung. “I’m Sorry...!” Agustin berbisik lirih.
Suzy meremas rambutnya dan menggeram frustasi sebelum akhirnya menjatuhkan dirinya di teras samping Rumah Van Til.
Dasar anak perempuan, cemooh Agustin dalam hati. Agustin berjongkok di samping Suzy yang tertunduk gemetar. “Kendalikan dirimu, Suzy!”
Suzy menundukkan kepalanya semakin dalam.
“Tak peduli bagaimana nantinya peristiwa ini berakhir, kita tetap harus bertindak. Please!” Agustin meremas pundak sahabatnya, berusaha menguatkannya.
Suzy menghela napas dalam dan menghembuskannya. Lalu kembali berdiri. "Aku akan menemui Papa Tibi!" Ia memutuskan. Meski benar Papa Tibi menjadi salah satu dari mereka, aku tak harus kuatir Papa Tibi melukaiku, katanya dalam hati.
"Tapi..." Agustin tergagap.
Suzy berbalik dan menatap tajam ke arah Agustin. "Papa Tibi takkan membunuhku, Agustin!"
Agustin menelan ludah. Mengingat kejadian tadi rasanya memang sulit dipercaya Orang tua itu memburu kemenakannya sendiri seolah kemenakannya adalah musuhnya. Tapi hal itu terjadi karena Papa Tibi tidak tahu siapa yang sedang ia buru. Suzy benar, pikir Agustin akhirnya. Papa Tibi takkan membunuh kemenakannya sendiri hanya karena ia mengendap-endap di tempat gelap. "Baik," kata Agustin memperlembut suaranya. "Kita ke gardu lonceng sekarang!"
Lalu keduanya berjalan berdampingan tanpa saling bicara.
..._...
TEEEEEEEEEEEEEENG....!
Suara lonceng itu mendengking lebih dekat lagi dan tepat di depan mereka. Membuat kepala mereka merayang seperti bukan sedang dalam kenyataan.
Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ledakan cahaya berwarna kuning berpendar dalam penglihatannya. Gadis itu berusaha memfokuskan pandangannya, tapi yang dilihatnya masih cahaya kuning.
Agustin menghentikan langkahnya di belakang Suzy. Ia juga melihat cahaya kuning berpendar di kejauhan.
Ini bukan sekedar penglihatan, pikir Suzy.
Di depan mereka memang ada cahaya kuning kemerah-merahan seperti bara api.
Tak lama kemudian Suzy Yan juga menghentikan langkah, kemudian bergerak mundur beberapa langkah. "Ada api unggun di depan gardu lonceng," desisnya gugup.
Agustin menghela napas dan menenangkan diri, lalu mendekat ke arah sahabatnya. "Itu mungkin Papa Tibi yang membuatnya," komentarnya.
Suzy menghembuskan napas lega. Benar juga, pikirnya. Kenapa aku mendadak ketakutan hanya karena melihat api unggun di depan gardu lonceng. Tentu saja Papa Tibi yang membuatnya. Ia berjaga sepanjang malam tanpa penerangan. Baik Papa Tibi mau pun Pak Saman, selalu membuat api unggun setiap malam selama berjaga.
Dengan langkah yakin keduanya kembali berjalan beriringan menuju gardu lonceng itu.
Tak lama terdengar suara gamelan dari gardu lonceng itu.
Suzy memicingkan mata, berusaha memfokuskan pendengarannya.
Semakin lama suara gamelan itu terdengar semakin dekat. Tapi mungkin Papa Tibi sedang menyalakan radio. Papa Tibi memang selalu membawa radio saat berjaga.
Tapi suara gamelan itu tidak terdengar seperti dari radio.
Suzy melirik ke arah Agustin untuk memastikan apakah ia juga mendengarnya.
Agustin mengerutkan dahi dan melirik ke arah Suzy.
Tatapan Agustin membuat Suzy menelan ludah. Seketika bulu kuduk gadis itu meremang. Bukan radio, pikirnya ngeri.
Lalu kedua remaja itu tercengang menatap apa yang ada di depannya.
Sekelompok besar orang berpakaian tradisional tengah berkerumun di seputar api unggun lengkap dengan gamelan dan membentuk lingkaran.
Seorang pria berpakaian wayang beraksi di tengah-tengah kerumunan dan bermain atraksi dengan api.
Dalam sekejap, tiba-tiba suasana di pekarangan rumah Van Til terasa seperti perayaan mistis.
Ini pasti mimpi, pikir Agustin.
Barangkali sejak awal semua kejadian ini memang hanya mimpi.
Semua pengalamannya sepanjang malam terjadi di luar nalar. Tidak ada penjelasan yang paling masuk akal kecuali semuanya hanya mimpi.
Suzy mematung dengan wajah pucat dan tak sanggup berpikir logis.
Sebelum keduanya pulih dari rasa terkejutnya, seorang pria berbadan besar yang sejak tadi sibuk unjuk atraksi menghampiri mereka dan menarik tangan keduanya ke tengah kerumunan.
Lalu keduanya mengikuti pria itu ke tengah-tengah lingkaran tanpa berkedip, seperti terhipnosis.
Suara gamelan itu mendadak meninggi dan berubah semakin cepat.
Orang-orang di sekeliling mereka menggumamkan semacam mantra yang disenandungkan.
Kobaran api di depan mereka meretih-retih dan semakin membesar seiring gamelan yang semakin cepat.
Semakin cepat gamelannya semakin besar nyala apinya berkobar.
Suzy meronta ketika empat orang pria maju ke tengah lingkaran dan memegangi mereka berdua. Masing-masing dipegangi dua orang pria berbadan kekar. Mendadak keduanya menyadari apa yang akan dilakukan orang-orang berpakaian tradisional itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
hanz
mencekam sekali. sulit dibedakan mana alam nyata mana alam ghaib.
2024-11-29
0
adi_nata
akan dijadikan tumbal kah ?
2023-11-01
0
BunBura Anariva
Kental adat Jawa
2021-11-07
1