Kesurupan Massal

"Dasar bodoh!" Suzy menggerutu. "Kenapa kau menjerit?" Ia bertanya setengah mengumpat.

"Karena kau menjerit-jerit!" Ais balas mengumpat.

"Rrrr...." Suzy menggeram.

Ais meletakkan cangkir teh di atas meja berbahan bambu di ruang tamu rumah Suzy. Lalu kembali menoleh ke belakang punggungnya penasaran.

Suzy masih melotot ke belakang Ais.

Anak kecil yang ada di dalam mimpi Suzy sekarang bersembunyi di belakang punggung Ais. Ia mengenakan gaun putih kumal dan tinggi badannya hanya sebatas dada Ais.

Anak ini berbeda dengan yang dilihat Suzy saat ia siuman. Anak inilah yang tadi ia lihat mengendap-endap di pekarangan belakang. Sebelah tangannya yang tersembunyi di belakang punggunya, perlahan bergerak naik dan mengacungkan pisau ke arah Ais.

"Tidaaaaaaakkk...!" Suzy menjerit.

Membuat ibunya memekik dan menyeruak ke dalam rumah. Disusul kedua kakak perempuan Ais di belakangnya.

"Ada apa?" Kakak perempuan tertua Ais bertanya dengan suara melengking.

Ais melengak saja menanggapinya.

Suzy tergagap-gagap seraya menunjuk-nunjuk ke belakang Ais. Kemudian melolong ketika Suzy menyaksikan Anak Teror itu menancapkan pisaunya ke punggung Ais.

Tak lama kemudian Ais memekik dan menggeliat-geliut. Tubuhnya menghentak-hentak kemudian jatuh ke lantai dan menggelepar seraya menggeram.

Suzy menangis seraya menghambur ke arah Ais.

Anak perempuan tadi mendadak hilang dari tempatnya setelah menusuk Ais dengan pisaunya.

Kedua kakak perempuan Ais menghambur mengerumuni Ais. "Ais!" Kakak tertuanya mengguncang-guncang tubuh Ais dengan sikap gusar.

Tak lama kemudian orang-orang berdatangan ke rumah Suzy, menanyakan apa yang sedang terjadi. "Suzy kesurupan lagi?"

"Bukan Suzy," jawab Ibunya. "Ais!"

"Ais juga kesurupan?" Beberapa orang menyeruak ke dalam rumah Suzy, sebagian lagi berkerumun di pekarangan dan beberapa orang lainnya sudah berjejal di depan pintu.

"Teteh keluar!" Ibunya menarik tangan Suzy menjauh dari Ais.

Suzy menepiskan tangan ibunya sambil menangis.

"Nanti teteh kambuh juga!" Ibunya menghardiknya.

Dengan terpaksa akhirnya Suzy menuruti ibunya. Lalu berjalan keluar dengan langkah gemetar. Ais, tangisnya khawatir.

Tak lama Dini muncul menyeruak kerumunan dengan napas terengah-engah. Lalu menghampiri Suzy dengan wajah panik. "Kamu tidak apa-apa?" Ia bertanya dengan dada turun-naik tak teratur.

Suzy menggeleng seraya mengusap kedua matanya dengan telapak tangan. "Ais," isaknya.

Dini merangkul bahunya dan menenangkannya. "Tidak apa-apa," katanya masih ngos-ngosan. "Sudah ada ayahnya!" Dini memberitahu.

Suzy melirik ke arah pintu masuk dan melihat ayah Ais sedang bergegas ke dalam rumah.

Tiba-tiba Suzy melihat anak perempuan itu lagi.

Anak Teror yang senang menyeringai. Kali ini anak perempuan itu bersembunyi di belakang punggung anak perempuan berumur delapan tahun yang sedang berdesak-desakan dengan ibu-ibu di depan pintu.

"Tidaaaakkk....!" Suzy melolong seraya menghambur ke arah anak perempuan itu. Tapi ia terlambat.

Anak Teror itu sudah menancapkan pisaunya di pinggang anak perempuan delapan tahun tadi.

Detik berikutnya kemudian anak perempuan delapan tahun itu pun menggelepar dan menggeram-geram.

Membuat suasana di rumah Suzy menjadi semakin gaduh.

Sebagian orang mulai menggumamkan doa-doa, sebagian lagi memekik ketakutan sebagian lagi berbicara setengah berteriak menginstruksikan banyak hal satu sama lain.

Suzy menjerit-jerit saking ketakutan.

Sekarang sudah lebih dari dua orang anak yang ikut kerasukan. Membuat suasana di rumahnya terdengar seperti dilanda angin ribut.

Orang-orang semakin banyak berdatangan memenuhi pekarangan rumah Suzy. Dan hal itu justru membuat korban semakin banyak berjatuhan. Membuat Suzy tak mampu lagi menahan pekik tangisnya.

Setiap kali Anak Teror itu menghujamkan pisaunya pada seseorang, orang itu selalu kerasukan. Dan celakanya hanya Suzy yang bisa melihatnya tanpa mampu mencegah. Semakin lama, Anak Teror itu bergerak semakin cepat. Seperti sengaja mengecoh dan mempermainkan Suzy.

Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak anak yang kerasukan setiap detiknya.

Suara-suara anak perempuan yang tertawa-tawa seperti dalam mimpinya mulai memenuhi udara di sekitarnya. Seperti sedang mengejeknya.

Seseorang, siapa saja, tolong!

Lebih dari dua puluh anak kerasukan dalam waktu bersamaan, dan Ais bahkan belum sadarkan diri di dalam rumah Suzy.

Anak-anak yang kerasukan itu serentak menggumamkan sesuatu mirip mantera yang disenandungkan. Dan hal itu dilakukan mereka berulang-ulang secara bersamaan. Sesekali mereka juga tertawa bersamaan. Mengeluarkan suara tawa yang sama seolah mereka sedang bermain bersama-sama.

Lalu tiba-tiba saja suara mereka berhenti serentak. Membuat keheningan yang terlalu mendadak.

Semua orang tercengang, tak berani mengeluarkan suara.

Ada apa ini?

Pertanyaan itu muncul serentak di dalam kepala semua orang. Tapi tak satu pun mengeluarkan suara.

Seketika waktu terasa terhenti beberapa saat, ketika Suzy mendapati seraut wajah yang sudah dikenalnya muncul dari belakang kerumunan orang banyak. Setiap langkahnya seperti mengontrol seluruh gerakan di semua tempat. Kibasan rambutnya yang hitam mengkilat terlihat seperti sabetan pedang bermata dua. Dan lecutan jubahnya seperti badai yang menepis debu.

"Namaku Arya Tunggal!" Pria itu mendesis di telinga Suzy.

Suzy masih tergagap memandangi pria itu. Kenapa aku selalu membeku setiap kali berhadapan dengan pria ini?

"Katakan pada ayahmu untuk mengembalikan waktu," desis pria itu sekali lagi, sebelum tubuhnya menghilang di tengah kerumunan.

"Aku tidak punya ayah!" Suzy sebetulnya tidak bermaksud berteriak saat ingin mengatakannya. Tapi ia terlalu bersemangat dan akhirnya memancing semua orang menoleh kepadanya.

"Kamu kenapa?" Dini bertanya setengah berbisik di sampingnya.

"Maaf," katanya seraya mengedar pandang. Dan menyadari satu hal yang menyakitkan hatinya. Pria itu, batinya getir. Tak seorang pun melihat pria itu kecuali dirinya.

Pria itu menatapnya dari depan pintu rumahnya dengan mata berbinar-binar. "Aku takkan lama," katanya. Lalu melangkah masuk ke dalam rumah Suzy.

Perlahan-lahan suasana terdengar normal kembali.

Anak-anak dan remaja yang kerasukan sudah sadarkan diri semuanya. Tapi tak seorang pun tahu apa sebabnya.

Mereka semua kerasukan serentak dan sadar bersamaan tanpa sebab.

"Jo...!" Suzy mendengar suara Agustin memanggilnya entah dari mana.

Orang-orang banyak masih berkerumun di pekarangan rumah Suzy. Sebagian masih bertanya-tanya apa yang terjadi. Sebagian sudah mulai terlihat berbincang-bincang ringan. Sebagian sudah bersiap untuk pulang. Sebagian melontarkan pandangan sinis dan berbisik-bisik.

Tak lama kemudian sosok Agustin akhirnya muncul di sampingnya.

Dini juga masih berada di sana saat Agustin datang.

"Apa kau sedang membuka bazar?" Agustin bertanya seraya mengedar pandang mengamati orang-orang banyak itu.

"Ais kerasukan," cerita Suzy.

"Kok bisa?" Agustin tercengang.

Reaksi itu jelas membuat Suzy sedikit heran.

"Ais kan anak setan?!" Agustin berkelakar.

Dini tergelak mendengar kelakar Agustin. "Ayo kita lihat Ais ke dalam," ajaknya pada Suzy dan Agustin.

Lalu keduanya mengekor di belakang Dini seolah Dini adalah tuan rumahnya.

Terpopuler

Comments

dyz_be

dyz_be

Lanjut...

2022-07-13

1

Kleber Yanez

Kleber Yanez

Gak kebayang kalo orang dewasanya juga ikut kesurupan 😕

2021-11-07

1

Bebi Kay

Bebi Kay

tuh, temennya aja bilang Ais anak setan 😂
hadeh... Ais... i padamu pokoknya

2021-09-20

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog
2 Satu Sampai Sepuluh
3 Lonceng Ke-13
4 Ladang Van Til
5 Kita Terjebak, Ada Ide?
6 Kita Adalah Tim Yang Hebat!
7 Siapa Mereka?
8 Siapa Lagi Yang Bisa Diandalkan Sekarang?
9 Gardu Lonceng
10 Akhir Ritual Api Unggun
11 Anak Teror
12 Sebenarnya...
13 Akhir Pekan Di Hutan
14 Kesurupan Massal
15 Metamorfosa
16 Putih Abu-Abu
17 Waktunya Bicara
18 Selap
19 Puber
20 Cerita Ini Menjadi Semakin Menarik!
21 Siapa Sebenarnya Arya Tunggal?!
22 Salam kenal, Arya Tunggal!
23 Bagaimana Menjelaskannya?
24 Ada Apa Dengan Waktu?
25 Bagaimana Caranya Mengubah Waktu?
26 Pamali
27 Melanggar Tabu
28 Pancaroba
29 Pemugaran
30 Parameter
31 Baca Juga!
32 Alinea Baru
33 Adaptasi
34 Fenomena
35 Mitos
36 Pupuh Kinanti
37 Tiga Bangku Dari Bangku Ujung
38 Liabel
39 Warisan
40 Sambekala
41 Cerita Hantu
42 Su Si
43 Histéria
44 Trance
45 Mala
46 Akhir Hayat Si Kucing Hitam
47 Pengumuman!
48 Penghuni Baru Rumah Van Til
49 Takhayul
50 Siluman Macan Kumbang
51 Satu Tahun Kemudian
52 Koleksi Antik Wanita Tua
53 Mandor Besar
54 Misteri Mata Hijau Leo
55 Gejala Tak Beres
56 Trauma
57 Pagi Dan Malam
58 Bukan Leo
59 Merayan
60 Majenun
61 Visi
62 Bukan Akhir Cerita
63 Jadi, siapa Leo sebenarnya?
64 Regenerasi
65 Tujuh Tahun Kemudian...
66 Satu Malam Di Negeri Dongeng
67 Sebelum Fajar Menyingsing
68 Please, Jangan Tampah Lagi!
69 Napak Tilas
70 Matahari Jingga
71 Terjerumus Dalam Lubang Yang Sama
72 Semua Hal Gelap
73 Semesta Yang Berbeda
74 Purwarupa
75 Biografi
76 Manifestasi Mistik
77 Panik
78 Epilog
Episodes

Updated 78 Episodes

1
Prolog
2
Satu Sampai Sepuluh
3
Lonceng Ke-13
4
Ladang Van Til
5
Kita Terjebak, Ada Ide?
6
Kita Adalah Tim Yang Hebat!
7
Siapa Mereka?
8
Siapa Lagi Yang Bisa Diandalkan Sekarang?
9
Gardu Lonceng
10
Akhir Ritual Api Unggun
11
Anak Teror
12
Sebenarnya...
13
Akhir Pekan Di Hutan
14
Kesurupan Massal
15
Metamorfosa
16
Putih Abu-Abu
17
Waktunya Bicara
18
Selap
19
Puber
20
Cerita Ini Menjadi Semakin Menarik!
21
Siapa Sebenarnya Arya Tunggal?!
22
Salam kenal, Arya Tunggal!
23
Bagaimana Menjelaskannya?
24
Ada Apa Dengan Waktu?
25
Bagaimana Caranya Mengubah Waktu?
26
Pamali
27
Melanggar Tabu
28
Pancaroba
29
Pemugaran
30
Parameter
31
Baca Juga!
32
Alinea Baru
33
Adaptasi
34
Fenomena
35
Mitos
36
Pupuh Kinanti
37
Tiga Bangku Dari Bangku Ujung
38
Liabel
39
Warisan
40
Sambekala
41
Cerita Hantu
42
Su Si
43
Histéria
44
Trance
45
Mala
46
Akhir Hayat Si Kucing Hitam
47
Pengumuman!
48
Penghuni Baru Rumah Van Til
49
Takhayul
50
Siluman Macan Kumbang
51
Satu Tahun Kemudian
52
Koleksi Antik Wanita Tua
53
Mandor Besar
54
Misteri Mata Hijau Leo
55
Gejala Tak Beres
56
Trauma
57
Pagi Dan Malam
58
Bukan Leo
59
Merayan
60
Majenun
61
Visi
62
Bukan Akhir Cerita
63
Jadi, siapa Leo sebenarnya?
64
Regenerasi
65
Tujuh Tahun Kemudian...
66
Satu Malam Di Negeri Dongeng
67
Sebelum Fajar Menyingsing
68
Please, Jangan Tampah Lagi!
69
Napak Tilas
70
Matahari Jingga
71
Terjerumus Dalam Lubang Yang Sama
72
Semua Hal Gelap
73
Semesta Yang Berbeda
74
Purwarupa
75
Biografi
76
Manifestasi Mistik
77
Panik
78
Epilog

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!