TEEEEEEEEEEEEENG...!!!
“Sepuluh,”
TEEEEEEEEEEEEEENG....!!!
“Sebelas,”
TEEEEEEEEEEEEEEEEEEENG.....!!!
“Tiga belas!” Begitulah kebiasaan Agustin menghitung lonceng kedua belas pada malam hari, setiap kali mereka berkumpul di rumah Suzy.
“Berangkaaaaaaaaat....!!!” Ais menimpali.
Suzy, Agustin dan Ais kemudian tertawa sejadi-jadinya, bersamaan dengan meredupnya lampu-lampu di semua rumah.
Teeeeng...!!!
Diluar dugaan mereka, lonceng itu berdentang sekali lagi---begitu kecil. Kecil dan singkat di antara riuhnya tawa mereka.
Mendadak tawa mereka pun lenyap.
Agustin tercengang. Ais terperangah. Dan Suzy membekap mulutnya, khawatir ada suara yang mungkin saja keluar dari mulutnya. Hal itu dilakukannya karena ia sadar betul suaranyalah yang paling berisik diantara teman-temannya.
Untuk beberapa saat suasana hening dan gelap. Setelah mereka yakin bahwa mereka benar-benar mendengar lonceng tiga belas kali, ketiganya pun bersorak serentak dan berjingkrak-jingkrak seperti orang gila.
Satu per satu, masing-masing pemilik rumah menyalakan lampu minyak mereka, sebagian ada yang menggantungnya di teras rumah, lalu kembali hening.
Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan pergi ke Rumah Van Til malam itu. Padahal hampir seluruh penduduk di sekitar situ bekerja di perkebunan.
Ketiga remaja tadi sempat merasa heran.
Jangan-jangan Cuma lonceng jadi-jadian, pikir Suzy konyol.
Pasti karena waktunya bertepatan dengan pemadaman listrik, Agustin berkata dalam hati, tetap waras dan realistis.
Sementara Ais tidak berpikir apa-apa. Tetap polos seperti biasa---seperti bayi kalau menurut Suzy.
Mereka berjalan beriringan menuju Rumah Van Til dengan berbekal penerangan seadanya---Senter kecil dari pemantik plastik milik Agustin yang selalu dibawanya ke mana-mana---bahkan ke sekolah.
Mereka melewati rumah Ais dan akhirnya sampai di pekarangan rumah pak Saman---salah satu Centeng---penjaga keamanan dan gardu lonceng di Rumah Van Til, bergiliran dengan Papa Tibi.
Papa Tibi adalah paman kandung Suzy Yan. Dan hari itu giliran Papa Tibi yang berjaga malam. Jadi, pasti Pak Saman sedang berada di rumah malam itu.
“Mang,” teriak Ais di pekarangan rumah Pak Saman.
Mang, adalah panggilan pendek untuk paman dalam bahasa Sunda.
“Maaaaang!” Suzy ikut-lkutan.
Tidak ada jawaban atau tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Padahal malam ini Pak Saman seharusnya sedang berada di rumah.
Apakah Pak Saman dan Papa Tibi malam ini berjaga bersama?
Meskipun demikian, bukankah seharusnya istri Pak Saman berada di rumah?
Kenapa rumah ini terasa seperti tak berpenghuni?
Seketika Suzy mendadak berpikir seram. Jangan-jangan kami tersesat di alam lain. Tapi kemudian ditepisnya. Mana mungkin di Alam lain ada yang begini, katanya dalam hati seraya melirik kedua sahabatnya.
“Apa?” Agustin bertanya curiga.
Suzy hanya mengangkat bahu dan menggeleng.
Ais memandangi keduanya bergantian dengan tampang polosnya yang seperti bayi.
"Kok sepi, ya?” Agustin bertanya, lebih kepada dirinya sendiri. Hal itu ia lakukan karena ia sadar betul kedua sahabatnya takkan membantunya mendapatkan jawaban.
Saat itu mereka baru saja sampai di pekarangan Rumah Van Til yang mereka kira bakal dipenuhi antrean panjang.
Setiap habis lonceng ketiga belas, biasanya tempat itu dipenuhi pekerja perkebunan yang mengantre haknya dibagikan.
Tak peduli siang atau tengah malam, petang atau dini hari. Begitu lonceng ketiga belas didentangkan, para penduduk yang bekerja di perkebunan akan memaksa dirinya sampai lebih cepat---apapun keadaannya.
“Kurasa kita salah dengar, tadi!!” Suzy menyimpulkan.
“Kurasa hubungan kita yang bermasalah,” balas Agustin sekenanya.
Kedua sahabatnya melotot.
“Kekompakan kita sudah melewati batas,” sergah Agustin.
Ais dan Suzy semakin melotot.
“Kita boleh-boleh saja kompak, tapi kan gak harus tuli sama-sama," kata Agustin.
Ais mendengus, “ini semua salahmu!” Ais menudingkan telunjuk di hidung Agustin. "Kau suka pura-pura salah hitung, akibatnya sekarang kau benar-benar salah hitung kan?”
“Yang benar saja,” Agustin menggerutu, “Kau sendiri tadi ikut menghitung, ingat?"
Suzy berjalan cepat melewati kedua temannya menuju gardu lonceng, tempat Papa Tibi atau Pak Saman biasa berjaga.
Kedua sahabatnya berhenti berdebat kemudian mengikutinya. Tapi ketiganya mengerang kecewa.
“Tidak ada siapa-siapa di sini!” Ais mulai lemas.
Suzy diam saja, tertegun dengan kedua alis bertautan.
Kedua sahabatnya memperhatikan Suzy dengan tampang ngeri. Mereka tahu persis kalau Suzy sudah begitu biasanya bakal terjadi sesuatu yang benar-benar salah.
Suzy terkenal memiliki keistimewaan yang entah bisa disebut kelebihan atau justru malah kelainan. Tapi menurut Suzy sendiri jelas sekali hal itu merupakan suatu kelebihan. Di mana ia bisa merasakan sesuatu yang salah tiga menit sebelum terjadi.
Dan selalu hanya tiga menit!
Jadi sebelum habis tiga menit itu, Agustin segera menyambar tangan Ais dan menyeretnya pergi. Melesat meninggalkan Suzy yang masih membeku mengira-ngira apa yang bakal terjadi pada tiga menit mendatang.
“Kita tidak bisa pulang,” pekik Suzy sedikit tercekik.
Baik Ais maupun Agustin serentak membeku mendengar perkataan Suzy. Tidak cukup keras, tapi sudah lebih dari cukup membuat keduanya terguncang.
“Tapi...” Ais tergagap, baru mau pulih dari shock-nya. Ia pun menelan ludah dengan susah payah, “Ta-tapi.... ke-na-pa?” tanyanya gemetar. Tapi kemudian ia mulai mengerti dan memekik ketakutan. “Ini bukan Rumah Van Til,” jeritnya tak percaya pada apa yang disaksikannya. “Kita ada di mana, Jo?” Ais mulai merengek.
Tidak ada apa-apa di sana. Tidak ada Rumah Van Til. Tidak ada Gardu Lonceng. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada mereka bertiga. Hanya ada hamparan ilalang setinggi dada di lapangan terbuka.
Agustin masih membeku tanpa kata-kata. Kulit mukanya yang putih-kemerahan telah berubah menjadi putih-pucat.
Ini pasti cuma mimpi, pikirnya. Berusaha tetap realistis. Tak mungkin tiba-tiba kami berada di tengah-tengah kebun ilalang seluas itu dalam sekejap. Matanya membelalak mengamati lapangan ilalang itu tanpa berkedip. Lebih dari satu hektar, pikirnya.
Terlalu luas untuk dapat ditempuh dalam hitungan detik.
Tidak ada penjelasan realistis yang lain selain mimpi.
Tapi Ais kemudian mencengkeram lengan jaketnya, terasa sekali kuku Ais menembus kulitnya. Baiklah, yang satu ini memang terlalu nyata untuk sebuah mimpi, kata Agustin dalam hati.
“Dari mana kita muncul?” Suzy tergagap. Ia selalu melontarkan pertanyaan semacam itu setiap kali ia merasa bingung.
Agustin menyentakkan tangannya, melepaskan diri dari cengkeraman Ais.
Ais terperanjat ketakutan dan menyambar tangan Suzy sebagai gantinya.
Suzy diam saja, sepertinya tidak terusik sedikitpun. Menyadarinya saja tidak. Karena jika ia menyadarinya, ia pasti akan marah-marah seperti biasa. Gadis itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dahinya berkerut-kerut, pandangannya seperti menerawang. Jelas sekali kalau ia sedang berpikir keras. Jadi begitu rupanya, katanya dalam hati.
Firasat sebenarnya justru ia rasakan ketika mereka masih berada di pekarangan rumah Pak Saman, tapi ia tidak menyadarinya.
Sekarang kami benar-benar tersesat ke alam lain, pikir Suzy. Tapi kemudian ditepisnya.
Mana mungkin di alam lain ada yang begini?
Gadis itu mengamati selembar ilalang yang mencuat di depan perutnya, persis seperti sebilah pedang yang ditodongkan pada dirinya.
Ini bukan alam lain---lebih tepatnya, kami tidak lagi berada di alam lain. Kami baru saja keluar dari alam lain itu.
Jarak dari rumah Pak Saman ke Rumah Van Til ditempuh dalam tiga menit. Dan selama itu, mereka samasekali tidak memperhatikan langkah mereka karena sudah merasa yakin sudah mengenal jalan ke Rumah van Til dengan cukup baik. Tapi rupanya mereka salah perhitungan. Mereka sebenarnya tidak pernah tahu jalan ke Rumah Van Til memiliki banyak persimpangan yang tak kasat mata.
Salah satunya adalah Horizon---Jejak Putera Legenda, istilah Suzy untuk lintasan gaib menurut rumor masyarakat setempat. Suzy selalu punya istilah untuk setiap hal.
Terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan Rumah Van Til.
Ada Pohon Peri, sebutan untuk empat batang pohon ambon raksasa yang tumbuh di keempat sudut pekarangan Rumah Van Til.
Atau Lorong Waktu, yaitu terowongan bawah tanah yang terselubung di bawah angkernya Rumah Van Til.
Ada juga Ladang Van Til, hutan terlarang di pekarangan belakang Rumah Van Til. Ladang itu dulunya kebun pribadi Keluarga Besar Tuan Van Til, tapi sekarang ladang itu sudah menjadi hutan ilalang yang membentang luas.
Itu dia, pikir Suzy. Ladang Van Til, ia menyadari. “Kita ada di Ladang Van Til!“ Suzy memberitahu kedua sahabatnya.
“Aku tak ingin tahu,” tukas Ais, “aku cuma mau pulang,” rengeknya, kembali seperti bayi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Lee
aku membayangkan seandainya dalam kondisi seperti itu pasti .....
ah... susah untuk di gambarkan 🤭
2022-10-31
0
dyz_be
Yg Suzy ucapkan, sesuatu yg blom pernah terpikirkan olehku
👍👍👍👍
2022-07-10
1
atmaranii
brart rmh Van tol itu ada d alam lain yang ya..n mrka skrg k alam nyata bgtu...
2021-09-19
0