Pada rute tertentu, Suzy biasanya mampir sebentar ke rumah Agustin untuk berganti seragam dan menitipkan perkakas perkebunannya.
Hari ini, mereka mendapat rute yang jauh sama sekali dengan rumah Agustin mau pun rumah Suzy, jadi khusus hari ini dan seminggu ke depan, Suzy dan Agustin harus membawa serta perkakas mereka ke sekolah dan menitipkannya pada petugas kebersihan di sekolah.
Hari pertama yang luar biasa, batin Suzy masam.
Agustin mengamati bayangan mereka di punggung aspal setelah mereka keluar dari area perkebunan, kemudian memberitahukan Suzy untuk bergerak lebih cepat. "Waktu kita tak banyak," katanya. Seraya mempercepat larinya.
Suzy berusaha mengimbangi Agustin, tapi tak sampai tiga menit perutnya kembali melilit. Ya, Tuhan!
Agustin menatap khawatir wajah Suzy yang semakin memucat.
Gerakan larinya semakin lama semakin melambat. Butiran keringat mengucur deras memandikan seluruh tubuhnya.
Dia betul-betul tak sehat, pikir Agustin.
Tapi gadis itu memaksakan dirinya untuk terus berlari. Dan langkahnya mulai terhuyung dan terseok-seok. Sekarang ia merasakan pandangannya mulai berputar-putar, pelipisnya berdenyut, jantungnya berdegup kencang dan lututnya gemetar tak terkendali. Ada apa dengan tubuhku? Ia bertanya-tanya dalam hati.
"Ok, cukup!" Agustin menangkap pundak Suzy dan menahan tubuhnya yang hampir tersungkur.
Suzy menoleh ke arah Agustin dengan tatapan terkejut. Ia menghentikan langkahnya dan menekuk perutnya.
Agustin juga menekuk tubuhnya untuk mengatur napas. Anak laki-laki itu merunduk agak lama meski napasnya sudah teratur.
Suzy menatapnya lagi dengan dahi berkerut-kerut kebingungan.
Napas Agustin mendadak teratur dalam hitungan detik. Lalu terdiam dengan wajah tertunduk dalam.
Sebetulnya dia kenapa? Suzy menunduk rendah di bawah kepala Agustin.
Anak laki-laki itu mengangkat kepalanya dan menatap Suzy dengan seringai aneh.
"Agustin?" Suzy memekik ketakutan.
Ekspresi Agustin tidak seperti biasanya. "Aku akan menggendongmu, Nyai!" Agustin berkata dalam logat aneh.
Suzy sontak melangkah mundur menjauhi Agustin. "Jangan bercanda," katanya tergagap.
"Ayo, Nyai!"
"Agustin?" Suzy berteriak ketakutan.
Di luar dugaan, Agustin malah tertawa lebar tanpa suara kemudian menangkap tangannya dan menarik tubuh Suzy ke atas punggungnya.
Sejurus kemudian anak laki-laki itu melesat dengan menggendong tubuhnya.
"Agustiiiiiiiin..." Suzy menjerit melengking.
Dan pada saat jeritannya berakhir, tahu-tahu tubuh Agustin sudah membentur gerbang sekolah. Dan pada saat itu juga tubuh keduanya jatuh ambruk dan tersungkur di trotoar, tepat di depan gerbang sekolah mereka.
BRUAK!
Sejumlah anak laki-laki dan perempuan, berseragam putih-biru dan putih abu-abu serentak memekik memelototi mereka.
Kedua remaja itu mengerang bersamaan.
Wajah Agustin juga sekarang terlihat tak kalah pucat dari wajah Suzy Yan. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menyingkirkan perasaan aneh pada kepalanya. Penglihatannya buram dan berputar-putar.
Suzy menarik tubuhnya berdiri kemudian mengusap-usap kedua lututnya yang membentur trotoar. Kemudian mendekati Agustin.
Beberapa anak yang mengenal mereka mulai berkerumun mempertanyakan apa yang terjadi.
Agustin berguling menyisi, kemudian duduk berselonjor kaki dan menyandarkan punggungnya ke pintu gerbang. Penglihatannya masih belum pulih dan kepalanya masih terasa pusing. Ia tak bisa mengingat apa yang baru saja terjadi.
Suzy berjongkok di sisi tubuhnya mengabaikan pertanyaan anak-anak lain yang mengerumuninya. Ia menyeka keringat di dahi Agustin dengan handuk kecil yang masih tersampir di bahunya.
Mereka masih belum mengganti pakaian mereka dengan seragam sekolah.
Dalam hati ia ingin bertanya pada Agustin mengenai apa sebenarnya yang baru terjadi. Tapi ia mengurungkan niatnya karena anak-anak SMP dan SMU yang tidak dikenalnya berdatangan semakin banyak mengerumuni mereka.
Pikirannya tiba-tiba melayang membayangkan wajah pria misterius berambut sepinggang. Lalu mulai bertanya-tanya. Kenapa tadi Agustin menautkan panggilan yang sama seperti pria itu? Dan kenapa kami bisa sampai di sekolah secepat itu?
Setelah mereka berganti pakaian dan menitipkan perkakas kerja mereka pada penjaga sekolah, Agustin masih tampak melamun ketika ia berpamitan pada sahabatnya.
Aku akan membicarakannya saat pulang sekolah nanti, kata Suzy dalam hati. Lalu berjalan ke arah kerumunan siswa baru di depan papan pengumuman.
Setelah mengetahui di mana letak kelasnya, Suzy bergegas ke kelas barunya dan mengerang menyaksikan calon teman sekelasnya berebut bangku. Tradisi lagi, batin Suzy jengah. Ia memegangi perutnya yang mulai terasa melilit lagi. Ada apa sebetulnya dengan perutku? Ia mengernyit menahan nyeri. Tak lama kemudian kepalanya kembali merayang.
"Suzy!" Ia mendengar suara anak perempuan memanggilnya. "Kita sekelas?!" Anak itu memekik senang.
Suzy sampai harus memicingkan matanya untuk bisa melihat jelas wajah orang yang sedang melambai-lambai ke arahnya. "Nenny," gumamnya lemah.
Nenny adalah adik kelas Suzy saat SMP, tapi tinggi badannya sejengkal lebih tinggi dibandingkan Suzy. Rambut hitamnya selurus penggaris dan panjangnya mencapai pinggang.
Sepintas tadi ia terlihat seperti Arya Tunggal, kata Suzy dalam hati. Tapi berkat gadis itu, Suzy akhirnya terselamatkan dari penderitaan ritual berebut kursi. Minimal aku tahu, aku tidak berbakat menjadi wakil rakyat, pikirnya konyol. "Terimakasih, Nenny!" Suzy dan Nenny duduk di barisan paling depan.
Sebetulnya barisan depan bukanlah salah satu tempat favorit Suzy, tapi hari itu Suzy betul-betul tak berdaya.
Isi kepalanya dipenuhi laki-laki misterius yang jelas-jelas ia sudah tahu dia bukan manusia. Aku betul-betul sudah gila, katanya dalam hati.
"Suzy, kamu pucat!" Nenny berkomentar begitu Suzy duduk di sampingnya. Nenny tahu Suzy bekerja di perkebunan. Dan ia juga tahu cerita Suzy yang kesurupan dua hari yang lalu.
Suzy menggeleng dan memaksakan senyum, "aku hanya lelah," jawabnya sambil cengengesan. Ia sengaja melakukannya supaya Nenny tidak terlalu serius memperhatikannya.
Suzy senang mendapat perhatian dari seseorang, tapi ia tak pernah berharap dikasihani. Ia tak yakin apakah perhatian dan sikap baik Nenny didasari rasa peduli atau rasa iba.
Nenny tersenyum lebar menanggapinya. "Kalau begitu istirahat saja," bisiknya. "Ini hari pertama, aku yakin guru mana pun yang masuk ke kelas kita hari ini pasti hanya wali kelas. Mereka pasti belum mempersiapkan jadwal untuk kegiatan belajar-mengajar. Paling hanya perkenalan." Nenny menjelaskan. "Tidak ada guru yang langsung memberikan mata pelajaran pada hari pertama. Jadwal kita belum dibuat," lanjutnya. "Aku akan membangunkanmu jika ada guru yang masuk," desisnya nakal.
"Bagus!" Suzy menanggapinya dengan menyeringai. Ia melipat kedua tangannya di atas meja dan menangkupkan wajahnya di sela-sela lipatan tangannya. Kemudian pura-pura tidur.
Tapi tak lama kemudian, ia merasa tangan seseorang menepuk punggung tangannya.
PLAK!
Suzy mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Nenny.
Tapi Nenny tampak sedang sibuk membaca komik di tangannya.
Suzy menautkan kedua alisnya dan mengedar pandang.
Tempat guru di depan mereka masih kosong dan anak-anak lainnya masih terdengar gaduh membicarakan banyak hal yang tak penting.
Sejumlah anak laki-laki sudah tampak akrab dan mulai saling meneriaki lelucon satu sama lain. Lalu siapa yang menepuk tanganku? Suzy bertanya dalam hati.
Di ujung meja mereka Suzy melihat sepasang tangan pucat abu-abu dengan kuku runcing berwarna hitam.
Suzy menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya mulai meremang dan hawa dingin menjalari punggungnya seketika.
Suzy tak berani mengangkat kepala untuk melihat wajah yang merunduk di atas kepalanya.
Jadi Suzy hanya mengawasinya diam-diam ketika sejumput rambut kumal melecut-lecut ke sisi meja.
Melalui sudut matanya, Suzy bisa melihat tepian rok warna abu-abu. Dari hawa yang ditebarkannya, Suzy tahu sosok di depannya bukan manusia. Rasanya aku sudah mulai hafal gelagat semacam ini, pikirnya pahit. Jadi sekarang aku bisa melihat hantu?
Jantungnya berdebar kencang memacu darah dan napasnya semakin cepat. Dadanya turun-naik tak beraturan ketika ia memberanikan dirinya mengangkat kepala dan menatap sosok di depannya.
Seorang gadis berwajah pucat dengan lingkaran hitam di bagian matanya, tengah merunduk seraya terisak. Bahu gadis itu bergetar ketika sebelah tangannya terangkat menyeka pipinya yang berwarna kelabu. Setetes air mata kemudian bergulir dari matanya dan menetes di atas meja tepat di depan Suzy.
Suzy memekik seraya menarik tangannya dari meja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
dyz_be
Lanjuttt.....
2022-07-15
1
Norma Cecilia
Adooohhh...
Kebayang-bayang di meja rias 😭
2021-11-07
0
Bebi Kay
astaga yg bgni lg ajaaa
sawan aku lama"
2021-09-20
0