Agustin meremas rambutnya. Bersandar di sisi perapian dan memeluk kedua lututnya.
Suzy masih terpekur dalam keterguncangan.
Agustin memperhatikannya dengan prihatin. Lalu beringsut mendekatinya. “Dengar, Suzy!” Agustin berbisik, “Kau akan menyelinap keluar lewat jendela.” Ia menjelaskan, “Setelah berhasil keluar pastikan kau menemui Papa Tibi secepatnya. Kau bisa kan?” Agustin membujuknya.
“Oh, bagus!” Suzy menggeram. “Dan kau di sini, duduk manis menunggu aku dan Papa Tibi menyelamatkanmu? Begitu? Idemu benar-benar hebat!” Suara Suzy mulai meninggi.
“Sssst.... Dengar dulu!” Agustin membekap mulut Suzy dengan tangannya. “Aku akan berusaha menyelamatkan Ais. Jadi tolonglah untuk kali ini saja kumohon percayalah padaku!”
Kenapa aku harus percaya padamu? Suzy bermaksud untuk mengatakan itu, tapi karena mulutnya dibekap, yang keluar hanya suara mengguman seperti orang sedang berkumur-kumur sambil menggerutu.
“Ayolah, Jagoan! Aku percaya kau bisa melakukannya,” bujuk Agustin lagi.
Suzy akhirnya menganggukkan kepalanya. Suzy paling senang dirinya disebut Jagoan.
Agustin melepaskan bekapannya perlahan-lahan, khawatir kalau-kalau Suzy berubah pikiran atau jangan-jangan Suzy hanya berpura-pura setuju supaya Agustin berhenti membekapnya.
Tapi kelihatannya Suzy tidak membantah lagi. Dengan lutut gemetaran gadis itu merangkak keluar dari perapian, merayap mendekati jendela. Perhatiannya berpindah-pindah dari jendela ke pintu yang terbuka lalu beralih lagi ke arah Agustin dengan sikap gusar.
Agustin mengawasi pintu ruangan tempat kedua pria tadi berada. Tangannya bergerak-gerak, mengisyaratkan agar Suzy secepatnya membuka jendela.
Kedua pria tadi sepertinya sedang sibuk di dalam ruangan. Entah apa yang sedang mereka lakukan di tempat seperti itu. Tapi ketika Suzy berusaha membuka jendela, kedua pria itu serentak menghambur keluar ruangan.
Suzy memekik tertahan. Kunci pada jendela itu sudah berkarat. Kuncinya tidak bisa dibuka, jerit Suzy dalam hati. Lalu membenturkan bahunya sekuat tenaga dan berhasil mendobrak jendela usang itu dengan sekali sentak. Agustin benar, katanya dalam hati. Aku memang Jagoan.
“Ada apa di sini?” Pria besar bersuara serak tadi berteriak marah. “Siapa lagi itu?”
“Kelihatannya tempat ini sedang tak aman,” kata pria yang satunya.
Suzy terpelanting keluar jendela dan terpental sampai ke pekarangan.
Tanpa menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya ia segera bangkit kemudian berlari sekuat tenaga. Dan berusaha menguatkan diri. Sebelum ini aku pernah jatuh dari ketinggian sepuluh meter dan aku baik-baik saja, kenangnya bangga.
Kedua pria tadi melongok keluar jendela. “Kejar,” perintah pria bersuara serak tadi. “Cepat, kejar!”
Agustin menyaksikannya ketika salah satu pria itu melompat keluar jendela untuk mengejar Suzy.
Harapannya untuk mendapatkan pertolongan dari Papa Tibi sekarang benar-benar pupus. Suzy tak mungkin bisa mengandalkan Papa Tibi, karena Papa Tibi sekarang justru sedang memburunya. Memburu kemenakannya sendiri.
Agustin memejamkan matanya rapat-rapat. Sulit dipercaya, salah satu dari pria itu ternyata Papa Tibi. Apa yang sedang mereka rencanakan sebenarnya?
Agustin tak sanggup membayangkan kejahatan apa saja yang bisa dilakukan dalam pertemuan rahasia Papa Tibi dengan orang asing di ruang rahasia, di dalam Rumah Van Til. Kejahatan yang dilakukan seseorang yang disayangi sahabatnya melebihi ayahnya sendiri.
Sekarang ia betul-betul menyesal telah membujuk Suzy untuk menyelinap keluar dan memintanya menemui Papa Tibi. Ia tak bisa percaya idenya kali ini justru telah mendorong sahabatnya kedalam situasi yang semakin sulit.
“Seret orangnya kesini kalau berhasil menangkapnya,” geram pria bersuara serak itu dari jendela. Suaranya menggelegar di dalam ruangan.
Agustin membekap mulutnya. Pria ini sepertinya bukan jenis orang yang segan-segan menghabisi nyawa seseorang. Agustin menyimpulkan.
Sekarang Suzy benar-benar sedang berada dalam bahaya, sesalnya.
Diawasinya gerak-gerik pria itu dengan seksama. Tiba-tiba ia ingat pintu ruang bawah tanah masih terbuka.
Kedua pria tadi tak sempat menutupnya kembali setelah menemukan Ais tergeletak di lantai.
Aku harus melakukan sesuatu, tekadnya. Ia mengeluarkan senter kecilnya dari saku jaketnya, kemudian menyalakannya. Telapak tangannya menutup rapat cahayanya sehingga cahaya itu tak memancar keluar.
Setelah berkonsentrasi, dilemparkannya senter itu ke ruang bawah tanah.
Pria besar yang berdiri di jendela itu tersentak. Diamatinya cahaya senter di ruangan bawah tanah itu dengan mata yang berkilat-kilat. “Hei! Siapa itu?” Teriakan serak pria itu kembali menggelegar di dalam ruangan. Dengan langkah yang tergesa-gesa pria itu berjalan menuju ruang bawah tanah.
Aku berhasil mengecohnya, pikir Agustin sebelum melesat ke ruangan pria tadi.
Setelah berhasil masuk ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam ruangan. Bagus, katanya dalam hati.
Ruangan itu ternyata tidak memiliki jendela.
Keempat sisi nya dipenuhi rak-rak buku yang berisi sejumlah file usang yang tampaknya sudah lama tersimpan.
Di seberang pintu tempat Agustin berdiri ada pintu lain yang kelihatannya sudah dikunci dari dalam. Jadi untuk sementara waktu posisinya cukup aman.
Sejenak ia mencoba menenangkan napasnya seraya mengamati seisi ruangan dan tersentak. Di atas meja yang terdapat di tengah ruangan itu ia melihat setumpuk uang dan sejumlah amplop. Jangan-jangan Papa Tibi habis merampok Bank, pikirnya ngeri.
“Woooooiiiii! Siapa di dalam!” Pria bersuara serak tadi menggedor-gedor pintu di belakang Agustin.
Tanpa berpikir panjang lagi Agustin langsung melesat ke arah pintu yang satunya dan menyelinap keluar ruangan. Aku harus menyelamatkan Ais, pikirnya kalut. Di mana mereka menyekap Ais?
“Bi!” Suara gebrakan di pintu ruang perapian terdengar semakin keras. Pria bersuara serak itu sedang berusaha mendobrak pintu. “Tibiiiii!!!”
Aku harus cepat, kata Agustin dalam hati. Ia berlari menyusuri gang sempit kemudian berbelok ke sebelah kiri dan sampai di sebuah ruangan yang jauh lebih besar. Ruangan itu juga kosong dan gelap gulita.
Agustin berhenti berlari dan menunggu sampai matanya bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan.
Setelah itu ia berjalan perlahan menyusuri ruangan itu, meneliti pintu-pintu yang tertutup rapat satu demi satu.
Ada tujuh buah pintu di keempat sisi ruangan itu. Tiga di sisi kiri dan tiga di sisi kanan. Dan satu lagi tepat di depan Agustin, ukurannya dua kali lipat lebih besar dibanding keenam pintu lainnya. Itu pasti pintu keluar, pikir Agustin.
Di balik salah satu pintu inilah pasti mereka menyekap Ais, ia menyimpulkan. Kemudian mengamati pintu-pintu di sisi kiri dan kanannya dengan jantung berdebar tak stabil.
Suara berderak di ujung gang membuat jantung Agustin berdegup. Ia berhasil mendobrak pintunya, pikir Agustin panik. Dengan cepat ia membuka salah satu pintu di sisi ruangan dan menyelinap ke dalamnya.
Ruangan berikutnya lebih gelap dari ruangan sebelumnya. Tapi Agustin memutuskan untuk mengunci diri dalam ruangan itu untuk sementara waktu.
Terdengar suara-suara berdebam dari koridor belakang. Mungkin suara langkah kaki seseorang. Tapi tak lama suara itu berhenti beberapa saat lalu terdengar menjauh.
Agustin menghela napas dan menjatuhkan dirinya di atas lantai. Dalam kegelapan yang pekat ia kehilangan kebebasan untuk bergerak. Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menunggu. Tapi entah sampai kapan?
Setelah hening beberapa saat, dari balik ruangan tempat Agustin bersembunyi terdengar suara berderak-derak. Seperti suara pintu yang dibuka dan ditutup dengan cara kasar.
Agustin menahan napas, menyimak suara di balik dinding itu baik-baik.
Seperti suara orang berjalan mondar-mandir yang sedang terburu-buru. Tapi tidak terlalu jelas karena dinding pembatasnya cukup tebal dan keras.
Agustin merangkak mendekati dinding itu kemudian menempelkan telinganya. Masih tetap tidak terdengar jelas. Dindingnya pasti terbuat dari beton. Ia menyimpulkan. Apa boleh buat, Agustin memutuskan. Aku harus keluar dari sini dan memeriksa apa yang terjadi.
Kemungkinan besar ruangan itu tempat mereka menyekap Ais.
Agustin membuka pintu ruangan itu perlahan dan mengintip keluar. Setelah yakin tidak ada siapa-siapa, ia pun menyelinap keluar dan berjalan ke arah pintu besar yang ia perkirakan sebagai pintu keluar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
hanz
aku rasa ada kesalahpahaman besar sedang terjadi di sini.
2024-11-29
0
hanz
mungkin uang upah para pekerja
2024-11-29
0
adi_nata
sepertinya itu uang gajian karyawan.
2023-11-01
0