Ais, Suzy dan Agustin berhimpun berdesak-desakan di antara semak ilalang setinggi pinggang, seolah mereka sedang berada di dalam ruangan yang teramat sempit.
Agustin menengadah mengamati bulan purnama di atas ladang ilalang itu, mencoba mencari tahu arah mana yang harus mereka tempuh untuk bisa sampai di rumah Suzy atau rumah Pak Saman, atau rumah Ais, rumah siapa saja. Yang penting bisa keluar dari tempat itu.
Lagi pula Suzy dan Ais bertetangga dengan Pak Saman.
Sama saja!
Jika saat itu mereka memang berada di Ladang Van Til, itu artinya mereka berada di sebelah utara rumah Pak Saman. Tapi posisi bulan berada tepat di atas kepala mereka. Agustin kesulitan menentukan arah.
Ketiga remaja itu mengedar pandang berkeliling, mencari apa saja yang dapat dijadikan petunjuk untuk membantu mereka menemukan arah. Tapi setiap sisi tempat itu tampak sama, yang dapat mereka temukan hanya ilalang.
Bahkan Rumah Van Til yang menjulang tak terlihat bayang-bayangnya.
Di sebelah mana Rumah Van Til, di sebelah mana rumah Pak Saman, mereka semua tidak bisa membedakannya.
Hamparan ilalang di sekeliling mereka seperti tak berujung. Itu yang membuat mereka tidak dapat menentukan arah.
“Ke arah mana, nih?” Agustin bertanya pada kedua sahabatnya.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Suzy berbisik.
“Kenapa kau berbisik-bisik?” Agustin bertanya.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Suzy sambil mengaruk-garuk bagian belakang kepalanya. Tapi masih saja berbisik-bisik.
Agustin mengerang.
Begitu juga dengan Ais.
TEEEEEEEEEEENG....!!!
Ketiga remaja itu menyimak baik-baik, mencoba memastikan pendengaran mereka tidak keliru kali ini.
Tapi itu memang suara lonceng, pikir Suzy. Tapi untuk tanda apa? Ia bertanya dalam hati, tapi kemudian ia tak peduli.
Setidaknya sekarang ia sudah tahu arah mana yang akan dipilihnya.
Suara lonceng itu tepat berada di belakangnya, itu berarti Rumah Van Til ada di belakang mereka. Dan untuk bisa sampai di rumah Pak Saman, mereka tinggal berjalan lurus ke arah kanan.
“Jo, kita jalan ke kanan!” Suzy mulai bersemangat.
Tapi sepertinya tidak ada yang menanggapi.
“Jo...” Suzy kehilangan kata-katanya begitu menyadari kedua temannya telah lenyap. Bulu kuduknya meremang, “Jo!” Suaranya tercekik, susah payah ia menelan ludah dan kembali memangil-manggil. Tapi yang keluar hanya desisan yang gemetar. Hampir menangis. “Jangan bercanda, ya?!” Suzy berusaha agar ia terlihat tenang. Tapi suaranya tetap saja terdengar gemetar.
Gadis itu membeku di tempatnya. Tak berani menoleh kemana-mana. Menunggu.
Sebentar lagi, Ais dan Agustin pasti melompat keluar dari semak-semak ilalang sambil tertawa-tawa, mencemooh sikap ketakutannya. Kedua sahabatnya pasti akan mentertawakan dirinya kalau sampai mereka tahu ia ketakutan setengah mati.
Suzy berusaha menahan tubuhnya yang menggigil. Menutupi ketakutannya.
Ia ingat kedua sahabatnya sering mengerjainya seperti ini di perkebunan.
Mereka biasanya bersembunyi di balik semak-semak membiarkan dirinya sendirian sampai ia ketakutan setengah mati. Setelah ia menangis kedua sahabatnya akan mengangetkannya sambil tertawa-tawa, mencemooh dirinya yang menangis ketakutan.
Jadi kali ini ia berusaha supaya dirinya tidak sampai menangis.
Ais dan Agustin pasti sedang sembunyi untuk mengerjaiku. Ia meyakinkan dirinya.Tapi kemudian ia mulai ragu.
Apa mungkin dalam keadaan begini kedua temannya masih bisa bercanda?
Tubuhnya semakin menggigil, tapi Suzy memutuskan untuk tetap berpura-pura dirinya tidak takut. Kedua tangannya melingkar erat memeluk dirinya sendiri agar tubuhnya tidak terlihat gemetar.
Satu...
Dua...
Suzy menghitung di dalam hati, pada hitungan ketiga, kedua temannya pasti menyergapnya.
“DOOORRR!”
Begitu biasanya!
Tapi tidak terjadi apa-apa. Suzy menyentakkan kepalanya ke samping lalu berputar ke belakang.
Hening!
Mereka betul-betul lenyap, pikirnya ngeri.
Gadis itu memekik ketika tiba-tiba angin kencang menerpa dirinya.
Gemerisik daun-daun ilalang yang tertiup angin itu terdengar bergemuruh dalam kesendiriannya, seperti coba menggertaknya, menakutinya. Dan ia benar-benar ketakutan sekarang.
Tanpa berpikir lagi Suzy langsung melesat menerobos semak ilalang.
Daun-daun ilalang melecut-lecut menampar tubuhnya. Melukai kulit wajah dan tangannya. Seperti cakar-cakar raksasa hendak mengoyak dan mencabik-cabik dirinya.
Luka-luka goresan itu terasa perih ketika keringat mulai membanjiri sekujur tubuhnya yang semakin gemetar tak terkendali. Tapi Suzy terus berlari menyeruak di antara semak yang tajam itu. Aku harus keluar dari sini secepatnya, hanya itu saja yang dipikirkannya.
Napasnya mulai terasa sesak ketika jantungnya semakin bedegup kencang, sepatu kets-nya tersangkut-sangkut pada akar-akar ilalang yang bertautan, membuatnya terhuyung-huyung, nyaris tersungkur.
Tapi ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk tidak memperlambat larinya sedikitpun.
Seraya terus berlari tanpa kendali, gadis itu menyaksikan bulan ditelan bulat-bulat oleh kegelapan yang pekat. Dan kegelapan itu kemudian menyelubunginya, menyelubungi semuanya hingga membuat segalanya seperti bukan dalam kenyataan.
Suzy merasakan dirinya seakan mengambang di udara.
Sudah cukup jauh rasanya ia melarikan diri, tapi seolah tetap diam di tempat.
Di mana jalan keluarnya? Suzy mulai bertanya-tanya.
Di mana ujung ladang ini?
Tetapi ladang ilalang itu sepertinya memang benar-benar tak berujung.
Suzy mulai limbung dan putus asa. Gerakannya semakin tak terarah.
Akhirnya ia terjerembab lalu terperosok kedalam sebuah lubang besar yang dalam dan gelap.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...............” Lolongan panjangnya baru berakhir begitu tubuhnya mencapai dasar dengan suara berdebam. “Akh!!!” Lolongannya berakhir.
Tubuhnya kini terasa remuk, jantungnya serasa melompat keluar dari dalam tubuhnya melalui kerongkongan, membuat napasnya tercekat.
Lalu tiba-tiba ia tak dapat merasakan apa-apa lagi.
Suzy meringkuk dibanjiri keringat, gemetar tak berdaya. Sekarang ia mulai mengerti kenapa Ladang Van Till menjadi hutan terlarang.
Seiring kesadarannya yang mulai pulih, rasa perih di kulit wajah dan tangannya pun mulai terasa sedikit demi sedikit. Lama kelamaan semakin perih.
Tapi kegelapan yang teramat pekat yang menyelimutinya masih membuat dirinya seperti bermimpi.
Gadis itu mulai meringis, merasakan perih pada kulit wajah dan kedua tangannya, tapi ia bahkan tak bisa melihat tangannya sendiri.
TEEEEEEEEEEEEEEEEEENG............!!!
Suara lonceng lagi.
Terdengar seperti berasal dari segala arah. Cukup jelas dan nyata.
Kenapa lonceng konyol itu terus-menerus berbunyi? Suzy tak mengerti.
Ini bukan saatnya membunyikan lonceng, batinnya.
Ada apa dengan Papa Tibi?
Ada apa dengan lonceng sialan itu?
Ada apa sebenarnya dengan diriku?
Suzy terus bertanya-tanya, tapi tak ada satu pun jawaban untuk semua itu.
Membuat Suzy frustasi.
“Papaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........” Gadis itu menjerit sekuat tenaga, seraya memeluk dirinya sendiri.
Ia tahu kalau Papa Tibi sedang berjaga, Papa Tibi takkan berdiam di satu tempat saja. Setiap saat Papa Tibi akan berkeliling mengitari Rumah Van Till untuk memastikan semuanya benar-benar aman.
Suzy berharap saat itu Papa Tibi bisa mendengar suaranya dari dalam sumur.
Papa Tibi adalah kakak kandung ibunya, seharusnya Suzy memanggil Papa Tibi itu paman tua atau Uwak menurut adat suku sunda.
Berhubung dari kecil Suzy sudah kehilangan ayahnya, Papa Tibi sudah Suzy anggap sebagai ayahnya sendiri, karena Papa Tibi telah menjaganya dengan cukup baik seperti layaknya seorang ayah kepada putrinya.
Meski mereka tidak tinggal serumah. Kasih-sayang Papa Tibi kepadanya yang begitu besar itulah yang menjadikannya manja hanya pada Papa Tibi.
“Papaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......!” teriak Suzy sekuat tenaga. Tapi suara yang dihasilkannya lebih mirip orang merengek.
Suzy baru saja membuka mulut ketika mendengar suara berkeresak di atas kepalanya. Itu pasti Papa Tibi, pikirnya senang. Lalu coba beranjak dari dasar sumur yang dingin dan basah.
Suara di atas kepalanya terdengar semakin keras dan ribut kemudian berubah gaduh.
Ia mencoba berteriak tapi tak sempat karena sesuatu yang sangat berat kemudian menimpa dirinya. Membuat ia kembali tersungkur ke dasar sumur. “Ya Tuhan......”
Sekali lagi Suzy merasakan tubuhnya benar-benar remuk dan tak dapat digerakkan.
Sesaat Suzy membeku sebelum akhirnya menjerit ketika sesuatu yang menindihnya tadi bergerak dan hidup. Monster, pikirnya ngeri.
“Wuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa................!” Diluar dugaan sesuatu yang menindihnya itu ikut menjerit. Disusul oleh munculnya sebuah cahaya.
“Jo?!” Suzy menyadari.
Agustin tersentak dan melompat ke dinding sumur, “Dari mana kau muncul?” jeritnya menirukan gaya Suzy. Diarahkannya cahaya senter kecilnya ke wajah Suzy yang terperangah. Kemudian menghela napas lega bersamaan.
Suzy mengerang dan memutar bola matanya kemudian menarik tubuhnya sampai terduduk, “Dasar t.o.l.o.l,” gerutunya seraya memegangi pinggangnya. “Kenapa tidak bilang dulu kalau mau terjun bebas?” Suzy menyandarkan punggungnya ke dinding sumur sambil menghela napas lega.
Agustin mematikan senternya, “Di mana Ais?” Ia bertanya. “Kalian menghilang bersamaan,” tutur Agustin memulai ceritanya.
“Oh, kau juga?” Suzy menyela.
“Kupikir kalian berdua mengerjai aku,” kata Agustin setengah menuduh, “Aku berniat menghabisi kalian malah!” Agustin menyeringai.
“Bagus!” Suzy mendengus.
“Tapi kelihatannya kau juga sedang butuh bantuan?!” Agustin menambahkan.
Suzy memelototinya. "Aku memang butuh bantuan," katanya setengah mengerang. "Tapi kalau orang yang dibutuhkan juga ikut tercebur ke dalam sini, apa gunanya?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
hanz
rasi bintang ?
2024-11-28
0
dyz_be
Next...
2022-07-10
1
Bebi Kay
Frustrasi, Thor... bukan frustasi 😁
2021-09-20
0