...-----------------***------------------HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan like dan vote sebanyak-banyaknya ya!! Terima kasih.❤...
-----------------***------------------
Saat semuanya terdiam dalam pikiran masing-masing, terdengar salam dari ambang pintu. Serempak Hani, Ibu dan Indra menoleh.
"Ada Mas Indra, sudah lama mas?" sapa Anton yang baru pulang dinas.
"Iya Ton, dari tadi habis berembuk dengan Hani dan Ibu" ucap Indra.
Anton pun langsung ikut duduk bersama mereka.
"Kak, aku baru dapat info dari anak buahku. Laura dulunya pernah berhubungan dengan sindikat narkoba. Cuma waktu itu bukti yang didapat tidak lengkap, jadi Laura dilepaskan." cerita Anton.
"Kami tadi juga menebak-nebak kalau Laura ada hubungang dengan dunia hitam. Karena tidak mungkin Laura bisa melakukan kejahatan dengan sangat bersih." ucap Indra.
"Benar Ton, kamu tetap tolong lanjutkan penyelidikanmu ya. Gali semua info tentang Laura."
"Karena aku juga lagi mencari semua berkas tentang masa lalu Laura."
"Baik Kak, aku permisi mandi dulu ya."
"Kalau begitu aku pamit sekalian." ucap Indra
"Loh, nggak makan malam disini sekalian, Nak?"
"Makasih Bu, lain waktu saja." jawab Indra sambil berpamitan pulang.
###
Ibunda Hani dan Hani sedang duduk di meja makan. Anton menghampiri meja makan untuk bergabung bersama ibu dan kakaknya.
"Kakak mikir apa sih, kok sepertinya serius sekali?" tanya Anton sambil duduk.
"Astaga.. Kamu ngagetin Kakak saja Ton. Aku lagi mikir langkah apa yang harus aku persiapan untuk masa depan Nia" jawab Hani.
"Sudah kita makan dulu aja" sela Ibunda Hani, sambil menyediakan nasi ke piring piring.
Setelah selesai makan, Ibunda Hani membereskan meja dan piring kotor, sedangkan Hani berjalan ke teras depan rumah diikuti oleh Anton.
"Santai aja kak mikirinnya." saran Anton sambil duduk di teras.
"Kakak santai Ton, tapi kalau ingat kebaikan Fira terhadap keluarga kita, kakak nggak rela terjadi apa-apa dengan Nia. Nia masih kecil, Ton." jawab Hani menerawang.
"Anton pasti bantu,kak. Ngomong-ngomong, besok Anton libur. Rencananya may mengunjungi Nia sambil mengamati Desa Anyelir, apa desa tersebut cukup aman untuk Nia dan Mbok Nah tinggal disana atau tidak."
"Lakukan saja, Ton. Besok kamu berangkat jam berapa?"
"Jam 7 an saja kak, Anton rencana menginap disana nanti".
"Ibu ikut dong, Ton!" tiba-tiba ibunda Hani sudah ikut duduk bergabung dengan anak-anaknya.
"Bu, kalau Ibu ikut, mampir kepasar sekalian, ya? Soalnya di desa sana susah cari daging, Bu."
"Repot amat kak, bawa daging mentah segala," ucap Anton sambil tertawa.
"Ibu pesan masakan di Bu Margono saja ya?"
"Gitu juga boleh, Bu"
"Ton,antar kakak ke supermarket yuk!"
"Mau ngapain kak? Nggak perlu kalau kakak mau belanja untuk dibawa ke desa, soalnya Anton rencananya mau ajak Nia dan Mbok Nah jalan-jalan nanti. Biar mereka belanja sendiri."
"Og yasudah kalau begitu. Hehehe emang kamu adik yang baik, Ton" peluk Hani bahagia.
"Ih kakak apaan sih. Malu tahu, kayak anak kecil saja!" ucap Anton sambil mendorong tubuh Hani perlahan.
Hani pun tertawa melihat tingkah Anton.
"Hahaha, sekarang kamu sudah besar ya, Ton. Padahal dulu kamu senang kalau digendong kakak." ucap Hani sambil mengedipkan matanya.
"Itu kan dulu kak! sekarang Anton sudah besar. Malu kalau dilihat orang." ucap Anton nyengir.
"Ada apa Han, kok suara ketawamu terdengar sampai belakang?"
"Hahahaha"
"Itu loh Bu, katanya Anton sudah besar".
Ibunda Hani ikut tertawa melihat tingkah laku kedua anaknya.
"Gimana Bu? Bisa pesan di Bu Margono?".
"Bisa Han. Ibu tadi pesan rendang sapi 10 potong, semur daging 2 porsi, ayam goreng 2 ekor, bakso goreng 10, empal 10, cukup ya?".
"Cukup, Bu"
"Masuk yuk, besok Anton kan harus nyetir, jadi butuh istirahat."
Hani dan Anton pun mengekor sang ibunda untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum terlelap di kamar masing-masing, tak lupa Anton mengunci pintu dan jendela rumahnya.
###
Hawa pagi pedesaan yang asri nan sejuk di Desa Anyelir menerpa wajah kedua insan yang sedang berada di halaman. Salah satunya sedang berlompat ria dan menari-nari, dan satu orang lainnya sedang membersihkan halaman sambil memerhatikan anak kecil tersebut dengan tatapan puas.
Sejak tinggal di desa, Nia sudah kembali ceria deperti dahulu. Bagaimana tidak? Disini tidak ada yang memarahi atau melarang Nia untuk makan atau melakukan hal yang diinginkannya. Nia juga sudah memiliki banyak teman di sekolah dan sanggar pencak silatnya.
"Mbok, Nia ke rumah Pakde ya sekarang!"
Mbok Nah yang melihat Nia sudah berlari ke arah rumah Pak Rojak cuma menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum.
Setiap subuh Nia rajin ke rumah Pak Rojak untuk latihan pencak silat. Nia sangat senang datang kesana karena bertemu Pak Rojak dan teman-teman yang menyayanginya.
Pak Rojak sendiri yang mengajari Nia secara langsung. Sekarang, Nia sudah tidak takut lagi dengan Pak Rojak, malah Nia semakin sering bermain ke rumah Pak Rojak meski tak ada latihan. Istri Pak Rojak pun senang dengan kunjungan Nia, ia sangat menyayangi Nia seperti anaknya sendiri.
Sesampai di depan rumah Pak Rojak, Nia mengucapkan salam dan langsung masuk ke dalam rumah yang sudah terbuka pintunya.
"Bude!" sapa Nia sambil berlari memeluk istri Pak Rojak yang sedang membuat minuman.
"Nia, Nia mau minum susu sekalian bareng Pakde?"
"Mau Bude, Pakde dimana?" tanya Nia sambil celingukan mencari cari sosok Pak Rojak.
"Pakdemu lagi di halaman belakang sayang,sana susul. Nanti bude bawakan minuman sekalian cemilan buat kalian!"
Nia pun berlari ke arah halaman belakang. Di sana sudah terlihat Pakde Rojak yang sedang melakukan latihan ringan untuk pemanasan.
"Pakde, Nia datang!" jerit Nia menghampiri Pak Rojak.
"Eh, anak Pakde sudah datang.. Sudah melakukan pemanasan belum?"
"Sudah Pakde! "
"Pintar.. Kalau begitu mulai hari ini Nia belajar memasang kuda-kuda ya."
Pak Rojak mengarahkan kedua kaki Nia untuk membentuk kuda-kuda, "tahan seperti ini, sambil atur nafas seperti yang Pakde ajarkan kemarin. Latihan ini gunanya untuk memperkuat pijakan kaki saat menyerang atau bertahan nantinya!" ucap Pak Rojak.
"Siap Pakde!"
Nia mulaimemasang kuda-kuda, sambil mulai mengatur pernafasannya.
"Dengkulnya ditekuk sedikit lagi kedepan Nia,"
"Seperti ini!" ujar Pak Rojak sambil memberikan contoh kepada Nia.
"Tahan terus ya, Nia! Pakde mau lihat kamu kuat seberapa lama." perintah pak Rojak sambil berjalan ke arah bale-bale, bude Asti datang sambil membawa kopi, susu, dan singkong goreng untuk suaminya dan Nia. Dia tersenyum melihat Nia yang selalu rajin berlatih pencak silat.
"Diminum kopinya selagi hangat, Pak!"
"Iya, Bu. Nia sekarang lebih berisi dari pertama datang kemari ya." ujar Pak Rojak sambil mengamati Nia.
"Benar Pak, dulu Nia kurus dan penakut.. Melihat Nia sekarang, Ibu jadi merasa gembira"
"Oh ya, si Nah gimana kerjanya bu?" tanya Pak Rojak sambil menatap istrinya lembut.
"Wah.. Nah rajin Pak. Kerjanya cepat. Pekerjaan ibu jadi terasa ringan sekarang."
"Baguslah kalo Nah bisa meringankan pekerjaan ibu."
Bu Asih membuka warung di pasar, biasanya buka jam 6.30 dan tutup jam 12 siang. Karena Mbok Nah bosen nggak ada kerjaan, Mbok Nah menerima dengan senang hati saat ditawarkan untuk membantu Bu Asih di pasar.
Dari pintu, terdengan suara seseorang memberi salam. Serempak pak dan bu rojak menjawab bersama.
"Pagi Pak, Bu!" sapa Mbok Nah sopan.
"Wah Nah, panjang umur kamu. Baru dibicarakan sudah muncul." ucap Bu Asih tertawa.
"Amin." jawab Mbok Nah ikut tertawa juga.
"Tunggu ya Nah. Aku ganti pakaian dulu baru kita berangkat ke pasar."
"Sini duduk Nah." lambai Pak Rojak.
"Iya pak" jawab mbok nah duduk sambil melihat Nia yang sedang berlatih.
"Nia sekarang terlihat ceria sekali ya.. Gemukan sekarang, Nah".
"Benar pak, terimakasih sudah mau menerima dan membimbing Nia ya Pak" ucap Mbok Nah tulus.
"Tidak usah berterima kasih Nah. Aku melakukannya karena aku suka dan aku sayang terhadap Nia, begitu juga istriku" jawab Pak Rojak.
"Iya Pak. Saya bersyukur bisa tinggal di desa ini, bisa bertemu keluarga bapak dan warga desa yang baik dan ramah." ucap Mbok Nah.
"Kamu nggak usah khawatir Nah, aku akan terus membimbing dan menjadikan Nia pribadi yang kuat dan sehat!"
"Ayo Nah, kita berangkat sekarang. Saya sudah siap." Bu Asih yang sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat ke pasar untuk bekerja.
"Ibu berangkat dulu ya, Pak!" pamit Asih tak lupa mencium tangan suaminya.
"Hati-hati ya Bu!" jawab Pak Rojak.
Setelah mengucapkan salam, Bu Asih dan Mbok Nah pergi menuju pasar melakukan rutinitas seperti biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 298 Episodes
Comments
susi 2020
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2022-12-19
1
susi 2020
🤩🤩🤩🤩🤩🤩
2022-12-19
0
L
rojak nama tetangga ku wkwkwk😭🤣
2021-10-04
0