Laura yang kaget mendengar teriakan Resi, buru-buru menuju kamar belakang.
"Dimana pencurinya Res?" kata Laura dengan kagetnya.
"Itu Ma! Si anak babu mencuri ayam goreng, lihat tuh dia makan ayam goreng kita Ma," seru Resi sambil menunjuk piring makan Nia.
Mbok Nah terkejut dengan perkataan Resi. "Saya tidak mencuri, Nyonya. Ayam ini saya beli pakai uang saya sendiri untuk Non Nia ...."
"Kamu ya Mbok. Punya uang darimana coba?! Kamu pasti mencuri, kan?!" kata Laura sambil mendelik.
"Tidak nyonya, saya tidak mencuri ...." jawab mbok Nah kekeh.
Tiba-tiba Laura dengan kasarnya menarik tangan mungil Nia yang dari tadi bersembunyi di belakang punggung Mbok Nah
"Ampun Ma, ampun Ma, Nia tidak mencuri ...," kata Nia dengan wajah ketakutan.
Laura tidak peduli dengan rintihan Nia dan terus menariknya sampai ke ruang keluarga. Mbok Nah yang mengikuti mereka terus-terusan meminta ampun, "maafkan saya Nyonya. Ini semua salah saya bukan salah Non Nia, tolong lepaskan Non Nia."
Sesampainya di ruang keluarga, Laura langsung mengambil kemoceng dan mulai memukuli Nia. Nia hanya bisa menangis dan memohon ampun berulang kali.
Setelah puas memukuli Nia, Laura berkata, "ingat baik-baik, semua yang ada di dalam rumah ini adalah milikku dan anak-anakku! Jadi jangan pernah mengambil, menyentuh, atau memakan apapun tanpa seijinku! Mengerti?!" bentak Laura angkuh.
"Iya Ma, maafkan Nia ...," lirih Nia sambil terisak.
Sedangkan Resi, dia tertawa melihat kejadian tersebut dan berkata, "ingat babu, jangan sok jadi nona di rumah ini!" sambil menjulurkan lidahnya.
Mbok Nah yang melihat hal tersebut hanya dapat memeluk nona kecilnya dan meminta maaf, "maafin Mbok ya, Non. Karena Mbok, Non Nia jadi begini ...."
Nia cuma bisa menangis dalam pelukan Mbok Nah.
"Mbok, saya ingatkan sekali lagi ya, saya ini Nyonya rumah di sini! Jadi kamu sebagai pembantu di sini jangan berani-beraninya melawan saya!" kata Laura sambil meninggalkan ruangan.
"Sudah, Non ... ayo Mbok obati kakinya, kita ke kamar yuk, Non."
###
Hari masih gelap, tetapi Nia dan Mbok Nah sudah bangun.
"Mbok, kenapa papa sekarang tidak sayang Nia lagi ya?" kata Nia sedih.
"Sudah Non, jangan dipikirkan," jawab si Mbok.
"Mbok, Nia takut tinggal di sini, Mbok ... Nia takut sama Mama dan Kak Resi," kata Nia lagi.
Mbok Nah terdiam merenung mendengar perkataan nona kecilnya,
'apa aku ajak saja Non Nia pulang ke desa saja ya supaya bisa lebih aman ...'
### flashback ###
Setelah pemakaman Fira (Ibunda Nia), seorang pengacara datang ke rumah untuk membacakan surat wasiat dari almarhumah. Surat tersebut menyatakan bahwa:
Seluruh harta benda peninggalan almarhumah berupa rumah dan segala isinya, mobil, gedung, dan perusahaan akan diwariskan kepada anak tunggalnya, yaitu Fania Subroto, dengan ayahnya, Wahyu Subroto, sebagai walinya hingga Fania mencapai usia dewasa.
Sebelum Fania Subroto mencapai usia dewasa, warisan tersebut tidak dapat diganggu gugat, dijual, maupun dipindah tangankan.
Apabila terjadi sesuatu kepada Fania Subroto sebelum usianya mencapai 18 tahun, maka seluruh harta warisan akan diuangkan dan disumbangkan ke panti asuhan dan yayasan sosial.
Ya, sebenarnya semua kekayaan yang ada sekarang berasal dari keluarga Ibundanya. Ayah Nia bukanlah pemilik dari rumah dan perusahaan tempatnya bekerja. Itu semua adalah milik ibunda dan kakeknya Nia yang diwariskan kepada Nia.
Sedangkan Mbok Nah, dulunya pernah di tolong oleh keluarga Pak Alex. Sejak saat itu Mbok Nah mengabdi kepada keluarga tersebut karena merasa berhutang budi. Sampai Fira menikah dan memiliki anak pun, Mbok Nah masih setia ikut dengan Fira. Bahkan hingga ajal menjemput majikannya, Mbok Nah selalu merawat Nia seperti anak sendiri.
Fira yang sangat menyayangi anak satu-satunya itu selalu berpesan kepada Mbok Nah, "Mbok, tolong jaga Nia ya, Mbok ... kalau sampai aku tiada, tolong rawat Nia baik-baik ya, Mbok."
###
"Mbok, kok Nia ajak bicara Mbok Nah malah diam sih," kata Nia sambil manyun.
"Eh ... maaf non cantik, Mbok lagi bingung," jawab Mbok Nah sambil mesem-mesem.
"Non Nia, emang benar nggak betah tinggal di sini?" tanya Mbok Nah pelan.
"Nia takut, Mbok ... takut dipukuli lagi sama Mama Laura dan Kak Resi ...," jawab Nia sambil menunduk ketakutan.
"Non Nia kalau Mbok ajak tinggal di desa, mau?" tanya Mbok Nah lagi dengan hati-hati.
"Desa itu di mana, Mbok? Apa tempatnya bagus?" tanya Nia heran.
"Desa itu tempatnya sepi, nggak ada mall, nggak ada timezone Non," kata Mbok Nah sambil membelai rambut Nia.
"Di desa nanti ada Mama Laura dan Kak Resi juga, Mbok?" tanya Nia lagi.
"Ya nggak ada Non. Di desa mah adanya sapi sama kambing!" kata Mbok Nah tertawa.
"Hahaha ... Memang Nia boleh tinggal di sana, Mbok? Kalau ke sana Mama Laura dan Kak Resi nggak akan memukuli Nia lagi?" tanya Nia lugu.
"Enggak dong Non, di desa nggak akan ada Mama Laura dan Kak Resi."
"Nia mau, Mbok! Nia mau tinggal di desa, Mbok!" kata Nia dengan wajah cerah.
"Kapan kita pergi ke desa, Mbok?"
"Tapi Non Nia janji ya, jangan bilang siapa-siapa soal desa." Mbok Nah meletakkan telunjuk di bibirnya. mengisyaratkan untuk merahasiakan hal tersebut.
"Iya, iya! Nia janji, Mbok," jawab Nia sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
Mbok Nah pun tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari mungil Nia.
"Lagian Nia mau cerita ke siapa, Mbok. Kan Nia nggak punya teman," kata Nia lagi.
Mbok Nah melihat majikan tersayangnya itu dengan tatapan sedih dan miris. Sejak Laura masuk ke dalam kehidupannya, Nia tidak lagi merasakan kebahagiaan.
"Ya sudah, Mbok buat sarapan dulu ya," pamit Mbok Nah.
"Nia bantu ya Mbok, abis itu Nia mandi ya!" jawab Nia senang.
Di ruang makan, Laura, Rina, Rangga, dan Resi sudah duduk dan siap untuk sarapan.
Rina, Rangga, dan Resi disekolahkan di sekolah swasta elite ternama, sedangkan Nia dipndahkan ke sekolah swasta murah seadanya.
Setelah selesai sarapan, Rina, Rangga, dan Resi pamit berangkat ke sekolah.
"Ma, kami pergi sekolah dulu ya!" Rina, Rangga dan Resi serempak mengucapkan salam ke mamanya lalu masuk ke dalam mobil.
Dari pintu samping, Nia menatap sedih kepergian mobil tersebut.
"Mbok, ayo cepetan nanti Nia telat nih," kata Nia.
"Iya non, ayo," ajak Mbok Nah sambil menggandeng tangan mungil Nia.
Mereka berjalan kaki menuju ke sekolah Nia.
Saat melewati rumah seorang tetangga Nia, tiba-tiba ada yang menyapa Nia, "Nia, Nia mau ke sekolah ya?"
Karena disapa Nia pun membalas sapaan tersebut, "iya Tante Retno," jawab Nia malu-malu.
"Nia bareng dengan Rey dan Lisa aja ya, nanti telat loh kalau jalan kaki!" kata Retno kembali.
"Jangan Nyonya, nanti merepotkan ... terima kasih banyak," jawab Mbok Nah.
"Nggak papa, Mbok! Kan sekalian lewat." Retno tetap bersikeras.
Retno keluar dari pekarangan rumahnya lalu menarik Nia untuk diajak masuk ke dalam mobil yang sudah siap mengantar putra putrinya ke sekolah. Rey dan Lisa saat itu sedang keluar dari rumah, dan melihat apa yang mamanya lakukan.
"Rey, Lisa, kalian antar Nia ke sekolahnya dulu nggak papa kan?" tanya Retno kepada kedua anaknya.
"Nggak papa Ma, kan sekalian lewat," jawab Rey tak acuh.
"Ayo Nia!" kata Lisa sambil menggandeng tangan Nia masuk ke dalam mobil.
Dengan takut-takut, Nia melirik ke arah Mbok Nah.
"Ya sudah nggak papa, Non. Non Nia ikut mereka saja ya," kata Mbok Nah sambil tersenyum.
"Terima kasih ya, Nyonya," kata Mbok Nah lagi kepada Tante Retno.
"Mbok Nah, Tante Retno, Nia pergi dulu ya," pamit Nia pelan.
Mobil pun berjalan santai membawa ketiga anak tersebut ke sekolahnya masing-masing. Di dalam mobil, Lisa yang memang nggak bisa diam bertanya, "Nia kok nggak ikut mobil Kak Rangga? Kan sekalian lewat."
Sedangkan Rey cuma mendengarkan obrolan bocah kecil tersebut.
"Nggak, Nia sudah biasa diantar Mbok Nah kok," jawab Nia pelan seperti berbisik.
Nia takut ketahuan kakak-kakaknya. Kalau sampai mereka tau Nia ikut mobil Rey dan Lisa, ia bisa dipukuli lagi oleh Resi.
"Umm ... Lisa tolong nanti jangan kasih tau kak Rina dan kak Resi ya kalau Nia ikut mobil kalian ...," pinta Nia takut-takut.
"Loh kenapa memangnya Nia?" tanya Lisa bingung.
"Nggak papa, nanti Nia dimarahi," jawab Nia pelan.
Rey yang duduk di depan, dalam hati kaget. Setahunya Resi anak yang baik dan lembut. Marah bagaimana?
Lisa banyak berbicara di perjalanan, tapi Nia hanya berani menjawab dengan singkat.
Sampai di depan gerbang sekolah, Nia turun dari mobil, tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Lisa, Rey, dan juga pak supir.
"Sa!" panggil Rey.
"Si Nia, kalau kita main ke rumah Resi kok dia nggak pernah ikutan, kamu tau kenapa?" tanya Rey.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 298 Episodes
Comments
🍡
Oalah, aku paham sekarang niat busuknya si bapak bngst 😒
2024-11-30
0
🍡
pake nanya, lha dia kan digaji
2024-11-30
0
Hasrie Bakrie
Sadar donk Laura itu hartanya Nia, jdi jgn mimpi 😠😡
2023-05-03
0