Akhirnya mereka sampai juga di Desa Anyelir. Mereka berhenti didepan rumah mungil yang sangat asri.
Terlihat pekarangan hijau yang ditumbuhi banyak tanaman bunga dan pepohonan, juga ada ayunan disana.Hani lah yang sudah merapikan dan menyiapkan rumah tersebut agar Nia dan mbok Nah nyaman tinggal dirumah itu.
Di belakang rumah, terlihat hamparan sawah yang membentang luas, hawa desa yang masih sejuk dan segar tanpa adanya polusi, jarak satu rumah ke rumah lain pun tidak terlalu jauh.
Nia masih tertidur digendongan Indra. Hani dan mbok Nah keluar membawa koper dari bagasi mobil Indra.
"Non, ini kopernya kok banyak banget ya?" tanya Mbok Nah.
"Itu isinya pakaian Nia dan mbok Nah kok. Kemarin pulang kerja aku belanja dulu untuk keperluan kalian" jawab Hani.
"Walah Mbok kok malah jadi merepotkan non Hani.. Terima kasih ya, Non." ucap mbok Nah sambil masuk ke dalam rumahnya.
Mbok nah menatap senang melihat dalam rumah,dimana sudah tersedia kursi dan meja tamu, meja makan, lemari, dan perabotan lainnya.
"Bagus banget non Hani, makasih ya." ucap Mbok Nah.
Indra berjalan ke kamar yang ditunjuk Hani untuk menidurkan Nia disana, kemudian mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga.
"Mbok, mulai sekarang jangan panggil Nia dengan sebutan Non lagi. Cukup mbok panggil nia saja supaya orang-orang tidak curiga." pesan Indra.
"Benar kata Indra, mbok" Hani ikut bicara.
"Baiklah kalau begitu" mbok menurut kalian saja.
"Letak sekolahannya hanya 15 menit berjalan kaki dari sini mbok. Siang ini Mbok Nah dan Indra bisa mendaftarkan Nia untuk sekolah disana. Bisa kan. Ndra?" tanya Hani.
"Bisa Han, semua berkas sudah aku siapkan," jelas Indra.
"Ndra, Nanti abis mendaftarkan Nia, kamu ajak mbok belanja bahan pokok, supaya mereka tidak kerepotan nanti kalo kita balik Jakarta" saran Hani
"Siap Han" jawab Indra.
"Mbok Nah siap-siap ya, kita akan pergi mendaftarkan sekolah Nia. Saya juga mau mandi dan bersiap" tutur Indra.
"Ndra, nanti juga beli makanan sekalian ya. Hari ini nggak usah masak dulu, Mbok Nah pasti lelah".
"Oke" jawab Indra yang sudah menuju arah kamar mandi.
Indra dan mbok Nah pergi mengurus pendaftaran Nia di sebuah sekolah negeri, satu-satunya Sekolah Dasar yang terdapat disana. Semua berjalan lancar, karena sebelumnya Indra sudah menyuruh anak buahnya untuk memuluskan pendaftaran Nia tanpa masalah.
Setelah urusan sekolah Nia selesai, Indra mengajak mbok Nah ke kota kecil yang tak jauh dari desa tersebut untuk berbelanja kebutuhan pokok disana.
Sesampainya di sebuah toko yang cukup besar, Indra menemani si mbok berbelanja.
"Mbok, beli semua yang diperlukan ya. Karena jarak Desa Anyelir ke tempat ini cukup jauh, jadi mbok nggak perlu repot lagi besok-besok." ucap Indra.
"Iya Mas. Baju, sepatu, tas, dan keperluan sekolah Nia sudah disiapkan Non Hani. Jadi Mbok belanja kebutuhan dapur dan mencuci saja" jawab Mbok Nah.
"Nanti tiap dua minggu sekali saya akan datang mbok, kita bisa belanja lagi keperluan yang dibutuhkan ya" .
"Baik Mas, tetapi jangan sampai mengganggu pekerjaan kamu, juga kamu harus menjaga kesehatanmu ya, Mas!" jawab Mbok Nah.
Setelah selesai berbelanja, mereka mampir di warung makan padang yang mereka lewati. Indra membeli nasi, ayam goreng, rendang, dan lauk pauk lainnya, dan langsung meluncur kembali ke desa Anyelir.
Waktu sudah menjelang sore, Nia pun sudah terbangun dari tidurnya. Nia melihat isi kamar dan terpesona. Di dalam kamar ada meja belajar, lemari pakaian, ada lemari berisi boneka dan juga mainan, kemudian Nia melihat disisinya mama Hani masih tertidur.
Nia turun dari ranjang dengan hati-hati, kemudian berjalan ke arah lemari boneka. Diambilnya boneka panda yang menarik perhatiannya itu, kemudian dipeluk dan diciumnya dengan senang.
Hani yang terbangun dar tidurnya dan melihat Nia tersenyum senang, juga ikut jenang.
"Nia," panggil Hani.
Nia pun langsung menoleh dan menatap Hani.
"Mama Hani terbangun? Apa Nia mengganggu?" tanya Nia pelan karena sedikit takut.
"Nia nggak ganggu mama kok, Nia senang dengan boneka itu?" tanya Hani .
"Iya Nia senang sekali Ma, apa boneka ini boleh untuk Nia?" tanya Nia ragu-ragu.
"Nggak cuma boneka itu. sayang. Semua mainan yang ada disini, mama beliin untuk Nia. Jadi ini semua punya Nia."
Mata Nia terbelalak lebar.
"Haah beneran ma, ini semua punya Nia?" tanya Nia masih tidak percaya.
"Beneran! Masa mama bohong!" ujar Hani tertawa.
"Hore! Nia sekarang punya boneka dan mainan!" teriak Nia senang sambil lari memeluk Hani.
"Makasih, ma" Nia pun mencium pipi Hani.
Hani tertawa melihat kelakuan Nia, dia pun memeluk erat Nia.
"Nia sekarang harus gembira, dan jangan takut atau sedih lagi!" ucap Hani lembut.
"Iya ma" angguk Nia sambil tersenyum.
"Ya sudah ayo kita mandi, sebentar lagi pasti Om Indra dan Mbok Nah pulang" ajak Hani.
###
Selesai mandi, Hani dan Nia duduk santai di teras rumah sambil menikmati hawa sejuk yang menerpa wajah mereka.
"Ma, disini anginnya sejuk ya, nggak panas" ucap Nia senang.
"Iya, mama juga senang dengan udara disini, Nia."
Mereka memperhatikan jalan di depan rumah karena tiba-tiba lewat anak-anak berlari menggunakan seragam hitam. Hani langsung bangkit dan keluar pintu pagar.
"Dik" sapa Hani ke anak-anak yang sedang berlari tersebut. Salah satu anak yang kira-kira berusia 15 tahun berhenti di depan Hani
"Iya bude, ada apa ya?" jawab si anak sopan.
"Kalian sedang latihan apa, Dik?" tanya Hani .
"Kami sedang latihan pencak silat bude, kami dari pencak silat tapak suci" jawab si anak .
"Memang dimana tempat kalian latihannya? " tanya Hani .
"Disana Bude" si anak menunjuk sebuah gedung.
"Eem masih terima murid baru gak disana dek?".
"Masih Bude! Datang saja ke gedung disana, nanti ada Pakde Rojak. Dia guru kami, bude". jawab si anak.
"Makasih penjelasannya ya dek" ujar Hani tersenyum.
"Sama-sama bude, permisi".
Nia yang tadi juga ikut berdiri di sisi Hani cuma bengong karena tidak paham pembicaraan mama Hani dan orang tersebut.
Tiba-tiba Hani memegang tangan Nia
"Ayo, Nia! kita ke gedung itu" ajak Hani semangat
Setelah menutup pintu rumah, mereka menuju ke gedung pencak silat Tapak Suci. Nia yang tidak mengerti cuma ikut saja karena dia senang diajak jalan-jalan oleh Hani.
Sesampainya di gedung tersebut yang ternyata cukup luas, Hani pun memberi salam, dan diberi jawaban serempak oleh anak-anak yang sedang latihan .
Hani menggandeng Nia berjalan ke arah dalam.
"Maaf pak Rojak yang mana ya?" tanya Hani kepada anak2 yang sedang latihan.
Tiba2 dari belakang Hani, terdengar suara.
"Saya Pak Rojak, maaf Ibu ada perlu apa mencari saya?" tanya pak Rojak menatap tajam kearah tamunya.
Hani membalikan badan dan menatap pria tinggi besar dengan brewok yang memperlihatkan wajah yang sangar. Nia yang melihat pak Rojak langsung bersembunyi di belakang punggung Hani.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 298 Episodes
Comments
susi 2020
🤓🤓🤓🤓🤓
2022-12-19
0
susi 2020
🤫🤫🤫🤫
2022-12-19
0
Roha12
semakin kesini cerita nya semakin seruu
maaf Thor baru kasih coment
2022-04-08
0