❤️❤️❤️
Sepulang dari pertemuan Raya kembali ke
kantor tanpa Aaron. Ada sedikit kejanggalan
yang dia rasakan, karena pria itu menyuruh
dirinya kembali terkesan buru-buru. Raya
kembali ke kantor bersama dengan Griz. Ini
memang sesuatu yang lebih baik bagi Raya
ketimbang dia harus berada di dekatnya.
Namun anehnya ada rasa tidak nyaman
yang kini mengganggu pikirannya.
Raya berusaha menyibukkan dirinya dalam
ruangan besar itu sendirian. Ada banyak hal
yang harus di selesaikan nya di hari kedua
dia sebagai sekretaris pribadi pria jahat itu.
Semula ada rasa takut dalam dirinya saat
menyadari dia sendirian di ruangan besar
itu namun tidak lama kemudian Griz datang
dan menemaninya sampai jam kerja habis.
"Kita pulang sekarang Miss.?"
Griz bertanya saat melihat Raya masih saja
berkutat dengan sisa pekerjaannya.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ini
sebentar lagi Griz. Kau bisa menungguku
di bawah kalau bosan.!"
"Tidak apa-apa, saya akan menunggu anda
di sini saja."
Sahut Griz sambil kembali keluar ruangan,
berjaga di depan pintu seperti patung.
Tidak tega terhadap Griz, akhirnya Raya
mengakhiri pekerjaannya dan segera
berkemas. Entah kenapa hatinya semakin
merasa tidak nyaman dan semakin lama
semakin membuat nya gelisah. Setelah
semuanya selesai dia langsung mengajak
Griz untuk pulang.
Namun Raya di buat terkejut saat Griz tidak
membawanya pulang ke penjara laki-laki itu
melainkan menuju jalur ke kediaman Atmaja.
"Loh, kenapa kita pulang kesini Griz.?"
Raya bertanya dengan alis terangkat kuat.
"Anda tidak akan tinggal di apartemen lagi
Miss, mulai besok Tuan akan membawa
anda ke negara asalnya."
"Apa maksudmu.? Apakah besok Tuan mu
akan pulang.?"
"Benar Miss."
Raya terhenyak, wajahnya langsung memucat.
Tidak, apakah ini berarti bos jahatnya itu akan membawa dirinya pergi.?
Begitu tiba di kediaman keluarga Atmaja
Raya berdiri mematung di ruang keluarga
saat melihat seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Bahkan Paman dan Tante
adik almarhumah ibunya juga ada di sana.
Mereka semua terdiam sesaat, menatap
lurus ke arah Raya yang masih berdiri kaku
di tempat.
"Kak Raya...!"
Arka berdiri lalu menghampiri Raya dengan
wajah yang terlihat sedih dan tertekan. Raya
merangkul remaja tanggung itu di penuhi
rasa penasaran melihat situasi yang ada.
"Arka..ada apa ini.?"
Suara Raya terdengar bingung dan penuh
dengan tanda tanya.
"Papa yang memaksa semua ini terjadi Kak,
maaf karena Arka tidak bisa mencegah nya."
Arka melepaskan pelukannya. Paman dan
Tante nya kini mendekat, mengelus dan
mengusap rambut Raya penuh kasih sayang.
"Selamat ya sayang, akhirnya kamu menikah
juga, walaupun dengan cara seperti ini.!"
Ujar Tantenya sambil merangkul Raya yang
terkejut seketika. Menikah, siapa.?? Tatapan
Raya kini jatuh pada sosok ibu tirinya yang
sedang menatapnya dengan wajah datar
cenderung sinis. Kedua saudari tirinya juga
sama saja, mereka kini berdiri dan berjalan
kearahnya dengan tatapan sinis.
"Bisa ibu jelaskan ada apa ini.?"
Raya bertanya dengan tatapan tajam kearah
Nyonya Leni, ibu tirinya itu, setelah rangkulan
sang Tante terlepas.
"Kenapa harus bertanya padaku.? Papa mu
yang merencanakan semua ini.!"
Ketus Nyonya Leni dengan sikap sinisnya.
Riri maju ke hadapan Raya, menatapnya
tajam sambil tersenyum miring.
"Kasihan sekali ya nasib korban perkosaan
sepertimu , harus berakhir dengan menikah
paksa seperti ini.!"
DEG !!
Jantung Raya seakan terhantam benda keras.
Ada rasa sakit yang kini merobek hatinya. Apa
yang terjadi sebenarnya.? Raya berpaling pada
paman dan bibinya yang kini sedang menatap
sedih kearahnya. Dia menggeleng pelan.
"Kita juga tidak tahu.. entah pria macam apa
yang akan menikahi nya.! Mungkin tua bangka,
atau bisa juga laki-laki brengsek yang istrinya
ada dimana-mana.!"
Imbuh Mila menambah panas suasana. Mata
Raya mulai berkaca-kaca, dia menatap paman
dan bibinya dengan sorot mata penuh luka.
Rasa sakit itu kini terasa kembali.
"Kak Riri, Kak Mila sudah..! Kalian berdua
benar-benar tidak berperasaan.! Sebagai
sesama perempuan, apa tidak punya sedikit
saja rasa empati dalam hati kalian ?"
Arka membentak kedua kakak nya itu dengan
mata yang mulai memanas dan berair. Hatinya
sakit sekali mendengar hinaan mereka pada
Kakak kesayangan nya itu.
"Aku tidak peduli ya apa yang dia rasakan.
Semua yang terjadi padanya ini memang
pantas dia dapatkan.!"
Riri balas membentak dengan wajah yang
semakin sinis. Air mata Tante Raya kini sudah mengalir tidak tertahan. Raya segera memeluk kembali Tante nya itu berusaha menenangkan walaupun hatinya sendiri saat ini sudah tidak
terbayang sehancur apa.
"Kau tahu, nama baik keluarga kita bisa saja
tercoreng gara-gara kamu. Makanya Papa
terpaksa mencarikan seseorang yang sudi
menikahi barang bekas seperti kamu.!!"
"Cukup Riri, Mila. Semua yang terjadi padaku
adalah kehendak Tuhan. Kalau boleh memilih
aku pun tidak menginginkan semua ini terjadi.
Jadi..aku minta hentikan semua cemoohan
kalian.! Aku sendiri yang akan menanggung
semua resikonya.!"
Raya tidak tahan lagi, dia menatap tajam kedua
kakak beradik itu dengan air mata yang sudah mengalir deras bak air terjun.
"Kalian berdua benar-benar tidak punya hati.
Aku harap belajarlah untuk meraba hati orang
sedikit saja, karena hinaan dan cacian kalian
bisa menjadi doa yang berkebalikan untuk
orang tersebut.!"
Ujar Raya, dia segera berlari menuju ruang
kerja ayahnya untuk memperjelas semua hal
yang terjadi saat ini.
***
Raya meneteskan air mata di tengah lantunan
doa khusyuk usai menjalankan sholat isya.
Dia memohon kebaikan dan keselamatan
untuk hidup nya ke depan. Entah nasib akan
membawanya kemana setelah ini.
"Kau akan menikah dengan orang yang sudah
merenggut kesucian mu Nak. Orang itu datang
ke kantor Papa sewaktu kamu di rumah sakit.
Dia mengatakan ingin bertanggung jawab
atas apa yang telah di perbuat nya padamu."
Raya memejamkan matanya saat ucapan
Tuan Danu kembali terngiang di telinga nya
sewaktu dia datang ke ruang kerja ayah nya
tadi untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Dan kini, tidak ada lagi yang bisa dia lakukan
selain pasrah serta menerima takdir hidupnya.
"Orang itu yang mengatur semua persiapan
pernikahan ini. Entah siapa dia karena Papa
sendiri tidak tahu siapa namanya.! Sepertinya
dia orang yang cukup berpengaruh."
Kembali perkataan Sang Papa mengusik
pikirannya. Raya menghela nafas panjang.
Orang itu memang punya pengaruh yang
sangat besar Pa. Tapi dia juga orang yang
sangat kejam.!
Gumam Raya dalam hati sambil merapihkan
kembali peralatan sholat nya dan menyimpan
nya di dalam lemari. Matanya kini bergulir
pada ponsel yang dari tadi bergetar tiada
henti. Mata Raya langsung berkaca-kaca
saat melihat nama Jessica muncul di sana.
"Assalamualaikum Jes."
"Waalaikumsalam..Rayaa..kamu kemana aja
sih.? dari tadi aku hubungi tapi tidak di angkat
juga.! Kau.. baik-baik saja kan.?"
"Aku baik-baik saja Jes. Maaf tadi aku sedang sembahyang.."
"Ohhh..maaf kalau gitu. Raya..kenapa kamu memutuskan untuk menerima tawaran posisi
sebagai sekretaris pribadi Presdir.? kenapa
kamu tidak menerima lamaran Mr Sean saja.?"
Raya langsung menjatuhkan dirinya di atas
tempat tidur. Air mata kini sudah mendesak
ingin keluar tapi dia berusaha menahannya.
"Aku tidak bisa Jes, itu tidak mungkin.!"
"Kenapa Ray, sudah jelas sekali pria itu mau
menerima kamu apa adanya.!"
"Aku tahu, tapi..dia terlalu baik untukku.
Tidak adil rasanya kalau dia mendapatkan
seorang wanita yang sudah tidak utuh lagi
seperti ku.!"
"Kamu jangan konyol Ray, semua itu tidak
lah penting untuk nya. Yang penting adalah
cinta dan perasaan mu untuk nya."
"Aku tidak bisa curang Jes, hatiku bahkan
belum terbentuk dengan utuh untuk nya.!"
Hening, tidak ada sahutan dari sebrang sana.
Air mata Raya semakin memaksa keluar.
"Penjahat itu sudah membuat semua mimpi
indah kalian hancur berantakan.!"
"Jes..!! "
Tangis Raya kini mulai pecah membuat
suasana di sebrang sana langsung senyap.
"Ray..Rayaa..?? ada apa dengan mu.? Apa
orang itu menyakiti mu lagi.?"
"Jes.. a-aku akan menikah besok.!"
"Apa..?? Menikah.??"
Raya menjauhkan ponsel dari telinganya
dengan tangis yang semakin menjadi.
"Bisakah kamu besok datang kesini.? Aku
membutuhkan kehadiran mu. Aku ada di
rumah Papa sekarang !"
"Tentu saja. Aku akan datang , apakah aku
perlu datang sekarang juga kesitu.?"
"Tidak usah Jes, ini sudah malam. Kau
harus istirahat ."
"Apakah orang jahat itu yang akan menikahi
mu besok Ray.?"
"Aku tidak punya pilihan lain Jes, orang itu
memaksaku untuk berada di jalan ini.!"
Raya semakin terisak merasakan kesakitan
yang kini semakin menyayat hatinya.
"Jadi orang jahat itu membuktikan ucapan
nya ! Aku jadi penasaran dengan orang nya.
Lihat saja besok, kalau orang itu membuat
keributan aku tidak akan membiarkan nya
bebas begitu saja.!"
"Jes..aku ingin mengingatkan sesuatu
padamu..!"
"Apa itu, apa ada sesuatu yang penting.?"
"Apapun yang terjadi besok, semua yang
akan kamu lihat besok, jangan pernah kau
membukanya pada orang lain, karena hanya
kamu yang aku beritahu tentang pernikahan
ini. Kau mengerti ucapanku.?"
Hening, tidak ada sahutan dari sebrang sana.
Sepertinya Jessica berusaha memahami apa
yang di ucapkan Raya.
"Aku tunggu kamu besok di sini.!"
Raya mengakhiri percakapan teleponnya.
Dia menyusupkan wajahnya di atas bantal
berusaha meredam tangis yang kembali pecah.
Tuhan.. bisakah Engkau mengubah semua
ini.? Apakah Engkau yakin aku akan bisa
menjalaninya.?
***
Pagi hari yang sibuk di kediaman keluarga
Atmaja. Semua pelayan terlihat sudah mulai
berkutat dengan segala kegiatannya sejak
adzan subuh berkumandang.
Ada kegaduhan yang kini terjadi di halaman
depan rumah yang cukup luas itu ketika tiba-
tiba saja datang beberapa mobil hitam. Para
pelayan di buat melongo melihat orang-orang
berpakaian serba hitam kini berjaga di sekitar
rumah seolah sedang mengawasi keadaan.
Namun tidak ada yang berani menegur atau
bertanya kepada orang-orang berperangai
menyeramkan itu.
Sementara itu di dalam kamar Raya, keadaan
tampak gaduh saat Jessica datang di antar
oleh Tante nya Raya. Kedua sahabat itu kini
saling berpelukan erat, tangis Raya lagi-lagi
pecah. Tante Raya juga jadi ikutan menangis,
ketiganya kini berangkulan menumpahkan
air mata penyesalan atas apa yang berlaku.
"Sudah ya acara tangis-tangisan nya. Apapun
yang terjadi semata-mata atas kehendak Yang
Maha Kuasa. Kita hanyalah manusia biasa."
Akhirnya Tante Raya berusaha menenangkan
seraya mengusap air mata yang mengalir di
pipi mulus ponakannya itu.
"Ya sudah Ray, sebaiknya sekarang kamu
membersihkan diri. Bukankah acaranya
akan di langsungkan pukul 10 pagi.?"
Jessica menambahkan sambil membantu
Raya untuk berdiri. Dengan berat hati Raya
masuk ke kamar mandi untuk membersihkan
diri sekaligus menjernihkan pikiran nya.
Waktu semakin merayap siang. Suasana di
dalam kamar kembali gaduh saat tiba-tiba
datang Griz bersama dengan dua orang MUA
yang membawakan gaun pengantin cantik
warna putih. Jessica menatap orang-orang
itu yang langsung bersiap diri. Dan Raya yang
baru saja keluar dari kamar mandi hanya bisa
bengong melihat keberadaan mereka.
"Maaf Miss, Tuan memerintahkan dua
orang ini untuk membantu persiapan anda."
Lapor Griz sambil membungkuk hormat. Raya
terdiam, menatap kedua orang itu yang kini
ikut menundukkan kepala di hadapannya.
Matanya bergulir pada gaun pengantin yang
tergeletak di atas kasur, hatinya kembali terasa berdenyut nyeri, jiwanya gelisah seketika.
"Baiklah, terserah kalian saja..!"
Raya tampak tidak bersemangat. Dia segera
duduk di depan meja rias. Untuk sesaat dua
orang MUA itu tampak terdiam, menatap
kagum pada Raya.
"Hei..apa kalian akan diam saja terus.?"
Jessica mulai kesal melihat kekonyolan dua
orang itu yang langsung tersipu malu. Tidak
lama mereka mulai bergerak melakukan
persiapan. Dan di mulailah proses make over
nya, Raya meminta hanya make up ringan
saja, tidak usah yang terlalu ribet.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi.
Semua persiapan sudah selesai di lakukan.
Penjagaan di luar rumah terlihat semakin
ketat seolah akan menjemput seseorang
yang sangat penting. Para tetangga merasa
sedikit aneh dengan suasana yang ada.
Bahkan bukan hanya tetangga, penghuni
rumah pun di buat bingung dengan segala
keanehan yang kini terjadi.
Sekitar pukul 9 lebih datang lagi sebuah mobil
super mewah ke halaman rumah yang sontak
saja membuat bengong seisi rumah.Terlebih
bagi ibu tiri serta dua saudari tiri Raya yang
terlihat menganga takjub melihat kemewahan
mobil super mahal tersebut.
"Kenapa harus di jemput dengan kendaraan
semewah ini ? Memang siapa sih calon
suami nya itu.?"
Bisik Mila sambil berdiri di ambang pintu,
masih menatap kagum kearah mobil mewah
tersebut yang terparkir gagah tepat di depan
pintu utama di jaga ketat oleh orang-orang
berpakaian dan berkacamata hitam tadi.
"Aku yakin calon nya si Raya pasti manusia
jahat lagi seperti pemerkosa nya.!"
Sahut Riri dengan wajah sinisnya. Mereka
benar-benar tidak bisa menerima semua
kejanggalan yang mulai terlihat ini.
"Haduhh..malang bener nasibnya. Seorang
Dewi yang sangat berharga akhirnya hanya
berakhir menikah dengan seorang penjahat.!"
"Akan jadi apa nasibnya ke depan hihii..!"
Mereka berdua tertawa terkikik menutup
mulut. Puas banget rasanya membayangkan
Raya menikah dengan seseorang yang jauh
dari apa yang di bayangkan. Seorang laki-laki
tua yang hanya berambisi untuk mendapatkan
kepuasan fisik saja dan akan memperlakukan
Raya sebagai pemuas nafsu belaka.
Mereka benar-benar tidak sabar lagi ingin
segera melihat calon suami Raya dan reaksi
dari saudari tirinya itu nanti..
***
Happy Reading...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers..
Di tunggu jempol & koment nya..🤗🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Naila Azmi
i like it 😍😍😘😘
sm ceritanya
2024-11-10
0
Anggiat Silaen
julid aj saudara Tiri mu ni raya, 😜
2024-05-25
0
andi hastutty
siapkan jantungmu sodara tiri raya 🤭😜
2023-10-13
1