❤️❤️❤️
Sean masuk ke dalam ruang perawatan Raya
dengan wajah yang terlihat bersinar cerah.
Pria itu sudah lengkap dengan setelah kerja
nya, tampan dan menawan. Raya menempati
ruang perawatan VVIP sesuai dengan yang
di perintahkan oleh Aaron.
"Selamat pagi Baby.. bagaimana kabarmu
hari ini.?"
Dengan tersenyum lebar Sean mengulurkan
sebuket bunga cantik ke hadapan Raya yang
hanya menatapnya dalam diam. Wajah gadis
itu terlihat datar, tak ada semangat ataupun
harapan yang terlihat dari pancaran matanya.
Dia memandang wajah tampan pria bule
yang selama hampir setengah tahun ini tidak
pernah berhenti mengejar hatinya, sejak pria
itu berada di negara ini dan menjabat posisi
sebagai direktur di perusahaan tempat Raya
bekerja yaitu ' Marvello's Corporation'.
"Kau tidak perlu melakukan semua ini Tuan."
Ucap Raya dengan suara yang sangat dingin.
Dia meraih bunga itu, menyimpan nya di atas
pangkuan. Senyum Sean terkulum lembut,
pria itu tidak pernah memasang tampang
kusut ataupun kacau di hadapan Raya walau
kondisi pikirannya sedang serumit apapun.
"Kau pantas mendapatkannya baby. Kau
adalah wanita tercantik yang pernah aku
temui selama ini. Kau sangat istimewa.."
"Sudah hentikan bualannu itu ! Kau tahu
pasti aku sudah berbeda sekarang.!"
Raya memalingkan wajahnya kearah jendela,
tidak sanggup kalau harus bersitatap dengan
pria itu yang akhir-akhir ini sudah mampu menghangatkan hatinya, memberinya sedikit
kenyamanan saat bersama walaupun mereka
belum resmi jadian. Sean duduk di samping
Raya, wajahnya kini tampak serius. Dia meraih
tangan kiri Raya yang terluka, mengelus nya
lembut penuh perasaan.
"Maaf kalau waktu nya kurang tepat. Tapi aku
tidak bisa menundanya lagi. Aku berniat serius
dengan mu Raya. Aku ingin melamarmu. "
Raya melirik cepat, menatap wajah Sean penuh
keterkejutan dan rasa tidak percaya mendengar
apa yang di ucapkan nya barusan. Keduanya
saling menatap kuat mencoba meyakinkan diri.
Tapi tidak ada sedikitpun keraguan yang terlihat
dari sorot mata bermanik biru laut itu.
"Aku harap kau masih mempertahankan
akal sehat mu Tuan Sean..!"
"Aku sadar sepenuhnya dengan ucapanku.!"
"Aku bukan Raya yang kemarin Tuan Sean.!
Aku tidak berharga lagi sekarang.."
"Aku tidak peduli dengan itu. Kita akan segera
memproses masalah ini ke jalur hukum. Aku
akan memenjarakan ******** itu.!"
"Kau benar-benar konyol Tuan..!"
"Sekarang katakan padaku siapa laki-laki
brengsek itu.! Aku akan melacak nya.!!"
"Cukup ! Aku bahkan tidak mengenalnya
sama sekali. Jadi aku mohon, hentikan
semua kekonyolan mu ini.!!"
"Aku sangat mencintaimu Maharaya..!!"
Mata mereka kembali saling menatap kuat.
Raya menggelengkan kepala pelan dengan
raut wajah mulai berubah muram. Sean kini
menggengam kuat tangan Raya yang terluka.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan mu Raya.
Aku akan membalut semua lukamu.."
Raya menepis genggaman tangan Sean,
memalingkan wajahnya kearah lain. Kali ini
dia tidak boleh lagi meneteskan air mata.
Hatinya sudah tidak berbentuk saat ini.
Mungkin kalau keadaannya tidak seperti
sekarang ini dia akan sangat bahagia saat
mendengar ucapan Sean barusan. Tapi..
sekarang, semuanya telah berubah. Dia
hanya seonggok sampah yang tidak layak
mendapatkan belas kasihan laki-laki baik
seperti Sean.
"Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih
baik segala-galanya dariku Tuan. Kau punya segalanya, kau bisa mendapatkan wanita
manapun, tolong jangan korbankan dirimu
hanya untuk wanita yang sudah ternoda
sepertiku..!"
Tegas Raya dengan tatapan yang terlihat
sangat terluka. Sean menatap tenang wajah
Raya, tapi ada pancaran amarah yang kini
tersembunyi di sudut hatinya. Dia tidak akan
mengampuni ******** yang telah merusak
dan membuat seorang Raya kehilangan jati
dirinya yang dulu selalu percaya diri, berani
dan penuh dengan semangat.
"Tapi yang aku inginkan hanya kamu saja.
Aku sudah cukup lama menunggu saat
ini Raya, tolong lihat aku !"
"Aku mohon Tuan Sean, hentikan semua nya.
Saat ini aku tidak menginginkan apapun lagi."
Sean terhenyak, menatap tajam wajah Raya
dengan rahang yang sedikit mengeras.
"Aku tahu kau butuh waktu sendiri dulu Raya.
Dan aku akan selalu ada untuk mu. Akan aku
tunggu sampai kapanpun."
"Tolong tinggalkan aku sendiri Tuan Sean.!"
Raya memalingkan wajahnya, Sean menatap
Raya sambil menghembuskan nafas berat
kemudian berdiri merapihkan jas nya.
"Baiklah, aku pergi dulu. Setelah semua urusan
beres, aku akan kesini lagi."
Sean meraih tangan Raya, menatap lekat
wajah gadis itu yang masih berpaling sambil
memejamkan matanya. Perlahan dia mencium
lembut jemari tangan Raya dengan tatapan
yang tiada lepas dari wajah cantik gadis itu
yang kini sudah kembali berdarah. Setelah itu
dengan berat hati dia berlalu keluar ruangan.
Raya menghembuskan nafas berat. Apa yang
akan dia lakukan sekarang.? Raya menatap
pergelangan tangannya yang terluka. Kenapa
Tuhan tidak mengijinkan dirinya lepas dari
semua kepahitan ini. Apakah Tuhan punya
rencana lain untuknya ? Raya memejamkan
matanya. Baiklah..! kalau begitu dia tidak akan
membiarkan dirinya terpuruk lagi. Apapun
yang terjadi nanti, akan dia hadapi semuanya.
"Ohhh..kau disini rupanya Nona besar.!"
Raya membuka matanya sedikit terperanjat.
Dia menatap kedatangan kedua saudari
tiri nya yang kini sedang berjalan mendekat.
Mereka berdua, Riri dan Mila berdiri di sisi
ranjang sambil melipat kedua tangannya
di dada dengan tatapan miring sedikit sinis.
"Apa yang terjadi dengan mu Nona Besar.?"
Tanya Riri sambil menatap tajam kearah luka
di pergelangan tangan Raya.
"Aku yakin penjahat itu sudah mengambil
kehormatan mu yang sangat kau banggakan
itu kan ? Itu adalah hukum karma untukmu
Nona Raya, karena selama ini kamu selalu
mengusili urusan kami..!!"
Mila menambahkan dengan tatapan yakin
penuh senyum kepuasan. Raya menatap
kedua gadis berpakaian seksi itu bergantian
mencoba untuk tetap tenang.
"Hei..aku ingin tahu, bagaimana rasanya
bercinta untuk pertama kalinya dengan
terpaksa apalagi harus melayani laki-laki
buas seperti penjahat itu.?"
"Aku yakin itu pasti sangat berkesan Kak
sampai-sampai dia memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya..!!"
Tanpa perasaan kedua adik berkakak itu
tertawa kecil mengejek membuat Raya tidak
tahan lagi dia mengepalkan tangannya kuat.
"Kalau kedatangan kalian kesini hanya untuk
itu, sebaiknya kalian pergi sekarang juga.!"
Raya menunjuk ke arah pintu dengan tatapan
tajam yang langsung membuat tawa kedua
gadis itu berhenti. Riri maju mendekat lalu
mencengkram dagu Raya dengan kuat.
"Ini semua pantas kamu dapatkan.Selama ini
kamu terlalu angkuh dan sombong dengan
semua kehormatan mu. Kau menolak setiap
pria yang mendekatimu dengan arogan.!"
Desis Riri sambil menepis kasar wajah Raya
hingga dia berpaling kencang.
"Silahkan kalian hujat aku sesuka hati. Yang
jelas selama ini aku tidak pernah merugikan
siapapun, termasuk kalian.!"
Raya berucap sambil menatap tajam wajah
Riri dan Mila yang tersenyum sinis.
"Ohhh.. jadi kau pikir begitu.? Kau tidak
sadar telah merugikan orang lain.?"
Mila maju mendekat membuat Raya mundur
ke ujung tempat tidur.
"Selama ini kau terlalu cantik dan berharga
Raya.! Dan itu adalah kerugian bagi kita,
semua mata laki-laki tidak pernah melihat
kearah kita karena keberadaan mu. Dan
kau tahu, aku sangat membenci hal itu.!"
Mila mendorong bahu Raya yang hanya
bisa memejamkan mata, mencoba
menahan diri untuk tidak terprovokasi.
"Tapi sekarang kau hanyalah sisa.! Kau
tidak lebih berharga daripada kita. !!"
Desis Riri sambil kemudian ikut mendekat,
menatap mengejek dengan senyum sinis
penuh arti. Dia mendekatkan wajahnya.
"Hati-hati.. Aku yakin akan ada kejutan baru
yang kau dapatkan..Jayden junior hahaa..!!"
Tawa Mila dan Riri seketika meledak, mereka
berdua melenggang pergi masih menyisakan
tawa bahagia. Raya terhenyak dengan wajah memucat.Tuhan.. apa ini.? dia tidak pernah memikirkan hal itu sebelum nya !! Tidak,
itu tidak akan pernah terjadi. Sialnya, cairan
bening meluncur begitu saja tanpa bisa di
tahan. Raya memejamkan matanya rapat
menahan segala rasa yang kini membuat
dadanya kembali sesak. Dia seakan telah
jatuh kembali ke lembah keterpurukan.
***
"Dengarkan aku Raya, kau tidak sendiri.
Masih banyak orang yang menyayangi dan
mencintai dirimu. Ada orang yang sudah
begitu tulus dan yakin ingin menjagamu.!"
Jessica meyakinkan Raya untuk kembali
bangkit dan keluar dari semua keterpurukan.
Dia tidak ingin sahabatnya itu menghancurkan
dirinya sampai sejauh ini. Raya menghela
nafas pelan lalu mengangguk dan memeluk
erat tubuh sahabatnya itu.
"Baiklah, aku akan mendengarkan mu kali
ini. Terimakasih karena kamu selalu ada
untukku selama ini. "
"Tentu saja. Kita adalah sahabat , sampai
kapanpun.!"
Jessica mengelus rambut Raya, tidak lama
mereka saling melepaskan diri.
"Sekarang bilang padaku siapa laki-laki itu.?"
DEG !
Jantung Raya tiba-tiba berdetak kencang,
bayangan wajah dingin Aaron serta lintasan
kejadian malam itu kini berputar cepat dalam ingatannya. Dia menggeleng kuat , menatap
Jessica mulai di serang kecemasan.
"Jes, aku mohon.. jangan memaksa ku untuk
mengingat kembali kejadian itu. Biarkan aku
beradaptasi dengan semua ini terlebih dahulu."
"Oke, baiklah.! Maafkan aku karena sudah
mengingatkan mu pada kejadian itu.!"
Jessica menggenggam tangan Raya berusaha
untuk menenangkan nya dengan mengelus
lembut wajah bening gadis itu.
"Kau mau aku belikan gado-gado Pak Min
kesukaan mu.?"
Tiba-tiba Jessica berucap dengan wajah
berbinar, Raya menautkan alisnya, tapi
ada ketertarikan yang sangat terlihat di
wajah nya.
"Tapi ini sudah malam Jes.!"
"Masih ada lah, kalau pun dia sudah pulang
aku akan ke rumahnya langsung."
"Jangan Jes, lain kali saja.."
"No, tunggu ya..aku tidak akan lama, malam
ini aku akan menemanimu di sini."
Jessica mengecup lembut pipi Raya
kemudian melangkah pergi keluar ruangan.
Raya hanya bisa terdiam menatap kepergian
sahabatnya itu seraya menggeleng pelan.
Tidak lama dia beranjak turun dari ranjang.
Dia ingin membersihkan dirinya karena
sekarang tubuh nya sudah terbebas dari
berbagai alat medis. Dengan perlahan dia
berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setengah jam kemudian Raya sudah keluar
dari kamar mandi dengan keadaan yang
terlihat lebih segar. Kondisinya saat ini
sudah sangat stabil, hanya tinggal proses
pemulihan saja. Rencana nya besok dia
akan keluar dari rumah sakit. Sekarang ini
dia sudah tidak memakai pakaian rumah
sakit lagi, Raya mengenakkan gaun tidur
panjang dengan ukuran yang sangat pas
membalut manis tubuh ramping nya.
Raya berdiri di balkon, mencoba menikmati
semilir angin malam yang terasa sejuk di
kulit dan cukup memberinya ketenangan.
Tidak lama terdengar suara pintu ruangan
yang tertutup.
"Jes.. kamu sudah kembali.?"
Raya bertanya masih dalam posisi tubuh
menghadap kearah hamparan pemandangan
kota di bawah sana berhias kerlip lampu
malam yang sangat indah.Tidak ada sahutan
dari arah ruangan membuat Raya menautkan
alisnya, bingung dan sedikit curiga.
"Jes.. apa itu kau..."
Ucapan Raya menggantung di udara saat
dia memutar tubuhnya. Matanya membulat
indah begitu melihat satu sosok tinggi gagah
kini tengah berdiri di ambang pintu dengan
wajah datar nya. Mata mereka bertabrakan,
saling menatap kuat, Raya mundur ke ujung
balkon, dengan tatapan waspada bercampur
tegang kearah pria yang ingin di hindari nya
itu. Tatapan tajam pria itu melemaskan lutut
Raya dan membuat kakinya goyah.
***
Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Anggiat Silaen
seperti hantuu jelangkung Aron ini lh,, 😀
2024-05-25
0
andi hastutty
auron datang lagi
2023-10-12
0
gia gigin
Ihhh Aaron seperti hantu main muncul aja🤣🤣
2022-10-06
0