❤️❤️❤️
Ruang pertemuan khusus...
Semua orang kini terdiam, duduk menunduk
dengan suasana tegang dan kaku. Rasa tidak
percaya karena mendapat kunjungan dadakan
dari sang Presdir membuat orang-orang yang
memegang jabatan penting di perusahaan itu
tampak dalam kondisi canggung.
"Aku datang kesini menginginkan sesuatu.!"
Akhirnya sang Presdir bersuara membuat
semua orang mengangkat kepalanya dengan
segan, melihat sebentar kemudian tertunduk
kembali.
"Apa yang bisa kami berikan untuk anda
Presdir ?"
Sean mencoba bertanya masih dengan wajah
yang tertunduk hormat.
Sang Presdir melirik kearah asisten pribadinya
yang langsung mengangguk faham.
"Berikan data karyawan terbaik yang bisa kau
rekomendasikan untuk menjadi sekretaris
pribadi Tuan De Enzo.!"
Semua orang mendongak, menatap terkejut
kearah sang Presdir yang terlihat datar saja.
"Sekretaris Pribadi Presdir ?"
Sean mencoba meyakinkan dengan tatapan
bingung penuh tanda tanya.
"Beliau menginginkan hal itu. Perusahaan
cabang ini cukup memunculkan banyak
karyawan berpotensi.!"
Asisten pribadi Presdir menegaskan. Sean
saling pandang dengan dewan direksi.
"Tapi Yang Mulya, apakah anda tidak akan
kecewa dengan orang-orang yang akan kami
pilihkan, sebab bidang pekerjaan nya bukan
terpaku sebagai seorang sekretaris saja."
Salah seorang dewan direksi berbicara. Dia
cukup mengenal siapa itu sang Presdir.
"Berikan saja datanya, Tuan sendiri yang
akan memilih dan menilainya.!"
Ujar Sang Asisten tegas tidak ingin di bantah.
Sean tampak nya masih terkejut dengan apa
yang di inginkan oleh Tuan nya itu. Kenapa
beliau harus repot-repot mencari sekretaris
pribadi dari tempat ini.? Bukankah kantor
pusat adalah gudangnya orang-orang dengan
tingkat kecerdasan dan kemampuan di atas
rata-rata.?
"Apa yang kalian tunggu.?"
Kembali terdengar suara Sang Presdir yang
kali ini lebih dingin dan terkesan tidak sabar.
"B-baik Yang Mulya, akan kami siapkan
datanya sekarang juga."
Sean melirik pada asisten pribadi nya yang
langsung mengangguk, kemudian menunduk
di hadapan Sang Presdir setelah itu membuka
laptop baru dan menyerahkan beberapa file
penting berisi data para pegawai pilihan.
"Silahkan anda menilainya sendiri. Mereka
semua adalah orang-orang terpilih yang
sudah mendapat surat rekomendasi untuk
segera di pindah ke kantor pusat Yang Mulya."
Sean menerangkan sambil menunjuk satu-
satu fhoto profil para pegawai yang menjadi
rekomendasi nya. Tatapan mata elang Sang
Presdir jatuh pada satu profil yang paling
bersinar di antara yang lainnya.
"Aku memilihnya. Siapkan ruangan ku untuk
beberapa hari ke depan.!"
Tunjuk sang Presdir pada satu profil yang
membuat Sean membelalakkan matanya
tidak percaya. Kenapa harus dia ?
"Ta-tapi Yang Mulya, dia berada di bidang
keuangan.."
"Itu bukan masalah untuk Tuan..!!"
Debat Sang asisten pribadi Presdir dengan
wajah yang tampak sedikit mengeras. Wajah
Sean langsung berubah tidak nyaman. Apa
yang harus di lakukan nya untuk mencegah
keinginan Tuan nya ini memilih wanita yang
di impikannya itu.?
"Kau siapkan saja semuanya.! besok Tuan
akan memulai pantauannya di tempat ini.!"
Kembali Sang asisten memberi perintah.
"Baik Yang Mulya, akan kami laksanakan."
Sang Presdir tampak berdiri, merapihkan jas
nya sambil menatap sekilas kearah Sean.
"Panggil aku dengan wajar, jangan berlebihan.!"
Sean dan para dewan direksi langsung berdiri
sambil kemudian membungkuk dalam.
"Baik Presdir.."
Tanpa kata lagi Sang Presdir beranjak keluar
dari ruang pertemuan di ikuti oleh asisten
pribadinya di susul oleh yang lain.
***
Waktu makan siang kini telah tiba...
Seperti biasa Raya dan Jessica yang punya
jabatan sebagai manager pemasaran itu lebih
memilih datang langsung ke kantin agar bisa
menikmati udara bebas. Dan seperti biasanya
kehadiran Raya di tempat itu selalu menjadi
magnet tersendiri bagi para pegawai lainnya
yang hampir 60 % adalah laki-laki. Mereka
tampak semangat menikmati acara makan
siang nya karena di suguhi pemandangan
indah di depan mata.
Selama ini Raya adalah icon perusahaan ini
karena kecantikan dan kecerdasannya dalam
memimpin divisi nya. Namun seperti biasa
Raya selalu acuh terhadap kegaduhan suasana
karena kehadirannya. Dia seolah tidak peduli
dengan semua itu. Selama mereka tidak
mengganggu kenyamanan nya dia juga tidak
keberatan berada satu lingkungan dengan
para karyawan lain nya. Lagipula selama ini
tidak ada yang berani mengganggu atau pun
mendekatinya, karena mereka semua tahu
bahwa Sang kepala divisi keuangan itu adalah wanitanya Direktur Sean Sebastian.
"Bagaimana, jadi kita bertemu dengan Mr
Sean setelah ini.?"
Jessica membuka perbincangan saat mereka
menunggu makanan pesanannya datang.
"Jadi, kebetulan pekerjaanku sudah selesai.
Aku juga ada perlu dengan nya."
Raya meminum jus jeruk yang ada di depan
nya. Namun tiba-tiba saja matanya melebar
saat melihat keberadaan Griz yang entah
kapan datang nya, tahu-tahu wanita itu sudah
ada di belakangnya, mengawal nya. Wajah
Raya berubah tidak nyaman.
"Griz , kenapa kamu ada di sini.?"
Raya menoleh dan menatap wanita berwajah
datar itu dengan tatapan tidak sukanya.
"Maaf Miss, ini adalah tugas saya, memastikan
anda mengkonsumsi makanan dan minuman
yang baik untuk kesehatan tubuh anda."
"Astagfirullah..Griz, sebenarnya yang punya
tubuh ini siapa sih.?"
Raya tampak kesal, suaranya di tekan kuat
mencoba menahan kekesalan nya. Jessica
menatap bingung kearah wanita asing di
samping Raya yang terlihat sedikit nyentrik itu.
"Raya.. siapa wanita ini.?"
Raya melirik kearah Jessica, baru sadar kalau
sahabat nya itu belum tahu soal Griz.
"Dia..dia yang aku ceritakan tadi. Mata-mata
orang jahat itu.!"
"What.? jadi kamu di buntuti.?"
Mata Jessica tampak membelalak kearah Griz
yang terlihat datar saja tanpa ekspresi.
"Entahlah apa namanya.! Aku sungguh tidak
mengerti apa maunya laki-laki jahat itu.!"
Decak Raya di telan kekesalan. Jessica kini
memperhatikan Griz yang berdiri tegak dengan
tampang lurusnya. Ini sangat aneh memang,
kenapa pria pemerkosa itu harus melakukan
hal se protektif ini pada Raya ? Sebenarnya
apa yang di inginkan oleh orang itu.?
"Apa dia menginginkan sesuatu darimu.?"
Raya mendongak, saling menatap dengan
Jessica yang terlihat menyelidik. Seorang
pelayan datang membawakan pesanan Raya
dan Jessica. Seperti biasa Raya memesan
makanan kesukaan nya, gado-gado.
"Mohon maaf Miss, saya harus mengecek
kebersihan nya terlebih dahulu."
Dengan sigap dan gestur tubuh penuh hormat
Griz meraih piring dari hadapan Raya membuat
gadis itu melebarkan matanya, terlebih lagi
Jessica, dia benar-benar terkejut melihat apa
yang di lakukan oleh wanita penjaga itu. Griz
mulai mengecek makanan tersebut.
"Apa-apaan ini.? Kenapa harus seperti ini?"
Jessica tampak mendumel sambil menatap
geram kearah Griz yang Kembali meletakkan
piring itu di hadapan Raya. Sementara saat ini
ekspresi Raya sudah tidak terbaca. Antara
kesal, malu dan tidak terima semua aturan
ini. Tuhan..apa sih maunya orang itu.?
"Silahkan Miss, semuanya aman.!"
"Ya iyalah aman, semua makanan yang ada
di tempat ini sudah melalui proses seleksi
ketat terlebih dahulu.!"
Debat Jessica sewot yang sontak mendapat
tatapan tajam dari Griz dan menciutkan nyali
gadis itu. Raya menarik nafas dalam-dalam.
"Griz, sungguh aku sangat terganggu dengan
caramu yang seperti tadi. Aku tahu apa yang
terbaik untuk diriku sendiri.!"
Raya mengeluarkan unek-unek nya sambil
menekan sendok ke piring makanan nya.
"Maafkan saya Miss, akan saya sampaikan
keluhan anda pada Tuan."
Griz menundukkan kepalanya. Jessica hanya
bisa melongo tidak percaya dengan apa yang
sedang berlaku di depan matanya itu. Raya
sudah tidak ingin berbicara lagi, dia memulai
makan siang nya walaupun selera makan nya
kini sudah menghilang.
"Gila, sebenarnya apa sih yang di inginkan
oleh orang itu Ray, kenapa dia melakukan
semua ini padamu.? "
Jessica tampak masih belum bisa bisa
menerima semua nya, matanya tampak
masih menatap kesal kearah Griz.
"Sudahlah Jes, ayo nikmati makan siang mu,
kalau kita memikirkan semua ini tidak akan
pernah ada habisnya.!"
Raya mencoba mengalihkan kekesalan
Jessica. Dan wanita itu kini terpaksa mulai
menikmati makan siang nya sambil sesekali
matanya menatap geram kearah Griz.
Suasana tampak sedikit gaduh saat melihat
kemunculan asisten pribadi Direktur ke tempat
itu. Pria berkacamata dengan rambut klimis
dan penampilan rapi itu langsung menghampiri
Raya yang terlihat menatap heran kearahnya.
Pria itu berdiri tegak di samping Raya.
"Bu Raya, mohon maaf menggangu makan
siang anda."
"Ada apa pak Alan ? ada yang bisa saya bantu.?"
"Mr Sean memanggil anda ke ruangan nya,
di tunggu sekarang juga."
Raya tampak terdiam, saling pandang dengan
Jessica yang terlihat mengangkat bahu. Raya
meletakkan sendok makan nya membuat Griz
yang berdiri di samping nya bereaksi.
"Miss Raya, sebaiknya anda menuntaskan
makan siang nya terlebih dahulu.!"
Raya melirik kearah Griz lalu menggeleng pelan.
"Urusan pekerjaan lebih penting. Kau tunggu
aku di bawah, jangan mengganggu lagi.!"
Ujar Raya sambil kemudian meraih ponsel
dan dompetnya.
"Pak Alan, apa aku boleh menemaninya.?"
Jessica ikut berdiri dan mengakhiri makan
siang nya. Asisten direktur mengangguk .
"Tapi Jes, kamu belum menghabiskan makan
siang mu, sudah kau di sini saja.!"
Raya tampak keberatan, tapi Jessica sudah
keburu menyambar tangan nya di bawa keluar
dari ruangan itu. Semua orang hanya bisa
menatap kepergian mereka dengan berat.
Tiba di dalam ruangan Direktur Raya melihat
Sean masih duduk di kursi kebesarannya.
Masih berkutat dengan segala kesibukannya.
Pria muda berwajah tampan dan pembawaan
yang tenang itu langsung menyambut Raya
dengan tatapan lembut dan senyum manis
yang kali ini terkesan sangat di paksakan.
"Duduk lah Ray.."
Sambut Sean dengan tatapan tidak lepas dari
wajah Raya, hatinya begitu berkecamuk saat
ini, dia benar-benar tidak sanggup melepaskan
wanita idamannya ini untuk berada di samping
Sang Presdir, di bawa terbang ke negaranya.
"Ada apa Tuan.? Apa kau tidak makan siang.?"
Raya menatap Sean, keduanya saling melihat
dengan sorot mata yang sama-sama rumit.
Sementara Asisten direktur dan Jessica
tampak berdiri sedikit jauh dari posisi mereka.
"Aku tidak berselera.! Raya..ada yang ingin
aku sampaikan padamu."
Sean tampak berat, meremas kepalanya kuat
membuat Raya semakin bingung di buatnya.
"Sean..apa aku melakukan kesalahan dalam
pekerjaan.?"
Wajah Sean terlihat semakin berat mendengar
Raya menyebut namanya dengan intim tanpa
embel-embel Tuan atau apalah yang lain.
Perlahan Sean menggengam kuat tangan
Raya , menatap wajahnya semakin lekat.
"Raya..aku sangat mencintaimu.! Aku ingin
kita menikah secepatnya.!"
Wajah Raya berubah pucat. Dia segera menarik
tangannya dari genggaman Sean. Kepalanya
menggeleng kuat, dia bangkit berdiri dengan
tatapan tidak percaya. Jessica dan asisten
pribadi Direktur juga tidak kalah terkejut nya.
"Sean..kau tahu sendiri keadaan ku saat ini
seperti apa.! Aku masih belum bisa.."
"Kau akan di mutasi ke kantor pusat, tapi tidak menempati posisi di departemen keuangan.!"
Raya mematung, menatap Sean penuh tanda
tanya dan keterkejutan.
"Kau di tarik menjadi sekretaris pribadi
Presdir.!"
"Apa.?? Sekretaris pribadi Presdir..??"
Raya dan Jessica berseru bersamaan dengan
wajah yang terlihat terkejut bukan main..
***
Happy Reading...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Anggiat Silaen
ini lah pilihan raya, doa mu ingin d mutasi kantor pusat kn, d kabulkan kk thour, jadi asisten pribadi Aron pria misterius....😀😀🤔
2024-05-25
0
andi hastutty
Sean sabar buka. jodoh 😜🤭
2023-10-13
0
Wirda Wati
jadi kepengen soto...
2022-12-19
0