❤️❤️❤️
"Berhenti..! jangan mendekat.!"
Seru Raya ketakutan begitu melihat Aaron
mulai maju mendekat. Pria itu langsung
berhenti, tapi tatapannya kini semakin tajam
saat melihat Raya terus mundur mepet ke
pinggir balkon yang hanya terhalang relling
pendek sebatas pinggang saja. Tanpa kata
Aaron kembali maju menyadari sesuatu
yang membahayakan sedang mengancam
nyawa wanita itu.
"Hei, berhenti kamu ! pergi dari sini.! pergi..!!"
Raya yang panik tampak semakin mundur
sambil memekik kuat, namun tiba-tiba saja
dia menjerit histeris saat tubuhnya kehilangan
keseimbangan lalu terpelanting ke belakang.
Dengan gerakan cepat Aaron menyambar
tubuh Raya kemudian mengangkat nya ke
dalam pangkuan. Raya terlihat syok, wajah
nya memucat dengan tubuh bergetar, tanpa
sadar tangan nya kini melingkar kuat di leher
kokoh pria itu. Mata mereka saling menatap
dengan posisi wajah yang begitu dekat, hanya
berjarak beberapa inchi saja.
"Aaa... turunkan aku...! lepaaass....!!"
Raya berteriak kencang begitu dia kembali
pada kesadarannya. Dia mendorong keras
dada Aaron dan memukuli nya. Namun pria
itu terlihat acuh saja, dia malah memperkuat
cengkraman tangan nya di pinggang Raya.
"Apa kau bisa diam.?"
Aaron menggeram sambil membawa tubuh
Raya masuk ke dalam ruangan, tapi gadis
itu malah semakin meronta.
"Lepaskan aku..!! Kenapa kamu datang lagi
ke sini.?"
Teriak Raya dalam usahanya memukuli dada
keras pria jahat itu. Aaron menjatuhkan tubuh
Raya di atas ranjang sedikit kasar hingga
membuat gadis itu meringis sambil melotot
kearah Aaron yang terlihat berdiri santai di
samping nya. Raya mundur beringsut ke sisi
lain dengan tatapan waspada pada pergerakan
Aaron. Ketakutan saat melihat sosok laki-laki
jahat itu membuat Raya tidak bisa bersikap
tenang saat di dekatnya. Dia selalu berpikiran
buruk tentang pria ini, apapun yang di lakukan
nya akan tampak mencurigakan di mata Raya.
Gadis itu turun dari atas ranjang kemudian
berlari kearah pintu.Namun begitu tangannya mencapai handel Aaron sudah lebih dulu menghadangnya, berdiri di balik pintu dengan tampang datarnya dan tatapan tajam penuh
intimidasi.
Raya berdiri mematung di hadapan laki-laki
itu. Dia mundur kembali dengan wajah yang
kini sudah memucat. Pikiran liar semakin
memenuhi pikirannya. Mungkinkah pria ini
punya niat buruk lagi padanya.? Apa dia
akan melakukan kekerasan lagi padanya.?
"A-apa maumu sebenarnya.? Apa yang kau
inginkan dariku.?"
Tanya Raya dengan tatapan tetap waspada.
Aaron melangkah tenang kearahnya, semakin
dekat hingga kini Raya jatuh terduduk di atas
sofa. Pria itu berdiri tegak di hadapan nya.
"Ikut denganku..!"
Raya mendongak, menatap tajam wajah dingin
Aaron. Dia mundur beringsut ke ujung sofa.
"Hahh.. kenapa aku harus ikut dengan mu.?
Apa kau akan melenyapkan ku.? Kalau itu
maumu, kau bisa melakukan nya sekarang
juga di tempat ini.!"
Mata Aaron tampak menyala, menatap tajam
wajah gadis itu yang terlihat semakin tegang.
"Aku harus mengawasi mu.! Kau bisa saja
mengandung benih ku.!!"
DEG !
Jantung Raya seakan berhenti berdetak. Dia
kini berdiri, menatap tajam wajah pria yang
secara tidak langsung sudah mengakui
segala perbuatan jahatnya itu.
"Ka-kamu..mau melenyapkan nya juga.?"
Bibir Raya bergetar dengan ketakutan yang
semakin jelas terlihat, mata mereka kembali
saling menatap panas.
"Aku akan mengambilnya.!"
Jantung Raya kembali berdenyut nyeri.
Dia menggelengkan kepalanya kuat.
"Kalau pun benih itu benar-benar tumbuh,
Aku tidak akan pernah membiarkan dia
mengenal siapa ayah nya. Laki-laki jahat
seperti mu tidak pantas untuk menerima
pengakuan.!"
Desis Raya dengan tatapan penuh kebencian.
Aaron terdiam, menatap datar wajah Raya
yang kini terlihat memerah.
"Kau harus tetap ikut denganku.!"
"Tidak ! Pergilah..! Aku juga tidak akan pernah
meminta pertanggungjawaban mu.!"
"Kau tidak punya pilihan.! Aku bisa membuat
keluarga mu hidup di jalanan.!"
Raya membeku, apa laki-laki ini sedang
mengancam nya, kenapa sekarang dia jadi
membawa-bawa keluarganya.?
"Siapa kamu sebenarnya.? Ohh..aku yakin
kamu pasti sama jahatnya dengan laki-laki
berandalan itu kan.?!"
"Aku bisa lebih kejam dari ******** itu. Dan
aku tidak pernah main-main dengan semua
ancaman ku.! "
Tegas Aaron sambil kemudian membalikan
badannya. Raya masih berdiri di tempatnya
dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Jangan pernah bertindak bodoh lagi. Karena
mataku ada di mana-mana.!"
Ancam Aaron sambil melirik sekilas kearah
Raya setelah itu berlalu pergi ke luar ruangan.
Masih dalam keadaan setengah melayang
Raya menjatuhkan dirinya di atas sofa.
***
"Ada apa dengan mu Ray..?"
Jessica tampak bingung melihat reaksi Raya
yang terlihat sangat ketakutan.
"Aku ingin keluar dari sini sekarang juga Jes !"
"Hahh, tapi kenapa Ray.? ada apa ini.?"
"Pria jahat itu datang kesini Jes, dia.. dia
mengancamku.! Dia membawa keluargaku
ke dalam masalah ini.!"
Jessica tampak terkejut, wajahnya kini
berubah keras dengan tangan terkepal kuat.
"Apa yang dia lakukan padamu, apa dia
menyakitimu lagi.?"
Jessica tampak mengecek kondisi Raya
dengan menelisik seluruh fisiknya.
"Dia tidak menyakiti ku, tapi dia mengancam
keselamatan keluargaku Jes."
"Apa yang orang itu inginkan darimu.?"
"Dia.. dia ingin aku pergi dengan nya.!"
Jessica terhenyak, menatap Raya sedikit
bingung.
"Apa orang itu ingin bertanggung jawab
atas apa yang telah di lakukan nya padamu.?"
Raya menggeleng kuat sambil memegang
tangan Jessica, wajah nya masih saja terlihat
ketakutan.
"Tidak Jes, orang itu bahkan lebih berbahaya
dari Jayden. Dia bisa melakukan apapun.!"
"Apa benar begitu.? apa kau mengenalnya.?"
Raya dan Jessica saling pandang kuat. Raya
menggeleng yakin.
"Darimana aku bisa mengenalnya. Aku tidak
tahu sama sekali manusia jahat itu. Jessica
aku harus segera pergi sejauh mungkin.!"
Jessica terdiam, menatap kuat wajah Raya
yang di penuhi kekhawatiran dan ketakutan
yang teramat sangat besar.
"Baiklah.. kita akan membahas itu nanti. Ini
sudah larut malam Ray, kita tidak bisa keluar
dari rumah sakit sekarang."
Raya menundukkan wajahnya berusaha
untuk menenangkan diri nya.
"Sekarang sebaiknya kamu istirahat. Aku
akan meminta security untuk berjaga di depan
pintu agar kamu merasa lebih tenang oke..!"
Jessica membantu Raya naik keatas ranjang.
Layaknya anak kecil yang sedang ketakutan,
Raya hanya bisa menuruti semua perintah
gadis berambut blonde itu.
"Tenangkan dirimu Ray, rileks..Aku ada di
sini menemanimu.!"
Jessica kembali menenangkan sambil menarik
selimut menutupi tubuh gadis itu yang tampak
mulai memejamkan mata, mencoba menepis
bayangan wajah laki-laki jahat itu yang terus
saja menghantui nya.
"Kita akan mencoba membicarakan masalah
ini dengan Mr Sean. Bukankah kau mendapat
surat rekomendasi untuk pindah dinas ke
kantor pusat.?"
Raya langsung membuka matanya, mereka
saling pandang. Ada secercah harapan yang
kini hadir dari pancaran mata indah nya.
"Kau benar Jes, ini adalah satu-satunya
jalan untukku menjauh dari semua masalah
ini, aku akan mengambil nya sekarang."
Raya tampak berbinar penuh harapan. Dia
yakin Tuhan pasti memberikan masalah
sekaligus dengan jalan keluarnya..
***
"Semua biaya rumah sakit sudah di bayar
dan tangani oleh orang lain Nona."
Raya dan Jessica tampak terkejut. Mereka
melihat berkas pembayaran yang di serahkan
oleh petugas administrasi itu.
"Tapi.. siapa yang mengurusnya Mbak, apa
Tuan Sean yang sudah membayarnya.?"
Jessica bertanya masih dengan tampang
bingung nya.
"Bukan Nona, ada pihak lain yang sudah
lebih dulu melakukan nya."
Raya dan Jessica saling pandang, bingung.
"Semoga anda cepat sehat ya."
Petugas itu tersenyum kearah Raya sambil
kemudian menundukkan kepala sopan.
"Terimakasih Mbak, kalau begitu saya
sudah bisa pulang sekarang kan.?"
"Sudah Nona, silahkan..!"
Petugas itu kembali menunduk. Raya balas
menunduk sedikit. Dia masih dalam mode
bingung mengenai orang yang sudah
membereskan masalah administrasi.
"Sudahlah Ray, tidak perlu kita pikirkan soal
itu. Sekarang ayo kita pulang , hari ini aku
ada meeting penting."
Jessica menggandeng tangan Raya di bawa
keluar dari loby rumah sakit menuju ke dalam
lift untuk turun ke lantai bawah. Begitu tiba
di area parkiran, sesuatu di luar dugaan terjadi.
Ada sekitar 6 orang berpakaian hitam tiba-tiba
datang mendekat membuat Raya dan Jessica
terkejut, berdiri mematung di tempat. Wajah
Raya kini berubah tegang, dia masih mengenali
orang-orang itu.
"Nona.. mari ikut dengan kami."
Salah seorang yang merupakan tangan kanan
Aaron bernama Alex tampak membungkuk di
hadapan Raya yang langsung mundur.
"Hei.. siapa kalian.? Jangan coba-coba
membuat keributan ya, ini adalah tempat
umum, kami bisa berteriak.!"
Jessica maju menghadang melindungi Raya
sambil menatap tajam ke arah orang-orang
aneh itu yang masih menundukkan kepala.
"Maaf Nona, sebaiknya anda bekerjasama
kalau tidak ingin ada keributan. Kami bisa
membawa anda dengan paksa."
"Kita tidak takut pada kalian..! Sebenarnya
kalian ini siapa ?"
Jessica kembali nyolot dengan tatapan mulai
panas di liputi emosi yang mulai menyeruak.
"Kami di perintahkan Tuan untuk menjemput
Nona Raya.."
"Apa mau Tuan kalian sebenarnya.?"
"Nona akan tahu nanti. Sebaiknya sekarang
ikut dengan kami secara baik-baik."
"Tidak, aku tidak akan menuruti apa yang
di perintahkan oleh Tuan kalian, ayo Jes!"
Raya menarik tangan Jessica, namun dalam
gerakan cepat Alex menodongkan senjata
ke arah kepala Jessica yang sontak melotot
tanpa bisa mengeluarkan suara. Wajah Raya
kini berubah pucat sekaligus emosi.
"Baiklah..! Aku akan ikut dengan kalian.
Lepaskan dia sekarang juga.!"
Geram Raya dengan tatapan marahnya.
Alex menurunkan senjatanya. Jessica
menghembuskan nafas lega, dia masih
terlihat tegang sekaligus kebingungan.
Ada apa ini sebenarnya.? Siapa mereka ini,
kenapa Raya harus kembali berurusan
dengan orang-orang macam begini.?
"Jes, aku akan ikut dengan mereka. Kamu
pergilah ke kantor, besok aku akan mulai
masuk kerja.!"
"Tapi Ray, mereka semua berbahaya. Aku
takut mereka melakukan sesuatu padamu.
Kita lapor polisi saja sekarang.!"
"Nona.. kami semua mendengarkan.!"
Alex berucap dengan suara tegas nya. Raya
memeluk Jessica sebentar setelah itu dia
mulai melangkah kearah lain sesuai dengan
arahan dari Alex. Jessica hanya bisa terdiam
bengong tidak bisa berbuat apa-apa saat
melihat Raya di bawa pergi.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30
menit, akhirnya mobil yang membawa Raya
masuk ke dalam area sebuah apartemen
elite tidak jauh dari pusat kota. Sungguh
Raya tidak mengerti apa sebenarnya yang
di inginkan oleh laki-laki jahat itu.
Alex membimbing Raya masuk ke dalam lift,
kemudian tidak lama mereka sudah keluar di
lantai paling atas yang hanya berisi satu unit apartemen saja. Mereka berdua tiba di depan
pintu masuk apartemen.
"Selamat datang Nona Maharaya.."
Mata indah Raya bersirobos tatap dengan
sepasang manik abu yang sangat membius
dari seorang pria muda bertubuh tinggi tegap,
berwajah tampan dengan pakaian rapi yang
sangat elegan dan berkelas. Keduanya untuk
sesaat saling mematung di tempat seakan
tersihir oleh sosok masing-masing..
***
Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Anggiat Silaen
ni lh takdir mu raya, ada d tangann KK thoour 🤗🤗🤗🤗
2024-05-25
0
andi hastutty
beeh Alex bahaya 🫣🤭
2023-10-12
0
™°R⃟υĐ
Semua cerita kak Author keren² banget, sayang udah gak nulis lagi disini.
2023-08-30
0