❤️❤️❤️
Tidak lama kemudian Raya muncul dari lantai
atas di dampingi oleh Jessica dan Tante nya.
Griz dan dua orang MUA yang tadi membantu
persiapan menyusul di belakang nya. Semua
orang terlihat melongo, terpesona dan seolah
sedang tersihir, hanya bisa berdiri kaku di tempat melihat penampakan Raya saat ini yang begitu menakjubkan, tidak bisa di jabarkan dengan
kata-kata, dia tampak begitu memukau.
Saat ini Raya mengenakkan kebaya modern
warna putih berbalut bawahan kain songket
dengan warna dan model yang sangat anggun.
Rambutnya di sanggul manis dengan tataan
yang terlihat simpel namun tetap elegan. Di
lengkapi sebuah kalung berlian cantik yang
melingkar indah di leher jenjangnya. Pria itu
sengaja mengirimkan pakaian dan perhiasan
satu paket lengkap. Dia seolah tahu pasti apa
yang pantas melekat pada tubuh indah Raya.
Sayang nya tidak ada senyum ataupun rona
bahagia yang menghiasi wajah super cantik
itu. Bahkan secercah harapan pun tampaknya
tidak ada dalam sorot mata indahnya. Yang
ada hanyalah kehampaan dan keterpaksaan
belaka, serta kesakitan yang terlihat jelas
hingga merusak semua keindahan rupanya
yang begitu sempurna.
"Ayo Nak.. Kita harus berangkat sekarang.!"
Tuan Danu memutus keterpesonaan semua
orang yang langsung mengusap wajah serta
menghela napas pelan. Raya menatap berat
kearah Tuan Danu yang terlihat sedih. Tidak
lama keduanya berangkulan. Air mata Raya
kembali tumpah. Jessica dan Arka hanya
bisa mengusap lembut punggung mereka
berdua berusaha untuk menenangkan.
"Maaf Miss Raya..sebaiknya kita berangkat
sekarang juga, waktunya semakin mepet.!"
Griz maju ke hadapan Raya mencoba untuk
mengingatkan agar Raya tidak larut dalam
kesedihannya. Jessica mengusap pelan air
mata yang membasahi wajah bening Raya
yang sudah terpoles riasan tipis.
"Sudahlah Ray..kamu harus bisa melewati
hari ini. Yakinlah..Tuhan sudah menyusun
skenario hidupmu dengan sangat baik."
Raya mengangguk, memejamkan mata, lalu
menarik napas dalam-dalam berusaha untuk
menguatkan diri dan memantapkan hatinya.
Setelah itu barulah dia melangkah keluar dari
dalam rumah. Tiba di depan Griz langsung
mengarahkan Raya untuk masuk ke dalam
mobil jemputan yang telah menunggu nya.
Untuk sesaat Raya terdiam melihat mobil
mewah tersebut, namun akhirnya dia masuk
bersama dengan Griz juga Jessica.Yang lain
menyusul dengan kendaraan pribadi nya.
Dan mobil-mobil itu mulai melaju beriringan
keluar dari komplek perumahan tersebut di
iringi tatapan penasaran para tetangga.
Selama di perjalanan Raya terlihat semakin
gelisah. Hatinya terasa tidak tenang, jantung
nya berdebar kencang, kalau bisa rasanya dia
ingin lari saja dari semua ini. Bayangan wajah
laki-laki jahat itu terus saja memenuhi pikiran
nya, membuat jiwanya semakin memberontak.
Apakah ini benar, apa dia benar-benar harus
menikah dengan laki-laki itu yang jelas-jelas
hanya menikahinya sesuai perjanjian saja.!
Setelah semua keinginan nya tercapai maka
yang tersisa dari dirinya hanyalah kehancuran.
Tidak ! dia tidak akan membiarkan pria jahat
itu mengambil semua hak nya, kalau dirinya benar-benar mengandung benih dari laki-laki
itu dia tidak akan pernah membiarkan anaknya
di ambil dan di klaim begitu saja oleh pria jahat
itu. Anak itu adalah miliknya, hanya miliknya.
"Ray..Raya..?? Kita sudah sampai sekarang.!"
Jessica mengguncang halus bahu Raya yang
masih larut dalam pikiran-pikiran buruknya.
Raya terlonjak kaget, dia menatap Jessica
seraya menarik napas panjang mencoba
untuk kembali pada kesadaran penuhnya.
"Kau baik-baik saja ? Ayo turun, kita sudah
sampai di tempat tujuan.!"
Jessica kembali mengingatkan sambil keluar
duluan lewat pintu sebelah. Sementara pintu
untuk Raya sudah di buka oleh Griz dari tadi.
Raya memegang dadanya sambil berdoa.
"Bismillah Ya Allah.. ijinkanlah Hamba untuk
menapaki jalan ini dengan ridho Mu.."
Gumam nya pelan sambil kemudian keluar dari
dalam mobil dengan pelan dan hati-hati. Mata
Raya menatap bengong saat dia menyadari
kini mereka tiba di halaman sebuah mesjid
yang sangat indah dan unik dengan ukuran
tidak terlalu besar. Jantung Raya kembali
berdetak kencang, apakah pernikahan nya
akan di langsungkan di tempat ini.?
Ya Tuhan.. inikah rencana indah Mu.??
Tepat di teras utama mesjid indah itu, sudah
berdiri beberapa orang berpakaian sipil juga
dua orang pria bersahaja dengan raut wajah
yang sangat menyejukkan. Dan di sana juga
sudah terdapat para pengawal berpakaian
dan berkacamata hitam.
"Mari Tuan..Kita langsung masuk saja."
Sambut salah seorang yang kelihatannya
petugas penanggung jawab mesjid tersebut.
Dan barisan orang-orang tadi adalah ustadz
serta para penghulu.
Semua orang kini masuk beriringan ke dalam
mesjid tersebut yang terlihat lebih indah lagi
di dalam nya. Mereka langsung menuju ke
tengah ruangan dimana di sana sudah ada
meja kecil panjang yang di hias dengan cantik.
Raya di tempatkan di dekat meja tersebut.
Di depannya duduk pak penghulu, pak ustadz
juga para pengurus mesjid. Tuan Danu dan
Paman Raya terlihat berbicara dengan pak
penghulu untuk memverifikasi data dari dua
calon mempelai.
Jessica menggenggam tangan Raya yang
terasa begitu dingin bak sebongkah es balok.
Keduanya saling pandang, saling menguatkan.
"Jes.. apakah ini masih bisa di batalkan.?"
Lirih Raya sambil menunduk pilu. Jessica
mengelus lembut punggung tangan Raya.
"Ini semua adalah rencana Tuhan Raya. Kau
hanya tinggal menjalani semuanya. Kalau
Tuhan tidak merestui, semua ini tidak akan
pernah terjadi."
Jessica mencoba untuk menguatkan Raya.
Tante Raya yang duduk di samping nya juga
mencoba menasihati agar keponakannya
itu kuat menjalani hari ini. Riri dan Mila yang
baru saja datang langsung duduk di belakang
Raya dengan menatapnya meremehkan dan
penuh ejekan.
"Hei.. mana calon suami mu ? Jangan-jangan
tidak datang lagi.! Bisa saja kan dia berubah
pikiran.?"
Riri mulai melancarkan hasutannya dengan
nada penuh ejekan. Raya memilih diam,
tidak ingin melayani ocehan dua gadis itu,
hanya Jesica yang terlihat geram.
"Aku yakin orang itu berpikir ulang untuk
datang kesini. Menikahi wanita tercemar
seperti mu, uuhh..rasanya itu tidak perlu.!"
Mila menambahkan dengan ekspresi jijik
dan senyum sinis merendahkan.
"Cukup.! Aku benar-benar tidak tahan lagi
dengan mulut kotor kalian berdua. Sekali
lagi kalian menghina Raya, aku akan..."
Jessica tidak tahan lagi, dia mengangkat
tangan nya ke udara tapi di tangkap oleh
Riri dengan mata melotot marah.
"Mau apa kamu.? mau menamparku hahh.?"
"Bukan hanya sekedar menampar, tapi aku
akan mencekik leher mu itu.!"
Geram Jessica sambil kemudian menepis kasar pegangan tangan Riri. Keduanya saling menatap panas siap gontok-gontokan. Namun suasana
tiba-tiba berubah tegang ketika beberapa pria berpakaian hitam masuk ke dalam ruangan mengamankan area dan mensterilkan ruangan. Semua pengurus mesjid tampak berlarian ke
depan begitu sebuah mobil sport mewah tiba
di halaman mesjid tepat di depan pintu utama.
Para penghulu dan pak ustad pun kini berdiri
dan berjalan tergesa-gesa kearah pintu depan.
Melihat kegaduhan tersebut, semua orang
kini memfokuskan pandangan kearah luar.
Jantung Raya kian berdebar keras, wajahnya
kini sudah mulai memucat. Apakah dia tidak
bisa menghindar lagi dari semua ini.? Tidak
lama dari dalam mobil muncul seseorang.
Sejenak dia berdiri di depan pintu, matanya
menatap lurus ke dalam ruangan. Kemudian
dia mulai melangkah tenang masuk ke dalam
mesjid di kawal ketat oleh kepala pengawal.
Para penghulu dan pak ustadz serta pengurus
mesjid langsung membungkuk hormat di
hadapan sosok tinggi tegap tersebut.
"Selamat datang Tuan Marvell.. Silahkan."
Kepala penghulu membimbing sosok yang
baru datang tersebut yang kini kembali
berjalan tenang dan mantap masuk ke dalam
mesjid langsung menuju area tengah ruangan.
Begitu melihat kemunculan sosok tersebut
semua orang langsung tersihir, terkesima
dan seolah berada di awang-awang antaran
mimpi dan kenyataan. Sosok gagah itu tampak
mengenakkan setelan tuxedo putih, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya di lengkapi kacamata hitam yang bertengger
manis di hidung mancungnya. Rambut nya
tersisir rapi menampilkan dahinya yang tegas
dengan ekspresi wajah yang terlihat datar dan
dingin cenderung sadis. Namun semua
perangai buruknya itu seolah tidak mampu menyembunyikan pesona wajahnya yang
terlihat begitu tampan, oohh..bukan tampan
lagi, tapi bisa di bilang terlampau tampan.
Dia begitu gagah dan memukau, kharisma nya
yang unik memancar menyelubungi sosok nya
yang sempurna tiada cela.
"Ya Tuhan..siapa laki-laki ini.?"
Gumam Riri dengan mata dan wajah yang
terlihat syok melihat sosok paripurna itu.
"Dia tidak mungkin laki-laki yang datang
untuk menikahinya wanita hina itu kan.?"
Mila ikut berbisik, masih dengan mata yang
terlihat bengong tidak kuasa melihat sosok
yang terlampau tampan itu.
"Ya bukan lah.. mana mungkin.!"
Debat Riri dengan mimik wajah penuh
dengan keyakinan.
"Ya Tuhan.. darimana datangnya pria itu.
Kenapa ada manusia setampan itu.?"
Riri kembali bergumam sambil memegangi
dadanya yang berdebar hebat dan tidak
terkendali. Raya hanya bisa menghela napas
mendengar percakapan dua saudari tirinya
itu. Jessica yang ada di samping Raya, dia
juga masih berada dalam mode mengawang,
begitu terpesona pada sosok gagah itu hingga
rasanya dirinya sedang berada dalam mimpi.
Sosok itu tiada lain dan tiada bukan adalah
Aaron. Kini dia berdiri tegak di tengah ruangan.
Matanya yang tersembunyi tampak menatap
tajam sosok Raya yang saat ini sedang duduk
resah sambil menundukkan kepala.Tuan Danu
dan Paman Raya mendekat ke hadapan Aaron.
"Selamat datang Tuan.."
Ujar mereka dengan suara rendah seraya
mengulurkan tangan untuk berjabat tangan
dengan perasaan segan dan ragu. Paman
Raya benar-benar tidak menduga kalau calon
suami ponakannya itu pria sesempurna ini.
Aaron membuka kacamatanya, lalu menerima
uluran tangan mereka satu persatu. Arka
datang menyusul, untuk sesaat dia menatap
wajah Aaron yang begitu menyilaukan. Arka
cukup syok mengetahui fakta bahwa pria ini
adalah laki-laki jahat yang telah merenggut
kesucian kakak kesayangan nya. Tangannya
terkepal kuat, maksud hati ingin memukul
dan meluapkan segala emosi terpendamnya
namun apa daya tubuh nya malah sudah
lemas duluan mendapati kenyataan bahwa
laki-laki jahat itu ternyata sekeren ini.
"Belajar dulu yang benar.!"
Aaron mengeluarkan suara beratnya seraya
mengacak pelan rambut Arka yang langsung
membuat remaja itu menundukkan kepala.
Raya sontak mendongak, melirik kearah
keberadaan Aaron. Bersamaan dengan pria
itu yang sedang menoleh kearahnya, tidak
terelakkan lagi keduanya saling memandang,
tidak bisa melepaskan satu sama lain, seakan
terjerat oleh sesuatu yang sulit sekali terurai.
"Mari Tuan, silahkan duduk.. Kami sudah
menyiapkan semuanya dengan baik."
Kepala penghulu berucap sambil menunduk
hormat mempersilahkan Aaron untuk duduk
di samping Raya, pandangan mereka terputus.
Wajah tampan itu sedikit bereaksi, kemudian
dia bergerak duduk di sebelah Raya yang kini memejamkan mata, mencoba menetralkan
detak jantungnya yang semakin bertalu.
Mereka duduk berdampingan dalam suasana
kaku dan canggung. Aneh.! baru kali ini Aaron
merasakan ketegangan seperti ini. Dia tidak
bisa mengendalikan guncangan hebat yang
seolah menggelegak dalam jiwanya. Hari ini
adalah hari yang sangat bersejarah dalam
hidupnya, dan dia tidak bisa main-main
dengan semua keputusan besar yang telah
diambilnya sekarang. Ini akan berhubungan
dengan kehidupan dunia akhirat nya.
"Baiklah.. sepertinya semua sudah siap.
Kedua mempelai juga sudah ada di sini.
Jadi kita akan segera memulai acaranya.!"
Pak penghulu membuka acara dengan raut
wajah yang terlihat serius sekaligus tegang.
Semua orang membelalakkan matanya,
terlebih bagi Riri dan Mila. Jantung mereka
saat ini seakan berhenti berdetak. Apa-apaan
ini, apakah laki-laki ini yang akan menikahi
Raya.?? Tidak, itu tidak mungkin.!! Begitupun
dengan Jessica, dia hanya bisa bengong
mencoba mencerna semua informasi yang
kini ada di depan matanya. Benarkah laki-laki
yang sudah melakukan kekerasan seksual
terhadap sahabatnya itu adalah pria ini.?
"Bagaimana Tuan Danu, apakah sudah bisa
di mulai acaranya.?"
Kepala penghulu bertanya pada Tuan Danu
yang langsung mengangguk setuju.
"Baik..kalau begitu kita mulai saja acara ijab
kabul pernikahan ini antara Tuan Aaron dengan
Nona Raya. Tapi sebelum itu di laksanakan..
Akan di mulai dengan ikrar pindah keyakinan
dari Tuan Aaron.. yang akan mengikuti agama
dan keyakinan calon mempelai wanita."
BRUK !!
Semua orang menolehkan kepala kearah
suara. Tubuh Mila kini sudah tergeletak di
atas permadani tidak sadarkan diri..
***
Happy Reading.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Keysha Aurelie
momen yang sangat ditunggu tunggu dan mendebarkan, astaga keren banget ceritanya , entah se- melampaui apa ketampanan Aaron ini
2024-07-22
0
vit
Wkwkwk, endingnya ngakak 🤣
2024-02-05
1
andi hastutty
jantungan kan kalian terlalu meremehkan sih 😜😜😜😜😂😂😂🤣
2023-10-13
0