❤️❤️
Aaron menarik tangan Raya untuk mundur
perlahan menghindari serangan yang datang
dari berbagai penjuru di ikuti oleh Alex dan
Sean serta beberapa bawahannya.
"Sean..aku ingin keluar dari sini, aku takut.
Aku mohon bawa aku pergi dari sini.!"
Raya berucap lirih saat mereka bersembunyi
di balik peti kemas yang berada tidak jauh
dari tempat yang tadi. Sean menatap wajah
pucat Raya penuh kecemasan. Sementara
Aaron melirik kearah mereka berdua dengan
sorot mata yang tidak terbaca.
"Tuan.. biarkan saya mengamankan Nona
Raya.!"
Sean memberanikan diri meminta Raya yang
masih berada dalam perlindungan Aaron.
"Pikirkan keselamatan mu sendiri.!"
Dengus Aaron sambil melirik sekilas kearah
Sean yang langsung mengetatkan rahangnya.
Raya melepaskan pegangan tangan Aaron
kemudian mendekat kearah Sean, menatap
pria itu dengan wajah memelas.
"Aku ingin pergi dari sini, kumohon.."
Raya kembali berucap dengan suara gemetar.
Sean tidak tahan lagi, dia segera menarik
tangan Raya bersiap untuk melangkah.
"Lepaskan dia sekarang juga.!"
Suara Aaron yang berat membuat tubuh
mereka membeku. Tangis Raya kini pecah.
Sean tidak melepaskan pegangan tangan nya.
Wajah Aaron terlihat semakin mengeras,
tangan nya terkepal dengan kuat.
"Aku akan membawamu dari sini. Semuanya
akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa-
apa padamu, percaya padaku baby.."
Sean berusaha menenangkan, tangannya
mengelus lembut rambut Raya yang kini
tergerai berantakan. Rahang Aaron semakin
mengeras, dia benar-benar tidak bisa melihat
semua pemandangan ini. Tapi dia tidak bisa
berbuat banyak mengingat situasi saat ini.
Dengan kasar dia mengokang senjatanya
dan bersiap melancarkan tembakan.
"Tuan..saya akan membawa Raya, dia tidak
akan kuat kalau harus lama-lama berada
dalam situasi seperti ini."
Sean kembali memohon masih mencoba
menenangkan Raya yang menangis tertahan.
"Aku yang akan melindunginya.!"
Desis Aaron dengan suara yang sangat dingin.
Sean menautkan alisnya melihat reaksi tak
biasa dari bos nya itu. Dia tidak bisa berkata
apa-apa lagi, dia akan menunggu kesempatan
untuk membawa lari Raya dari situasi ini.
Tembakan membabi tiba-tiba saja datang
dari atas peti kemas membuat Raya kembali
menjerit histeris. Sebelum Sean bergerak
Aaron sudah menarik tangan Raya dan
membawanya berlari menghindar karena kini bayangan yang berlari di atas peti kemas itu benar-benar mengincar mereka berdua.
"Alex.. bereskan mereka semua.!"
Teriak Aaron masih dalam keadaan berlari
bersama Raya, sementara Sean tertinggal
karena dia berusaha melindungi mereka.
"Baik Tuan, Singa Putih sebentar lagi datang.!"
Alex balas teriak sambil tak henti membalas
serangan lawan yang masih berlarian di atas.
Sudah tidak terbayang bagaimana panik dan
tegang nya Raya saat ini. Semua ini adalah
hal di luar bayangan nya. Trauma atas kejadian
yang lalu di pulau tersembunyi kini kembali
dan membuat Raya di kuasai oleh ketakutan.
"Aaa..."
Raya menjerit keras saat tubuhnya terpeleset
diatas genangan oli yang tak bisa di hindari.
Namun dengan sigap Aaron menyambar tubuh
wanita itu kemudian mengangkat nya ke dalam
pangkuan. Untuk sesaat mereka saling tatap
dalam keterkejutan. Aaron membawa Raya bersembunyi dibalik peti kemas besar.
Satu tembakan melesat mengenai peti kemas
itu tepat di samping Raya membuat wanita itu
kembali menjerit, spontan menubruk tubuh
Aaron dan memeluk erat laki-laki itu. Wajah
Aaron kini semakin kelam, dengan amarah
yang sudah mencapai ubun-ubun dia memberondongkan dua senjata sekaligus
ke arah lawan dalam kondisi mendekap erat
tubuh Raya yang menangis ketakutan.
Akhirnya baku tembak berhenti. Tubuh Raya
masih saja bergetar hebat. Alex dan Sean
berdatangan ke tempat itu. Untuk sesaat
Sean tampak tertegun melihat Raya berada
dalam pelukan sang Presdir.
"Tolong..bawa aku pergi dari tempat ini.."
Suara Raya terdengar begitu pelan, dan tidak
lama kemudian tubuh nya melemas. Sean
bergerak ingin meraih tubuh Raya namun
Aaron sudah terlebih dahulu mengangkat
nya ke dalam gendongan. Saat ini Raya
dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Urus mereka semua, aku tunggu hasil nya
nanti malam di hotel.!"
"Baik Tuan.!"
Alex membungkuk hormat. Tanpa melirik
lagi kearah Sean Aaron segera melangkah
pergi dengan menggendong tubuh Raya.
***
Keadaan di dalam kamar hotel besar tempat
tinggal Aaron kini tampak sedikit mencekam.
Ada 3 orang laki-laki bertubuh tinggi besar
yang mendatangi kamar itu. Mereka semua
kini berdiri dengan menundukkan kepala.
"Apa yang kalian dapat.? Siapa mereka.?"
Aaron menyesap minuman di tangan nya
dengan tatapan tajam yang seolah mampu
menembus kedalaman lautan.
"Mereka pasukan kedua Black Hunter Yang
Mulya. Baru beberapa bulan ini beraliansi
dengan pasukan Black Wolf.!"
"Black Wolf.? sepertinya mereka sangat
penasaran denganku.!"
"Karena insiden tewas nya Jayden kemarin,
tampaknya adik nya yang jadi wakil Jayden
tidak akan tinggal diam Yang Mulya.!"
"Hemm.. kelihatannya mereka sudah tahu
siapa aku sebenarnya.!"
"Benar sekali Yang Mulya..hal ini akan sedikit
menyulitkan anda."
"Biarkan saja, aku akan lihat sampai dimana
pergerakan mereka."
"Yang Mulya.. situasi sekarang mulai tidak
terkendali. Ada kekuatan baru di luar nalar
yang mulai mengincar ketenangan negara
kita. Kami mohon kembalilah sekarang juga
untuk mencegah kemungkinan yang lebih
buruk terjadi pada lingkungan istana.!"
Salah seorang dari laki-laki bertubuh besar
dan berpenampilan sedikit seram itu berkata
sambil membungkuk rendah di hadapan
Aaron yang kini menautkan alisnya.
"Apa sebenarnya yang mereka inginkan.?"
"Kedudukan paling tinggi di pemerintahan
untuk keturunan selanjutnya yang tidak
bisa di goyang oleh siapapun.!"
Aaron kembali menyesap minuman nya.
Dia merasa situasi nya sekarang memang
sudah mulai di luar kendali.
"Kalau begitu sudah waktunya aku kembali.
Tapi aku harus melakukan sesuatu dulu
sebelum kembali.! Aku harus menikahi
seorang wanita dari negara ini.!"
Tiga orang laki-laki itu tampak terkejut bukan
main. Mereka saling pandang, benar-benar
tidak percaya pada apa yang di dengarnya.
"Me-menikah dengan gadis dari negara ini
Yang Mulya.?"
Salah seorang diantaranya mencoba untuk
meyakinkan diri.
"Hemm.. aku tidak sengaja menodainya. Dan
wanita itu bisa saja mengandung benih ku.!"
Mereka semua bengong. Tuan berharga
mereka melakukan kekerasan seksual.?
Benar-benar tidak bisa di percaya.! Selama
ini semua wanita bahkan harus mengemis
agar bisa menemui dan mendekatinya.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan wanita itu
jadi incaran pihak ketiga. Pernikahan ini
sebisa mungkin harus di rahasiakan. Aku
tidak akan membiarkan keselamatan
wanita itu di pertaruhkan.!"
"Apa rencana Yang Mulya.?"
"Aku sudah mengatur semuanya dengan
baik. Dia akan ada dalam pengawasan ku
tanpa harus menimbulkan kecurigaan.!"
Jawab Aaron sambil mendudukan dirinya di
atas sofa. Ketiga orang itu hanya bisa diam
mencoba memahami rencana Tuan nya.
"Kalian Kembali ke kapal pesiar malam ini
juga. Aku akan datang sesuai jadwal.!"
Akhirnya Aaron memutuskan. Mereka bertiga
kembali saling melihat sesaat.
"Biarkan saya menemani Yang Mulya disini
untuk mengatur pernikahan anda.!"
"Tidak perlu, Ansel sudah mengatur semuanya
dengan sangat baik ! Kalian kembali saja.Terus
pantau keadaan di dalam istana dan laporkan
padaku seperti biasa.!"
"Baik Yang Mulya.. Kalau begitu kami permisi."
Serempak tiga orang itu sambil kemudian
membungkuk dengan gaya yang sangat khas
penuh penghormatan.
Aaron menatap kepergian mereka sambil
menerawang lewat gelas kecil bening yang
ada di tangan nya. Dia mencoba mencari
bayangan wajah seseorang. Wajah wanita
yang sudah jelas milik sahabatnya. Namun
sampai saat ini, wanita itu masih saja terus
mengganggu malam-malam nya.
***
Hari ini Raya memaksakan diri untuk pergi
ke kantor. Walau keadaannya belum pulih
sepenuhnya, tapi dia harus profesional. Dia
juga harus mendampingi Bos jahatnya itu
ke pertemuan penting di sebuah perusahaan
yang menyediakan jasa onderdil dan juga
mesin-mesin canggih lainnya.
Aaron menatap Raya cukup intens begitu
mereka bertemu di basement perusahaan
yang akan di datangi. Hari ini Aaron memang
tidak datang ke kantor dan mereka langsung
bertemu di tempat.
"Kau sudah menyiapkan semuanya.?"
Aaron bertanya begitu mereka berada di
dalam lift.
"Semua sudah sesuai instruksi.!"
Raya menjawab seperlunya. Aaron yang
berdiri di depan tampak menatap wajah
Raya dari pantulan dinding lift yang bening.
"Bagaimana keadaan mu.?"
Raya mendongak, mata mereka bertemu
lewat pantulan dinding lift.
"Tidak perlu memperdulikan ku.!"
Ketus Raya seraya memalingkan wajahnya.
Aaron masih menatapnya, lebih intens dan
mendalam. Tapi Raya sepertinya tidak ingin
ambil pusing. Bahkan sangat terlihat kalau
dia tersiksa berada satu lift dengan pria itu.
"Jangan lupa, kau adalah tawanan ku.!"
Desis Aaron yang tiba-tiba saja sudah ada
di samping Raya dan berbisik di telinga nya.
Mata Raya melebar indah, tatapannya terlihat
kesal tapi semburat merah mewarnai wajah
beningnya yang mampu membuat Aaron
terpana sesaat. Keduanya saling pandang
lekat, seolah ada magnet kuat yang sangat
sulit untuk di lepaskan.
TING !
Pintu lift terbuka, tapi mata mereka masih
saja saling terpaut dalam. Tidak lama Raya
tersadar duluan, dia melengoskan wajah nya
sambil berlalu keluar lift duluan. Wajah Aaron
sedikit bereaksi, ada warna merah yang kini
mewarnai wajah super tampan nya.
"Selamat datang Tuan De Enzo..! Ini sebuah
kehormatan besar bagi kami mendapat
kunjungan anda, langsung di tempat kami."
Pimpinan perusahaan tersebut beserta para
pejabat penting lainnya tampak menyambut
Aaron penuh hormat. Raya hanya bisa terdiam
tidak menyangka akan mendapat sambutan
yang begitu formal dalam formasi lengkap.
Sedangkan mereka hanya datang berdua saja.
"Tidak perlu berlebihan.!"
Aaron mengibaskan tangannya ke udara.
Sang pimpinan kini berpaling pada Raya..
Dan mata mereka tampak terkejut, saling
menatap tidak percaya.
"Raya... kau.."
"Selamat siang Tuan Alexander."
Raya menundukkan kepalanya berusaha
memutus keterkejutan pria muda itu yang
masih menatapnya lekat, dia benar-benar
tidak menduga bisa bertemu Raya saat ini.
"Apa sudah bisa di mulai.?"
Suara Aaron membuyarkan keterpesonaan
Sang CEO dan para staf terhadap Raya.
"Mari Tuan.. Silahkan duduk ."
Para staf mempersiapkan Aaron untuk duduk
di tempat yang sudah di sediakan. Namun
sang CEO tampaknya masih belum bisa
melepaskan diri dari wajah cantik Raya yang
terlihat mulai tidak nyaman menyadari tatapan
pria itu yang tidak jua lepas dari dirinya.
Akhirnya mereka semua duduk di tempat
masing-masing. Raya duduk di samping
Aaron berusaha bersikap setenang mungkin
walau sebenarnya hatinya saat ini merasa
semakin tidak nyaman karena tatapan Sang
CEO seolah ingin sekali menyergap dirinya.
"Mohon maaf sebelumnya Tuan De Enzo..
apakah Nona Raya ini..."
"Dia sekertaris pribadiku.!"
Aaron menjawab cepat dengan wajah yang
terlihat datar dan dingin. CEO tersebut, atau
Zoe Alexander tampak mengangguk faham.
Raya menatap sebentar kearah Zoe, terlihat
sekali kalau pria itu masih menyimpan rasa
padanya. Zoe adalah mantan kekasih Raya
sewaktu kuliah dulu di luar negeri.
Mereka berpisah karena pria itu memutuskan
untuk merintis karir di luar negeri di saat Raya
sudah berniat untuk membawa hubungan
mereka ke jenjang yang lebih serius. Dan
kegagalan itulah yang membawa Raya
betah dalam kesendirian selama ini hingga
akhirnya dia mulai merasakan kenyamanan
saat bersama dengan Sean.
"Baiklah Tuan..kalau begitu kita mulai saja
pembicaraan nya."
Zoe tampak semangat. Tatapannya kembali
jatuh di wajah cantik Raya yang semakin di
lihat semakin membius, membawa dirinya
pada penyesalan yang sangat dalam.
"Tuan Alexander..kalau anda tidak bisa fokus
pada pertemuan ini sebaiknya kita batalkan
saja kerjasama ini.!"
Aaron berkata dengan nada yang sangat
arogan. Zoe dan para stat tampak terkejut,
begitu pun dengan Raya.
"Tidak Tuan. Maafkan saya..terus terang saya
sangat senang karena bisa bertemu dengan
Nona Maharaya. Kami adalah teman lama."
Zoe nampak sangat menyesal. Wajah Aaron
terlihat semakin dingin cenderung kesal.
Akhirnya pembicaraan pun di mulai. Dan
seperti biasa Raya maju memaparkan apa
yang akan menjadi inti dari kerjasama dua
perusahaan mereka.
Selama pembicaraan berlangsung, Aaron
terlihat semakin geram melihat tatapan Zoe
yang tiada bosan melahap diri Raya seolah
ingin menerkamnya.
"Bagaimana Tuan, apakah anda keberatan
atau ada hal yang ingin di perjelas lagi ?
Raya mengakhiri pemaparannya, matanya
menatap sekilas kearah Zoe yang sedang
terlena mendengar dan melihat seluruh
penampakan dirinya.
"Tuan Alexander.? apakah anda menyimak
apa yang saya terangkan.?"
Raya benar-benar gerah melihat kelakuan
Zoe yang tidak tahu situasi itu.
"Ohh..ya tentu saja saya menyimak semua
yang anda tuturkan. Semua nya sudah saya
fahami, tidak ada keraguan lagi."
Zoe tampak sedikit gelagapan. Aaron sudah
sangat geram melihat situasi ini. Wanita ini
ternyata memiliki racun yang sangat ganas
hingga bisa menyebarkan virus yang cukup
mematikan bagi para pria yang melihatnya.
Setelah semua disepakati tanpa basa basi
lagi Aaron menarik tangan Raya untuk keluar
dari ruang pertemuan sebelum Zoe sempat
mengajaknya berbicara serius.
Pria itu tidak melepaskan genggaman tangan
nya sampai mereka tiba di basement. Raya
menarik tangannya yang kini sedikit memerah
karena kuat nya pegangan tangan Aaron tadi.
"Kau kembali ke kantor sekarang juga.!"
Titah Aaron seraya mendorong tubuh Raya
masuk ke dalam mobil. Raya menautkan
alisnya mendapati sikap aneh bos jahat nya
itu. Dia segera duduk dengan memasang
wajah geram dan kesal. Mata mereka untuk
sesaat saling menatap kuat sampai akhirnya
Raya memalingkan muka kemudian mobil
mulai melaju meninggalkan tempat itu.
"Kita urus semuanya sekarang juga.!"
Titah Aaron seraya masuk ke dalam mobil.
"Baik Tuan.!"
Sahut Alex mulai meluncurkan mobilnya..
***
Happy Reading.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
andi hastutty
cembokur auron ,🫣😜
2023-10-13
0
Wirda Wati
pada Mayra bagus raya..
2022-12-19
0
gia gigin
Iri blang dong🤣🤣🤣
2022-10-07
0