❤️❤️❤️
Kini keduanya berada pada posisi yang cukup
intim, saling menatap kuat dengan debaran
jantung yang tidak menentu. Aaron membawa
tubuh Raya untuk berdiri. Wajah gadis itu kini memerah. Dia mundur, menatap ke sekeliling
ruangan asing itu.
"Tuan..ada dimana saya.?"
Suara Raya terdengar gemetar, ketakutan kini
kembali menguasai dirinya. Ada dimana dirinya
sekarang.? apa yang akan terjadi dengannya.?
Tubuh nya semakin mundur hingga akhirnya
kakinya terantuk pinggiran ranjang membuat
dia jatuh terlentang di atas tempat tidur. Wajah
Aaron sedikit bereaksi melihat gadis itu tampak
ketakutan sendiri.
Raya segera bangkit, wajahnya saat ini sudah
tidak tahu mengeluarkan ekspresi seperti apa.
Antara takut, tegang dan juga salah tingkah.
Dia mendudukkan dirinya di pinggir tempat
tidur dengan wajah tertunduk sambil meremas
ujung mantel yang membungkus tubuhnya
mencapai lutut. Perlahan Aaron maju mendekat membuat Raya kembali menegang, menatap
waspada pada pergerakan laki-laki itu. Rasa
takut kini semakin menguasai dirinya karena
dia tidak bisa menebak isi pikiran pria yang
ada di hadapannya itu. Wajah pria itu terlihat
datar, dingin dan tidak mengeluarkan ekspresi
atau reaksi apapun. Sangat sulit di fahami.
Aaron menatap Raya, mengamati kondisi gadis
itu, apakah dia perlu mendapat perawatan
medis atau tidak. Padahal keadaan nya sendiri
saat ini tidak lah baik, bahunya yang terluka
semakin mengeluarkan darah.
"Tu-Tuan..apa yang ingin anda lakukan.?"
Raya menatap Aaron sambil mundur saat
melihat pria itu kembali melangkah maju.
Aaron mendengus, memalingkan wajahnya,
kemudian melangkah kearah meja rias.
Pria itu duduk di kursi meja rias. Raya masih
mencoba mengamati gerakkan nya. Dengan
sedikit kesulitan Aaron membuka kemeja yang
di pakainya membuat Raya terkejut seketika.
Dia menggeser posisi duduknya dengan mata
tetap waspada pada pergerakan Aaron. Namun
matanya kini melebar saat melihat luka di bahu
pria itu yang terus mengeluarkan darah. Rasa
empati bercampur cemas kini mulai memenuhi
dada nya membuat dia bangkit dari duduknya.
Namun sedetik kemudian dia terkesiap saat
melihat Aaron mengeluarkan pisau lipat dari
balik sepatunya.
"Tuan..apa yang akan kau lakukan?"
Raya bergerak maju mendekat saat melihat
Aaron bersiap untuk mengeluarkan peluru
yang bersarang di bahunya. Aaron bergeming,
dia mulai menggerakan pisaunya menusuk
ke dalam luka di bahunya.
"Apa anda butuh bantuan.? Biarkan aku yang
mengeluarkan benda itu."
Raya mencoba menawarkan bantuan sambil
bergidik ngeri, tangannya sampai bergetar
kuat saat melihat Aaron memejamkan mata
menahan rasa sakit. Tapi pria itu tetap diam
dengan ekspresi tidak pedulinya. Raya pasrah,
ini manusia sebenarnya terbuat dari apa.?
"Aarrghh...!"
Aaron menggeram kuat saat dia berhasil mengeluarkan peluru dari bahunya itu. Dia
mengatur napas nya, darah kini semakin
deras keluar membuat Raya sedikit panik.
Dia segera menyobek bagian bawah dress
nya kemudian maju mendekat, tidak peduli
lagi pada reaksi pria aneh ini.
"Biarkan aku membantu mu."
Lirih Raya sambil maju ke hadapan Aaron
yang sedang menunduk mengatur napas.
Pria itu terdiam, menatap sobekan kain di
tangan Raya. Dia melihat saat ini kondisi
pakaian gadis itu sudah tidak berbentuk
lagi. Bagian dada dan pahanya robek, dan
hal itu membuat sebagian tubuhnya terbuka.
Ada desiran aneh yang kini mulai menjalar
ke seluruh aliran darah Aaron. Dia membeku
di tempat saat tangan halus gadis itu mulai
membalut luka di bahunya. Gerakan gadis
itu lembut namun cukup kuat.
"Ini hanya untuk sementara saja. Kau harus
segera pergi ke Dokter agar tidak terjadi
infeksi."
Raya berkata dengan wajah lurus ke luka di
bahu Aaron. Sedang pria itu masih terdiam
seolah tersihir dengan apa yang di lakukan
oleh gadis itu. Dia mendongak, menatap wajah
Raya yang kini berada tepat di hadapannya.
Mata mereka kembali bersitatap sebentar.
Raya segera menjauhkan diri begitu selesai
membalut luka Aaron. Pria itu berdiri, meraih
kemeja yang sudah tidak berbentuk itu, lalu
memakainya kembali. Raya berdiri mematung
melihat apa yang di lakukan oleh pria itu. Mata
mereka kembali bertemu untuk beberapa saat
hingga akhirnya tanpa sepatah katapun Aaron membalikan badannya kemudian melangkah
kearah pintu.
"Tuan.. tolong biarkan aku pergi dari sini."
Raya akhirnya mengucapkan permohonannya
membuat Aaron menghentikan langkahnya.
Suara wanita itu terdengar sangat rapuh, penuh dengan permohonan. Dia terdiam beberapa
saat sampai akhirnya kembali melangkah
keluar dari ruangan itu meninggalkan Raya
yang mematung ditempat. Dasar pria aneh !!
Sebenarnya apa yang di inginkan oleh pria
itu.? kenapa dia tidak melepaskan dirinya.?
Raya menjatuhkan dirinya di atas tempat
tidur sambil menutup wajahnya. Berbagai
prasangka dan kecurigaan kini semakin
menguasai dirinya.
Ya Tuhan..apa yang harus dilakukannya
sekarang? Dia bagaikan mangsa yang keluar
dari satu sarang tapi kembali terperangkap
di sarang yang lain. Tapi dia tidak boleh putus
asa, apapun harus di cobanya sekarang.
Tidak lama setelah kepergian Aaron ada
petugas hotel yang datang bersama dengan
4 orang anak buah Aaron yang langsung
berjaga di depan pintu.
"Nona.. Tuan memerintahkan kami untuk
membawakan semua ini untuk anda."
Ujar pelayan hotel seraya meletakkan nampan
berisi makanan lengkap serta sebuah paper
bag di atas meja yang ada di ruang depan.
Raya hanya bisa menatap diam pelayan itu,
tapi matanya mencoba mencari celah apakah
dirinya punya kesempatan untuk lari. Namun
nampaknya percuma saja, 4 orang manusia
aneh terlihat bersiaga penuh di luar pintu.
"Terimakasih, kau boleh keluar sekarang."
"Baik Nona, saya permisi."
Pelayan hotel itu menundukkan kepala
kemudian berlalu keluar dari dalam kamar.
Raya menghembuskan nafas berat. Akhirnya
dia meraih paper bag lalu melangkah kearah
kamar mandi. Saat ini yang harus dia lakukan
adalah membersihkan dirinya kemudian
merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur
mencoba untuk mengistirahatkan raganya.
Keesokan harinya Raya terbangun saat sinar
matahari sudah begitu terang benderang.
Mungkin karena kelelahan dia tertidur dengan
sangat pulas. Raya merutuki diri sendiri, ini
benar-benar gila.! bisa-bisanya dia tertidur
nyenyak dalam keadaan terkurung seperti ini.
Bagaimana kalau orang-orang aneh itu masuk
ke kamarnya dan melakukan sesuatu pada
dirinya saat tertidur.?
Dia tertegun saat melihat kearah meja sofa,
di sana sudah tersedia hidangan sarapan pagi
yang sangat lengkap. Dan ada paper bag baru
yang tergeletak di atas sofa. Kapan pelayan
hotel masuk ke dalam kamar, kenapa mereka
selalu masuk tanpa izin.? Ketakutan kembali
merayapi jiwa Raya, dia benar-benar berada
pada kondisi tidak aman sekarang.
Dia melangkah kearah pintu, mencoba untuk
membuka handel pintu yang sangat kokoh itu.
Tapi rasanya semua itu percuma saja. Pintu
itu bahkan tidak bergetar sedikitpun. Akhirnya
karena lelah dia menyerah. Masuk ke dalam
kamar mandi, setelah itu dia kembali, mulai
menikmati sarapan pagi yang tersedia. Dia
harus tetap kuat dan sehat agar bisa berpikir
jernih untuk menyusun rencana pelarian nya
dari tempat ini.
***
Waktu terus berputar tanpa terasa...
Malam ini Aaron janjian dengan Rayen di
sebuah club malam yang biasa di datanginya
untuk mendapatkan perawatan atas luka di
bahunya. Saat ini mereka berdua sudah ada
di dalam ruangan. Rayen langsung melakukan
perawatan pada luka tembak di bahu Aaron.
Setumpuk botol minuman terlihat memenuhi
meja lebar yang ada di hadapan mereka.
"Kenapa anda selalu membiarkan terluka
seperti ini hanya untuk seorang wanita
yang sudah jelas milik orang lain Tuan.?"
Rayen selesai membersihkan luka di bahu
Aaron, kemudian memberinya obat khusus
agar luka itu cepat mengering. Untung saja
yang terkena tembakan adalah seorang pria
bernama Aaron, kalau manusia biasa pasti
sudah mengalami infeksi dan komplikasi
karena penanganan yang terlambat.
"Setidaknya inilah caraku mengekspresikan
semua perasaanku padanya.!"
Desis Aaron sambil kembali menuang
minuman ke dalam gelas lalu meneguknya.
"Kau harus menghentikan semuanya mulai
sekarang.! Karena itu tidak akan memberikan
keuntungan apapun yang untukmu Tuan."
Rayen mulai membebat luka itu memakai
kain putih. Aaron terdiam, kembali menuang
minuman, meneguk, lagi dan lagi.
Setelah selesai dengan tugasnya Rayen kini
menemani pria itu menikmati minuman yang
bisa membuat seseorang melupakan segala
masalah atau pun kemelut hidup yang sedang
di alami untuk sesaat. Laki-laki yang memilki
rupa terlampau tampan namun minim ekspresi
itu tiada henti meneguk minuman di dalam
gelas kecilnya seakan ingin melampiaskan
segala keresahan dan kesakitan yang sedang
di rasakannya kini.
"Tuan yang Mulya.. sudahlah, hentikan.! Kau
sudah minum terlalu banyak.! lama-lama
dirimu bisa kehilangan kendali.!"
Rayen merebut botol minuman dari tangan
Aaron yang terlihat akan di teguknya secara
langsung. Aaron mendengus, dia melempar
gelasnya ke sembarang arah menimbulkan
bunyi prang yang sangat keras hingga gelas
itu hancur berkeping-keping. Matanya tampak
sudah memerah dan dia kelihatan mulai
kehilangan kontrol.
"Cinta..membuat hidupku kacau..!! Itulah
sebabnya aku tidak ingin mengenalnya.
Tapi wanita ini telah memaksaku untuk merasakannya..! Dia sudah membuat
jiwaku menderita..!!"
Aaron mendesis seraya memijat pelipisnya.
Dia menyandarkan kepalanya di ujung sofa.
"Dia baik-baik saja. Seharusnya sekarang kau
bisa tenang, bahaya itu sudah tidak ada lagi.!"
"Ya..kau benar.! Aku bisa pergi dengan tenang.
Aku tidak akan pernah lagi mengingatnya..!!"
"Kau sudah banyak membuang waktumu hanya
untuk mengejar sesuatu yang sudah menjadi hak
orang lain..! Kau harus move on Tuan Marvell..!"
"Aku tidak ingin melakukannya, tapi dia selalu
saja memaksaku untuk berada di jalannya..!"
Aaron berdiri dengan tubuh sedikit sempoyongan.
Rayen tampak sedikit khawatir. Dia melangkah
dengan perlahan.
"Hei..kau mau kemana.?"
"Aku ingin mendinginkan kepalaku.!"
"Apa aku perlu mengantarmu.?"
Aaron mengibaskan tangannya sambil
kemudian melangkah pergi meninggalkan
Rayen yang hanya menatapnya dengan
senyum tipis. Ya cinta kadang membuat hidup seseorang ada di ambang ketidakpastian.
Sementara itu di dalam kamar hotel..
Raya tiada henti mencoba untuk membuka
pintu kamar hotel yang terkunci dari luar.
Sudah sehari semalam dia di sekap dalam
kamar hotel berukuran besar ini oleh pria yang
sudah menyelamatkan nya dari tangan Jayden.
Namun pria itu belum pernah kembali ke kamar
ini sejak menempatkan dirinya di sini. Hanya
para petugas hotel dan beberapa pria berpakaian
serba hitam lah yang selalu datang mengantar makanan dan pakaian ke kamarnya.
Dia lelah, benar-benar lelah dengan usahanya
yang tidak membuahkan hasil sama sekali.
Kini dia menyerah dan tidak peduli lagi, dia
akan menunggu kemunculan pria itu ke kamar
ini dan akan mencoba memohon padanya
untuk membiarkan dirinya pergi ..
***
Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
Naila Azmi
aku balik lagi kk autorrr
sdh yg ntah beberapa kali aku baca tp tetwp suka n tegang
2024-12-12
0
Eka Shidiq
rindu yang terobati 😆😆
2024-02-10
1
andi hastutty
auron tersiksa dengan cinta yg menjadi milik orang
2023-10-12
0