❤️❤️❤️
Raya mencoba untuk menggedor pintu kamar
dan berteriak minta tolong. Dia harus keluar
dari tempat ini. Dia yakin ada pasukan yang
datang untuk menyelamatkan istri raja bisnis
itu. Raya kembali berteriak minta tolong dan
tiada henti menggedor pintu.
Setelah cukup lama daun pintu bergetar hebat,
ada suara tendangan dari luar, dengan tubuh
gemetar Raya segera menepi ke sisi pintu, dan
tidak lama pintu terbuka, hancur berantakan.
Raya tampak waspada, matanya langsung
bersirobos tatap dengan sepasang mata elang seorang pria tinggi tegap yang memegang
senjata besar di tangannya. Bahunya tampak memerah mengeluarkan rembesan darah.
Untuk beberapa saat mereka malah terdiam,
saling menatap kuat, seolah terkesima satu
sama lain. Pria itu tiada lain dan tiada bukan
adalah Aaron. Raya mundur menjauh dengan
tatapan penuh kecurigaan.
Namun tiba-tiba saja tubuh Aaron terhuyung
ke depan saat satu tendangan kuat menerjang punggungnya. Dengan cepat dia membalikan badannya dan melihat Jayden sudah berdiri
di depan pintu dengan seringai iblis nya.
"Akhirnya kamu datang juga..! Aku cukup
lama menunggu saat ini..!!"
Jayden berkata, tanpa basa-basi langsung
menyerang Aaron. Dan terjadilah perkelahian
sengit di dalam ruangan itu membuat Raya
semakin gemetar ketakutan, tubuhnya kini
merapat ke dinding ruangan. Kedua tangan
menyilang di dada berusaha untuk menutupi
tubuh bagian atasnya yang terbuka.
Kedua pimpinan mafia itu bertarung seru dan
sengit dengan kekuatan yang cukup seimbang. Walaupun Aaron dalam keadaan terluka, tapi
itu tidak membuat keberingasannya berkurang,
dia bertarung dengan amarah yang sudah sangat memuncak. Dia harus mengakhiri sepak terjang
ketua Black Hunter ini agar kehidupan sahabat
dan wanita yang di cintainya bisa tenang.
Mereka mundur saat pukulan dan tendangan
masuk ke tubuh masing-masing. Rembesan
darah di bahu Aaron semakin terlihat memerah.
Seringai puas tercipta di bibir Jayden melihat
Aaron memegang bahunya. Pria sangar itu
menepis darah yang keluar di sudut bibirnya.
Keduanya kembali saling menerjang mencoba
untuk melumpuhkan lawan secepatnya.
Sementara Raya semakin ketakutan, dia terdiam
dengan tubuh gemetar, menyembunyikan wajah
dengan berpaling dan memejamkan mata, tidak
sanggup kalau harus melihat pertarungan itu.
Setelah cukup lama bertarung, akhirnya Jayden
mulai terdesak. Aaron berhasil memasukan
tendangan dengan kekuatan penuh ke bagian
dada Jayden membuat pria itu menyemburkan
darah segar, tubuhnya ambruk di hadapan Raya
yang sontak menjerit ketakutan, wajahnya kini
sudah seputih kapas. Matanya menatap lebar
kearah Jayden yang tergeletak dengan semburan darah tiada henti keluar dari mulutnya. Dia
tidak bisa bergerak, tubuh nya seakan terpaku
di tempat.
Dengan sisa kekuatannya Jayden mencoba
berdiri, lalu tanpa di duga dia meraih tubuh
Raya, membelit lehernya menggunakan tangan
kirinya kemudian menodongkan pistol di pelipis bagian kanannya membuat Raya terkesiap.
Wajahnya kini tampak semakin memucat.
Dia mencoba untuk berontak, membuka
belitan tangan Jayden di lehernya.
"Kau bergerak, nyawa gadis tak berdosa ini
akan berakhir di tanganku..!"
Ancam Jayden saat melihat Aaron bergerak
maju, dia memperkuat pitingannya di leher
Raya membuat Aaron berhenti seketika. Mata
gadis itu tampak membeliak kuat karena
napasnya kian tersengal. Aaron berdiri kaku
di tempat dengan ekspresi yang sudah tak
terbaca. Tangannya terkepal kuat, tubuhnya
bergetar hebat, tatapannya lurus kearah Raya
yang menatap nya redup, semakin melemah.
Aaron mengalihkan pandangan kearah Jayden
mencoba untuk membaca gerakan pria itu.
"Jangan bergerak Tuan Marvell.! Atau aku
akan segera meledakkan kepalanya.!"
Perlahan Jayden mundur masih menyandera
Raya sebagai tameng, dia berniat membawa
Raya keluar dari ruangan itu, namun dalam
satu gerakan kilat Aaron meraih senjata dari
balik punggungnya dan melepaskan tembakan,
tepat mengenai jantung Jayden yang langsung
mengejang, tangannya terlepas dari leher Raya
kemudian tubuhnya ambruk ke lantai.
Raya memekik kuat, matanya membulat melihat
Jayden yang sudah tak bergerak. Dia menutup
wajahnya, syock melihat kejadian mengerikan
di depan matanya itu, tubuhnya lemas seketika.
Dia mencoba mengatur napasnya yang masih
tersengal, kepalanya kini terasa pening. Namun
belum sempat dia menguasai dirinya Aaron
sudah menyambar tangannya di bawa berlari
keluar dari ruangan itu.
Mereka berlari menyusuri lorong panjang lalu
turun ke lantai kedua. Sayup-sayup terdengar
tembakan dari arah lantai dasar dan area luar
villa. Tubuh Raya semakin lemah, tenaganya
kini terkuras habis. Rasanya dia tidak kuat lagi,
sementara tangannya masih di genggam kuat
oleh pria asing itu.
Raya menghentikan langkahnya karena kini
tubuh nya semakin lemas. Aaron ikut berhenti,
menoleh kearah Raya yang sedang berjongkok
mencoba mengatur napas. Aaron mencoba
menghubungi anak buahnya. Wajah gadis itu
tampak pucat pasi . Dia menarik tangan Raya
di bawa ke salah satu lorong.
"Tuan..aku lelah, aku sudah tidak kuat lagi."
Raya mengeluarkan suara untuk pertama
kalinya. Dia menyandarkan tubuhnya ke
dinding ruangan sambil memejamkan mata.
Aaron menatap sekilas wajah Raya, keadaan
gadis itu sangat lah kacau, pakaiannya sudah
tidak karu-karuan. Tanpa kata Aaron membuka
mantel yang di pakainya, lalu menutupkannya
ke tubuh Raya yang dari tadi memang sudah
terbuka di beberapa bagian. Mata keduanya
kembali bertemu, saling menatap kuat dalam
diam. Namun tidak lama Raya tampak terkejut
saat melihat rembesan darah yang keluar dari
bahu Aaron semakin banyak.
"Tu-Tuan..luka anda mengeluarkan banyak
darah.. Anda harus segera mendapatkan
pertolongan."
Raya bergerak maju ingin meraih luka Aaron.
Tapi pria itu reflek mundur dengan tatapan
tajam yang langsung menciutkan nyali Raya.
Dia hanya bisa menatap dalam diam saat
melihat Aaron menyobek lengan kemeja yang
di pakainya kemudian membalut luka tembak
di bahunya itu agar tidak terus mengeluarkan
darah. Raya menghembuskan nafas berat.
"Terimakasih.."
Ucapnya sambil merapatkan mantel tadi agar
lebih melindungi tubuh nya. Aaron berpaling
pada kedatangan 4 orang anak buahnya ke
tempat itu.
"Amankan dia..!"
Titah nya sambil kemudian melempar senjata
besar di tangannya pada anak buahnya, lalu
mengambil senjata kecil dari balik pinggangnya bersiap untuk melangkah.
"Tuan.. anda mau kemana.?"
Raya menatap Aaron, kemudian melirik pada
anak buahnya yang terdiam tanpa kata dengan
sorot mata penuh ketakutan.
"Bawa dia keluar dari tempat ini.!"
"Baik Tuan."
Aaron mengokang senjata di tangannya
kemudian melangkah pergi tanpa menoleh
lagi kearah Raya yang hanya bisa terdiam
menatap punggung pria itu.
"Nona.. mari ikut kami.!"
Raya menatap ragu, namun dia mencoba
memberanikan diri mengikuti langkah anak
buah Aaron keluar dari dalam Villa lewat jalan belakang. Dia membulatkan matanya melihat
pemandangan mengerikan di depan matanya
dimana banyak sosok yang tergeletak dalam
keadaan yang sangat mengerikan. Anak buah
Aaron membawa Raya menaiki helikopter
yang sudah terparkir di dekat pantai.
Tidak lama kemudian keadaan bertambah
genting. Walaupun dari jarak yang cukup jauh
Raya masih bisa melihat bagaimana reaksi
panik dari pria yang tadi menolongnya dimana
saat ini laki-laki itu sedang membopong tubuh
Mayra dalam pangkuannya. Raya hanya bisa
menatap takut dan cemas menyaksikan dua
tubuh suami istri yang terlihat dalam keadaaan
sangat kritis itu. 4 helikopter kini mulai terbang meninggalkan area pulau tersembunyi yang
sudah menjadi saksi bisu pembantaian yang dilakukan oleh Aaron dan para anggota
' Underground Devil' nya.
Raya terbang dalam helikopter yang berbeda,
terpisah dengan Aaron.
Turun dari pesawat gadis itu langsung di bawa
masuk ke dalam sebuah mobil hitam dengan
penjagaan yang sangat ketat dari beberapa
orang anak buah Aaron. Mobil mereka kini
meluncur menyusuri jalanan kota yang sudah
mulai lengang. Raya tidak tahu akan di bawa
kemana dirinya oleh orang-orang itu. Entah
dimana pria penolong nya itu berada.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit
akhirnya mobil yang membawa Raya tiba di
parkiran basement sebuah rumah sakit yang
di ketahui Raya sebagai rumah sakit keluarga
Moolay. Mereka menunggu di tempat itu.
Raya tidak mengerti siapa orang-orang ini
dan kenapa dirinya tidak di biarkan pergi saja.
Bahkan bergerak sedikit saja orang-orang itu
tampak langsung bereaksi waspada.
"Tuan-Tuan.. saya mohon, biarkan saya pergi
dari tempat ini."
Raya mencoba untuk memohon pada mereka.
Namun mereka bergeming, terdiam membisu
bagai sebuah patung. Dia mencoba membuka
handel pintu mobil, tapi tetap terkunci. Huuh..
ini benar-benar melelahkan.! Sebenarnya apa
yang mereka inginkan darinya.?
Entah sudah berapa lama mereka menunggu
membuat tubuh Raya yang sudah sangat
kelelahan akhirnya di dera rasa kantuk. Dan
akhirnya dia jatuh tertidur tidak peduli lagi
dengan kondisinya saat ini yang di kelilingi
oleh orang-orang menyeramkan.
Menjelang tengah malam akhirnya Aaron
muncul di basement. Anak buahnya tampak
membungkuk hormat menyambutnya.
"Kita ke hotel sekarang.!"
Titahnya sambil kemudian masuk ke dalam
mobil. Matanya langsung menyapu sosok
wanita yang ada di sampingnya yang kini
sedang tertidur lelap. Aaron merebahkan
tubuhnya ke sandaran jok saat mobil mulai
melaju keluar dari parkiran khusus itu. Dia
meraba bahu kiri nya yang masih menyisakan
rembesan darah. Dahinya sedikit berkerut
saat rasa sakit kini mulai di rasakannya.
Aaron tersentak saat tiba-tiba kepala Raya
jatuh di bahu kanannya.Tubuh nya sedikit
tegang, dia melirik, menatap dan mengamati
wajah lelah gadis yang sudah di bawanya itu.
Siapa sebenarnya gadis ini.? Kenapa dia bisa
berada di sarang nya Black Hunter ? Aaron
membiarkan saja kepala gadis itu bersandar
di bahunya tanpa berniat untuk menyingkirkan
ataupun membenarkan posisinya.
Pria itu membawa Raya ke sebuah hotel yang
sudah biasa di tempati nya. Dia menghuni
Penthouse dari hotel ini yang terletak di lantai
paling atas. Untuk sesaat Aaron tampak
bingung, menatap Raya yang masih terlelap
dalam tidurnya. Tidak ada pilihan lain, dia
mengangkat tubuh gadis itu ke dalam
pangkuan nya kemudian masuk ke dalam
privat lift yang akan membawanya langsung
ke kamarnya.
"Kalian tunggu aku di sini.!"
Titah nya pada anak buahnya saat pintu lift
mulai tertutup. Anak buahnya membungkuk
sebagai tanda kepatuhan tanpa kata.
Dalam diamnya Aaron mengamati gadis
yang kini ada dalam pangkuannya itu. Dia
menautkan alisnya saat gadis itu bergerak menyusupkan wajahnya di antara belahan
dada bidang laki-laki itu mencoba mencari
kenyamanan. Tubuh Aaron kembali tegang.
Shit.! apa-apaan wanita ini.? apa dia tidak
sadar dengan apa yang di lakukannya?
Aaron mencoba untuk tenang. Dia segera
keluar begitu pintu lift terbuka di lantai
paling atas.
Raya tersentak bangun begitu Aaron tiba di
dalam kamarnya. Dia terkejut saat menyadari
kini dirinya ada dalam pangkuan pria asing
yang sudah membawanya pergi itu. Dengan
gerakan spontan Raya menekan dada Aaron
dan melompat turun dari pangkuan nya.
Namun karena gerakan nya yang frontal
kakinya tidak menapak dengan benar hingga
mengakibatkan tubuhnya terpelanting dan
hampir terjatuh kalau saja Aaron tidak sigap
menangkap pinggangnya.
***
Happy Reading...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
lina k
gak bosan2 baca novel ini lagi & lagi 🤭kalau LG kangen SM Aron SM raya kembali baca LG😂🤫sudah tak terhingga baca yg ke berapa entah yg ke 7 atau 8🤫& gak pernah bosan😂😂Thor terbaikkkj emang
2023-12-09
7
Wirda Wati
udah berlalu kali dinc thort..
ngga juga bosan
apa ada cerita yg baru Thor
...
2023-12-08
0
andi hastutty
lanjut Thor 😘
2023-10-12
0