❤️❤️❤️
Pulang dari pertemuan Aaron membawa
Raya pergi ke suatu tempat. Tidak ada kata
yang keluar dari mulut mereka. Keduanya
larut dalam kesibukan masing-masing. Raya
dengan laptop nya, sementara Aaron tampak
sibuk menerima telepon dari seseorang.
"Kita langsung ke pelabuhan.!"
Akhirnya sang Presdir mengeluarkan suara.
"Baik Tuan."
Alex meluncurkan mobil super mewah nya
ke kawasan pelabuhan. Raya melirik sekilas
kearah Aaron yang terlihat kembali sibuk
dengan teleponnya. Pelabuhan.? Apakah
dia akan ikut melihat kedatangan barang-
barang yang baru tiba di pelabuhan.?
Ponsel Raya tiba-tiba bergetar, dia tertegun
saat melihat nama Sean terpampang di sana.
Raya sedikit ragu untuk mengangkat nya.
Aaron melirik kearah Raya yang masih
terdiam, menatap layar ponselnya dengan
wajah penuh kebimbangan.
"Kalau tidak ingin menjawab nya matikan.!"
Aaron berkata dengan tatapan tajam yang
mampu menembus jantung Raya membuat
wanita itu langsung menekan tombol hijau
dengan wajah juteknya.
"Hallo Mr Sean.."
"Ray.. apa kamu ikut Presdir ke pelabuhan.?"
"Seperti nya begitu. Apa anda juga kesana.?"
"Iya, aku sudah di sini sekarang."
"Baiklah.. nanti kita bertemu di sana."
Raya melirik sekilas kearah Aaron, tidak di
sangka ternyata pria dingin itu masih fokus
menatap dirinya, wajahnya terlihat datar
namun ada aura mencekam yang kini mulai
menyelimuti seluruh isi mobil.
"Baik, aku tunggu kamu di sini.!"
Terdengar sahutan Sean dari sebrang sana.
Raya memutus sambungan telepon nya. Dia
memalingkan wajahnya ke arah luar jendela
berusaha untuk tidak mempedulikan bos nya
itu. Aaron mendengus, melempar pandangan
ke luar jendela. Wajahnya terlihat semakin
dingin. Keduanya kembali saling membisu.
Namun beberapa saat kemudian ada gelagat
aneh yang di tunjukan Alex. Dia mempercepat
laju mobilnya. Dalam keadaan mengemudi
Alex mengeluarkan alat komunikasi khusus
dan menekan tombol darurat mengirimkan
signal keadaan siaga pada bawahannya.
Namun tampaknya Aaron santai saja. Dia
kembali melakukan panggilan dalam bahasa
asing yang tidak di mengerti oleh Raya.
Saat laju mobil semakin cepat Raya mulai
merasakan ketegangan. Dia mengencangkan
sabuk pengaman dan menatap tajam kearah
Alex yang sedang fokus ke jalanan.
"Ada apa Alex.? Kenapa membawa mobil
dengan ugal-ugalan seperti ini.?"
Akhirnya Raya tidak tahan lagi, Alex tampak
sedikit terkejut, dia melihat kearah spion
tengah dengan reaksi aneh di wajah nya.
"Maaf Miss.. tidak ada apa-apa. Hanya ada
sedikit masalah.!"
"Turunkan kecepatan atau turunkan aku
sekarang juga.!"
"Maaf Miss, tapi keadaannya sedikit darurat.!"
Ujar Alex seraya memperlambat laju mobilnya.
Aaron melirik kearah Raya yang terlihat mulai memucat. Dia segera mengakhiri pembicaraan
teleponnya.
"Pindah ke sini.!"
Titah Aaron sambil menggeser posisi duduk
nya. Raya menatap jengah sambil menggeleng
kuat. Bagaimana bisa dia duduk satu jok
dengan pria jahat itu.? Itu kan jok singel.!
"Aku bilang pindah.!"
"Tidak mau, kau pikir itu akan muat untuk
dua orang !"
"Apa kau lebih suka di paksa.?"
"Issh dasar orang aneh.!"
Raya keukeuh dengan pendiriannya. Tapi
Alex kembali melajukan mobilnya dengan
kecepatan diatas rata-rata membuat Raya
kembali tegang. Aaron menyeringai tipis
saat melihat Raya terpaksa membuka sabuk
pengaman nya sambil menatap kearahnya.
Dalam sekali gerakan cepat tak terduga
Aaron menarik tubuh Raya dan kini jatuh
di atas pangkuannya. Mata mereka bertemu,
saling menatap kuat. Tangan Raya kini
melingkar erat di leher Aaron.
"Biarkan mereka bermain.!"
Aaron berkata dengan tatapan tidak lepas
dari wajah cantik Raya yang ada di depannya,
masih belum pulih dari keterkejutannya.
"Baik Tuan."
"Giring mereka ke pelabuhan.!"
Alex mengangguk sambil meluncurkan
mobilnya dengan kecepatan penuh hingga
memancing beberapa mobil patroli polisi
yang langsung mengejarnya.
"Apa kalian sudah tidak waras ? kenapa
harus memancing aparat untuk mengejar
kita.?"
Raya terlihat panik, dia mencoba meronta
ingin turun dari pangkuan Aaron, tapi pria
itu malah semakin mengunci pinggang nya.
Raya mencoba mendorong dada Aaron.
"Turunkan aku, biarkan aku duduk.!"
"Kau sudah duduk sekarang.!"
Aaron nampak acuh, dia malah menarik
pinggang kecil Raya hingga kini tubuh
mereka semakin merapat. Ketakutan Raya
semakin nyata saat mobil mereka kini di
kejar oleh 3 mobil patroli. Dia memekik kuat
saat Alex mengecoh mobil patroli dengan meluncurkan mobilnya ke daerah padat
massa di dalam pasar ikan yang membuat orang-orang menjerit histeris sambil berlarian menghindar berusaha menyelamatkan diri.
Raya membulatkan matanya tidak percaya
Alex melakukan kecerobohan seperti tadi.
Untung saja tidak memakan korban karena
Alex mampu mengendalikan mobilnya dengan
sangat lihai. Sementara Aaron dan Alex malah
terlihat semakin bersemangat. Keduanya
seolah sedang memainkan sebuah game
yang sudah sangat di kuasai nya.
"Aku mohon hentikan.! Atau turunkan aku
sekarang juga.! Kalian semua penjahat.!
Kalian adalah orang-orang aneh.!"
Raya berteriak kencang sambil berontak
memukuli dada Aaron, namun dengan santai
seolah tidak merasakan apa-apa, Aaron
memegang kedua pergelangan tangan Raya,
mengunci di dadanya. Gerakan Raya terhenti,
mata mereka kini saling menatap, memanas,
kebencian di mata Raya semakin berkobar.
"Turunkan aku sekarang juga.! Aku tidak
ingin berurusan dengan orang-orang kejam
seperti kalian.!"
"Kau pilih diam, atau aku akan melakukan
sesuatu padamu, sekarang juga.!"
Ancam Aaron sambil memajukan wajahnya,
wajah Raya seketika memucat di penuhi
ketegangan, dia terpaksa menurut, diam tak
bergerak, hanya tangannya saja yang kini
terkepal kuat. Seringai tipis tercipta di bibir
Aaron membuat Raya ingin sekali melenyapkan
orang ini sekarang juga. Tapi sungguh dia tidak berdaya saat ini. Dia menarik tangan nya dari genggaman Aaron kemudian memalingkan
wajahnya.
"Mereka sudah kehilangan jejak kita Tuan."
Lapor Alex sambil kemudian meluncurkan
mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Bagus, kita lihat apa mau mereka.!"
Desis Aaron. Raya mencoba membuka
belitan tangan Aaron di pinggang nya.
"Biarkan aku kembali duduk dengan tenang."
Raya berkata dengan wajah kesalnya.Aaron
menatap sebentar wajah Raya dan akhirnya
membiarkan Raya turun dari pangkuannya.
Keduanya kembali duduk di posisi semula.
Raya menghembuskan nafas berat seraya
memejamkan matanya. Dia benar-benar
membenci keadaan ini, harus selalu berada
di dekat orang yang nyata-nyata telah
menghancurkan hidupnya adalah sebuah
siksaan yang sangat berat bagi dirinya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba
di pelabuhan. Alex membawa mobilnya masuk
ke area peti kemas. Begitu turun dari mobil
Aaron langsung di sambut oleh Sean dan
beberapa orang penting dari pihak ekspedisi
serta orang-orang perusahaan yang
memegang jabatan sebagai manager di
bidang pengadaan juga pemasaran.
Untuk sesaat orang-orang itu tampak terdiam,
terkesima melihat penampakan sang Presdir
yang baru kali ini mereka melihatnya.
"Selamat datang Presdir.."
Sambut Sean dan yang lain nya bersamaan
seraya membungkuk hormat di hadapan Aaron.
Raya baru saja keluar dari mobil dengan lutut
yang masih lemas karena kejadian tadi. Mata
Sean langsung berpaling kearah Raya, menatap
nya penuh kerinduan dan rasa bahagia karena
bisa bertemu di tempat ini. Semua orang juga
untuk sesaat tampak menatap Raya dengan
sorot mata terpesona.
"Tunjukkan aku barang nya.!"
Aaron merapihkan jas dan dasi nya dengan
wajah yang terlihat sangat datar dan dingin.
Ada rasa tidak nyaman di hatinya melihat
reaksi orang-orang saat melihat kehadiran
Raya di tempat itu.
"Mari Tuan, ikuti saya.."
Kepala bagian ekspedisi kini mulai berjalan
membimbing Aaron. Mereka semua mengiringi
langkah sang Presdir melihat barang yang baru
saja datang semalam. Sederet mobil canggih
keluaran terbaru kini sudah ada di dalam
beberapa peti kemas dan siap untuk di kirim
ke gudang pengecekan.
Mereka berdiri di depan sebuah peti kemas
yang paling besar. Manager pengadaan kini
memberikan rincian barang tersebut pada
Aaron dengan gestur tubuh yang sangat segan
dan hormat kepada sang Presdir. Ini adalah
sebuah keajaiban bagi mereka karena bisa
bertemu langsung dengan orang nomor satu
di Marvello's Corporation tersebut.
Raya masih setia berada di sisi Aaron karena
Harus mencatat beberapa hal penting yang
akan menjadi bahan evaluasi Sang Presdir.
"Ray.. bisa kita bicara sebentar."
Sean berbisik di samping Raya, namun hal
itu cukup terdengar jelas di telinga Aaron.
Raya tampak sedikit ragu, dia melirik kearah
Aaron yang terlihat sedang serius mengamati
detail laporan dari manager pemasaran.
Sean menarik tangan Raya di bawa berjalan
ke arah lain sedikit menjauh dari keberadaan
Aaron dan yang lain. Raya menepis tangan
Sean sambil menghentikan langkahnya.
"Tuan Sean kalau ada yang ingin di sampaikan
sebaiknya cepat bicara sekarang. Aku harus
segera kembali ke sana.."
"Ray..aku tidak bisa membiarkan mu berada
di dekat orang lain !"
Tanpa di duga tiba-tiba saja Sean merengkuh
tubuh Raya ke dalam pelukannya.
"Aku akan membatalkan posisi mu Ray. Aku
akan mengatakan bahwa kau adalah calon
istriku.!"
"Sean jangan nekad ! Kau tidak bisa melakukan
hal itu !"
Raya berusaha melepaskan diri dari pelukan
Sean, tapi pria itu malah semakin memperkuat
pelukan nya.
"Aku mohon terima lamaran ku Ray.. Kalau
perlu kita akan menikah hari ini juga.!"
"Sean..aku mohon hentikan semua ini. Kau
sudah menjatuhkan harga diri mu sendiri.!"
Raya kembali mendorong tubuh Sean dan
akhirnya dia bisa terlepas dari pelukan pria
itu yang masih menatapnya lekat.
"Raya..aku yakin dengan keputusan ku.!"
"Tapi aku tidak yakin pada diriku sendiri.!
Maaf Sean, aku tidak bisa menerima niat
baik mu, aku benar-benar tidak bisa.!"
Tegas Raya sambil menatap tajam wajah
Sean penuh keyakinan.
"Aku mencintaimu Ray, aku tidak peduli
bagaimana pun keadaanmu.!"
Mata mereka saling menatap kuat, bertahan
dengan keyakinan masing-masing.
"Kalaupun aku memiliki perasaan yang sama
denganmu, tapi aku tidak bisa mencintaimu
dengan kondisi tubuhku yang sudah tercemar
ini Sean, maaf aku tidak bisa menerima mu."
Raya menggeleng kuat, ada cairan bening
yang kini meluncur membasahi wajahnya.
Sean terdiam dengan tatapan mata terluka.
"Tapi Ray..aku tulus padamu..."
"Sekali lagi maaf..Aku tidak bisa Sean.."
Lirih Raya, dia berbalik, tubuhnya langsung
membeku saat matanya bersirobos tatap
dengan mata elang Aaron yang sedang
berdiri menatap kearahnya dengan wajah
tanpa ekspresi namun auranya benar-benar membekukan.
Sean tampak terkejut menyadari keberadaan
Aaron di tempat itu. Tapi justru itu lebih baik
baginya, agar atasannya itu tahu bagaimana
perasaannya terhadap sekretaris pribadinya.
Raya memalingkan wajah, mengusap kasar
air matanya, kemudian dia melangkah dari
hadapan mereka. Namun sedetik kemudian
Aaron menyambar tubuh Raya, di bawa ke
pinggir peti kemas, kemudian mengurung
tubuhnya agar terlindung. Dan detik berikut
nya dia melancarkan tembakan ke beberapa
arah karena saat ini ada banyak bayangan
yang bersiap menyerang mereka.
Tubuh Raya bergetar hebat, kepanikan dan
ketakutan menyergap jiwanya. Tangan nya
mencengkram kuat jas Aaron yang sedang
bergerak aktif dan lihai membagi serangan
pada lawannya, kemudian mengisi peluru
dalam satu gerakan cepat setelah itu kembali menyerang lawan dengan tembakan yang
selalu tepat sasaran.
Keadaan tiba-tiba berubah mencekam saat
anak buah Aaron berdatangan melindungi
Tuan nya melancarkan tembakan kearah
para penyerang . Sean yang semula terkejut
kini ikut bergabung dengan anak buah Aaron
memberikan perlawanan pada para penyerang
yang entah darimana datangnya. Sementara
yang lain berlarian menyelematkan diri..
***
Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
andi hastutty
pasti merasa di lindungi klo jadi raya meskipun auron pernah melakukan kesalahan fatal di luar kendalinya
2023-10-13
0
H A R U K A ~C H A N
cerita kak shan ini emang paket komplit. yg ga melulu isinya tentang konflik percintaan sampai akhir. tp ada action dan fantasinya.. emmhhh alurnya juga sangat jelas seperti. walau kita membaca tp seperti ada bayangan adegan di setiap penjelasannya... pokoknya seru dehhhhh.. pasti gagal move on🥰🥰🥰
2023-05-29
0
gia gigin
Oh my good Raya persiapkan jantung mu untuk bermain rollercoaster 🤣🤣🤣
2022-10-07
0