❤️❤️❤️
Setengah jam kemudian, Aaron terbangun
sekaligus tersadar dari pengaruh alkohol
yang semalam telah membuatnya kehilangan
kendali. Dia melihat keadaan dirinya yang kini
polos juga ke sekeliling kamar, Aaron memijat pelipisnya mencoba untuk mengingat kembali
kejadian semalam.
Dia terkesiap saat melihat ada bercak darah
diatas tempat tidur, kemudian lintasan kejadian semalam dimana dirinya telah memaksakan
kehendak terhadap gadis yang di tolong nya
semua tergambar jelas dalam ingatannya.
Dia seperti orang yang kehilangan akal, tidak
pernah membiarkan gadis itu lepas dari
cengkraman nya hampir semalam penuh.
"Owhh shit..!!"
Aaron mendengus sambil kemudian melompat
dari tempat tidur dengan keadaan tubuh yang
masih polos. Dia segera mengecek ke kamar
mandi siapa tahu gadis itu ada di sana. Tapi
tidak ada tanda-tanda keberadaan gadis itu.
Hanya aroma lembut nan wangi tubuh nya
yang masih tersisa dalam kamar besar itu.
Aaron segera membersihkan dirinya di kamar
mandi dengan pikiran yang tiada henti terus
melayang pada gadis yang telah di renggut kesuciannya itu. Bayangan wajah nya kini
memenuhi ingatannya. Setelah selesai dan
kembali berpakaian rapi Aaron segera pergi
ke balkon, dia menghubungi anak buahnya.
"Carikan aku identitas gadis yang kemarin..!"
"Baik Tuan..!"
"Jangan lupa suruh orang untuk segera
melacaknya ! Satu jam yang lalu dia keluar
dari hotel, aku yakin dia belum jauh..!"
"Siap Tuan..!"
Aaron menutup telponnya, kemudian berdiri
menatap hamparan bangunan yang ada di
depannya dengan tangan berpegangan kuat
setengah mencengkram pilar relling balkon.
Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri atas
apa yang telah di lakukannya. Minuman yang
telah di konsumsi nya semalam membuat dia
kehilangan kontrol atas dirinya. Aaron hanya
bisa meremas kuat rambut nya. Masih jelas
terbayang dalam ingatannya bagaimana
gadis itu memohon untuk di bebaskan..
*****
Sementara itu dengan susah payah Raya tiba
di sebuah apartemen milik temannya yang
terletak di pusat kota. Dia berdiri gontai di
depan pintu setelah menekan bel beberapa
kali. Tubuh nya kini semakin lemah, kakinya
pun semakin goyah.
"Raya..apa yang terjadi dengan mu.?"
Raya menatap lemah gadis manis yang kini
berdiri di ambang pintu apartemennya nya
dengan wajah di penuhi keterkejutan. Raya
berjalan masuk tapi kemudian langkahnya
terhenti ketika tiba-tiba pandangannya
kabur, pendengarannya pun perlahan
melemah dan akhirnya..
"Raya..ya Tuhan..!"
Gadis itu memekik kaget sambil merangkul
tubuh Raya yang terkulai lemas dalam pelukan
nya. Dengan perlahan di liputi kepanikan gadis
itu membawa tubuh lemah Raya ke dalam ruang
depan apartemen kemudian membaringkannya
di atas sofa dengan sangat hati-hati. Dia segera
berlari masuk ke dapur lalu ke kamarnya. Wajah
nya di penuhi kepanikan dan kecemasan.
"Kamu kenapa sih Raya sayang..? Keadaanmu
kenapa bisa kacau begini."
Gadis itu mencoba mengecek nadi dan mata
Raya dengan seksama. Dia juga menempelkan
minyak angin di sekitar hidung dan leher Raya.
Tangan nya beralih memijat telapak tangan dan
kaki Raya yang sangat dingin. Kulit gadis itu
juga terlihat sangat pucat.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Raya
membuka mata perlahan. Tatapan lemahnya
jatuh pada sosok gadis manis tadi yang sedang
menatapnya penuh kecemasan.
"Kamu sudah sadar Ray..?"
Tanya gadis itu seraya meraih gelas air putih
di atas meja. Raya bangkit kemudian merebut
gelas di tangan gadis itu yang hanya bisa diam
melongo saat melihat Raya meminum air itu
dengan sangat rakus.
"Mau lagi minum nya.?"
Raya mengangguk, gadis itu segera berlalu
kearah dapur. Tidak lama sudah kembali
membawa sebotol besar air mineral. Raya
segera meminumnya.
"Apa yang terjadi dengan mu.?"
Raya melirik sekilas kemudian menundukkan
kepala sambil menggeleng pelan.
"Tidak ada.! A-aku hanya kelelahan."
"Kamu tidak bisa bohong padaku Ray.! Sudah
4 hari kamu tidak masuk kantor.!"
Raya masih tetap menundukkan kepalanya.
Gadis itu tidak tahan lagi, dia segera meraih
bahu Raya, mengangkat wajahnya membuat
Raya memejamkan mata mencoba menahan
desakan air mata yang kini mulai menyeruak
keluar menuruni pipi pucatnya. Gadis itu tampak
terkejut saat melihat bagaimana kacaunya
kondisi kulit leher sampai bahu Raya. Dengan
kasar dia menarik pakaian atas Raya. Matanya
makin terbelalak melihat seluruh tubuh bagian
atas Raya di penuhi tanda merah yang kini
mulai berubah kebiruan. Wajahnya seketika
memerah di selimuti emosi.
"Siapa yang melakukan ini padamu Ray.?"
Tanya nya dengan suara yang sangat berat.
Raya menggeleng kuat masih mencoba untuk
menahan tangisnya supaya tidak pecah.
"Bilang padaku, siapa orangnya Ray.?"
Gadis itu memekik sambil menatap tajam
wajah Raya, dia benar-benar tidak percaya
pada apa yang di lihatnya. Raya bergeming
dia masih saja bungkam mencoba menahan
tangisnya sambil menunduk. Gadis tadi kini
kembali mencengkram bahu Raya.
"Apa si keparat Jayden itu yang melakukan
semua ini.? Aku benar-benar tidak akan
memaafkan nya.!"
Tangis Raya kini mulai pecah, dia menutup
wajahnya sambil terisak pilu.
"Bicara padaku Raya, apa itu benar.? Apa
benar laki-laki ******** itu yang melakukan
semua ini padamu.?"
"Bukan Jes.! bukan dia.!"
Raya memeluk erat tubuh gadis itu yang kini
membeku, tapi kemudian dia balas memeluk
Raya sambil mengelus punggungnya. Raya
menangis sesegukan dalam pelukan teman
dekatnya itu yang masih terlihat begitu emosi.
Tubuh nya masih terlihat gemetar menahan
serbuan amarah yang menguasai dirinya.
"Baiklah.. sekarang tenangkan dirimu dulu.
Baru setelah itu ceritakan semuanya padaku."
Gadis tadi berusaha menenangkan. Tangis
Raya kini benar-benar pecah seluruhnya.
Dia mengeluarkan semua ganjalan yang ada
di hatinya dengan menumpahkan seluruh air
matanya dalam pelukan sahabatnya itu yang
selalu ada kapanpun dia membutuhkan.
Setelah tangisnya mereda, Raya kini bangkit
perlahan, berjalan dengan gontai menuju ke
salah satu kamar di apartemen itu.
"Ray.. kamu mau kemana.?"
Gadis tadi atau Jessica mengikuti Raya dari
belakang dengan tampang cemas.
"Aku sangat menjijikkan Jes, jangan pedulikan
aku lagi. Aku tidak ada harganya lagi sekarang."
"Apa yang kau katakan.? Raya.. sebaiknya
sekarang kamu tenangkan dirimu dulu."
"Aku kotor Jes. Aku penuh dengan noda.."
Raya seolah berbicara pada dirinya sendiri
sambil kemudian masuk ke dalam kamar
mandi. Jessica berusaha untuk mengikuti
Raya tapi gadis itu dengan cepat mengunci
pintu kamar mandi.
"Ray..? buka pintunya.! Biarkan aku masuk.!"
Raya tidak peduli teriakan Jessica. Dia mulai
menyalakan shower dengan deras, lalu tubuh
nya jatuh bersimpuh di bawahnya. Dia kembali menangis tersedu meratapi segala nasib buruk
yang menimpanya, memukuli badannya, lalu
menggosok kasar seluruh kulit tubuh nya.
"Tuhan... maafkan aku yang tidak mampu
menjaga kehormatan ku..Aku hina sekarang.."
Lirih Raya penuh kesakitan. Jiwanya seakan
hampa, dia benar-benar lelah dan tidak bisa
menerima semua kepahitan hidup yang kini
di alaminya.
"Raya.. buka pintunya..! Ku mohon jangan
melakukan hal yang akan merugikan dirimu
sendiri.! Rayaa...Rayaa.. kau dengar aku..??"
Jessica menggedor-gedor pintu kamar mandi
sambil terus berteriak mengingatkan Raya.
Wajahnya terlihat di penuhi oleh kekhawatiran.
"Raya.. buka pintu nya..! Kau harus tenang.
Kau butuh menenangkan pikiran mu saat ini.."
Jessica kembali berteriak sambil tiada henti
menggedor dan memutar handel pintu. Tapi
tidak ada tanggapan ataupun sahutan dari
dalam. Jessica memutar badannya, berjalan
mondar mandir di dalam kamar. Tidak lama
dia keluar untuk mengambil ponsel. Dirinya
benar-benar mencemaskan keadaan Raya
saat ini, takut terjadi hal-hal yang tidak di
inginkan. Dia mencoba untuk memanggil
seseorang.
"Hallo Mr Sean..? ini sama Jessica..!
Maaf bisa datang ke tempat saya tidak.?"
" Ada apa Jes.? apa ada yang urgent.?"
"Raya.. Raya ada di tempat saya sekarang."
"What.? Raya ada di tempat mu sekarang.?"
"Benar Mr.. Sebaiknya anda kesini sekarang
juga, secepat nya..saya tunggu.!"
"Oke kebetulan aku sudah di jalan mau ke
kantor, aku kesitu sekarang.!"
Jessica menutup panggilan telepon nya. Dia
kembali ke dalam kamar Raya. Suara aliran
air shower masih terdengar dari dalam kamar
mandi tapi suara tangis Raya kini sudah tidak
ada jejaknya lagi, gadis itu semakin cemas.
"Raya.. Raya.. kamu baik-baik saja kan.?
Raya..aku mohon jawab aku..Rayaaa....!"
Jessica sudah habis kesabaran. Dia mencoba
mendobrak pintu kamar mandi menggunakan
lutut nya, namun itu sia-sia saja. Kemudian dia
berlari ke dapur mengambil palu dan peralatan seadanya. Dengan tenaga penuh dia memukul
handel pintu dan lobang kunci penuh kepanikan.
Akhirnya setelah usaha yang sangat keras dia
berhasil membuka pintu kamar mandi. Matanya
tampak membulat sempurna dengan tubuh
membeku di tempat. Mulutnya menganga tidak
mampu mengeluarkan suara.
Dia melihat saat ini tubuh Raya sudah tergeletak
di atas lantai kamar mandi, ceceran darah kini
memenuhi seluruh ruangan itu di bawah aliran
air shower yang masih menyala.
"Rayaa...."
Jessica melompat menyerbu tubuh bersimbah
darah itu, meraihnya ke dalam pelukan dengan
jeritan yang tiada henti keluar dari mulutnya.
"Raya... kenapa kamu melakukan ini.? Ini
bukanlah dirimu Raya..Kau adalah wanita
paling kuat yang aku kenal selama ini.."
Jerit tangis Jessica sambil memeluk erat tubuh
Raya yang sudah mulai membeku.Tidak lama di ambang pintu muncul seorang pria bertubuh
tinggi. Tatapan mata pria yang baru datang itu
tampak syok luar biasa.
"Raya..Oh My God..!"
Secepat kilat dia menyambar tubuh Raya dari
pelukan Jessica kemudian menggendongnya
dan tanpa menunggu lagi dia segera keluar
dari apartemen setengah berlari membawa
tubuh Raya ke parkiran di ikuti oleh Jessica.
Mereka berdua melarikan Raya ke rumah
sakit terdekat.
Tiba di instalasi gawat darurat pria tinggi tadi
langsung berteriak menggema memanggil
semua petugas medis. Keadaan kini menjadi
gaduh dan mencekam. Raya segera di bawa
ke dalam ruang penanganan khusus saat
keadaannya di sadari para dokter sudah
sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah.
"Apa yang terjadi dengan nya.? Kenapa hal
seperti ini bisa menimpanya.?"
Pria tinggi tadi menginterogasi Jessica yang
terlihat duduk bersimpuh di lantai di depan
pintu ruangan tempat Raya di tangani.
"Maaf Mr.. Kejadiannya begitu cepat. Saya
juga tidak tahu apa yang terjadi padanya."
"Kenapa kamu tidak mencegah dia hahh..?"
Pria itu atau Sean membentak Jessica yang
terlihat semakin tertekan.
"Maaf Mr.. Maafkan saya. Ini semua salah
saya yang tidak bisa mencegah nya."
"Aarrghh...sial..!! Raya.. apa yang terjadi
padamu baby...!"
Sean meremas kepalanya, menjambak kuat
rambutnya. Dia menjatuhkan dirinya di atas
bangku. Wajahnya terlihat memerah di penuhi
oleh berbagai emosi yang campur aduk.
***
Happy Reading.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
andi hastutty
kasian Raya
2023-10-12
0
gia gigin
Oh may good Aaron ini karena perbuatan mu😠
2022-10-06
0
Yucaw
hatiku ikut hancur thorr..sean..ky pernah dgr,d novel yg mn ya?🙈 lupa..cintanya raya kah mr sean ini?..atasan raya dan jessica sekaligus pria yg d cintai raya kah?? malangnya nasibmu raya..meski nntnya Aaron bucin abis,tp awalnya sgt2 menyakitkan..😭😭😭
2022-03-25
0