❤️❤️❤️
Hari ini cuaca tampak cerah seperti biasa.
Sekarang ini sudah masuk musim penghujan.
Dan perubahan cuaca masih sering terjadi.
Sebenarnya hari ini semangat kerja Raya
sedikit down, mengingat hari ini dia harus
mengubah jalur kehidupan nya ke depan.
Walau dia tidak bisa memprediksi apakah
semuanya akan berjalan lancar atau tidak,
namun dia tetap akan mengambil keputusan
yang menurut nya akan lebih baik baginya.
Semalam dia tidak bisa tidur dengan pulas.
Berbagai kecemasan terus saja menghantui
pikirannya hingga mengganggu ketenangan
bathin nya.
"Selamat pagi Miss.."
Sambut Hana begitu melihat Raya turun dari
lantai atas. Hari ini majikannya itu tampak
sangat memukau dengan setelah kerja semi
formalnya berwarna pastel, rambut nya di
biarkan jatuh natural begitu saja. Dia terlihat
sedikit tidak bersemangat namun tetap saja
nampak mempesona.
"Selamat pagi semua.."
Raya duduk tenang di kursi yang sudah di
siapkan oleh Griz. Tanpa banyak kata dia
memulai sarapan paginya dengan tenang.
Namun sepertinya dia memang sedang
kehilangan selera makan karena tidak lama
kemudian dia sudah mengakhirinya. Hana
dan Griz terlihat saling pandang sekilas.
"Terimakasih sarapan nya Hana. Tapi maaf,
hari ini aku kehilangan selera makan."
"Tidak apa-apa Miss."
Sahut Hana sambil membungkukkan badan.
Seperti kemarin Griz membawakan tas dan
blazer Raya saat turun ke parkiran.
Selama di perjalanan pikiran Raya masih saja
tidak bisa fokus, jantung nya tiba-tiba berdebar
tidak menentu saat mengingat hari ini dia akan bertemu dengan pimpinan sekaligus pemilik perusahaan tempat nya bekerja selama ini.
Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang bisa
di bilang keajaiban.
Turun dari mobil Raya langsung masuk ke
dalam lift khusus di basement yang akan
membawa dirinya ke ruangan direktur.
Sean.. maafkan aku harus memilih jalan ini.
Sebenarnya aku sudah merasa nyaman ada
di sisimu, tapi sekarang keadaanku sudah
berbeda..
Raya membathin selama dia berada di dalam
lift. Tidak lama kemudian dia sudah berjalan
menuju ke ruangan Sean.
"Selamat pagi Bu Raya, silahkan..Mr Sean
sudah menunggu anda di dalam."
Alan, sang asisten direktur menyambut nya
begitu Raya tiba di depan pintu ruangan.
"Terimakasih Pak Alan ."
Raya tersenyum tipis sambil menundukkan
kepala sedikit, setelah itu berlalu masuk ke
dalam ruangan meninggalkan Alan yang
masih terpaku di tempat, tersihir senyum
tipis Raya, hanya senyum tipis.
Raya masuk ke dalam ruangan Sean setelah
mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Selamat pagi Tuan Sean."
Raya menundukkan kepalanya sedikit di
hadapan Sean yang tampak menatapnya
lekat. Tidak lama dia beranjak dari duduknya
dan tanpa basa-basi dia menarik tangan
Raya di bawa keluar dari ruangan.
"Sean, ada apa ini.? Kita mau kemana.?"
Raya mencoba menarik tangan nya dari
genggaman kuat Sean di tengah langkah
kakinya yang terburu-buru karena harus
mensejajari langkah Sean.
"Aku tidak bisa kehilangan mu Raya. Kamu
harus menerima lamaran ku. Sekarang kita
akan menemui Presdir untuk mengatakan
bahwa kamu tidak bisa menerima tawaran nya !"
"Tapi Sean, aku sudah memutuskan untuk
menerima tawaran itu.!"
Debat Raya saat mereka tiba di dalam lift.
Sean membeku, keduanya kini saling menatap
kuat, pria itu tampak menggeleng tidak terima
semua keputusan Raya.
"Tidak, aku tidak akan mengijinkan hal itu.
Kau tidak bisa menghindari ku Raya.!"
Sean mencengkram kuat bahu Raya dengan
tatapan yang semakin dalam.
"Aku tidak menghindarimu, aku hanya ingin
menjauh untuk sementara waktu Sean.!"
"Tapi aku tidak akan bisa jauh darimu Raya.!"
Tiba-tiba Sean memeluk erat tubuh Raya
yang langsung terkejut dan tegang seketika.
Dia berusaha untuk melepaskan pelukan
Sean, tapi pria itu malah semakin mempererat
pelukannya.
"Sean, aku mohon.! lepaskan aku. Kita akan
membicarakan semua ini baik-baik.!"
Raya mendorong keras dada Sean yang
akhirnya mau melepas pelukan nya. Mata
mereka kembali bertemu, saling menatap
kuat dengan napas yang tidak teratur.
"Maafkan aku Raya. Tapi aku benar-benar
tidak bisa melepasmu !"
" Ini hidupku. Aku berhak menentukan masa
depanku sendiri. Aku mohon hargai itu."
Tegas Raya dengan tatapan yakin. Pintu lift
terbuka, tapi mereka berdua masih berada
di dalam nya, masih saling menatap kuat.
"Mr Sean, Nona Raya.."
Kedua orang itu tampak terkejut, mereka
saling memalingkan wajah, dan berpaling
pada beberapa orang yang sedang berdiri
di luar pintu lift.
"Mr Sean..Presdir sudah menunggu anda
di ruangan nya. "
Ternyata orang-orang itu adalah para dewan
direksi yang sengaja menunggu kedatangan
Sean dan Raya di sana. Sean kembali menarik
napas dalam-dalam. Mereka berdua keluar
dari dalam lift, kemudian berjalan menyusuri
lorong panjang menuju ruangan Presdir.
Bagi Raya ini adalah kali pertama dia datang
ke lantai paling atas dari gedung ini. Karena
lantai paling atas adalah ruangan Presdir yang
hampir tidak pernah di huni sama sekali.
Sean menekan tombol di sudut pintu.Tidak
lama pintu terbuka otomatis. Suasana di
dalam ruangan tampak sepi, hening dan
sedikit mencekam. Barisan dewan direksi
segera mengambil tempat untuk duduk di
ruang pertemuan, sementara Sean masuk
ke dalam ruangan khusus tempat Presdir
berada. Sedangkan Raya kini sudah duduk
di ruang pertemuan bersama para dewan
direksi dengan perasaan yang benar-benar
tegang dan gugup. Bagaimana kah rupa
sang Presdir, dan seperti apakah karakter
serta perangainya.?
"Nona Raya.. apa anda sudah siap untuk
mengabdi pada Presdir ?"
Salah seorang dewan direksi mulai berbicara
untuk melakukan sesi wawancara singkat.
Raya meremas jemari tangan nya yang kini
mulai terasa dingin.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain, saya harus
siap sepenuhnya.!"
Raya menjawab dengan suara sedikit tidak
yakin. Para dewan direksi saling pandang.
"Saya mengerti ini memang bukan bidang
anda. Tapi kami yakin dengan kemampuan
anda, tidak akan ada kendala bagi anda di
tempatkan dimana pun."
Salah seorang lagi mencoba meyakinkan.
Raya mengangguk dengan tersenyum tipis.
"Walau bagaimanapun saya hanya lah
manusia biasa Tuan-tuan. Saya banyak
kekurangan nya."
Sahut Raya sambil menunduk mencoba
untuk menekan rasa tidak nyaman yang
kini semakin di rasakan hatinya.
"Kami percaya pada kemampuan mu Nona
Raya. Dan Presdir sudah memilih anda di
antara pilihan yang lainnya."
Raya sedikit mengernyitkan alisnya, ada
sejumput pertanyaan yang kini bersarang
dalam benaknya.
"Kenapa Presdir memilih saya.? padahal
jelas-jelas ini bukan bidang saya.!"
Para dewan direksi tampak saling pandang,
mereka pun sesungguhnya tidak mengerti
kenapa Presdir menginginkan seorang
sekretaris pribadi yang berasal dari cabang
perusahan ini.
"Hanya Presdir yang tahu jawaban nya Nona.
Yang jelas beliau sudah memilih anda."
Raya menghembuskan nafas berat. Dia
menatap kearah para dewan direksi.
"Kalau begitu saya akan menjalankan misi
ini sebaik mungkin, demi nama baik
perusahaan cabang kita.!"
Para dewan direksi mengangguk kompak
seraya tersenyum puas.
"Baiklah, kalau anda sudah yakin dengan
semua ini, kami hanya bisa berpesan, tolong
jangan membuat Presdir kecewa. Karena
beliau bukanlah orang biasa. Anda adalah
orang yang sangat beruntung. Bisa berada
di dekatnya dan berinteraksi langsung
dengan beliau dengan sesuka hati.!"
Ucap salah seorang yang merupakan ketua
dewan direksi.
"Insya Allah.. Semoga saya bisa memegang
amanah ini dengan baik.!"
Sahut Raya bersamaan dengan kemunculan
Sean ke ruangan itu. Mereka semua berdiri,
menatap fokus kearah Sean yang terlihat
sedikit tidak bergairah.
"Aku tidak bisa menolak atau mengubah
keinginan Presdir.!"
Sean berucap dengan wajah yang terlihat
pasrah, dia menatap lekat wajah Raya yang
tampak berusaha tenang dan meyakinkan
diri untuk mengambil posisi ini.
"Baiklah, tidak ada jalan lain lagi.! Aku
memang harus mengambil posisi ini."
Lirih Raya sambil kemudian menarik napas
dalam-dalam mencoba memantapkan hati.
"Masuklah, mulai hari ini kau memegang
posisi sebagai sekretaris pribadi Presdir."
Tegas Sean akhirnya sambil meraih tangan
Raya dan menggenggam nya kuat tidak
peduli pada semua orang yang ada di sana.
"Baiklah,aku akan masuk sekarang, permisi
semuanya.."
Raya melepaskan pegangan tangan Sean,
tapi mata mereka masih saling menatap.
Kemudian dia menundukkan kepala pada
semua dewan direksi setelah itu melangkah
tenang kearah ruangan pribadi Presdir.
Tiba di dalam ruangan aura dingin plus
mencekam langsung menyergap jiwa Raya
yang terlihat berjalan masuk ke ruangan
khusus tempat kerja Presdir.
Namun begitu dia masuk ke dalam ruang
khusus, matanya tampak menatap terkejut
kearah satu sosok tinggi tegap dengan rupa
yang sangat tampan berhias senyum khas
yang sangat manis dan membius. Sosok itu
kini tengah berdiri di samping kursi kebesaran
Sang Presdir yang terlihat terbalik. Mata Raya
menatap tidak percaya begitu sosok tampan
itu mendekat kearahnya.
"Selamat datang Miss Raya, dan selamat
atas posisi baru anda di perusahaan ini.!"
Sambut nya dengan senyum yang tidak jua
sirna dari wajah menawannya.
"Tu-Tuan Ansel.? Kenapa anda ada di sini.?"
Raya bertanya dengan suara gemetar, tidak
percaya atas apa yang di lihatnya. Kenapa
asisten pribadi laki-laki jahat itu ada di sini.?
Ya Tuhan..sebenarnya ada apa ini.? Raya
mencoba menepis satu kemungkinan
yang kini mengganggu pikirannya.
"Tentu saja saya di sini.. Karena Tuan saya
juga ada di sini. Dan sekarang anda sudah
resmi menduduki posisi sebagai sekretaris
pribadi Tuan De Enzo..!"
Tegas sosok itu yang tiada lain adalah Ansel.
"A.. apa..?? tapi bagaimana bisa.?"
Raya berseru kaget sambil menutup mulutnya. Matanya semakin melebar, tidak percaya pada
apa yang baru saja di dengarnya. Kakinya kini
goyah, dia mundur terhuyung ke belakang
saking lemasnya. Ansel tampak terkesiap,
dengan gerakan cepat dia maju menahan
tubuh Raya agar tidak terjatuh.
Posisi mereka kini tampak intim, telapak
tangan kiri Ansel menahan pinggang kecil
Raya, sementara tangan kanan menahan
bahu nya. Mata mereka saling menatap kuat.
"Kau tidak apa-apa.?"
Suara Ansel terdengar berat, mendapati
wajah super cantik Raya ada di hadapannya
membuat jiwanya memberontak seketika.
Dia sudah benar-benar jatuh pada pesona
gadis asing ini.
"Ehemm..!!"
Tubuh mereka langsung menegang saat
kursi kebesaran itu tiba-tiba berbalik dengan
cepat, dan satu sosok gagah perkasa dengan
rupa yang begitu sempurna, kini tengah duduk
tenang, matanya menatap tajam kearah mereka dengan ekspresi wajah yang terlihat datar dan
dingin. Ansel membawa tubuh Raya kembali
berdiri tegak. Wajah Raya tampak memucat,
namun ada emosi yang kini mulai menguasai
dirinya mendapati semua kenyataan ini.
"Siapa kau sebenarnya.?"
Tidak menunggu waktu lama Raya langsung
bertanya di sertai tatapan tajam penuh
interogasi kearah sosok gagah yang terlihat
berbeda yang kini sedang duduk tenang penuh
aura intimidasi di kursi kebesarannya.
"Aku atasanmu sekarang.!"
Jawab sosok itu dengan suara bariton nya,
berat, tegas dan dingin.
"Aku bertanya tentang jati dirimu.?"
Tatapan Raya semakin tajam. Dengan santai
sosok itu memutar papan nama yang ada di
atas meja kerjanya. Tatapan Raya kini jatuh
di papan nama berwarna emas itu.
Aaron Marvell De Enzo.??
***
Happy Reading....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 108 Episodes
Comments
andi hastutty
yuhuuu jadi sekertaris pribadi babang auron
2023-10-13
0
🕸Dah Ruslia🌷
babang Aaron aku padamu🥰🥰
2023-08-16
0
Hyena Lauraa
kak buat dong kisah anak raya sama anak Devan ,sama mayra
2023-02-14
0