Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter

“Shinn! Shinn!” Suara Yuki memecah kesunyian pagi di shelter. Aku yang lagi ngoprek alat penyaring udara di lantai dua langsung nengok ke arah tangga.

“Ada apa, Yuki?” Aku turun cepet-cepet, takut anak ini kena zombie lagi.

Yuki berdiri di depan pintu shelter sambil melototin layar sistem hologram yang muncul dari dinding. “Tadi ada orang, Kak! Di luar! Dia jalan ke arah sini!”

Jantungku langsung dag-dig-dug. “Orang?” Aku langsung aktifin radar eksternal. Benar aja, ada titik merah—bergerak mendekat dari arah reruntuhan barat.

“Berapa orang?” tanyaku cepat.

“Satu. Tapi dia kelihatan kayak... luka-luka?” Yuki menggigit bibirnya. Matanya kelihatan khawatir.

Aku buru-buru buka panel sistem, aktifin kamera drone yang aku pasang di sekitar. Gambar muncul. Seorang perempuan. Bajunya compang-camping, rambutnya acak-acakan, tapi masih kelihatan kuat. Di pundaknya ada luka berdarah, dan dia kelihatan setengah pingsan.

“Hmm... bukan zombie, tapi juga nggak aman-aman banget. Bisa jadi jebakan,” gumamku.

Yuki memegang tanganku. “Kita tolongin dia aja, ya?”

Aku nengok ke Yuki. Mata bulatnya menatap penuh harap. Aku ngelus kepala anak ini pelan. “Oke. Tapi kamu harus tetap di ruang aman. Jangan keluar sampai aku bilang.”

Yuki mengangguk, lalu lari ke ruang aman di belakang dapur. Aku sendiri langsung ambil senjata listrik otomatis dan turun ke gerbang luar.

Perempuan itu udah makin dekat, tapi langkahnya goyah. Pas aku keluar, dia langsung jatuh terduduk.

“H-hei! Kamu... kamu bukan zombie kan?” Aku tetap waspada sambil ngarahin senjata.

Dia ngangkat tangannya pelan, wajahnya pucat. “Tolong... aku cuma... nyari tempat aman...”

Setelah yakin dia gak gigit atau bergerak aneh, aku maju pelan dan bantu dia berdiri. Badannya demam. Luka di bahunya parah juga.

Aku bawa dia masuk dan langsung arahkan ke ruang medis. Untungnya shelterku udah dilengkapi sistem penyembuhan otomatis. Aku taruh dia di kasur kapsul dan mesin mulai bekerja.

Yuki mengintip dari balik pintu. “Dia siapa, Kak?”

“Belum tahu. Tapi dia butuh pertolongan.”

_________

Beberapa jam kemudian, perempuan itu bangun. Dia mengerjap, matanya menyapu ruangan, lalu berhenti di aku.

“Kamu... siapa?” suaranya serak.

“Nama gue Shinn Minkyu. Ini shelterku. Lo pingsan di depan pagar, jadi gue bawa masuk.”

Dia duduk pelan, masih lemas. “Aku... nama aku Mia. Aku nyari anakku.”

Deg. Aku langsung melotot. “Anak? Siapa namanya?”

“Mungkin kamu gak percaya, tapi... namanya Yuki.”

Aku dan Yuki yang lagi ngintip dari pintu saling pandang. Yuki langsung lari ke arah Mia.

“Ibu!!” teriaknya sambil melompat ke pelukan Mia.

Air mata Mia langsung jatuh. Dia peluk Yuki erat banget. Aku berdiri bengong. “Lho... jadi ini beneran ibunya Yuki?”

Yuki udah nangis kejer. “Aku kangen banget, Bu... Aku pikir Ibu udah nggak ada...”

Mia juga nangis. “Maafin Ibu, sayang... Ibu terjebak di zona selatan, susah keluar. Tapi Ibu terus cari kamu... sampai kaki Ibu berdarah-darah...”

Aku tersenyum kecil. Bahagia campur aneh. Shelter ini yang awalnya cuma buat bertahan hidup, sekarang jadi tempat reuni keluarga.

_________

Setelah Mia sedikit pulih, kami duduk bertiga di dapur, makan makanan kaleng yang udah aku panasin. Suasana agak hening, tapi hangat.

“Terima kasih udah jaga Yuki...” ucap Mia pelan sambil menatapku.

Aku nyengir. “Nggak apa-apa. Dia yang bikin aku tetap waras selama hidup di dunia gila ini.”

Yuki senyum malu-malu sambil minum susu. “Kak Shinn tuh hebat banget, Bu! Dia bikin alat-alat keren, dan kita bisa makan enak tiap hari!”

Mia tersenyum hangat. Tapi di balik itu, aku bisa lihat dia masih waspada. Aku ngerti. Di dunia sekarang, gak semua orang bisa dipercaya.

“Kamu tinggal sendiri?” tanya Mia akhirnya.

“Awalnya iya. Tapi sejak nemu Yuki, jadi berdua. Sekarang... mungkin bertiga?”

Dia tertawa kecil. Suaranya pelan, tapi manis. “Kalau kamu gak keberatan, aku pengen bantu di sini.”

Aku manggut. “Shelter ini bisa jadi lebih kuat kalau ada lebih banyak orang. Tapi kita harus saling jaga dan percaya.”

Mia mengangguk mantap. “Setuju.”

_________

Malam harinya, aku duduk sendiri di atap shelter. Angin dingin malam membawa bau bangkai zombie dari kejauhan. Tapi hatiku anehnya... tenang.

Sistem muncul di depanku. "[Notifikasi: Shelter kini memiliki 3 penghuni. Sistem akan membuka fitur baru – Mode Keluarga dan Kolaborasi.]"

Aku melotot. “Mode keluarga?”

"[Fitur ini akan membuka bonus: koordinasi kerja tim, ruang keluarga tambahan, dapur otomatis, serta... bonus cinta.]"

“Bonus cinta?” aku garuk kepala. “Ini sistem serius apa lagi ngelucu?”

Tiba-tiba Mia muncul di sampingku, bawa dua cangkir teh panas.

“Kamu sering begadang ya?” tanyanya sambil duduk di sebelahku.

Aku ambil teh itu dan senyum. “Iya. Biasanya buat pantau zombie. Tapi sekarang... kayaknya banyak yang berubah.”

Dia mengangguk. “Terima kasih, Shinn.”

“Buat apa?”

“Udah jadi pelindung Yuki. Dan sekarang... mungkin juga pelindung aku.”

Aku melongo. Terus cepat-cepat minum teh biar gak kelihatan gugup.

_________

Keesokan harinya, shelter jadi lebih hidup. Yuki dan Mia beres-beres bareng. Aku tambah satu ruang khusus buat Mia—pakai sistem bangun otomatis dari sistem. Bahkan sekarang, Mia mulai bantu masak dan menciptakan sistem keamanan tambahan.

Tapi... tentu aja gak semuanya lancar.

Sore itu, alarm shelter bunyi. "[Peringatan: Gerombolan zombie tingkat Gamma terdeteksi!]"

Aku langsung ke layar sistem. Ada sekelompok zombie besar, tinggi, dengan kulit hitam retak-retak. Dan mereka jalan ke arah shelter... dengan sangat cepat.

“Yuki! Mia! Masuk ruang aman sekarang!” teriakku.

Aku pasang semua jebakan, aktifin sistem pertahanan, dan... berharap cukup waktu buat nyelamatin semua orang.

Tapi di tengah kekacauan, aku sadar satu hal: aku gak sendiri lagi.

Sekarang aku punya tim. Aku punya keluarga kecil.

Dan untuk mereka... aku siap mati-matian.

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
Episodes

Updated 54 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!