Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur

Gue bangun pagi-pagi karena ngerasa ada yang nempel di muka. Awalnya gue kira nyamuk... ternyata bukan.

Ada tangan mungil melingkar di leher gue. Dan yang lebih bikin deg-degan: wajah imut anak kecil itu nempel persis di pipi gue.

"...Mama."

"...YA AMPUN, GUE COWOK!"

Gue langsung duduk, panik, tapi dia malah peluk makin erat kayak lem UHU. Matanya masih setengah merem, bibirnya merekah senyum sambil bilang, “Enak... bau mama...”

Tolong. Seseorang, teleportasi gue ke Mars.

Tapi, ya sudahlah. Ini dunia zombie. Nggak ada listrik, nggak ada kasur empuk, dan... nggak ada siapa-siapa selain anak kecil ini.

Gue duduk di lantai shelter logam sambil ngu-cek mata. Anak itu masih meringkuk di kasur, rambutnya menjuntai ke mana-mana. Serius, rambutnya itu... bagaikan makhluk hidup sendiri.

Kusut. Kering. Ada yang menggulung sendiri kayak mi rebus gagal. Bahkan ada... daun kering nyangkut di dalam.

“Eh...” gue mendekat. “Kamu mandi nggak, sih?”

Dia cuma menjawab dengan suara pelan. “Zaman zombie, air mahal...”

“Wow... filosofi keras pagi hari,” gue nyengir.

Gue bangun dan nyalain alat pemanas mini dari sistem—yang untungnya nyala otomatis sejak gue aktifin shelter. Gue nuang air hangat ke baskom bekas kaleng besar.

“Yuk, cuci muka dulu. Mandi basah nanti, kalau airnya cukup.”

Anak itu duduk, merem megang handuk dan cuci muka. Mukanya langsung berubah. Keliatan... imut banget!

Gue terpaku. “Eh... lo beneran manusia kan?”

Dia bengong. “Kenapa, Mama?”

“Jangan manggil mamaaaaaa!!”

_______

Setelah drama pagi selesai, gue duduk sambil mikirin hal penting: rambut anak ini harus dipotong. Serius. Kalau enggak, gue takut dia berubah jadi tanaman.

Gue panggil sistem.

____

[Sistem Aktif: Fitur Baru Terbuka – Marketplace Sistem]

> Selamat! Kamu kini dapat mengakses Pasar Gelap Sistem.

> Gunakan Koin Zombie untuk membeli item survival, item unik, atau... hal-hal yang absurd.

> Koin saat ini: 3

> (1 zombie kecil yang kamu bunuh tadi malam \= 3 koin)

____

Pasar Gelap? Namanya aja udah bikin penasaran. Gue klik menu hologramnya. Muncul tampilan penuh warna—aneh juga, dunia udah kiamat tapi UI-nya keren banget.

_____

DAFTAR ITEM TERPOPULER

Mesin Cukur Otomatis (Mini Tank Edition) – 2 Koin

Susu Kaleng 100 Tahun – 1 Koin

Boneka Anti-Zombie (Level 1 Ketakutan) – 5 Koin

Shampoo Bayi Anti-Mutasi – 2 Koin

Senjata: Sendok Baja +3 Kecepatan Makan – 3 Koin

_____

Gue bengong. Ini marketplace serius atau parodi? Tapi yah, daripada nggak punya alat cukur, mending gue beli item nomor satu.

Klik – Konfirmasi – Mesin Cukur Otomatis Dikirim ke Inventori.

Seketika, suara ‘pop!’ kecil muncul di depan gue. Sebuah benda mungil muncul—kayak tank mainan, tapi bagian atasnya ada... GUNTING?

“Jangan bilang… ini mesin cukur beneran?”

Anak itu menghampiri, menatap si tank kecil. “Itu... robot pemotong rumput?”

“Bukan, ini buat potong rambut kamu.”

Dia langsung mundur dua langkah. “Aku takut!”

“Lah, tadi tidur meluk gue, tapi takut sama alat cukur?”

Dia mulai nangis. “Nanti botak... nanti jelek... nanti Mama nggak mau aku...”

Gue jongkok, megang bahunya pelan.

“Dengar ya… Kamu tetap lucu, walaupun rambut kamu dipotong. Aku... eh, gue tetap di sini. Bareng kamu. Oke?”

Dia diam, lalu pelan-pelan mengangguk.

_____

Sesi mencukur pun dimulai.

Gue aktifin si mesin cukur. Tank kecil itu langsung ‘klik’ dan bergerak sendiri ke kepala anak itu. Suara ‘zzzrrttt’ muncul—lucu banget kayak nyukur rumput, tapi yang ini rambut manusia.

Awalnya dia tegang, terus geli, lalu... ketawa-tawa. “Hihihi... geli! Mama, geli banget!”

Gue ketawa juga. “Tahan dikit. Dikit lagi...”

Butuh sekitar 5 menit buat si mesin mungil nyelesain tugasnya. Pas selesai, gue bisa lihat hasilnya.

Anak itu—dengan rambut pendek rapi, wajah bersih, dan mata bundar—bener-bener kayak karakter utama di anime slice of life. Imut level dewa.

Gue sampai speechless. “Wah... kamu... kamu ini...”

Dia nyengir polos. “Aku ganteng?”

Gue mengangguk. “Kamu... ganteng dan imut.”

“Jadi aku cowok?”

“...Eh?”

Kami saling melotot.

“Jangan bilang... kamu nggak tahu kamu cowok apa cewek?”

Dia nyengir. “Aku lupa...”

Gue mendesah. “Baiklah. Di dunia kayak gini, jenis kelamin nomor dua. Yang penting kamu hidup.”

Dia mengangguk. “Kalau gitu... aku mau kasih nama.”

“Hah?”

“Aku belum punya nama. Mama kasih?”

Gue terdiam. Nama ya?

Gue pandang dia sebentar, lalu jawab, “Kalau gitu… gimana kalau namamu **Yuki**?”

“Yuki?” Dia mengangguk-angguk. “Imut. Aku suka!”

_______

[Sistem: Nama Anak – Yuki – Telah Ditetapkan]

Status Baru Terbuka: Anak Angkat Resmi (Yuki)

Misi Baru: Mencari Identitas Asli Yuki

______

“Wah… resmi juga, nih,” gumam gue sambil ngelus kepala Yuki.

Dia melompat-lompat kecil, senyum ceria. Untuk sesaat, gue lupa dunia luar itu neraka penuh zombie.

Tapi momen itu nggak lama.

________

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu shelter digedor dari luar.

Gue langsung reflek bangkit dan meraih besi panjang yang gue simpan buat jaga-jaga. Yuki langsung lari ke belakang dan sembunyi di balik lemari logam.

______

[Deteksi Musuh: 2 Zombie Dekat Shelter]

> Level: 1

> Tipe: Penyerang Lambat

> Hadiah: 3 Koin Zombie per Zombie

_____

Gue tarik napas dalam. “Oke... Shinn Minkyu. Waktunya jadi pahlawan... dengan wajah cantik.”

Gue dorong pintu pelan. Dua zombie berdiri di luar. Jalanan nya masih sepi, tapi suara mereka cukup keras. Yang satu setengah botak, yang satu kayak habis nyemplung ke got.

“Yuki,” bisik gue, “jangan keluar sampai aku panggil.”

Dia mengangguk pelan.

Gue maju. Pegang besi kuat-kuat.

Zombie pertama gerak duluan. Gue elak ke kanan dan 'DOR!' – satu ayunan kuat ke kepalanya. Bunyi ‘KRAKK’ yang bikin mual, tapi zombie itu langsung tumbang.

Zombie kedua lompat. Gue nyungsep ke tanah, lalu tusuk dadanya pakai ujung besi.

Napas gue ngos-ngosan.

_____

[Zombie dikalahkan: +6 Koin Zombie]

> Total Koin: 7

> Sistem Menyarankan: Upgrade Shelter atau Beli Item Baru

_____

Gue berdiri, ngelap keringat, lalu balik masuk ke shelter.

Yuki langsung lari ke gue dan peluk dari belakang.

“Mama kuat! Zombie kalah!”

Gue senyum lemas. “Ya... mama kamu keren, ya...”

“…Tapi kan kamu cowok?” dia tiba-tiba nyengir.

“…YA KAMU BARU SADAR SEKARANG?!”

Malam itu, kami tidur lebih tenang. Tapi gue tahu, tantangan baru bakal terus datang. Dan di balik candaan, ketawa, dan dunia absurd ini…

Gue punya satu tujuan.

Melindungi Yuki. Membangun tempat aman.

Dan suatu hari nanti… menemukan ibunya.

Episodes
1 PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2 Bab 1: Dunia Ganda
3 Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4 Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5 Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6 Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7 Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8 Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9 Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10 Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11 Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12 Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13 Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14 Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15 Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16 Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17 Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18 Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19 Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20 Bab 19: Serangan di Malam Hari
21 Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22 Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23 Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24 Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25 Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26 Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27 Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28 PENGUMUMAN
29 Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30 Bab 28: Proyek Besar Pertama
31 Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32 Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33 Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34 Bab 32: Serangan Pertama
35 Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36 Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37 Bab 35: Tamu Tak Diundang
38 Bab 36: Serangan Tengah Malam
39 Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40 Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41 Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42 Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43 Bab 41: Suara dari Radio Tua
44 Bab 42: Perjalanan Pulang
45 Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46 Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47 Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48 Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49 Bab 47: Ketika Hati Bicara
50 Bab 48: Ancaman dari Dalam
51 Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52 Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53 Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54 Bab 52: Keputusan Besar
55 Bab 53: Cahaya di Tengah Kegelapan
Episodes

Updated 55 Episodes

1
PROLOG: Dunia Terbelah dan Aku, Cowok Cantik yang Salah Dimensi
2
Bab 1: Dunia Ganda
3
Bab 2: Pasar Gelap & Mesin Cukur
4
Bab 3: Susu Kaleng 100 Tahun & Boneka Anti-Zombie
5
Bab 4: Ekspedisi Sampah dan Zombie Berkacamata
6
Bab 5: Serangan Zombie Tukang Parkir & Munculnya Ibu Yuki?!
7
Bab 6: Mesin Uang dan Masakan Telur Zombie
8
Bab 7: Sinyal dari Masa Lalu
9
Bab 8: Panci Ajaib, Mie Rasa Harapan
10
Bab 9: Zombie Bernama Ayah?
11
Bab 10: “Zombie Menangis Itu… Ayahmu, Yuki?”
12
Bab 11: Upgrade Besar-besaran! Shelterku Jadi Pusat Kota Mini?!
13
Bab 12: “Tebakan Yuki dan Penemuan Baru”
14
Bab 13: Senyuman di Tengah Bahaya
15
Bab 14: Antrian Panjang, Emosi Pendek
16
Bab 15: "Jangan Ambil Yuki!"
17
Bab 16: “Tamu Tak Diundang di Tengah Malam”
18
Bab 17: Misi Bersama: Cari Bahan Makanan, Cari Harapan
19
Bab 18: Tamu Tak Diundang di Shelter
20
Bab 19: Serangan di Malam Hari
21
Bab 20: Sistem Keamanan Terbaru dan... Masak Bersama?!
22
Bab 21: Pekerjaan Gila dan Pisang Coklat
23
Bab 22: Masakan Pertama Buatan Yuki
24
Bab 23: "Jejak yang Ditinggalkan"
25
Bab 24: Pelukan yang Kutunggu
26
Bab 25: Sarapan, Serangan, dan Senyum Manis Ibu
27
Bab 26: Ujian Kecil Keluarga Shelter
28
PENGUMUMAN
29
Bab 27: Kunjungan Tak Terduga
30
Bab 28: Proyek Besar Pertama
31
Bab 29: Tanda Bahaya dari Utara
32
Bab 30: Misi Ekspedisi ke Zona Hitam
33
Bab 31: Kejutan dari Masa Lalu
34
Bab 32: Serangan Pertama
35
Bab 33: Senyuman dalam Bahaya
36
Bab 34: Bahu untuk Bersandar, Tempat untuk Pulang
37
Bab 35: Tamu Tak Diundang
38
Bab 36: Serangan Tengah Malam
39
Bab 37: Rencana Baru dan Mesin Ajaib Yuki
40
Bab 38: Yuki Sakit, Elia Panik, Shinn Beraksi
41
Bab 39: Bangun Kembali, Demi Yuki
42
Bab 40: Banjir Zombie dari Utara
43
Bab 41: Suara dari Radio Tua
44
Bab 42: Perjalanan Pulang
45
Bab 43: Rumah yang Tumbuh
46
Bab 44: Tamu Tak Diundang dari Utara
47
Bab 45: Serangan dari Dimensi Beku
48
Bab 46: Suara dari Masa Lalu
49
Bab 47: Ketika Hati Bicara
50
Bab 48: Ancaman dari Dalam
51
Bab 49: Kegelapan yang Mengerikan
52
Bab 50: Fajar di Tengah Kegelapan
53
Bab 51: Perjalanan Menuju Utara
54
Bab 52: Keputusan Besar
55
Bab 53: Cahaya di Tengah Kegelapan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!